Rabu, 18 Desember 2013

Menghirup "Aroma Kebangkitan" di Museum Nasional

Sore yang cerah, jalanan ibu kota di sekitaran monas waktu itu juga tidak terlalu ramai. Aku bersama seorang kawan dengan leluasa mengitari daerah yang biasa dianggap sebagai ‘pusat’ dari negara ini. Di sini kita bisa melihat kemegahan bangunan tugu monas yang tegak menjulang dengan pucuk berlapis emas. Sangat kontras bila dibandingkan realita kondisi rakyat Indonesia yang masih saja berkutat dengan kemiskinan dan kebodohan. Tak usah jauh-jauh membandingkannya dengan kondisi saudara kita di Papua, Nusa tenggara, Mesuji, maupun daerah-daerah lain di sudut negeri ini yang seakan terlupakan. Karena dengan melihat kondisi di kolong-kolong jembatan, pinggiran kali, dan pemukiman kumuh di bawah jalan tol ibukota saja sudah cukup membuktikan adanya kesenjangan itu.

Ah, mungkin lebih baik lain kali saja kita bercerita tentang kesenjangan dan berbagai macam kebobrokan negara tercinta ini, yang seakan-akan tak pernah ada habisnya. Kali ini aku ingin berbagi pengalaman ketika mengunjungi Museum Nasional di Jl. Merdeka Barat, Jakarta. Museum ini terletak di sebelah barat kawasan Monumen Nasional (Monas), dekat sekali dengan halte busway Monas.

Sabtu sore, di sela-sela kunjunganku ke Jakarta dalam rangka mengikuti BUMN Career Days 2013, aku mengajak temanku untuk mengunjungi museum nasional yang merupakan museum pertama dan terbesar se-asia tenggara. Dengan menaiki sepeda motor bersama salah seorang teman, aku masuk ke area parkir museum. Gagah, sedikit sepi, dan beraroma magis khas museum. Perfect.

Konon, cikal bakal museum ini sudah ada sejak 1778 ketika seorang Belanda bernama Radermacher menyumbangkan sebuah gedung di Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya yang nantinya akan menjadi pondasi pendirian museum. Kemudian pada tahun 1862 pemerintah Hindia-Belanda mendirikan gedung baru di Jalan merdeka Barat yang hingga kini masih ditempati, setelah sebelumnya Stamford Raffles juga pernah memindahkan gedung berisi peninggalan sejarah dari Kalibesar ke Jalan Majapahit. Dan sesuai dengan masa pembangunannya, Gedung Museum Nasional sangat kental dengan gaya klasik eropa pada abad pencerahan. Di bagian halaman depan gedung ini terpasang sebuah patung gajah berbahan perunggu yang merupakan hadiah dari Raja Thailand, Chulalongkorn pada tahun 1871. Karena itulah museum nasional juga dikenal dengan sebutan museum gajah.

Waktu itu kami berdua masuk dari pintu samping, melewati ruang workshop yang terletak di sisi kiri gedung. Karena ketidak tahuan, aku dan kawanku langsung saja menikmati koleksi-koleksi museum ini yang diawali dengan peta persebaran suku bangsa dan bahasa di Indonesia. Kemudian, berbelok ke kanan terdapat banyak sekali koleksi kebudayaan khas Indonesia dari berbagai daerah. Mulai dari boneka si gale-gale dari Batak, wayang kulit dari Jawa, gamelan dan barong khas Pulau Bali, sampai dengan patung-patung pahatan khas Indonesia bagian timur. Dari koleksi-koleksi di bagian ini, aku sedikit menyadari tentang perbedaan karakter budaya di negeri tercinta ini. dimana hasil kebudayaan Indonesia bagian barat yang selalu terlihat mengagumkan, beradab, dan memiliki pakem tertentu, sedangkan untuk hasil kebudayaan dari Indonesia bagian timur selalu terlihat lebih liar, magis, dan apa adanya. Semua menawarkan keindahan dari dimensi yang berbeda. Ada kebanggan tersendiri saat menyadari betapa jeniusnya nenek moyang tanah air tercinta ini. Pantas saja dulu Bung Karno bisa dengan pede-nya menyarankan Presiden Amerika Serikat kala itu untuk belajar seni dari orang Indonesia sembari membetulkan letak dasi presiden negeri kapitalis tersebut.
Peta persebaran suku bangsa yang merupakan bagian integral dari NKRI
Boneka si gale-gale dari batak. Biasanya digunakan untuk upacara kematian dengan tarian tortor si gale-gale. Konon semua bagian boneka ini bisa digerakkan, sampai-sampai matanya saja bisa dikedipkan.

