Usia 20an adalah masa yang penuh
dengan gairah. Karena pada rentang usia inilah pada umumnya seorang manusia
benar-benar “mulai” meraih tujuan hidupnya. banyak target ditetapkan. Resolusi tahunan
merupakan agenda rutin agar hidup meningkat terus kualitasnya. Semangat menggebu,
seolah semua hal ingin digenggam.
Tidak ada yang salah memang jika
hidup penuh dengan mimpi. Ambisi membuat perjalanan usia lebih berwarna dan
terarah. Tapi, akan berbahaya jika hasrat kita untuk meraih mimpi tersebut
menjadi semacam kacamata kuda yang membatasi pandangan kebijaksanaan kita. Batin
akan gersang jika hari-hari selalu dipenuhi dengan target, target, dan target. Tanpa
ada refleksi berkala bahwa apa yang telah dicapai saat ini sudah merupakan
sesuatu yang hebat.
Sesekali kita harus menengok ke samping,
menurunkan tempo perjalanan. Bahwa di antara target-target ambisius kita yang
belum kunjung tercapai, ada teman kita yang bahkan harus jatuh bangun hanya
untuk lepas dari kecanduan narkoba. Ada juga mereka yang sejak kecil sudah
memikul beban berat menghidupi keluarga sehingga tidak sempat memikirkan
pencapaian-pencapaian di usia peraknya. Padahal bisa saja kita yang berada di
posisi sulit tersebut, mudah saja bagi Tuhan membolak balikkan nasib hambaNya.
Mata yang terbiasa menatap jauh
ke depan ini harus lebih sering ditundukkan. Wajah yang senantiasa optimis ini
juga harus dipaksa banyak-banyak mencium tanah untuk bersujud. Mensyukuri bahwa
semua “keberuntungan” yang ada di genggaman saat ini bukanlah kristalisasi dari
tetesan-tetesan keringat kita. Melainkan semata-mata pemberian Tuhan. Bersyukurlah
akan semua yang telah kita miliki saat ini.
Di suatu senja yang memerah, atau di antara sejuknya udara fajar, boleh lah kita sejenak melepaskan penat pikiran. Duduk bersila, menghayati setiap nafas yang kita hirup lalu hembuskan perlahan. Menciptakan hening sambil berucap “Terima kasih Tuhan, Kau telah memberiku hidup yang begitu sempurna.”