Minggu, 30 Desember 2012

Catatlah Itu Sebagai Dosaku

Jika bersikap toleran terhadap umat semua agama kau anggap dosa,
Maka catatlah itu sebagai dosaku

Jika melindungi umat lain yang sedang merayakan hari raya kau anggap dosa,
Maka catatlah itu sebagai dosaku

Jika menghargai setiap perbedaan kau anggap dosa,
Maka catatlah itu sebagai dosaku

Jika mengagumi ulama yang kau bilang liberal dan sesat itu kau anggap dosa,
Maka catatlah itu sebagai dosaku

Dan jika melakukan amalan yang tidak kau sukai itu kau anggap dosa,
Maka, sekali lagi, catatlah itu sebagai dosaku

Tapi, saudaraku...

Ingat satu saja pesanku

Jangan sampai kesibukanmu dalam mencatat dosa-dosaku membuatmu terlena,
Sampai kau lupakan amalanmu sendiri, yang juga harus kau pertanggung-jawabkan

Nanti, di hadapan-Nya...

Munirul Ichwan (Islamic Association of University Student)

Rabu, 19 Desember 2012

Malaikat Kecil


Rintik hujan bulan Desember membuat malam ini terasa semakin magis. Tiba-tiba saja dalam imajinasiku muncul puluhan malaikat kecil sedang tertawa dan berkejar-kejaran riang di tengah guyuran air dari langit. Ah, indah sekali hidup ini jika kita mau senantiasa berpikir sederhana. Tak perlu menghabiskan banyak uang untuk mencari apa yang dinamakan kebahagiaan. Cukup dengan merenung sambil mendengar lantunan suara musik yang timbul tenggelam di antara riuh bunyi hujan. Tak perlu alasan dan pembuktian yang njlimet untuk tersenyum, tidak mudah tersinggung ketika disentil orang, dan tetap bisa tersenyum bahkan ketika dompet sudah sangat tipis.

Namun, seperti pepatah di atas langit masih ada langit lagi. Keindahan hidup yang kurasakan tadi masih belum ada apa-apanya. Masih ada jenis manusia yang bisa lebih ceria, bisa lebih haha hihi dalam kondisi apapun, dan jiwanya pun juga lebih steril dari perasaaan iri, dengki, dendam, dan lain sebagainya. Jenis manusia itu tak lain dan tak bukan adalah anak-anak. Yup, merekalah yang benar-benar polos, yang memandang dunia sebagai taman bermain maha luas. Orang tua mereka anggap sebagai peri yang melindungi, Presiden mereka anggap seperti superman yang bisa melakukan apapun, dan Tuhan mereka anggap seperti Sinterclauss yang bisa mengabulkan berbagai permintaan aneh bin konyol mereka.

Oh, betapa aku rindu untuk kembali menjadi anak-anak. Kembali menjalani hidup tapa rasa benci. Tapi jelas, aku sadar sekenario yang telah dibuatkan Tuhan untukku tidak akan pernah berjalan mundur. Meskipun aku juga tidak tahu kejutan-kejutan apa yang menanti di episode-episode kehidupanku selanjutnya. Yang pasti kini aku sangat bersyukur pernah menjadi manusia ‘suci’ yang selalu mendapat belaian-Nya melalui perantara tangan lembut ibu dan bapakku.

Walaupun begitu, Tuhan memang maha adil. Karena semua rasa sakit selalu ada obatnya, termasuk rasa rindu. Kerinduanku pada masa kanak-kanak kini bisa kutumpahkan dengan membelai kepala malaikat-malaikat kecil yang masih gemar bermain, malaikat-malaikat kecil yang rela dimarahi ibunya habis-habisan demi bisa bermain di tengah hujan bersama-sama, malaikat-malaikat yang senantiasa menumpahkan kekesalan melalui tangisannya yang meledak, dan bukan dengan dendam serta rasa benci.

Ya Tuhan, aku ingin sekali menjadi wakil-Mu untuk membelai kepala mungil mereka. Terlebih untuk mereka yang tak seberuntung aku ketika masih menyandang gelar ‘malaikat kecil’ dulu…
tawa tanpa beban

Ada yang Salah


Ada yang salah dengan umat ini

Umat paranoid yang selalu menganggap apapun di luar sistem sebagai ancaman

Bahkan hiasan pohon natal pun disebutnya sebagai perusak aqidah

Ada yang salah dengan umat ini

Umat yang malas berpikir, umat yang enggan menggunakan akal yang dimilikinya

Mencari kambing hitam telah menjadi jurus andalan

Bahkan kasus pemerkosaan anak di bawah umur pun, disebutnya sebagai ulah JIL dan antek-antek Yahudi

Ada yang salah dengan umat ini

Umat yang silau dengan apapun yang berbau arab

Bahkan sikap kasar, pemarah, dan keras kepala yang telah menjadi tipikal asli orang arab pun, dianggap sebagai teladan

Sekali lagi,

Ada yang salah dengan umat ini

Umat yang entah kenapa menjadi sangat temperamental

Pentungan, kepalan tangan, dan kata-kata makian lebih digemari sebagai sarana dakwah

Preman berkalung sorban dijadikan panutan

Sedangkan Ulama dan Kyai yang mengajarkan keramahan dan kesantunan, justru dicaci serta dicap liberal antek setan

Jelas sekali

Ada yang salah dengan umat ini

Munirul Ichwan (Islamic Association of University Student)

Minggu, 14 Oktober 2012

Nafasku


Aku tak pernah memandang siapapun sebagai orang lain. Entah itu orang yang memang aku kenal, orang yang sekedar lewat lalu lalang, maupun anak-anak kecil yang sedang berlari-larian penuh canda. Bukan karena aku orang yang ramah, supel, dan sebagainya. Sekali lagi bukan. Ini semua karena tak seorangpun yang menganggapku ada.

Terkadang aku merasa tak ada gunanya lagi aku bertahan hidup. Suamiku telah lama mati, dibantai oleh orang-orang kampung hanya karena pernah menerima bantuan caping dan sabit berlogo palu arit warna merah. Aku menyesal saat itu tidak bisa berbuat apa-apa. Jelas sekali tergambar dalam ingatanku saat malam terakhir kita tidur bersama. Mendengar suara-suara mencurigakan, suamiku menyuruhku lari lewat pintu belakang dengan membawa serta anakku. Ingin sekali aku menolak perintah suamiku kala itu, namun tatapan matanya yang begitu tajam seolah-olah telah mendakwaku. Aku tak punya pilihan lain. Dan sesuai garis nasib dari Tuhan, malam itu adalah kali terakhir kita bertatap muka.

Dan kemana kemanakah perginya anakku? Aku benar-benar tidak sanggup jika ada yang bertanya tentang anakku. Bertahun-tahun telah kujaga amanah terakhir suamiku, yang meskipun tidak pernah diungkapkannya namun sangat jelas kumengerti dari tatapan matanya, untuk membesarkannya. Pekerjaan apapun telah kulakukan, dan segalanya telah kujual untuk dapat menghidupinya. Tapi siapa sangka, mata merah saat dia dalam gendonganku di malam tragis itu, ternyata telah ‘membakar’ jantung dan seluruh aliran darahnya.

Tak kusangka wajah mungil yang sangat kusayangi melebihi apapun itu menyimpan dendam yang sangat mendalam. Kasih dan perhatian yang kucurahkan tak sanggup membendung trauma dan cemoohan orang-orang yang selalu membayanginya. Dan layaknya ketika tragedi itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, aku tak mampu berbuat banyak untuk melawan mereka, orang-orang ‘suci’ yang selalu menghina dan mengucilkanku. Tidak pernah jelas alasan mereka melakukan ini semua, tapi setahuku adalah karena aku istri dari seorang anggota PKI. Dan aku benar-benar menyesal, karena dendam tersebutlah yang akhirnya membunuh satu-satunya anakku.

Apalah artinya aku sekarang ini, hanya seorang janda PKI yang tinggal sebatang kara. Yang harus duduk berjam-jam menjual mainan sederhana berasal dari dua cangkang keong yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mampu menimbulkan bunyi-bunyian, yang tentunya sudah sangat sedikit sekali anak kecil yang mau meliriknya, di pelataran sebuah swalayan kecil yang modern. Swalayan yang telah menambah susah kehidupan pedagang-pedagang kecil yang tak cukup kuat melawan arus modernisasi dengan tanpa ampun merampas pelanggan-pelanggannya. Aku pun juga tidak mampu berbuat apa-apa. Siapa pula yang sudi memperhatikam orang tua sepertiku. Dengan tubuh bongkok dan kulit penuh keriput, tak kan ada yang tertarik apalagi memperjuangkan nasibku maupun nasib orang-orang sepertiku.

Kepada siapa lagi aku harus berharap? Pemerintah? Aku rasa tidak. Aku benar-benar tidak tega, karena jelas sekali mereka kini sedang kesusahan mengatasi masalah dan kepentingannya sendiri. Dan justru pemerintah lah yang dulu menyebabkan jalan hidupku menjadi tragis seperti ini. Menjadi orang asing di tengah-tengah bangsa sandiri.

Bersyukurlah aku dilahirkan sebagai orang yang sombong, yang tidak mudah untuk mengakui kekalahan. Karena hanya dengan kesombongan itulah aku tetap mempertahankan hidupku ini, tidak seperti orang-orang lain yang memilih untuk lampus. Karena jika aku bunuh diri, itu berarti aku telah kalah. Aku memilih untuk menjalani hidup seperti sekarang ini. Terinjak-injak oleh kesewenangan yang semakin merajalela. Tetapi harus aku ulangi lagi, bahwa aku tidak kalah. Karena sampai sekarang aku masih tetap hidup, tetap bernafas, mewakili nafas suami dan anakku.


IRUL at O-108 tekkim
26 april 2011 08:07 pm

Jumat, 28 September 2012

Yuk, Kita Marah


Banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita marah. Mulai dari hal-hal sepele, seperti diserobot ketika sedang antri di pom bensin, sampai dengan hal-hal prinsip, seperti ditinggal minggat istri, dan lain sebagainya. Bentuk kemarahan yang  muncul juga bermacam-macam. Ada yang mengumpat, memukul, atau ada juga yang lari-lari teriak bawa pentungan. 

Yang disebutkan itu tadi jenis-jenis marah yang keras. Tapi jangan salah, marah yang keras tadi tidak dilakukan oleh kelompok preman pimpinan Hercules ataupun John Key yang sering rebutan lahan sengketa di Jakarta, melainkan dilakukan oleh sekelompok orang berjubah dan bersurban, yang selalu berteriak Allahu Akbar ketika menghajar orang. Entah sebegitu parahkah kemarahan mereka, atau hobi mereka memang ngamuk sambil bawa pentungan di jalan-jalan? Kalau aku tanyakan hal ini ke anak gaul jaman sekarang, pasti bakalan dibalik tanya “Mau tau banget atau mau tau aja?”. Semprul.

Akhir-akhir ini, memang banyak hal yang membuat kita, sebagai umat Islam, marah. Yang paling gress  adalah munculnya film pelecehan Nabi yang, kalau ga salah, berjudul The Innoncence of Muslim. Awalnya aku juga sempet mendidih dan hampir saja meloncat ke jalanan sambil bawa pentungan. Tapi, karena ga punya surban dan baju jubah, akhirnya kuputuskan untuk membuka situs youtube terlebih dulu untuk melihat seperti apa film yang kabarnya dibikin oleh orang Amerika tersebut. Setelah menonton, aku jadi heran. Bagaimana film ga bermutu seperti ini bisa terkenal dan membuat geger seluruh dunia? Apa karena berita orang-orang ngamuk tadi, atau karena media disini agak lebay? Padahal, secara kasat mata, film bikinan orang stress ini jelas ga lebih baik dari film-film horor khas Indonesia yang selalu bisa bikin para penontonnya yang laki-laki ‘tegang’.

Lalu, sudah tepatkah tindakan orang-orang berjubah itu dengan ngamuk-ngamuk ga jelas di depan kedubes AS (padahal AS sendiri juga mengutuk film tersebut)? kalau jawabannya memang ga tepat, lantas apa kita ga  malu? Katanya, selain kebersihan, rasa malu itu juga sebagian dari iman, betul ga? Kalau betu, kita harusnya malu sama orang-orang katolik. Gimana enggak malu, la wong doktrin agamanya diserang habis-habisan oleh film sekelas Da Vinci Code-yang digarap dengan serius, berdurasi lama, dan pemain-pemainnya juga terkenal- mereka ga ngamuk kok. Diakui atau enggak, mereka sudah jauh lebih dewasa dari kita. Pendeta-pendeta mereka merspon film yang diadaptasi dari karya Dan Brown tersebut tidak dengan merusak, membakar, ataupu menuduh orang Islam sebagai pelakunya, melainkan mereka lebh sibuk mengarahkan dan memberi penjelasan kepada para jamaahnya.

Tapi, ya jangan karena kelakuan para pembela Tuhan itu (padahal kata Gus Dur, Tuhan tu tidak perlu dibela), lantas kita jadi minder. Karena jika di depan tadi dijelaskan tentang jenis-jenis marah yang keras, tentunya ada juga jenis marah yang lembut. Orang yang marahnya jenis ini, jelas tahu betul tentang kisah Nabi yang menjenguk seorang kafir yang ketika sehat sering melempari beliau dengan kotoran, juga kisah Nabi yang rutin menyuapi perempuan Yahudi buta yang selalu memaki-maki beliau sedangkan dia (orang yahudi tersebut) tidak sadar siapa yang sedang menyuapinya.