Satu set wayang kulit lengkap dengan gamelannya. Biasa dibawakan dalang untuk acara pertunjukan semalam suntuk.
Satu set alat untuk memuja arwah nenek moyang dari daerah Maluku

Patung yang dibuat sebagai penghormatan arwah nenek moyang dari daerah Papua.

Ini adalah patung dari Nusa Tenggara Barat, terlihat di bagian kemaluan pun dipahat dengan detail. Sangat apa adanya, keindahan khas Indonesia bagian timur.

Dari ruangan koleksi kebudayaan, kemudian kami berdua masuk ke sebuah ruangan yang berisi miniatur rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, ketika baru saja masuk, kami langsung ditegur oleh seorang satpam dan dimintai tiket masuk. Karena memang tidak tahu, aku jawab saja waktu itu kalau kami lewat pintu samping sebelah kiri gedung yang berhubungan langsung dengan tempat parkir motor. Setelah itu satpam tadi mengantarkan kami ke loket penjualan tiket yang ternyata terletak di lobby gedung. Di loket ini kemudian temanku diminta untuk menitipkan tas ranselnya.

Setelah membeli tiket dan meminta maaf atas ketidaktahuan, kami masuk ke ruang koleksi arca-arca dan prasasti peninggalan masa lalu yang dinamakan gedung arca. Koleksi ini paling banyak didapatkan dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia-Belanda, dan pembelian. Beberapa peinggalan sejarah yang terdapat di gedung arca ini antara lain adalah patung Budha, Ganesha, perwujudan Dewa Wishnu, Nandi (lembu tunggangan Dewa Wishnu), dan berbagai macam prasasti.

Bercengkrama dengan patung Gupala, petung berwujud raksasa yang sedang memegang pentungan. Biasa diletakkan di gerbang masuk berpasangan kanan-kiri.
Alltonsen sedang bertapa di depan patung Ganesha
Patung Budha, salah satu koleksi Gedung Arca
Selain peninggalan dari seluruh nusantara, terdapat juga koleksi kebudayaan dari luar negeri. Seperti topeng khas Thailand, keramik-keramik China dari masa dinasti Han, Tang, dan Ming. Sedangkan di lantai dua terdapat koleksi peninggalan sejarah yang terbuat dari emas. Dari cerita yang kudapat, koleksi emas tersebut berupa mahkota, gelang, anting-anting, kalung, cawan, keris, dan sebagainya. Sayang sekali waktu itu bagian lantai dua dari museum ini sedang ditutup sehingga aku tak sempat melihatnya secara langsung. Mungkin saja karena kasus pencurian benda bersejarah yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Belum puas sebenarnya, tapi kunjungan tersebut harus segera disudahi karena waktu sudah hampir jam lima sore, yang merupakan jam tutup museum untuk hari sabtu dan minggu. Mengunjungi tempat yang kental dengan aroma masa lalu selalu menimbulkan gairah tersendiri bagiku. Dengan mencium bau udara khas museum, seolah-olah aku bisa merasakan di sekitarku ada orang-orang dari masa lalu yang sedang berperang, sedang melakukan jual beli di pasar, sedang berlayar di lautan, dan ketika mereka tengah mencapai puncak kejayaan. Aroma membangkitkan, begitulah aku menyebutnya. Sayang sekali tidak banyak pemuda yang tertarik datang ke museum sehingga hampir semua museum selalu sepi dan terkesan seram, berbeda sekali dengan acara musik dahsyat, YKS, dan acara sampah lainnya yang selalu ramai dan hingar bingar. Entah kalau seperti ini terus, kapan mereka bisa menghirup Aroma membangkitkan. Tapi, seperti kata pepatah, selalu ada hikmah yang bisa disyukuri dari setiap keadaan, sepinya museum juga perlu disyukuri karena dengan begitu keasrian dan kemagisannya bisa tetap terjaga, steril dari kelakuan anak-anak alay yang seringkali absurd. Tentu kita masih trauma dengan nasib tragis Gunung Semeru, dan puncaknya Mahameru, yang telah diperkosa habis-habisan pasca boomingnya film 5 cm.