Banyak hal di dunia ini yang bisa
membuat kita marah. Mulai dari hal-hal sepele, seperti diserobot ketika sedang
antri di pom bensin, sampai dengan hal-hal prinsip, seperti ditinggal minggat
istri, dan lain sebagainya. Bentuk kemarahan yang muncul juga bermacam-macam. Ada yang
mengumpat, memukul, atau ada juga yang lari-lari teriak bawa pentungan.
Yang disebutkan itu tadi
jenis-jenis marah yang keras. Tapi jangan salah, marah yang keras tadi tidak
dilakukan oleh kelompok preman pimpinan Hercules ataupun John Key yang sering
rebutan lahan sengketa di Jakarta, melainkan dilakukan oleh sekelompok orang
berjubah dan bersurban, yang selalu berteriak Allahu Akbar ketika menghajar orang. Entah sebegitu parahkah
kemarahan mereka, atau hobi mereka memang ngamuk sambil bawa pentungan di jalan-jalan?
Kalau aku tanyakan hal ini ke anak gaul jaman sekarang, pasti bakalan dibalik
tanya “Mau tau banget atau mau tau aja?”. Semprul.
Akhir-akhir ini, memang banyak
hal yang membuat kita, sebagai umat Islam, marah. Yang paling gress adalah munculnya film pelecehan Nabi yang,
kalau ga salah, berjudul ‘The Innoncence
of Muslim’. Awalnya aku juga sempet mendidih dan hampir saja meloncat ke
jalanan sambil bawa pentungan. Tapi, karena ga punya surban dan baju jubah,
akhirnya kuputuskan untuk membuka situs youtube
terlebih dulu untuk melihat seperti apa film yang kabarnya dibikin oleh orang Amerika
tersebut. Setelah menonton, aku jadi heran. Bagaimana film ga bermutu seperti
ini bisa terkenal dan membuat geger seluruh dunia? Apa karena berita
orang-orang ngamuk tadi, atau karena media disini agak lebay? Padahal, secara kasat mata, film bikinan orang stress ini jelas ga
lebih baik dari film-film horor khas Indonesia yang selalu bisa bikin para
penontonnya yang laki-laki ‘tegang’.
Lalu, sudah tepatkah tindakan
orang-orang berjubah itu dengan ngamuk-ngamuk ga jelas di depan kedubes AS (padahal AS sendiri juga mengutuk film
tersebut)? kalau jawabannya memang ga
tepat, lantas apa kita ga malu? Katanya, selain kebersihan, rasa malu
itu juga sebagian dari iman, betul ga?
Kalau betu, kita harusnya malu sama orang-orang katolik. Gimana enggak malu, la wong doktrin agamanya diserang
habis-habisan oleh film sekelas Da Vinci
Code-yang digarap dengan serius, berdurasi lama, dan pemain-pemainnya juga
terkenal- mereka ga ngamuk kok. Diakui atau enggak,
mereka sudah jauh lebih dewasa dari kita. Pendeta-pendeta mereka merspon film
yang diadaptasi dari karya Dan Brown tersebut tidak dengan merusak, membakar,
ataupu menuduh orang Islam sebagai pelakunya, melainkan mereka lebh sibuk
mengarahkan dan memberi penjelasan kepada para jamaahnya.
Tapi, ya jangan karena kelakuan
para pembela Tuhan itu (padahal kata Gus Dur, Tuhan tu tidak perlu
dibela), lantas kita jadi minder. Karena jika di depan tadi dijelaskan tentang
jenis-jenis marah yang keras, tentunya ada juga jenis marah yang lembut. Orang yang
marahnya jenis ini, jelas tahu betul tentang kisah Nabi yang menjenguk seorang
kafir yang ketika sehat sering melempari beliau dengan kotoran, juga kisah Nabi
yang rutin menyuapi perempuan Yahudi buta yang selalu memaki-maki beliau
sedangkan dia (orang yahudi tersebut) tidak sadar siapa yang sedang menyuapinya.
Orang-orang ini adalah
saudara-saudara muslim kita di Inggris yang merespon film pelecehan Nabi
tersebut dengan membagi-bagikan secara gratis terjemahan Al-Qur’an dan Shirah
Nabi kepada orang-orang non muslim disana. Selain itu, ada juga pemerintah
Qatar yang mengucurkan dana sebesar 4 Triliun untuk membuat film tentang Shirah
Nabi untuk menandingi film ecek-ecek yang
tersebar lewat youtube tersebut.
Seperti banyaknya bahasa 4L4Y
yang digunakan di negeri ini, seperti ciyuuus,
miapah, waini, dan kawan-kawannya, sebanyak itulah ekspresi kemarahan
seseorang ketika junjungannya dilecehkan. Sebagai umat yang taat, memang wajar
dan wajib kita marah jika Nabi agung kita dihina, dijadikan kartun, difilmkan,
dll. Tapi, bagaimana kita mengungkapkan rasa marah kita, itulah yang akan
memperlihatkan kualitas kita yang sesungguhnya. Wallahu alam Bishshawab.
Munirul Ichwan (Islamic Association
of University student)