Ketika kira-kira 67
tahun yang lalu Bung Tomo berteriak dengan latang “Merdeka atau mati?!”, maka
seluruh pemuda yang ada di surabaya dan sekitarnya, tanpa pikir panjang,
langsung berangkat berbondong-bondong menyedekahkan jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan
yang baru seumur jagung. Waktu itu sama sekali tidak ada kepentingan ataupun tendensi
politik tentang jabatan apa yang akan mereka dapatkan nanti ketika perjuangan
telah mencapai kemenangan. Yang ada dalam benak para pemuda saat itu hanyalah
semangat yang membara untuk membela harga diri dan menentang kembalinya
gerombolan penindas ke bumi nusantara yang telah berabad-abad dirampoknya. Diiringi
restu dari Hadratus Syiekh Hasyim Asyari, yang sebelumnya juga telah
mengeluarkan fatwa tentang kewajiban berjihad untuk mempertahankan kemerdekaan,
pemuda kita yang hanya berbekal senjata rampasan dan bambu runcing dengan gagah
melawan tentara sekutu yang menggempur Kota Surabaya habis-habisan dari darat,
laut, dan udara. Sebuah kisah perlawanan heroik yang kemudian dikenang dengan
ditetapkannya hari tersebut, 10 November, sebagai hari pahlawan.
Rasanya sangat
membanggakan sekali saat kita mengenang peristiwa tersebut. dimana negeri kita,
yang baru tiga bulan diproklamirkan dan masih tertinggal jauh dalam hal apapun,
memiliki semangat juang yang luar biasa untuk tidak membiarkan segala bentuk pelecehan
terhadap harga diri bangsa. Sekalipun itu berarti harus melawan tentara-tentara
bersenjata lengkap beserta mesin-mesin pembunuh yang super canggih di jamannya.
Dipimpin oleh Bung Tomo, dan dengan dukungan doa dari para ulama, pemuda Indonesia
kala itu mampu membuat kota Surabaya bagaikan neraka bagi para tentara sekutu.
Apalagi ditambah dengan membelotnya 3000 pasukan Ghurka
pimpinan Ziaul Haq yang menolak berperang dengan sesama muslim karena alasan ukhuwah Islamiah. Konon pasukan bayaran
Inggris ini baru tahu kalau Indonesia itu Islam setelah mendengar pekikan
“Allah Akbar” dari para pemuda. Bahkan, ‘neraka’ yang diciptakan para pejuang
kita tersebut mampu menewaskan Jenderal Inggris, W.S. Mallaby.
Namun, ketika kita
melihat kondisi pemuda di masa sekarang, rasanya hampir mustahil peristiwa
heroik seperti yang pernah terjadi pada 10 November 1945 bisa terulang kembali.
Walaupun, katakanlah, tokoh hebat semacam Bung Tomo dan Syekh Hasyim Asyari
hidup kembali sekalipun. Bagaimana tidak, di era globalisasi dewasa ini, pemuda
kita seperti telah kehilangan karakter heroiknya. Harga diri bangsa yang dulu
mati-matian diperjuangkan, kini seakan-akan telah hilang digantikan berbagai
macam kesenangan yang melunturkan cita-cita perjuangan. Para pemuda lebih sibuk
dengan kepentingan pribadi dan golongannya dari pada memikirkan kemajuan
bangsa. Tokoh-tokoh yang bisa dibilang intelektual lebih senang bertengkar
untuk berebut kekuasaan dalam politik praktis. Para pelajar lebih memilih
tawuran dan berbuat asusila daripada mengikuti kegiatan yang bisa mengeksplor
potensi mereka, seperti pecinta alam, pramuka, rohis, dan lain sebagainya.
Begitu juga dengan para remaja yang telah bermetamorfosis menjadi konsumen dan
peniru sejati, yang siap membeli serta meniru apa saja yang ditawarkan oleh
setan-setan kapitalis, sekalipun itu merusak.
