Hawa dingin yang berasal dari semburan
lubang-lubang AC di atap kantor Chandra Asri benar-benar membuat tanganku
terasa kaku. Pekerjaan mengetik laporan pun menjadi tersendat-sendat karena
jari-jemari tak bisa bekerja secara normal sebagaimana ketika berada pada suhu
kampus yang rata-rata, bahkan cenderung panas. Daripada nanti hasil ketikanku
banyak yang salah, kuputuskan saat itu untuk ngobrol saja dengan salah satu
kawanku dari Teknik Mesin ITB. Namanya Sugi, yang mengaku berasal dari Cirebon.
Dalam obrolan itu, dia memberikan
gambaran tentang apa yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa di desa atau
daerah asalnya. Selain itu dia sampaikan juga keinginannya untuk membangun
sebuah perpustakaan rakyat untuk menunjang sarana peningkatan mutu pendidikan
bagi kalangan menengah ke bawah. Gambaran-gambaran tersebut sepenuhnya aku amini. Namun, kusampaikan juga bahwa ada
sebuah kesulitan besar yang menghalangi langkah awal seorang mahasiswa perantauan
untuk bergerak, yaitu merangkul masyarakat di daerah asalnya. Kesulitan
tersebut disebabkan oleh adanya gap
yang cukup lebar antara intelektual muda yang telah kekenyangan oleh hal-hal yang
berbau teori sepertiku dengan para praktisi di desa pedalaman yang tingkat
pendidikannya terbatas.
Butuh keberanian dan keterampilan
khusus untuk menerobos gap tersebut.
Dan kedua hal itu harus kita miliki, karena kita sama-sama sepakat bahwa masa
depan bangsa ini akan jauh lebih baik jika ribuan putra desa yang telah beruntung
bisa mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi mau kembali ke tempat asalnya
untuk menularkan dan memprovokasikan kebaikan kepada calon-calon putra desa
yang lain. Karena sesungguhnya semangat belajar anak-anak, yang orang tuanya
kebanyakan berlatar belakang petani, bisa ditumbuhkan dengan memunculkan
figur-figur panutan yang bisa menjadi motifasi bagi mereka untuk merengkuh
pendidikan yang lebih tinggi serta menghancurkan batas-batas, yang tanpa mereka
sadari, telah dibentuk oleh lingkungan dan pergaulan mereka yang pesimistis.
Obrolan tersebut kemudian terpaksa harus
berhenti karena kedatangan salah seorang superitenden
Chandra Asri untuk memberikan bimbingan kepada kami. Meskipun singkat, namun
semangatku untuk berbuat lebih kembali muncul setelah obrolan tersebut. Aku
harus memberikan sesuatu yang lebih untuk tanah kelahiranku. Sebenarnya aku
tahu masalah-masalah mereka, tapi sampai sekarang aku masih belum mampu (atau
jangan-jangan, ASTAGHFIRULLAH, aku belum mau) menganalisis dan melakukan
pendekatan lebih jauh.
Butuh pengetahuan tentang teori
antropologi sederhana untuk mengatasi resistensi warga terhadap hal-hal baru.
Dan aku rasa teori pergerakan yang selama ini kupelajari bisa
menjadi bekal untuk melancarkan gerilya melawan kebodohan dan batas-batas yang
membelenggu alam pikir anak-anak bangsa.
Mendidik anak-anak Indonesia merupakan pekerjaan yang paling mulia dalam hidup. Kalimat
yang berasal dari seorang tokoh revolusioner idolaku, Tan Malaka, tiba-tiba terngiang
di telingaku. Membuatku melamun untuk sekian lama, sampai kawan-kawanku yang
semuanya sudah siap menenteng tas mengingatkanku bahwa bus jemputan akan segera
datang. Aku harus segera bersiap, bus-bus tersebut tak akan menunggu mereka
yang terlambat.