Aku tak pernah
memandang siapapun sebagai orang lain. Entah itu orang yang memang aku kenal,
orang yang sekedar lewat lalu lalang, maupun anak-anak kecil yang sedang
berlari-larian penuh canda. Bukan karena aku orang yang ramah, supel, dan sebagainya.
Sekali lagi bukan. Ini semua karena tak seorangpun yang menganggapku ada.
Terkadang aku
merasa tak ada gunanya lagi aku bertahan hidup. Suamiku telah lama mati,
dibantai oleh orang-orang kampung hanya karena pernah menerima bantuan caping
dan sabit berlogo palu arit warna merah. Aku menyesal saat itu tidak bisa
berbuat apa-apa. Jelas sekali tergambar dalam ingatanku saat malam terakhir
kita tidur bersama. Mendengar suara-suara mencurigakan, suamiku menyuruhku lari
lewat pintu belakang dengan membawa serta anakku. Ingin sekali aku menolak
perintah suamiku kala itu, namun tatapan matanya yang begitu tajam seolah-olah
telah mendakwaku. Aku tak punya pilihan lain. Dan sesuai garis nasib dari
Tuhan, malam itu adalah kali terakhir kita bertatap muka.
Dan kemana
kemanakah perginya anakku? Aku benar-benar tidak sanggup jika ada yang bertanya
tentang anakku. Bertahun-tahun telah kujaga amanah terakhir suamiku, yang
meskipun tidak pernah diungkapkannya namun sangat jelas kumengerti dari tatapan
matanya, untuk membesarkannya. Pekerjaan apapun telah kulakukan, dan segalanya
telah kujual untuk dapat menghidupinya. Tapi siapa sangka, mata merah saat dia
dalam gendonganku di malam tragis itu, ternyata telah ‘membakar’ jantung dan
seluruh aliran darahnya.
Tak kusangka wajah
mungil yang sangat kusayangi melebihi apapun itu menyimpan dendam yang sangat
mendalam. Kasih dan perhatian yang kucurahkan tak sanggup membendung trauma dan
cemoohan orang-orang yang selalu membayanginya. Dan layaknya ketika tragedi itu
terjadi bertahun-tahun yang lalu, aku tak mampu berbuat banyak untuk melawan
mereka, orang-orang ‘suci’ yang selalu menghina dan mengucilkanku. Tidak pernah
jelas alasan mereka melakukan ini semua, tapi setahuku adalah karena aku istri
dari seorang anggota PKI. Dan aku benar-benar menyesal, karena dendam
tersebutlah yang akhirnya membunuh satu-satunya anakku.
Apalah artinya aku
sekarang ini, hanya seorang janda PKI yang tinggal sebatang kara. Yang harus
duduk berjam-jam menjual mainan sederhana berasal dari dua cangkang keong yang
dibentuk sedemikian rupa sehingga mampu menimbulkan bunyi-bunyian, yang
tentunya sudah sangat sedikit sekali anak kecil yang mau meliriknya, di
pelataran sebuah swalayan kecil yang modern. Swalayan yang telah menambah susah
kehidupan pedagang-pedagang kecil yang tak cukup kuat melawan arus modernisasi
dengan tanpa ampun merampas pelanggan-pelanggannya. Aku pun juga tidak mampu
berbuat apa-apa. Siapa pula yang sudi memperhatikam orang tua sepertiku. Dengan
tubuh bongkok dan kulit penuh keriput, tak kan ada yang tertarik apalagi
memperjuangkan nasibku maupun nasib orang-orang sepertiku.
Kepada siapa lagi
aku harus berharap? Pemerintah? Aku rasa tidak. Aku benar-benar tidak tega,
karena jelas sekali mereka kini sedang kesusahan mengatasi masalah dan
kepentingannya sendiri. Dan justru pemerintah lah yang dulu menyebabkan jalan
hidupku menjadi tragis seperti ini. Menjadi orang asing di tengah-tengah bangsa
sandiri.
Bersyukurlah aku
dilahirkan sebagai orang yang sombong, yang tidak mudah untuk mengakui
kekalahan. Karena hanya dengan kesombongan itulah aku tetap mempertahankan
hidupku ini, tidak seperti orang-orang lain yang memilih untuk lampus. Karena jika aku bunuh diri, itu
berarti aku telah kalah. Aku memilih untuk menjalani hidup seperti sekarang
ini. Terinjak-injak oleh kesewenangan yang semakin merajalela. Tetapi harus aku
ulangi lagi, bahwa aku tidak kalah. Karena sampai sekarang aku masih tetap
hidup, tetap bernafas, mewakili nafas suami dan anakku.
IRUL at
O-108 tekkim
26 april
2011 08:07 pm
