Sabtu, 21 Juli 2012

Mari Bergerilya Untuk Pendidikan


Hawa dingin yang berasal dari semburan lubang-lubang AC di atap kantor Chandra Asri benar-benar membuat tanganku terasa kaku. Pekerjaan mengetik laporan pun menjadi tersendat-sendat karena jari-jemari tak bisa bekerja secara normal sebagaimana ketika berada pada suhu kampus yang rata-rata, bahkan cenderung panas. Daripada nanti hasil ketikanku banyak yang salah, kuputuskan saat itu untuk ngobrol saja dengan salah satu kawanku dari Teknik Mesin ITB. Namanya Sugi, yang mengaku berasal dari Cirebon.

Dalam obrolan itu, dia memberikan gambaran tentang apa yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa di desa atau daerah asalnya. Selain itu dia sampaikan juga keinginannya untuk membangun sebuah perpustakaan rakyat untuk menunjang sarana peningkatan mutu pendidikan bagi kalangan menengah ke bawah. Gambaran-gambaran tersebut sepenuhnya aku amini. Namun, kusampaikan juga bahwa ada sebuah kesulitan besar yang menghalangi langkah awal seorang mahasiswa perantauan untuk bergerak, yaitu merangkul masyarakat di daerah asalnya. Kesulitan tersebut disebabkan oleh adanya gap yang cukup lebar antara intelektual muda yang telah kekenyangan oleh hal-hal yang berbau teori sepertiku dengan para praktisi di desa pedalaman yang tingkat pendidikannya terbatas.

Butuh keberanian dan keterampilan khusus untuk menerobos gap tersebut. Dan kedua hal itu harus kita miliki, karena kita sama-sama sepakat bahwa masa depan bangsa ini akan jauh lebih baik jika ribuan putra desa yang telah beruntung bisa mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi mau kembali ke tempat asalnya untuk menularkan dan memprovokasikan kebaikan kepada calon-calon putra desa yang lain. Karena sesungguhnya semangat belajar anak-anak, yang orang tuanya kebanyakan berlatar belakang petani, bisa ditumbuhkan dengan memunculkan figur-figur panutan yang bisa menjadi motifasi bagi mereka untuk merengkuh pendidikan yang lebih tinggi serta menghancurkan batas-batas, yang tanpa mereka sadari, telah dibentuk oleh lingkungan dan pergaulan mereka yang pesimistis.

Obrolan tersebut kemudian terpaksa harus berhenti karena kedatangan salah seorang superitenden Chandra Asri untuk memberikan bimbingan kepada kami. Meskipun singkat, namun semangatku untuk berbuat lebih kembali muncul setelah obrolan tersebut. Aku harus memberikan sesuatu yang lebih untuk tanah kelahiranku. Sebenarnya aku tahu masalah-masalah mereka, tapi sampai sekarang aku masih belum mampu (atau jangan-jangan, ASTAGHFIRULLAH, aku belum mau) menganalisis dan melakukan pendekatan lebih jauh.

Butuh pengetahuan tentang teori antropologi sederhana untuk mengatasi resistensi warga terhadap hal-hal baru. Dan aku rasa teori pergerakan yang selama ini kupelajari bisa menjadi bekal untuk melancarkan gerilya melawan kebodohan dan batas-batas yang membelenggu alam pikir anak-anak bangsa.

Mendidik anak-anak Indonesia merupakan pekerjaan yang paling mulia dalam hidup. Kalimat yang berasal dari seorang tokoh revolusioner idolaku, Tan Malaka, tiba-tiba terngiang di telingaku. Membuatku melamun untuk sekian lama, sampai kawan-kawanku yang semuanya sudah siap menenteng tas mengingatkanku bahwa bus jemputan akan segera datang. Aku harus segera bersiap, bus-bus tersebut tak akan menunggu mereka yang terlambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar