Kamis, 31 Mei 2012

Perubahan Pandangan Keislamanku (2)

Islam yang inklusif, humanis, dan nonformal telah masuk sepenuhnya dalam sendi-sendi pemikiranku. Aku sudah tak sungkan lagi untuk menyatakan ketidaksetujuanku akan gerakan-gerakan Islam yang radikal dan formalis. Bahkan kini aku tak merasa canggung lagi untuk mengucapkan selamat natal ataupun mendoakan teman-teman yang beragama lain.

Pandanganku yang seperti ini banyak sekali dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Gus Dur, Cak Nur, dan Buya Syafii yang menurutku merupakan tiga pemikir Islam terbesar di Indonesia. Bahkan salah seorang kawan pernah mengatakan kalau pola pikirku sama seperti Cak Nur karena dalam setiap forum diskusi aku selalu melontarkan pendapat-endapat yang bersifat liberal.

Selama ini aku menikmati pola pikirku tersebut. dan ketika terjadi perseteruan yang mengerucut pada munculnya slogan FPI Vs. JIL, dengan serta merta akulebih condong kepada pihak JIL. Selain karena ketidaksukaanku akan sikap FPI yang arogan dan intoleran, aku juga tertarik dengan pandangan JIL mengenai kebebasan berpikir.

Namun, suatu ketika aku disadarkan oleh beberapa kawan dalam suatu obrolan di sebuah warung kopi. Saat itu aku tersadar bahwa selama ini telah banyak bertindak dan berpikir tanpa dasar. Salah seroang kawan mengingatkanku untuk lebih berhati-hati jika ingin menempuh jalan liberal dalam berpikir. Karena jika hal tersebut dilakukan tanpa dasar yang kuat, maka yang akan timbul adalah paham menggampangkan segala sesuatu. Dan kalau sudah begitu, akan timbul perasaan menyepelekan hukum-hukum Islam yang secara umum telah tertuang dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Mendengar teguran seperti itu, aku sadar ternyata selama ini banyak bertindak semau sendiri dan hampir saja mengubah beberapa hukum Islam. Selama ini aku terlalu mengagung-agungkan pemikiran Gus Dur, Cak Nur, dan Buya Syafii secara sederhana, tanpa mau menilik keluasan ilmu dan proses yang membentuk pola berpikir mereka. Aku lupa kalau ketiga cendekiawan tersebut telah mendalami berbagai ilmu islam serta telah melampaui fase-fase pendewasaan yang akhirnya membentuk pemikiran mereka yang matang.

Hal inilah yang seharusnya terleih dulu aku lakukan, mendalami ilmu tauhid, fiqh, dan tassawuf terlebih dahulu sebelum melontarkan pemikiran atau pendapat. Hal ini tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kualitas ibadah sehingga kemampuan akal ini dalam berpikir tidak kering oleh nilai-nilai spiritualitas.

Senin, 28 Mei 2012

Takziah


Akhir pekan yang lalu sebenarnya aku tidak berniat untuk pulang ke Madiun. Namun, setelah mendengar sebuah berita duka pada sabtu malam, aku memutuskan untuk pulang ke Madiun keesokan paginya. Malam itu aku mendapatkan kabar bahwa ayah dari salah satu sahabatku sewaktu SMA telah meninggal dunia. Rasa iba langsung muncul demi mendengar berita tersebut, apalagi sebelumnya aku tahu bahwa sahabatku tersebut sedang berada di Malang untuk berekreasi, ironis sekali.  Beruntung malam itu disana ada beberapa teman yang bisa menemani sampai  ada keluarga yang menjemputnya.

Minggu siang, sekitar jam sebelas aku datang ke rumahnya yang berada di daerah Takeran, Magetan untuk bertakziah bersama-sama dua orang temanku lainnya yang juga baru datang dari Malang dan Surabaya. Ramai dan kental akan aroma kesedihan, itulah kesan pertama yang kudapatkan ketika pertama kali sampai di depan rumahnya. Kebetulan waktu itu kami datang ketika jenazah baru saja diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir.

Setelah bertemu dan melihat secara langsung kondisi sahabatku yang baru saja kehilangan, aku seperti sedang melihat diriku sendiri yang juga pernah mengalami kejadian hampir sama lima tahun yang lalu. Merasakan kesedihan yang luar biasa karena harus ditinggalkan selama-lamanya oleh orang yang sudah sangat dekat dan biasanya ada di sekitar kita. Namun, takdir memang tidak akan pernah bisa ditolak. Kesedihan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Karena setiap yang berasal dariNya pasti akan kembali kepadaNya. Dan yang berhenti bernafas bukan berarti mati, melainkan hanya ‘pergi’. Ia akan tetap hidup. Di dalam kenangan dan di dalam doa-doa yang kita panjatkan.

Kuatlah dan ikhlaskan, kawanku…