Jumat, 28 September 2012

Yuk, Kita Marah


Banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita marah. Mulai dari hal-hal sepele, seperti diserobot ketika sedang antri di pom bensin, sampai dengan hal-hal prinsip, seperti ditinggal minggat istri, dan lain sebagainya. Bentuk kemarahan yang  muncul juga bermacam-macam. Ada yang mengumpat, memukul, atau ada juga yang lari-lari teriak bawa pentungan. 

Yang disebutkan itu tadi jenis-jenis marah yang keras. Tapi jangan salah, marah yang keras tadi tidak dilakukan oleh kelompok preman pimpinan Hercules ataupun John Key yang sering rebutan lahan sengketa di Jakarta, melainkan dilakukan oleh sekelompok orang berjubah dan bersurban, yang selalu berteriak Allahu Akbar ketika menghajar orang. Entah sebegitu parahkah kemarahan mereka, atau hobi mereka memang ngamuk sambil bawa pentungan di jalan-jalan? Kalau aku tanyakan hal ini ke anak gaul jaman sekarang, pasti bakalan dibalik tanya “Mau tau banget atau mau tau aja?”. Semprul.

Akhir-akhir ini, memang banyak hal yang membuat kita, sebagai umat Islam, marah. Yang paling gress  adalah munculnya film pelecehan Nabi yang, kalau ga salah, berjudul The Innoncence of Muslim. Awalnya aku juga sempet mendidih dan hampir saja meloncat ke jalanan sambil bawa pentungan. Tapi, karena ga punya surban dan baju jubah, akhirnya kuputuskan untuk membuka situs youtube terlebih dulu untuk melihat seperti apa film yang kabarnya dibikin oleh orang Amerika tersebut. Setelah menonton, aku jadi heran. Bagaimana film ga bermutu seperti ini bisa terkenal dan membuat geger seluruh dunia? Apa karena berita orang-orang ngamuk tadi, atau karena media disini agak lebay? Padahal, secara kasat mata, film bikinan orang stress ini jelas ga lebih baik dari film-film horor khas Indonesia yang selalu bisa bikin para penontonnya yang laki-laki ‘tegang’.

Lalu, sudah tepatkah tindakan orang-orang berjubah itu dengan ngamuk-ngamuk ga jelas di depan kedubes AS (padahal AS sendiri juga mengutuk film tersebut)? kalau jawabannya memang ga tepat, lantas apa kita ga  malu? Katanya, selain kebersihan, rasa malu itu juga sebagian dari iman, betul ga? Kalau betu, kita harusnya malu sama orang-orang katolik. Gimana enggak malu, la wong doktrin agamanya diserang habis-habisan oleh film sekelas Da Vinci Code-yang digarap dengan serius, berdurasi lama, dan pemain-pemainnya juga terkenal- mereka ga ngamuk kok. Diakui atau enggak, mereka sudah jauh lebih dewasa dari kita. Pendeta-pendeta mereka merspon film yang diadaptasi dari karya Dan Brown tersebut tidak dengan merusak, membakar, ataupu menuduh orang Islam sebagai pelakunya, melainkan mereka lebh sibuk mengarahkan dan memberi penjelasan kepada para jamaahnya.

Tapi, ya jangan karena kelakuan para pembela Tuhan itu (padahal kata Gus Dur, Tuhan tu tidak perlu dibela), lantas kita jadi minder. Karena jika di depan tadi dijelaskan tentang jenis-jenis marah yang keras, tentunya ada juga jenis marah yang lembut. Orang yang marahnya jenis ini, jelas tahu betul tentang kisah Nabi yang menjenguk seorang kafir yang ketika sehat sering melempari beliau dengan kotoran, juga kisah Nabi yang rutin menyuapi perempuan Yahudi buta yang selalu memaki-maki beliau sedangkan dia (orang yahudi tersebut) tidak sadar siapa yang sedang menyuapinya.

Orang-orang ini adalah saudara-saudara muslim kita di Inggris yang merespon film pelecehan Nabi tersebut dengan membagi-bagikan secara gratis terjemahan Al-Qur’an dan Shirah Nabi kepada orang-orang non muslim disana. Selain itu, ada juga pemerintah Qatar yang mengucurkan dana sebesar 4 Triliun untuk membuat film tentang Shirah Nabi untuk menandingi film ecek-ecek yang tersebar lewat youtube tersebut.

Seperti banyaknya bahasa 4L4Y yang digunakan di negeri ini, seperti ciyuuus, miapah, waini, dan kawan-kawannya, sebanyak itulah ekspresi kemarahan seseorang ketika junjungannya dilecehkan. Sebagai umat yang taat, memang wajar dan wajib kita marah jika Nabi agung kita dihina, dijadikan kartun, difilmkan, dll. Tapi, bagaimana kita mengungkapkan rasa marah kita, itulah yang akan memperlihatkan kualitas kita yang sesungguhnya. Wallahu alam Bishshawab.

Munirul Ichwan (Islamic Association of University student)