Orang-orang ini adalah saudara-saudara muslim kita di Inggris yang merespon film pelecehan Nabi tersebut dengan membagi-bagikan secara gratis terjemahan Al-Qur’an dan Shirah Nabi kepada orang-orang non muslim disana. Selain itu, ada juga pemerintah Qatar yang mengucurkan dana sebesar 4 Triliun untuk membuat film tentang Shirah Nabi untuk menandingi film ecek-ecek yang tersebar lewat youtube tersebut.

Seperti banyaknya bahasa 4L4Y yang digunakan di negeri ini, seperti ciyuuus, miapah, waini, dan kawan-kawannya, sebanyak itulah ekspresi kemarahan seseorang ketika junjungannya dilecehkan. Sebagai umat yang taat, memang wajar dan wajib kita marah jika Nabi agung kita dihina, dijadikan kartun, difilmkan, dll. Tapi, bagaimana kita mengungkapkan rasa marah kita, itulah yang akan memperlihatkan kualitas kita yang sesungguhnya. Wallahu alam Bishshawab.

Munirul Ichwan (Islamic Association of University student)

Sabtu, 21 Juli 2012

Mari Bergerilya Untuk Pendidikan


Hawa dingin yang berasal dari semburan lubang-lubang AC di atap kantor Chandra Asri benar-benar membuat tanganku terasa kaku. Pekerjaan mengetik laporan pun menjadi tersendat-sendat karena jari-jemari tak bisa bekerja secara normal sebagaimana ketika berada pada suhu kampus yang rata-rata, bahkan cenderung panas. Daripada nanti hasil ketikanku banyak yang salah, kuputuskan saat itu untuk ngobrol saja dengan salah satu kawanku dari Teknik Mesin ITB. Namanya Sugi, yang mengaku berasal dari Cirebon.

Dalam obrolan itu, dia memberikan gambaran tentang apa yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa di desa atau daerah asalnya. Selain itu dia sampaikan juga keinginannya untuk membangun sebuah perpustakaan rakyat untuk menunjang sarana peningkatan mutu pendidikan bagi kalangan menengah ke bawah. Gambaran-gambaran tersebut sepenuhnya aku amini. Namun, kusampaikan juga bahwa ada sebuah kesulitan besar yang menghalangi langkah awal seorang mahasiswa perantauan untuk bergerak, yaitu merangkul masyarakat di daerah asalnya. Kesulitan tersebut disebabkan oleh adanya gap yang cukup lebar antara intelektual muda yang telah kekenyangan oleh hal-hal yang berbau teori sepertiku dengan para praktisi di desa pedalaman yang tingkat pendidikannya terbatas.

Butuh keberanian dan keterampilan khusus untuk menerobos gap tersebut. Dan kedua hal itu harus kita miliki, karena kita sama-sama sepakat bahwa masa depan bangsa ini akan jauh lebih baik jika ribuan putra desa yang telah beruntung bisa mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi mau kembali ke tempat asalnya untuk menularkan dan memprovokasikan kebaikan kepada calon-calon putra desa yang lain. Karena sesungguhnya semangat belajar anak-anak, yang orang tuanya kebanyakan berlatar belakang petani, bisa ditumbuhkan dengan memunculkan figur-figur panutan yang bisa menjadi motifasi bagi mereka untuk merengkuh pendidikan yang lebih tinggi serta menghancurkan batas-batas, yang tanpa mereka sadari, telah dibentuk oleh lingkungan dan pergaulan mereka yang pesimistis.

Obrolan tersebut kemudian terpaksa harus berhenti karena kedatangan salah seorang superitenden Chandra Asri untuk memberikan bimbingan kepada kami. Meskipun singkat, namun semangatku untuk berbuat lebih kembali muncul setelah obrolan tersebut. Aku harus memberikan sesuatu yang lebih untuk tanah kelahiranku. Sebenarnya aku tahu masalah-masalah mereka, tapi sampai sekarang aku masih belum mampu (atau jangan-jangan, ASTAGHFIRULLAH, aku belum mau) menganalisis dan melakukan pendekatan lebih jauh.

Butuh pengetahuan tentang teori antropologi sederhana untuk mengatasi resistensi warga terhadap hal-hal baru. Dan aku rasa teori pergerakan yang selama ini kupelajari bisa menjadi bekal untuk melancarkan gerilya melawan kebodohan dan batas-batas yang membelenggu alam pikir anak-anak bangsa.

Mendidik anak-anak Indonesia merupakan pekerjaan yang paling mulia dalam hidup. Kalimat yang berasal dari seorang tokoh revolusioner idolaku, Tan Malaka, tiba-tiba terngiang di telingaku. Membuatku melamun untuk sekian lama, sampai kawan-kawanku yang semuanya sudah siap menenteng tas mengingatkanku bahwa bus jemputan akan segera datang. Aku harus segera bersiap, bus-bus tersebut tak akan menunggu mereka yang terlambat.