Sore yang cerah, jalanan ibu kota
di sekitaran monas waktu itu juga tidak terlalu ramai. Aku bersama seorang
kawan dengan leluasa mengitari daerah yang biasa dianggap sebagai ‘pusat’ dari
negara ini. Di sini kita bisa melihat kemegahan bangunan tugu monas yang tegak
menjulang dengan pucuk berlapis emas. Sangat kontras bila dibandingkan realita
kondisi rakyat Indonesia yang masih saja berkutat dengan kemiskinan dan
kebodohan. Tak usah jauh-jauh membandingkannya dengan kondisi saudara kita di Papua,
Nusa tenggara, Mesuji, maupun daerah-daerah lain di sudut negeri ini yang seakan
terlupakan. Karena dengan melihat kondisi di kolong-kolong jembatan, pinggiran
kali, dan pemukiman kumuh di bawah jalan tol ibukota saja sudah cukup membuktikan
adanya kesenjangan itu.
Ah, mungkin lebih baik lain kali
saja kita bercerita tentang kesenjangan dan berbagai macam kebobrokan negara
tercinta ini, yang seakan-akan tak pernah ada habisnya. Kali ini aku ingin
berbagi pengalaman ketika mengunjungi Museum Nasional di Jl. Merdeka Barat, Jakarta.
Museum ini terletak di sebelah barat kawasan Monumen Nasional (Monas), dekat
sekali dengan halte busway Monas.
Sabtu sore, di sela-sela
kunjunganku ke Jakarta dalam rangka mengikuti BUMN Career Days 2013, aku mengajak
temanku untuk mengunjungi museum nasional yang merupakan museum pertama dan terbesar
se-asia tenggara. Dengan menaiki sepeda motor bersama salah seorang teman, aku
masuk ke area parkir museum. Gagah, sedikit sepi, dan beraroma magis khas
museum. Perfect.
Konon, cikal bakal museum ini
sudah ada sejak 1778 ketika seorang Belanda bernama Radermacher menyumbangkan
sebuah gedung di Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya
yang nantinya akan menjadi pondasi pendirian museum. Kemudian pada tahun 1862
pemerintah Hindia-Belanda mendirikan gedung baru di Jalan merdeka Barat yang
hingga kini masih ditempati, setelah sebelumnya Stamford Raffles juga pernah
memindahkan gedung berisi peninggalan sejarah dari Kalibesar ke Jalan
Majapahit. Dan sesuai dengan masa pembangunannya, Gedung Museum Nasional sangat
kental dengan gaya klasik eropa pada abad pencerahan. Di bagian halaman depan
gedung ini terpasang sebuah patung gajah berbahan perunggu yang merupakan
hadiah dari Raja Thailand, Chulalongkorn pada tahun 1871. Karena itulah museum
nasional juga dikenal dengan sebutan museum gajah.
Waktu itu kami berdua masuk dari
pintu samping, melewati ruang workshop
yang terletak di sisi kiri gedung. Karena ketidak tahuan, aku dan kawanku
langsung saja menikmati koleksi-koleksi museum ini yang diawali dengan peta
persebaran suku bangsa dan bahasa di Indonesia. Kemudian, berbelok ke kanan
terdapat banyak sekali koleksi kebudayaan khas Indonesia dari berbagai daerah.
Mulai dari boneka si gale-gale dari Batak, wayang kulit dari Jawa, gamelan dan
barong khas Pulau Bali, sampai dengan patung-patung pahatan khas Indonesia bagian
timur. Dari koleksi-koleksi di bagian ini, aku sedikit menyadari tentang
perbedaan karakter budaya di negeri tercinta ini. dimana hasil kebudayaan
Indonesia bagian barat yang selalu terlihat mengagumkan, beradab, dan memiliki
pakem tertentu, sedangkan untuk hasil kebudayaan dari Indonesia bagian timur
selalu terlihat lebih liar, magis, dan apa adanya. Semua menawarkan keindahan
dari dimensi yang berbeda. Ada kebanggan tersendiri saat menyadari betapa
jeniusnya nenek moyang tanah air tercinta ini. Pantas saja dulu Bung Karno bisa
dengan pede-nya menyarankan Presiden
Amerika Serikat kala itu untuk belajar seni dari orang Indonesia sembari membetulkan
letak dasi presiden negeri kapitalis tersebut.
