Selasa, 05 Maret 2013

Berjuang Menjemput Takdir


"Karena berjuang menjemput takdir adalah sebuah kewajiban, dan berputus asa akan keadaan diri merupakan satu bentuk penghinaan terhadap kemaha-kuasaanNya."


Konon, sekitar sembilan abad lalu, lahir seorang bocah laki-laki di daratan Mongolia yang tandus dan penuh dengan suasana perang antar suku. Anak ini dinamai Temujin, diambil dari nama jenderal musuh yang baru saja dikalahkan oleh ayahnya yang merupakan pemimpin dari salah satu suku di kawasan tersebut. Namun, anak yang diharapkan mampu meneruskan klan leluhurnya sebagai kepala suku tersebut ternyata harus menelan kenyataan pahit. Di tengah suasana perang antar suku yang amat sengit, ayahnya meninggal karena diracun. Seketika hidup Temujin hancur, seluruh keluarganya diburu oleh orang-orang yang ingin menguasai dan memutus jalur keturunan sang kepala suku.

Saat itu semua orang mengira bahwa riwayat Temujin telah habis. Tak ada yang berpikir bahwa seorang bocah kecil yang terbuang dari sukunya, bisa bertahan hidup  di wilayah yang sangat primitif dengan pola hidup yang masih nomaden. Namun, ternyata takdir berkata lain. Seorang anak bernama Temujin yang ditinggal ayahnya dalam suasana perang, di kemudian hari justru menjadi penguasa yang untuk pertama kalinya berhasil menyatukan seluruh suku-suku di kawasan Mongolia. Dan tidak hanya sampai disitu, Temujin bahkan mampu menguasai hampir seluruh wilayah di Asia dan menciptakan imperium paling luas di dunia yang pernah ada. Dialah yang ketika dewasa bergelar Jenghis Khan, yang berarti pemimpin dari segala-galanya.

Kisah tersebut mengajarkan kita untuk jangan pernah sekali-sekali meremehkan takdir Tuhan. Bukan sebuah hal yang mustahil jika Tuhan telah menakdirkan seorang anak kecil pesakitan untuk menjadi seorang raja diraja dengan wilayah kekuasaan mencapai hampir sepertiga belahan dunia.

Banyak saudara-saudara kita yang dari awal sudah merasa putus asa dengan keadaan dirinya, merasa menjadi manusia paling sengsara, dan pada ujungnya malas untuk melakukan amal usaha apapun untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Pola pikir seperti ini bisa berakibat fatal, karena selain menyengsarakan hidupnya sendiri di dunia, pilihan hidup putus asa tersebut juga merupakan sebuah penghinaan atas kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan.
Patung Jenghis Khan, Sang Penakluk

Dan sebagai makhluk Tuhan yang mengaku beriman, kita jangan sekali-kali terjebak dalam sikap hidup berputus asa yang tentunya, seperti virus, akan dengan cepat membunuh gairah dan rasa  optimisme dalam menjalani hidup. Jika hal tersebut yang terjadi, maka sesungguhnya secara hakikat kita telah mati walaupun secara fisik masih bernafas dan merasakan lapar. Sebaliknya, kita harus senantiasa percaya dengan jalan takdir-Nya di masa mendatang, seburuk dan selemah apapun kondisi kita saat ini.

Namun, yang patut diingat adalah bahwa bayangan kita terhadap takdir di masa mendatang bukan seperti mimpi di siang bolong yang serba indah dan melenakan. Justru yang harus benar-benar dipahami adalah jalan untuk menjemput takdir kita tersebut sangatlah terjal dan penuh rasa sakit. Seorang Jenghis Khan tidak serta merta mendapati dirinya sabagai penguasa dunia, melainkan dia harus terlahir terlebih dahulu sebagai Temujin, seorang bocah yatim yang terbuang. Namun, berbagai macam penderitaan yang dialami, justru membuat Temujin semakin kuat dan dewasa lebih cepat dari seharusnya. Lingkungan yang keras telah membentuk kepribadiannya menjadi seorang pemimpin yang kuat dan memiliki endurance yang luar biasa hebat. Dan sejarah mencatat, Temujin pada akhirnya mampu membuktikan diri bahwa dia pantas mendapatkan takdirnya sebagai Jenghis Khan, seorang penakluk yang luar biasa hebat.

Pada akhirnya, sebagai seorang wakil Tuhan di dunia ini kita harus senantiasa percaya dengan takdir yang telah dijanjikan-Nya di masa mendatang. Dan tentu saja keyakinan ini harus dibarengi dengan kesadaran bahwa takdir yang telah dijanjikan tersebut harus dijemput dengan usaha yang tidak mudah. Sebagaimana kisah perjuangan Temujin di atas, jalan menuju takdir yang penuh dengan batu-batu terjal dan berliku  harus dihadapi dengan optimis dan penuh percaya diri, tak peduli saat ini kita tengah berada dalam keadaan lemah ataupun dipandang sebelah mata. Kita memang tidak tahu takdir apa yang Ia tuliskan untuk kita, namun tentu saja, bagi orang beriman, tak ada pilihan lain kecuali tetap optimis dan berprasangka baik. Karena berjuang menjemput takdir adalah sebuah kewajiban, dan berputus asa akan keadaan diri merupakan satu bentuk penghinaan terhadap kemaha-kuasaanNya.

Oleh : Cak Irul