Di tengah hilangnya
karakter pemuda Indonesia yang semakin akut, sebenarnya masih ada
organisasi-organisasi pemuda yang memiliki cita-cita luhur untuk membina dan
mengembangkan anggotanya sesuai dengan ideologi dan visi yang dimiliki. Dan
patut diakui juga, bahwa banyak sekali tokoh-tokoh besar negeri ini yang
terlahir dari organisasi-organisasi tersebut. Mereka mendapatkan skill mengelola organisasi, kemampuan
mengatasi konflik, serta jaringan yang luas setelah mereka berkader di
organisasi-organisasi tersebut. Namun, nampaknya sejarah memang akan selalu
berulang. Nafsu untuk berekuasa rupanya masih saja menjadi hantu yang sangat
menakutkan bagi tegaknya cita-cita perjuangan. Begitu dekatnya posisi
organisasi-organisasi ini dengan lingkaran kekuasaan menjadi bumerang yang
semakin mempersulit gerak mereka. Independensi seketika menjadi barang mewah
yang sulit didapat di tengah-tengah politik penyandraan dan transaksional yang
terus merongrong.
Selain itu, gaya hidup
hedon yang semakin merajalela juga membuat organisasi-organisasi semacam ini
kesulitan menawarkan cita-cita ideologisnya kepada para pemuda negeri ini.
Pemuda-pemuda yang telah terdidik secara instan ini tidak betah mengikuti
proses berkader yang telah ditetapkan. Mereka hanya tertarik dengan hal-hal
yang memberikan keuntungan praktis tanpa memikirkan proses pendewasaan dan
pematangan karakter. Dan sayangnya, tidak sedikit organisasi-organisasi ini yang
akhirnya justru terbawa arus dan kemudian menawarkan keuntungan-keuntungan yang
berbau pragmatis untuk mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya. Hal inilah yang
kemudian semakin memperkeruh keadaan. Organisasi yang seharusnya dijadikan
sebagai wadah perjuangan, malah dijadikan sebagai tumpangan untuk mendapatkan
keuntungan pribadi. Atau bisa juga organisasi-organisasi tersebut hanya
dijadikan sebagai batu loncatan untuk bisa bergabung dengan partai politik
orang-orang tua yang luar biasa korup dan bobrok.
Lalu, apa yang kemudian
bisa kita lakukan dengan kondisi bangsa seperti ini. Kebobrokan orang-orang
yang kini duduk di kursi kekuasaan sudah tidak mungkin lagi diperbaiki. Dan
gerakan-gerakan pemuda yang seharusnya bisa menjadi moral force pun juga sudah mengalami stagnasi. Satu-satunya kunci
untuk melepaskan diri dari semua keterbelakangan ini adalah keberanian. Seperti
yang telah kita ketahui, keberanian lah yang menjadi kunci keberhasilan arek-arek Suroboyo dalam menghalau
tentara sekutu yang ingin merongrong kemerdekaan Indonesia. Dan momentum 10
November ini sudah seharusnya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi
generasi yang tercerahkan, yang berani melawan segala bentuk penjajahan.
Generasi ini harus lahir dari proses pengkaderan yang matang secara ideologis
kebangsaan namun tetap berkompeten dalam menjalankan hal-hal teknis operasional.
Generasi ini akan menyelamatkan pergerakan-pergerakan pemuda dari rongrongan
penguasa yang ingin menginkubasi ataupun mematikannya.
Kita sudah sangat
rindu dengan kisah-kisah heroik para pemuda yang dengan lantang berani
menyatakan perang kepada segala bentuk penindasan. Kisah heroik tersebut tak
akan lagi menjadi sebuah hal yang mustahil jika seluruh elemen pergerakan di
negeri ini tetap berpegang teguh dengan semangat 10 november yang membara. Yang
meskipun dengan pakaian compang camping, di tengah cuaca panas yang membakar,
dan diiringi bunyi keroncong perut yang kelaparan tetap tak pernah menyurutkan
semangatnya untuk merobohkan setan-setan penindas. Sudah saatnya kita berantas
generasi-generasi penakut yang hanya menjadi beban negara ini, generasi yang
menjilat penguasa karena takut tidak bisa bertahan hidup, generasi yang
berhenti bergerak karena takut tidak mendapat backing dari penguasa, dan generasi yang bobrok dan korup karena
takut miskin serta kehilangan kakuasaan. Sudah saatnya organisasi-organisasi
kepemudaan mendapatkan lagi independensinya, dan sudah saatnya kaum muda
benar-benar menjalankan fungsinya sebagai moral
force tanpa ditumpangi oleh kepentingan apapun selain kepentingan
kebenaran. Dan sekali lagi, kuncinya hanya satu, yaitu keberanian.

