Hari ini, teman-temanku sedang ribut tentang hari pertama
pelaksanaan ibadah puasa romadhon. Apakah besok, ataukah lusa. Bahkan, sebelum
sidang Isbat berlangsung (yang akhirnya memutuskan bahwa tanggal 1 Ramadhan
jatuh pada hari sabtu), mereka sudah mencari informasi terkaoit hal tersebut
kesana kemari. Ada yang menghubungi orang tua masing-masing, ada
pula yang mengobok-obok internet untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.
Sebenarnya hal tersebut wajar dan sah-sah saja terjadi. Karena secara
naluriah manusia akan selalu mencari legitimasi atas hal-hal yang ingin mereka
lakukan. Namun, yang tidak aku
sukai dari ‘keributan’ tersebut adalah perasaan sok benar dan menjatuhkan pihak
lain yang berbeda pendapat. Bahkan ada yangmengatakan bahwa mereka yang
berpuasa pada hari jum’at berarti tidak patuh terhadap pemerintah. Dalam hal
ini, yang dimaksud mereka mungkin adalah organisasi Muhammadiyah yang tahun ini
memutuskan untuk tidak mengikuti sidang Isbat serta sejak dini telah menentukan
bahwa hari pertama puasa Ramadhan jatuh pada hari jum’at. Sungguh sebuah
tuduhan yang tidak mendasar.
Bagiku, yang tidak jelas antara pengikut NU atau Muhammadiyah,
perbedaan penentuan awal puasa atau lebaran tidaklah perlu terlalu dijadikan
soal. Sebagai orang awam, aku sangat yakin mereka yang telah ahli dan berwenang
dalam melihat hilal, atau apapun metodenya, pasti telah bekerja secara jujur
dan teliti. Kita tinggal mengikuti saja mana yang sekiranya lebih cocok dengan
kata hati kita. Toh, dengan perbedaan ini sama sekali tidak ada yang dirugikan.
Dan bagi kawan-kawan semua, selamat menunaikan ibadah puasa. Memulai
bulan ramadhan pada hari jum’at ataupun sabtu bagiku sama baiknya. Yang tidak
baik itu yang tidak puasa (syarat dan ketentuan berleku). Hehee...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar