Rabu, 08 Juni 2016

Silahkan Banyak Berdoa, Tapi Lebih Banyaklah Lagi Bersyukur

Usia 20an adalah masa yang penuh dengan gairah. Karena pada rentang usia inilah pada umumnya seorang manusia benar-benar “mulai” meraih tujuan hidupnya. banyak target ditetapkan. Resolusi tahunan merupakan agenda rutin agar hidup meningkat terus kualitasnya. Semangat menggebu, seolah semua hal ingin digenggam.

Tidak ada yang salah memang jika hidup penuh dengan mimpi. Ambisi membuat perjalanan usia lebih berwarna dan terarah. Tapi, akan berbahaya jika hasrat kita untuk meraih mimpi tersebut menjadi semacam kacamata kuda yang membatasi pandangan kebijaksanaan kita. Batin akan gersang jika hari-hari selalu dipenuhi dengan target, target, dan target. Tanpa ada refleksi berkala bahwa apa yang telah dicapai saat ini sudah merupakan sesuatu yang hebat.

Sesekali kita harus menengok ke samping, menurunkan tempo perjalanan. Bahwa di antara target-target ambisius kita yang belum kunjung tercapai, ada teman kita yang bahkan harus jatuh bangun hanya untuk lepas dari kecanduan narkoba. Ada juga mereka yang sejak kecil sudah memikul beban berat menghidupi keluarga sehingga tidak sempat memikirkan pencapaian-pencapaian di usia peraknya. Padahal bisa saja kita yang berada di posisi sulit tersebut, mudah saja bagi Tuhan membolak balikkan nasib hambaNya.

Mata yang terbiasa menatap jauh ke depan ini harus lebih sering ditundukkan. Wajah yang senantiasa optimis ini juga harus dipaksa banyak-banyak mencium tanah untuk bersujud. Mensyukuri bahwa semua “keberuntungan” yang ada di genggaman saat ini bukanlah kristalisasi dari tetesan-tetesan keringat kita. Melainkan semata-mata pemberian Tuhan. Bersyukurlah akan semua yang telah kita miliki saat ini.

Di suatu senja yang memerah, atau di antara sejuknya udara fajar, boleh lah kita sejenak melepaskan penat pikiran. Duduk bersila, menghayati setiap nafas yang kita hirup lalu hembuskan perlahan. Menciptakan hening sambil berucap “Terima kasih Tuhan, Kau telah memberiku hidup yang begitu sempurna.”