![]() |
| Tokoh Bhisma Dalam Wayang Kulit |
Jika ada orang yang paling berjiwa
besar dan paling teguh memegang janji sampai akhir hayatnya, maka dialah
Bhisma. Seorang ksatria negeri Astinapura, sesepuh Pandawa dan Kurawa. Terlahir
ke dunia melalui perantara Prabu Sentanu dan seorang bidadari cantik, Dewi
Gangga. Namun, sayangnya Bhisma sejak bayi hanya tumbuh bersama sang ayah. Dewi
Gangga harus segera kembali ke tempat asalnya karena tugasnya sebagai pintu
gerbang kehadiran Bhisma di dunia sudah berakhir. Walaupun begitu, Bhisma yang waktu
kecil bernama Dewabratha tetap tumbuh menjadi putra mahkota yang sakti,
bijaksana, dan sangat menghormati ayahnya.
Rasa hormatnya kepada sang ayah
benar-benar diuji ketika Prabu Sentanu memiliki keinginan untuk menikah lagi
dengan Setyawati. Namun, keinginan tersebut selalu dipendam oleh Prabu Sentanu
sehingga menyebabkan wajahnya murung selama berhari-hari. Hal tersebut
dikarenakan Setyawati memberikan syarat yang sangat berat agar mau diperistri
oleh Prabu Sentanu, yaitu dia menginginkan agar keturunannya lah kelak yang
akan meneruskan tahta.
Setelah mengetahui permasalahan tersebut,
Dewabratha tanpa pikir panjang langsung melepaskan jabatannya sebagai putra
mahkota demi membahagiakan ayahnya. Tidak sampai disitu, Dewabratha juga
bersumpah tidak akan menikah seumur hidup agar keturunannya kelak tidak bertikai
karena menuntut kembali tahta. Seketika langit bergetar mendengar sumpah yang
diucapkan Dewabratha, para dewa seakan takjub melihat kebesaran hati seorang
anak raja yang rela melepaskan hak dan kesenangan duniawinya demi kebahagiaan
sang ayah. Sejak saat itu Dewabratha berganti nama menjadi Bhisma, yang
berarti, “dia yang sumpahnya dahsyat”.
Namun, memang sudah menjadi hukum
alam bahwa sebesar apapun usaha yang dilakukan manusia tidak akan mengubah
takdir yang telah ditetapkan oleh Sang Penguasa Jagad. Pengorbanan Bhisma
seakan tak berarti apa-apa karena justru keturunan Steyawati sendirilah yang
akhirnya menyeret Astinapura dalam perang saudara. Pandawa dan Kurawa terlibat
perang besar di padang kurusetra yang pada akhirnya menewaskan seluruh anggota
Kurawa serta seluruh anak-anak dari Pandawa.
Bhisma yang sebenarnya waktu itu
lebih sayang kepada Pandawa, dalam peperangan yang terkenal sebagai perang
Baratayudha tersebut terpaksa harus memihak kepada Kurawa karena terikat pada
tugasnya sebagai Ksatria negeri Astinapura. Walaupun bertarung hanya dengan
sepenuh hati, Bhisma tetap saja merupakan ksatria sakti yang pilih tanding. Ratusan
prajurit Pandawa mati di tangannya yang kokoh. Pandawa dibuat kuwalahan oleh
aksi kakek yang juga sangat mereka sayangi dan hormati tersebut.
Di malam hari menjelang hari
ke-17 pertempuran Baratayudha, Pandawa yang ditemani Kresna akhirnya diam-diam
menemui Bhisma untuk bertanya langsung mengenai kelemahan yang dimiliki oleh
sang kakek. Dan karena didorong oleh rasa kasih sayang dan simpatinya terhadap
penderitaan pandawa, Bhisma pun secara terbuka mengatakan bahwa ia tidak akan
pernah menyerang wanita.
Esoknya, pandawa melakukan
muslihat sesuai dengan petunjuk dari sang kakek. Arjuna mendapat tugas untuk
membunuh Bhima dengan bantuan dari Srikandi, seorang putri titisan dewi Amba
dikehendaki dewa berganti kelamin menjadi laki-laki. Saat itu Arjuna menyerang
Bhisma dengan memposisikan dirinya berada di belakang Srikandi. Bhisma yang
tahu betul bahwa Srikandi pada awalnya terlahir sebagai wanita tidak sekalipun
membalas serangan.
Tidak pantas bagi seorang ksatria
seagung Bhisma untuk bertarung melawan wanita. Terlebih wanita tersebut adalah
titisan Dewi Amba, seseorang yang pernah mengisi ruang hati Bhisma di masa
lalu. Sebuah kisah romantik yang waktu itu segera diakhiri oleh Bhisma karena
terhalang sumpah sehingga menimbulkan dendam kesumat dalam diri Dewi Amba.
Dan setelah bertubi-tubi
tertembus panah Arjuna dan Srikandi, Bhisma akhirnya gugur di hari ke-17
pertempuran Baratayudha. Peperangan untuk sementara dihentikan, Pandawa dan
Kurawa semua mendekat ke tubuh sang kakek yang sudah seperti landak karena
tertembus ratusan anak panah. Langit langsung murung melihat ksatria agungnya
sekarat, dewa-dewa pun berduyun turun ke bumi untuk menghormati gugurnya
seorang yang seumur hidup teguh memegang janji.
Hari itu, di kancah perang besar
Baratayudha
Bhisma menjemput takdirnya
sebagai ksatria agung
Ksatria yang tetap teguh
memegang janji sampai maut menjemput
Hari itu, telah usai peranan
Bhisma di mayapada
Dalam keadaan penuh luka,
dirasakan Amba datang menjemputnya dengan senyuman
Senyum yang tak sempat bisa dia
nikmati tatkala masih terikat janji
Tak nampak wajah kesakitan
Tak juga nampak raut penyesalan
Diiringi tangis semesta, Bhisma
siap menuju keabadian![]() |
| Lukisan Ksatria Agung Menjemput Keabadian |


