Minggu, 10 November 2013

Keberanian 10 November


Ketika kira-kira 67 tahun yang lalu Bung Tomo berteriak dengan latang “Merdeka atau mati?!”, maka seluruh pemuda yang ada di surabaya dan sekitarnya, tanpa pikir panjang, langsung berangkat berbondong-bondong menyedekahkan  jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung. Waktu itu sama sekali tidak ada kepentingan ataupun tendensi politik tentang jabatan apa yang akan mereka dapatkan nanti ketika perjuangan telah mencapai kemenangan. Yang ada dalam benak para pemuda saat itu hanyalah semangat yang membara untuk membela harga diri dan menentang kembalinya gerombolan penindas ke bumi nusantara yang telah berabad-abad dirampoknya. Diiringi restu dari Hadratus Syiekh Hasyim Asyari, yang sebelumnya juga telah mengeluarkan fatwa tentang kewajiban berjihad untuk mempertahankan kemerdekaan, pemuda kita yang hanya berbekal senjata rampasan dan bambu runcing dengan gagah melawan tentara sekutu yang menggempur Kota Surabaya habis-habisan dari darat, laut, dan udara. Sebuah kisah perlawanan heroik yang kemudian dikenang dengan ditetapkannya hari tersebut, 10 November, sebagai hari pahlawan.

Rasanya sangat membanggakan sekali saat kita mengenang peristiwa tersebut. dimana negeri kita, yang baru tiga bulan diproklamirkan dan masih tertinggal jauh dalam hal apapun, memiliki semangat juang yang luar biasa untuk tidak membiarkan segala bentuk pelecehan terhadap harga diri bangsa. Sekalipun itu berarti harus melawan tentara-tentara bersenjata lengkap beserta mesin-mesin pembunuh yang super canggih di jamannya. Dipimpin oleh Bung Tomo, dan dengan dukungan doa dari para ulama, pemuda Indonesia kala itu mampu membuat kota Surabaya bagaikan neraka bagi para tentara sekutu. Apalagi ditambah dengan membelotnya 3000 pasukan Ghurka pimpinan Ziaul Haq yang menolak berperang dengan sesama muslim karena alasan ukhuwah Islamiah. Konon pasukan bayaran Inggris ini baru tahu kalau Indonesia itu Islam setelah mendengar pekikan “Allah Akbar” dari para pemuda. Bahkan, ‘neraka’ yang diciptakan para pejuang kita tersebut mampu menewaskan Jenderal Inggris, W.S. Mallaby.

Namun, ketika kita melihat kondisi pemuda di masa sekarang, rasanya hampir mustahil peristiwa heroik seperti yang pernah terjadi pada 10 November 1945 bisa terulang kembali. Walaupun, katakanlah, tokoh hebat semacam Bung Tomo dan Syekh Hasyim Asyari hidup kembali sekalipun. Bagaimana tidak, di era globalisasi dewasa ini, pemuda kita seperti telah kehilangan karakter heroiknya. Harga diri bangsa yang dulu mati-matian diperjuangkan, kini seakan-akan telah hilang digantikan berbagai macam kesenangan yang melunturkan cita-cita perjuangan. Para pemuda lebih sibuk dengan kepentingan pribadi dan golongannya dari pada memikirkan kemajuan bangsa. Tokoh-tokoh yang bisa dibilang intelektual lebih senang bertengkar untuk berebut kekuasaan dalam politik praktis. Para pelajar lebih memilih tawuran dan berbuat asusila daripada mengikuti kegiatan yang bisa mengeksplor potensi mereka, seperti pecinta alam, pramuka, rohis, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan para remaja yang telah bermetamorfosis menjadi konsumen dan peniru sejati, yang siap membeli serta meniru apa saja yang ditawarkan oleh setan-setan kapitalis, sekalipun itu merusak.

Di tengah hilangnya karakter pemuda Indonesia yang semakin akut, sebenarnya masih ada organisasi-organisasi pemuda yang memiliki cita-cita luhur untuk membina dan mengembangkan anggotanya sesuai dengan ideologi dan visi yang dimiliki. Dan patut diakui juga, bahwa banyak sekali tokoh-tokoh besar negeri ini yang terlahir dari organisasi-organisasi tersebut. Mereka mendapatkan skill mengelola organisasi, kemampuan mengatasi konflik, serta jaringan yang luas setelah mereka berkader di organisasi-organisasi tersebut. Namun, nampaknya sejarah memang akan selalu berulang. Nafsu untuk berekuasa rupanya masih saja menjadi hantu yang sangat menakutkan bagi tegaknya cita-cita perjuangan. Begitu dekatnya posisi organisasi-organisasi ini dengan lingkaran kekuasaan menjadi bumerang yang semakin mempersulit gerak mereka. Independensi seketika menjadi barang mewah yang sulit didapat di tengah-tengah politik penyandraan dan transaksional yang terus merongrong.

Selain itu, gaya hidup hedon yang semakin merajalela juga membuat organisasi-organisasi semacam ini kesulitan menawarkan cita-cita ideologisnya kepada para pemuda negeri ini. Pemuda-pemuda yang telah terdidik secara instan ini tidak betah mengikuti proses berkader yang telah ditetapkan. Mereka hanya tertarik dengan hal-hal yang memberikan keuntungan praktis tanpa memikirkan proses pendewasaan dan pematangan karakter. Dan sayangnya, tidak sedikit organisasi-organisasi ini yang akhirnya justru terbawa arus dan kemudian menawarkan keuntungan-keuntungan yang berbau pragmatis untuk mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya. Hal inilah yang kemudian semakin memperkeruh keadaan. Organisasi yang seharusnya dijadikan sebagai wadah perjuangan, malah dijadikan sebagai tumpangan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Atau bisa juga organisasi-organisasi tersebut hanya dijadikan sebagai batu loncatan untuk bisa bergabung dengan partai politik orang-orang tua yang luar biasa korup dan bobrok.

Lalu, apa yang kemudian bisa kita lakukan dengan kondisi bangsa seperti ini. Kebobrokan orang-orang yang kini duduk di kursi kekuasaan sudah tidak mungkin lagi diperbaiki. Dan gerakan-gerakan pemuda yang seharusnya bisa menjadi moral force pun juga sudah mengalami stagnasi. Satu-satunya kunci untuk melepaskan diri dari semua keterbelakangan ini adalah keberanian. Seperti yang telah kita ketahui, keberanian lah yang menjadi kunci keberhasilan arek-arek Suroboyo dalam menghalau tentara sekutu yang ingin merongrong kemerdekaan Indonesia. Dan momentum 10 November ini sudah seharusnya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi generasi yang tercerahkan, yang berani melawan segala bentuk penjajahan. Generasi ini harus lahir dari proses pengkaderan yang matang secara ideologis kebangsaan namun tetap berkompeten dalam menjalankan hal-hal teknis operasional. Generasi ini akan menyelamatkan pergerakan-pergerakan pemuda dari rongrongan penguasa yang ingin menginkubasi ataupun mematikannya.


Kita sudah sangat rindu dengan kisah-kisah heroik para pemuda yang dengan lantang berani menyatakan perang kepada segala bentuk penindasan. Kisah heroik tersebut tak akan lagi menjadi sebuah hal yang mustahil jika seluruh elemen pergerakan di negeri ini tetap berpegang teguh dengan semangat 10 november yang membara. Yang meskipun dengan pakaian compang camping, di tengah cuaca panas yang membakar, dan diiringi bunyi keroncong perut yang kelaparan tetap tak pernah menyurutkan semangatnya untuk merobohkan setan-setan penindas. Sudah saatnya kita berantas generasi-generasi penakut yang hanya menjadi beban negara ini, generasi yang menjilat penguasa karena takut tidak bisa bertahan hidup, generasi yang berhenti bergerak karena takut tidak mendapat backing dari penguasa, dan generasi yang bobrok dan korup karena takut miskin serta kehilangan kakuasaan. Sudah saatnya organisasi-organisasi kepemudaan mendapatkan lagi independensinya, dan sudah saatnya kaum muda benar-benar menjalankan fungsinya sebagai moral force tanpa ditumpangi oleh kepentingan apapun selain kepentingan kebenaran. Dan sekali lagi, kuncinya hanya satu, yaitu keberanian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar