Senin, 28 Mei 2012

Takziah


Akhir pekan yang lalu sebenarnya aku tidak berniat untuk pulang ke Madiun. Namun, setelah mendengar sebuah berita duka pada sabtu malam, aku memutuskan untuk pulang ke Madiun keesokan paginya. Malam itu aku mendapatkan kabar bahwa ayah dari salah satu sahabatku sewaktu SMA telah meninggal dunia. Rasa iba langsung muncul demi mendengar berita tersebut, apalagi sebelumnya aku tahu bahwa sahabatku tersebut sedang berada di Malang untuk berekreasi, ironis sekali.  Beruntung malam itu disana ada beberapa teman yang bisa menemani sampai  ada keluarga yang menjemputnya.

Minggu siang, sekitar jam sebelas aku datang ke rumahnya yang berada di daerah Takeran, Magetan untuk bertakziah bersama-sama dua orang temanku lainnya yang juga baru datang dari Malang dan Surabaya. Ramai dan kental akan aroma kesedihan, itulah kesan pertama yang kudapatkan ketika pertama kali sampai di depan rumahnya. Kebetulan waktu itu kami datang ketika jenazah baru saja diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir.

Setelah bertemu dan melihat secara langsung kondisi sahabatku yang baru saja kehilangan, aku seperti sedang melihat diriku sendiri yang juga pernah mengalami kejadian hampir sama lima tahun yang lalu. Merasakan kesedihan yang luar biasa karena harus ditinggalkan selama-lamanya oleh orang yang sudah sangat dekat dan biasanya ada di sekitar kita. Namun, takdir memang tidak akan pernah bisa ditolak. Kesedihan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Karena setiap yang berasal dariNya pasti akan kembali kepadaNya. Dan yang berhenti bernafas bukan berarti mati, melainkan hanya ‘pergi’. Ia akan tetap hidup. Di dalam kenangan dan di dalam doa-doa yang kita panjatkan.

Kuatlah dan ikhlaskan, kawanku…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar