"Karena berjuang menjemput takdir adalah sebuah kewajiban, dan berputus asa akan keadaan diri merupakan satu bentuk penghinaan terhadap kemaha-kuasaanNya."
Saat itu semua orang mengira bahwa riwayat Temujin telah habis.
Tak ada yang berpikir bahwa seorang bocah kecil yang terbuang dari sukunya,
bisa bertahan hidup di wilayah yang sangat primitif dengan pola
hidup yang masih nomaden. Namun, ternyata takdir berkata lain. Seorang anak
bernama Temujin yang ditinggal ayahnya dalam suasana perang, di kemudian hari justru menjadi penguasa
yang untuk pertama kalinya berhasil menyatukan seluruh suku-suku di kawasan
Mongolia. Dan tidak hanya sampai disitu, Temujin bahkan mampu menguasai hampir
seluruh wilayah di Asia dan menciptakan imperium paling luas di dunia yang pernah ada.
Dialah yang ketika dewasa bergelar Jenghis Khan, yang berarti pemimpin dari
segala-galanya.
Kisah tersebut
mengajarkan kita untuk jangan pernah sekali-sekali meremehkan takdir Tuhan.
Bukan sebuah hal yang mustahil jika Tuhan telah menakdirkan seorang anak kecil
pesakitan untuk menjadi seorang raja diraja dengan wilayah kekuasaan mencapai hampir
sepertiga belahan dunia.
Banyak saudara-saudara
kita yang dari awal sudah merasa putus asa dengan keadaan dirinya, merasa
menjadi manusia paling sengsara, dan pada ujungnya malas untuk melakukan amal
usaha apapun untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Pola pikir seperti ini bisa
berakibat fatal, karena selain menyengsarakan hidupnya sendiri di dunia,
pilihan hidup putus asa tersebut juga merupakan sebuah penghinaan atas
kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan.
Patung Jenghis Khan, Sang
Penakluk
Dan sebagai makhluk
Tuhan yang mengaku beriman, kita jangan sekali-kali terjebak dalam sikap hidup
berputus asa yang tentunya, seperti virus, akan dengan cepat membunuh gairah
dan rasa optimisme dalam menjalani
hidup. Jika hal tersebut yang terjadi, maka sesungguhnya secara hakikat kita
telah mati walaupun secara fisik masih bernafas dan merasakan lapar.
Sebaliknya, kita harus senantiasa percaya dengan jalan takdir-Nya di masa
mendatang, seburuk dan selemah apapun kondisi kita saat ini.
Namun, yang patut
diingat adalah bahwa bayangan kita terhadap takdir di masa mendatang bukan
seperti mimpi di siang bolong yang serba indah dan melenakan. Justru yang harus
benar-benar dipahami adalah jalan untuk menjemput takdir kita tersebut
sangatlah terjal dan penuh rasa sakit. Seorang Jenghis Khan tidak serta merta
mendapati dirinya sabagai penguasa dunia, melainkan dia harus terlahir terlebih
dahulu sebagai Temujin, seorang bocah yatim yang terbuang. Namun, berbagai macam
penderitaan yang dialami, justru membuat Temujin semakin kuat dan dewasa lebih
cepat dari seharusnya. Lingkungan yang keras telah membentuk kepribadiannya
menjadi seorang pemimpin yang kuat dan memiliki endurance yang luar biasa hebat. Dan sejarah mencatat, Temujin pada
akhirnya mampu membuktikan diri bahwa dia pantas mendapatkan takdirnya sebagai
Jenghis Khan, seorang penakluk yang luar biasa hebat.
Pada akhirnya, sebagai seorang
wakil Tuhan di dunia ini kita harus senantiasa percaya dengan takdir yang telah
dijanjikan-Nya di masa mendatang. Dan tentu saja keyakinan ini harus dibarengi dengan kesadaran bahwa takdir
yang telah dijanjikan tersebut harus dijemput dengan usaha yang tidak mudah.
Sebagaimana kisah perjuangan Temujin di atas, jalan menuju takdir yang penuh
dengan batu-batu terjal dan berliku harus dihadapi dengan optimis dan
penuh percaya diri, tak peduli saat ini kita tengah berada dalam keadaan lemah ataupun
dipandang sebelah mata. Kita memang tidak tahu takdir apa yang Ia tuliskan
untuk kita, namun tentu saja, bagi orang beriman, tak ada pilihan lain kecuali tetap optimis dan berprasangka baik. Karena berjuang menjemput takdir adalah sebuah
kewajiban, dan berputus asa akan keadaan diri merupakan satu bentuk penghinaan
terhadap kemaha-kuasaanNya.
Oleh : Cak Irul
