Rintik hujan bulan
Desember membuat malam ini terasa semakin magis. Tiba-tiba saja dalam
imajinasiku muncul puluhan malaikat kecil sedang tertawa dan berkejar-kejaran
riang di tengah guyuran air dari langit. Ah, indah sekali hidup ini jika kita
mau senantiasa berpikir sederhana. Tak perlu menghabiskan banyak uang untuk
mencari apa yang dinamakan kebahagiaan. Cukup dengan merenung sambil mendengar
lantunan suara musik yang timbul tenggelam di antara riuh bunyi hujan. Tak
perlu alasan dan pembuktian yang njlimet untuk tersenyum, tidak mudah
tersinggung ketika disentil orang, dan tetap bisa tersenyum bahkan ketika
dompet sudah sangat tipis.
Namun, seperti pepatah
di atas langit masih ada langit lagi. Keindahan hidup yang kurasakan tadi masih
belum ada apa-apanya. Masih ada jenis manusia yang bisa lebih ceria, bisa lebih
haha hihi dalam kondisi apapun, dan
jiwanya pun juga lebih steril dari
perasaaan iri, dengki, dendam, dan lain sebagainya. Jenis manusia itu tak lain
dan tak bukan adalah anak-anak. Yup, merekalah yang benar-benar polos, yang
memandang dunia sebagai taman bermain maha luas. Orang tua mereka anggap
sebagai peri yang melindungi, Presiden mereka anggap seperti superman yang bisa melakukan apapun, dan
Tuhan mereka anggap seperti Sinterclauss
yang bisa mengabulkan berbagai permintaan aneh bin konyol mereka.
Oh, betapa aku rindu
untuk kembali menjadi anak-anak. Kembali menjalani hidup tapa rasa benci. Tapi
jelas, aku sadar sekenario yang telah dibuatkan Tuhan untukku tidak akan pernah
berjalan mundur. Meskipun aku juga tidak tahu kejutan-kejutan apa yang menanti
di episode-episode kehidupanku selanjutnya. Yang pasti kini aku sangat
bersyukur pernah menjadi manusia ‘suci’ yang selalu mendapat belaian-Nya
melalui perantara tangan lembut ibu dan bapakku.
Walaupun begitu, Tuhan
memang maha adil. Karena semua rasa sakit selalu ada obatnya, termasuk rasa
rindu. Kerinduanku pada masa kanak-kanak kini bisa kutumpahkan dengan membelai
kepala malaikat-malaikat kecil yang masih gemar bermain, malaikat-malaikat
kecil yang rela dimarahi ibunya habis-habisan demi bisa bermain di tengah hujan
bersama-sama, malaikat-malaikat yang senantiasa menumpahkan kekesalan melalui
tangisannya yang meledak, dan bukan dengan dendam serta rasa benci.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar