Rabu, 16 November 2011

Diskusi "Ikhwanul Muslimin"

Malam jum’at yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 november 2011, yang bertepatan dengan hari pahlawan, aku mengikuti sebuah forum diskusi rutin di sekretariat HMI Sepuluh Nopember. Tema diskusi waktu itu adalah tentang Ikhwanul Muslimin, gerakannya, dan pengaruhnya di Indonesia.

Meski datang terlambat, aku masih bisa mengikuti arah diskusi yang kebetulan dipimpin oleh Mas Ricky tersebut. Diawali dengan penyampaian profil Ikhwanul Muslimin (untuk selanjutnya aku sengkat dengan IM). IM adalah sebuah organisasi yang ddirikan oleh Hasan Al_Bana di Mesir yang antara lain bertujuan untuk menegakkan sebuah kilafah serta sebagai sarana pendidikan untuk mencetak kader-kader umat.

Organisasi ini sempat dibekukan oleh pemerintah Mesir pada 1949 karena diduga terlibat dalam aksi penculikan perdana menteri Mesir kala itu. Terjadi perdebatan yang cukup seru ketika para anggota diskusi menganalisa latar belakang sebenarnya kenapa IM kala itu dibekukan. Ada yang berpendapat bahwa terdapat konspirasi dari pihak barat untuk melemahkan kekuatan IM, hal ini terkait dengan campur tangan IM dalam perseteruan Israel-Palestina. Bahkan IM memiliki sayap militer untuk turut berjuang bersama pejuang-pejuang palestina. Pendapat lainnya adalah karena ketakutan pemerintah Mesir akan pengaruh IM yang semakin meluas dan ditakutkan akan menggulingkan pemerintahan. Namun, untuk menjelaskan motif sebenarnya dibalik pembibaran IM serta dihukum matinya Hasan Al Banna selaku pendiri, kita harus melihat dulu, seberapa besar pengaruh IM waktu itu, motif politik IM, serta kepentingan apa yang membuat pemerintah Mesir ataupun barat ingin membubarkan IM.

Berbeda dengan HT (Hizbut tahrir), IM memiliki sikap yang lebih lunak terhadap demokrasi. Sayyid Qutbh, juru bicara IM,  mengatakan bahwa IM tidak mengharamkan keikutsertaan dalam pemilu serta manuver-manuver politik lain lainnya. Karena menurut Qutbh, dengan masuk ke dalam sistem demokrasi tersebut, IM bisa mewujudkan cita-citanya untuk merubah sistem demokrasi yang menurutnya tidak cocok dengan sistem kilafah Islam.

Meskipun di negara asalnya dimusuhi, IM memiliki pengaruh yang cukup kuat di berbagai negara lain, termasuk Indonesia. Memang tidak ada satupun organisasi di Indonesia yang memiliki hubungan konstitusional dengan IM, namun banyak organisasi yang mengklaim telah terinspirasi dari perjuangan IM. Salah satunya adalah gerakan Tarbiyah, yang telah bertransformasi menjadi PKS, dengan KAMMI sebagai sayapnya yang bergerak di medan kemahasiswaan.

Gerakan ini berkembang sangat pesat, bahkan lebih diminati dibandingkan gerakan Islam kebangsaan yang jauh lebih tua, seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dll. Di kalangan mahasiswa pun, gerakan KAMMI dan HTI juga memiliki simpatisan yang jauh lebih banyak dibandingkan PMII, IMM, HMI, dll. Menurut Amirul, salah satu peserta diskusi, fenomena tersebut disebabkan oleh pola pengkaderan yang amburadul dari organisasi-organisasi islam kebangsaan tersebut. Tidak seperti organisasi hardliner seperti KAMMI dan HTI yang menerapkan pola pengkaderan yang rapi dan militan. Bahkan mereka telah masuk ke jenjang pendidikan sekolah menengah untuk memperkenalkan mereka. Paham yang terkesan kearab-araban, mengabaikan unsur kearifan lokal, serta kalau dianalisis lebih jauh, membahayakan keutuhan NKRI.

Di akhir diskusi, terjadi ketidaksepahaman mengenai perlu atau tidaknya didirikan negara Islam di Indonesia. Yang mengatakan perlu, berpegang pada sebuah hadits yang mengatakan bahwa akan muncul suatu kilafah yang akan mempersatukan seluruh umat muslim di penjuru dunia. Sedangkan yang mengatakan tidak, termasuk aku sendiri, berpegang pada rasionalisasi pentingkah didirikan negara Islam? Apakah dengan berdirinya kilafah, semua masalah kemiskinan, keodohan, dan korupsi akan serta merta hilang? Berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan dalam transisi tersebut? Dan yang paling sulit dijawab adalah, siapa kalifahnya?
Well, semua orang bebas berpendapat. Benar atau salah adalah mutlak urusanNya. Kita tak lebih hanya penafsir tanda-tanda untuk mengikuti jejak kebenaran dariNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar