“Kau
tidak akan pernah mengerti!” Bentakku dengan sangat keras. Nafasku
menderu tak beraturan, kurasakan puluhan butir keringat kaluar dari pori-pori
wajahku yang tengah merah padam menahan amarah. Mataku menatap tajam ke
arahnya. Benar-benar tajam, setajam dia membalas tatapannya padaku.
“Apa kau
bilang?! Tutup mulutmu, aku mengerti kamu luar dalam. Sama sekali tidak ada
rahasia milikmu yang aku tidak tahu. Hidup ini memang berat, tapi apakah dengan
kita bunuh diri semua masalah akan selesei?”
Aku
kehabisan kata-kata, sedikit menyesal aku memulai lagi pertengkaran ini. Selalu
menimbulkan luka, luka baginya, juga luka bagiku. Semua hal yang dapat melukainya selalu saja membuatku merasa
sakit. Seakan telah menjadi hukum alam yang harus aku terima dan jalani.
Terkadang aku menikmati keadaan ini, namun tak jarang pula aku merasa sangat
menderita. Seperti yang saat ini tengah
kurasakan.
Entah
kenapa akhir-akhir ini emosiku cepat sekali tersulut. Aku juga tidak tahu
kenapa sekarang kami sering sekali bersebrangan pendapat, yang tidak jarang
memicu pertikaian seperti yang terjadi sekarang ini.
Namun
demi mengingat kenangan dan persahabatan kita selama ini, kemarahankupun surut
juga. Terbersit dalam pikiranku bahwa selama ini aku terlampau keras dan egois.
Dan baru kali inilah aku dengar dia membentakku.
“Aku
minta maaf, aku berantakan.” Kataku pelan hampir tak terdengar. Tubuhku kini
telah bersandar di dinding yang sedari tadi menjadi saksi bisu pertengkaran
kami. Dinding yang bersedia membantuku menyangga semua beban-beban dan masalahku.
“Tak
apa. Bukankah dulu kita selalu akur? Walaupun secara mendasar sifat kita
berbeda, tidak pernah kita seperti ini. Apa yang telah membuatmu menjadi sangat
temperamental seperti ini?”
“Entahlah,
aku terlalu lelah untuk berpikir.”
“Baiklah,
sebaiknya kamu tidur sekarang.”
Memang
benar, tubuh dan otakku sangat lelah kali ini. Aku belum siap menerima kenyataan
bahwa aku dan dia berbeda. Aku rindu dia yang dulu, yang tidak pernah membantah
pendapat dan perkataanku. Entah siapa yang sebenarnya telah berubah? Aku tidak
benar-benar tahu. Juga mimpi-mimpi itu, mimpi yang selalu saja muncul setiap
kali aku memejamkan mata itu benar-benar menyiksaku.
Aku
rebahkan tubuh lelahku sekenanya diatas lantai, hanya kain tipis yang tidak
pantas disebut karpet memisahkanku dengan dinginnya lantai keramik kamar kos. Dan
sejurus kemudian aku telah terbang ke alam mimpi. Alam dimana aku bisa
benar-benar bebas menjadi diriku sendiri. Hanya disinilah aku tidak akan
menemukan dirinya. Di dalam mimpi, eksistensiku benar-benar absolut. Tidak lagi
berada di bawah bayang-bayangnya lagi.
Seperti
hari kemarin, suara itu datang lagi. Suara yang sama dengan mimpi-mimpiku
sebelumnya. Sekian lama kucari darimana suara itu berasal,tapi sia-sia. Seperti
dalam mimpi sebelumnya, tak pernah bisa kutemukan asal muasal suara itu.
“Bagaimana?
Apakah kau sudah siap menjadi dirimu sendiri?” Pertanyaan yang sama, yang tidak
pernah bisa aku jawab.
“Siapa
kau?” aku berteriak ke segala arah, tak tahu dimana wujud lawan bicaraku. Kupalingkan wajahku kesana kemari. Berharap dapat melihat asal
suara itu. Namun sia-sia, sosok itu tak pernah terlihat walaupun suaranya tetap
terdengar. Bahkan kali ini jauh lebih keras.
“Tidak
perlu kau tahu, turuti saja apa kataku. Sudah saatnya kau berdiri sendiri.
Keluarlah dari bayang-bayang orang itu!!”
“Tidak
bisa, aku tak bisa berpisah dengannya.” Jawabku lagi setengah membentak.
“Kau
bisa. bunuh dia!!”
Suaranya
begitu menggelegar. Seketika aku terbangun dan mendapati nafasku yang sedang
terengah-engah,
juga tak terhitung berapa banyak peluh yang membasahi wajahku. Belum sempat
nafasku kembali normal, kembali lagi aku dikejutkan ketika menyadari tangan kananku ternyata tengah
menggenggam sesuatu.
“Tidak! Darimana
pisau ini?” tanyaku kebingungan, karena tidak tahu darimana pisau itu berasal dan bagaimana tiba-tiba bisa ada dalam
genggamanku.
Ketika kulihat
dia sedang tertidur pulas, aku menjadi teringat akan
mimpiku tadi. Suara-suara misterius itu kembali terngiang di telingaku, membuatku
menjadi semakin kebingungan. Tak mungkin sanggup aku membunuhnya. Tapi aku juga
tak sanggup terus-menerus tersiksa seperti ini.
Sudah
kuputuskan. Kuangkat pisau itu, dan kutatap ujungnya yang tajam dan berkilau.
Kilatan cahaya yang memantul dari tajamnya pisau itu seakan telah ikut
meyakinkanku. Kuarahkan tepat ujung itu ke tengah-tengah jantungku.
“Selamat
tinggal bayanganku. Aku benar-benar tidak sanggup terus-menerus berbagi tubuh
denganmu. Akan kutemui Tuhan dan kuminta untuk membuatkan satu tubuh lagi
untukku.” Itulah kata-kata terakhir yang kuucapkan. Dengan sangat yakin
kuayunkan pisau tepat di jantungku.
“Bodoh.
Jangan lakukan itu!!” sempat kudengar teriakannya menahanku. Tapi terlambat.
Di pagi yang sangat cerah,
seorang anak kecil penjaja koran mulai mondar-mandir menawarkan dagangannya.
Sekilas terbaca headline koran harian pagi itu ‘SEORANG PENGIDAP MULPTY PERSONALITY DISSORDER[1] DITEMUKAN TEWAS BUNUH DIRI DI KAMAR KOS’
by : Munirul Ichwan
[1] Disebut juga dengan kepribadian ganda, Merupakan suatu keadaan di mana kepribadian individu terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain. Kepribadian itu biasanya merupakan ekspresi dari kepribadian utama yang muncul karena pribadi utama tidak dapat mewujudkan hal yang ingin dilakukannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa ada satu orang yang memiliki pribadi lebih dari satu atau memiliki dua pribadi sekaligus. Kadang si penderita tidak tau bahwa ia memiliki kepribadian ganda, dua pribadi yang ada dalam satu tubuh ini juga tidak saling mengenal dan lebih parah lagi kadang-kadang dua pribadi ini saling bertolak belakang sifatnya.

..assalamu'alaikum..
BalasHapussalam kenal bang,.
oh ya gak sengaja jalan-jalan,..nemu blog ini,.
karya pean cukup unik dan tidak mudah di tebak,.
btw, suka nulis dan membuat cerpen gini ya..
pernah kah disertakan dalam sbeuah perlombaan ?
oh, aku juga pernah baca buku judlnya rekaysa sosial milik jalaludin rahmat,..ada di salah stau babanya itu membahas tentang kerpibadian ganda..tapi memang kondisi ini dibuat secara sengaja , apakah sama ya dengan MULPTY PERSONALITY DISSORDER ?
BalasHapusMakasih mbak tanggapannya, memang saya hobi nulis2 gini. Cuma belum sempet ikut perlombaan. hehee..
BalasHapuskalo kepribadian ganda yang ada di cerita saya ini murni penyakit kejiwaan, saya pernah lihat di sebuah film tentang penyakit ini juga.