![]() |
| Peta persebaran suku bangsa yang merupakan bagian integral dari NKRI |
![]() |
| Boneka si gale-gale dari batak. Biasanya digunakan untuk upacara kematian dengan tarian tortor si gale-gale. Konon semua bagian boneka ini bisa digerakkan, sampai-sampai matanya saja bisa dikedipkan. |
![]() |
| Satu set wayang kulit lengkap dengan gamelannya. Biasa dibawakan dalang untuk acara pertunjukan semalam suntuk. |
![]() |
| Satu set alat untuk memuja arwah nenek moyang dari daerah Maluku |
![]() |
| Patung yang dibuat sebagai penghormatan arwah nenek moyang dari daerah Papua. |
![]() |
| Ini adalah patung dari Nusa Tenggara Barat, terlihat di bagian kemaluan pun dipahat dengan detail. Sangat apa adanya, keindahan khas Indonesia bagian timur. |
Dari ruangan koleksi kebudayaan,
kemudian kami berdua masuk ke sebuah ruangan yang berisi miniatur rumah adat
dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, ketika baru saja masuk, kami langsung
ditegur oleh seorang satpam dan dimintai tiket masuk. Karena memang tidak tahu,
aku jawab saja waktu itu kalau kami lewat pintu samping sebelah kiri gedung
yang berhubungan langsung dengan tempat parkir motor. Setelah itu satpam tadi
mengantarkan kami ke loket penjualan tiket yang ternyata terletak di lobby gedung. Di loket ini kemudian
temanku diminta untuk menitipkan tas ranselnya.
Setelah membeli tiket dan meminta
maaf atas ketidaktahuan, kami masuk ke ruang koleksi arca-arca dan prasasti
peninggalan masa lalu yang dinamakan gedung arca. Koleksi ini paling banyak
didapatkan dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa
Hindia-Belanda, dan pembelian. Beberapa peinggalan sejarah yang terdapat di
gedung arca ini antara lain adalah patung Budha, Ganesha, perwujudan Dewa
Wishnu, Nandi (lembu tunggangan Dewa Wishnu), dan berbagai macam prasasti.
![]() |
| Bercengkrama dengan patung Gupala, petung berwujud raksasa yang sedang memegang pentungan. Biasa diletakkan di gerbang masuk berpasangan kanan-kiri. |
![]() |
| Alltonsen sedang bertapa di depan patung Ganesha |
![]() |
| Patung Budha, salah satu koleksi Gedung Arca |
Selain peninggalan dari seluruh
nusantara, terdapat juga koleksi kebudayaan dari luar negeri. Seperti topeng khas
Thailand, keramik-keramik China dari masa dinasti Han, Tang, dan Ming. Sedangkan
di lantai dua terdapat koleksi peninggalan sejarah yang terbuat dari emas. Dari
cerita yang kudapat, koleksi emas tersebut berupa mahkota, gelang,
anting-anting, kalung, cawan, keris, dan sebagainya. Sayang sekali waktu itu
bagian lantai dua dari museum ini sedang ditutup sehingga aku tak sempat
melihatnya secara langsung. Mungkin saja karena kasus pencurian benda bersejarah
yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Belum puas sebenarnya, tapi
kunjungan tersebut harus segera disudahi karena waktu sudah hampir jam lima
sore, yang merupakan jam tutup museum untuk hari sabtu dan minggu. Mengunjungi tempat
yang kental dengan aroma masa lalu selalu menimbulkan gairah tersendiri bagiku.
Dengan mencium bau udara khas museum, seolah-olah aku bisa merasakan di sekitarku
ada orang-orang dari masa lalu yang sedang berperang, sedang melakukan jual
beli di pasar, sedang berlayar di lautan, dan ketika mereka tengah mencapai puncak
kejayaan. Aroma membangkitkan, begitulah aku menyebutnya. Sayang sekali tidak
banyak pemuda yang tertarik datang ke museum sehingga hampir semua museum
selalu sepi dan terkesan seram, berbeda sekali dengan acara musik dahsyat, YKS,
dan acara sampah lainnya yang selalu ramai dan hingar bingar. Entah kalau
seperti ini terus, kapan mereka bisa menghirup Aroma membangkitkan. Tapi, seperti kata pepatah, selalu ada hikmah yang bisa disyukuri dari
setiap keadaan, sepinya museum juga perlu disyukuri karena dengan begitu
keasrian dan kemagisannya bisa tetap terjaga, steril dari kelakuan anak-anak alay
yang seringkali absurd. Tentu kita
masih trauma dengan nasib tragis Gunung Semeru, dan puncaknya Mahameru, yang telah
diperkosa habis-habisan pasca boomingnya
film 5 cm.








