Selasa, 17 Januari 2012

Hitam Vs. Putih


Siapa yang tidak mengenal nama-nama seperti Arjuna, Srikandi, Rahwana, dan Gatotkaca? Nama-nama tersebut tentunya sangat akrab di telinga kita, apalagi bagi kita yang hobi membaca kisah-kisah pewayangan. Nama-nama tersebut di atas merupakan nama sebagian tokoh dalam sebuah cerita klasik yang berjudul Mahabarata. Cerita yang mengisahkan tentang peperangan antara Pandawa dan Kurawa ini sangat populer di dunia pewayangan, dan lebih dari itu, nama para tokoh dalam cerita tersebut banyak sekali digunakan sebagai perumpamaan ataupun inspirasi orang-orang, khususnya orang Jawa. Konon, kisah Mahabarata ini berasal dari tanah India yang terdiri dari 18 kitab, yang kemudian bagian-bagiannya digubah lagi oleh beberapa pujangga nusantara, diantaranya Mpu Kanwa, Mpu Sedah, dan Mpu panuluh, dengan sangat menawan sehingga kisah tersebut seolah-olah telah terjadi di tanah Jawa Dwipa ini.

Dalam kisah Mahabarata, diperlihatkan secara jelas polarisasi antara kekuatan baik, yang diperankan oleh kelompok Pandawa, dan kekuatan jahat, yang diperankan oleh Kurawa. Dan hasilnya tentu saja bisa ditebak, kekuatan baik akan selalu menang melawan kejahatan.

Dari kisah tersebut tentunya kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa sudah seharusnya kita berada pada kelompok baik dan memerangi segala kekuatan jahat. Namun, bagaimana cara kita mengaplikasikan pelajaran tersebut di dunia modern abad 21 ini? Jangankan untuk mengambil sikap, bahkan untuk sekedar mengambil penilaian tentang baik/jahat, benar/salah, kita selalu mengalami kebiasan. Entah di zaman ketika disusunnya Mahabarata tersebut mengandung pesan yang relevan atau tidak, namun yang jelas kisah tersebut tidak bisa dijadikan patokan lagi sebagai dasar untuk melakukan penilaian terhadap sebuah pertikaian ataupun permusuhan.

Jika kita mau menilik beberapa pertikaian yang telah terjadi di zaman modern ini, tentu kita akan mengalami kesulitan untuk menentukan siapa yang pandawa dan siapa yang kurawa. Sebagai contoh bisa kita lihat dalam perang Irak versus Iran, para tentara dari kedua belah pihak sama-sama meneriakkan Allahu Akbar ketika berusaha membunuh musuhnya. Atau lihat juga perang dingin yang telah terjadi bertahun-tahun antara Uni Soviet yang komunis, melawan Amerika Serikat yang kapitalis. Tidak jelas siapa yang benar dan siapa yang salah di antara keduanya. Masing-masing memiliki landasan ideologis yang mendasari segala macam tindakan atau kebijakannya. Selain itu, masih banyak lagi pertikaian-pertikaian yang berskala besar maupun kecil yang terjadi di sekitar kita yang senantiasa membuat bingung, di pihak mana kita harus memihak? Pihak siapa yang benar? Dan siapa yang harus kita bela?

Pertanyaan-pertanyaan tersebur pasti muncul dalam benak kita, karena pada dasarnya manusia membutuhkan suatu pembenaran untuk menghilangkan perasaan ragu-ragu dalam bertindak. Dan tentunya setiap orang akan memiliki jawaban yang berbeda-beda mengenai pertanyaan tersebut, meskipun dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sama. Hal tersebut telah mengajarkan kita bahwa segala sesuatu tidak dapat dinilai dengan predikat hitam/putih, benar/salah, ataupun baik/jahat. Karena wilayah yang sedang kita hadapi saat ini adalah sebuah wilayah yang abu-abu. Padang Kurusetra di abad 21 ini dipenuhi dengan kontradiksi-kontradiksi yang terkadang tidak terlihat secara kasat mata.  Kita pun juga tidak berhakdengan serta merta menggembar-gemborkan bahwa apa yang kita yakini adalah suatu kebenaran yang mutlak.

Apakah dengan memakai jubah dan membawa bendera FPI (Front Pedmbela Islam) kita berhak merusak kota dan memukuli waria? Apakah dengan menjadi murid Abu Bakar Ba’asyir serta pernah menjalani latihan perang di Afghanistan kita menjadi berhak meledakkan isi perut dan kepala orang yang tidak tahu apa-apa? Dan apakah dengan memakai seragam Polisi Pamong Praja lantas kita berhak memukul dan menendang anak-anak negeri demi alasan kenyamanan dan ketertiban? Pertanyaan tersebut tentunya akan sangat mudah dijawab jika kita mampu berpikir bahwa kebenaran itu sangatlah relatif serta dunia ini tidak bisa dinilai dengan predikat hitam melawan putih.

Jika saja kita mau membuka mata lebih lebar lagi, kita harus siap dengan kenyataan bahwa suatu hal yang selama ini kita yakini mulia, ternyata memiliki bopeng-bopeng yang merupakan wujud ketidaksempurnaannya. Siapa sangka selama ini FPI didanai dan dikendalikan oleh kepolisian? Siapa sangka sebagian pemimpin demonstran ’98 telah mendapatkan karung-karung berisi uang sebagai imbalan dari pihak-pihak yang berkepentingan? Dan siapa pula yang akan menyangka, dibalik wajah yang sering kita lihat di cermin ini tersimpan wajah-wajah lain yang sarat dengan kemunafikan?


Oleh : Munirul I. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar