Akhir pekan yang lalu sebenarnya
aku tidak berniat untuk pulang ke Madiun. Namun, setelah mendengar sebuah
berita duka pada sabtu malam, aku memutuskan untuk pulang ke Madiun keesokan paginya. Malam itu aku mendapatkan kabar bahwa ayah dari salah satu sahabatku sewaktu SMA telah meninggal dunia. Rasa iba langsung muncul demi
mendengar berita tersebut, apalagi sebelumnya aku tahu bahwa sahabatku tersebut
sedang berada di Malang untuk berekreasi, ironis sekali. Beruntung malam itu disana ada beberapa teman
yang bisa menemani sampai ada
keluarga yang menjemputnya.
Minggu
siang, sekitar jam sebelas aku datang ke rumahnya yang berada di daerah
Takeran, Magetan untuk bertakziah bersama-sama dua orang temanku lainnya yang
juga baru datang dari Malang dan Surabaya. Ramai dan kental akan aroma
kesedihan, itulah kesan pertama yang kudapatkan ketika pertama kali sampai di
depan rumahnya. Kebetulan waktu itu kami datang ketika jenazah baru saja
diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir.
Setelah
bertemu dan melihat secara langsung kondisi sahabatku yang baru saja kehilangan, aku seperti
sedang melihat diriku sendiri yang juga pernah mengalami kejadian hampir sama lima
tahun yang lalu. Merasakan kesedihan yang luar biasa karena harus ditinggalkan
selama-lamanya oleh orang yang sudah sangat dekat dan biasanya ada di sekitar
kita. Namun, takdir memang tidak akan pernah bisa ditolak. Kesedihan tidak
boleh dibiarkan berlarut-larut. Karena setiap yang berasal dariNya pasti akan
kembali kepadaNya. Dan yang berhenti bernafas bukan berarti mati, melainkan
hanya ‘pergi’. Ia akan tetap hidup. Di dalam kenangan dan di dalam doa-doa yang kita panjatkan.
Kuatlah
dan ikhlaskan, kawanku…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar