Siapa yang tidak mengenal nama-nama
seperti Arjuna, Srikandi, Rahwana, dan Gatotkaca? Nama-nama tersebut tentunya
sangat akrab di telinga kita, apalagi bagi kita yang hobi membaca kisah-kisah
pewayangan. Nama-nama tersebut di atas merupakan nama sebagian tokoh dalam
sebuah cerita klasik yang berjudul Mahabarata. Cerita yang mengisahkan tentang
peperangan antara Pandawa dan Kurawa ini sangat populer di dunia pewayangan,
dan lebih dari itu, nama para tokoh dalam cerita tersebut banyak sekali
digunakan sebagai perumpamaan ataupun inspirasi orang-orang, khususnya orang
Jawa. Konon, kisah Mahabarata ini berasal dari tanah India yang terdiri dari 18
kitab, yang kemudian bagian-bagiannya digubah lagi oleh beberapa pujangga
nusantara, diantaranya Mpu Kanwa, Mpu Sedah, dan Mpu panuluh, dengan sangat
menawan sehingga kisah tersebut seolah-olah telah terjadi di tanah Jawa Dwipa
ini.
Dalam kisah Mahabarata, diperlihatkan
secara jelas polarisasi antara kekuatan baik, yang diperankan oleh kelompok
Pandawa, dan kekuatan jahat, yang diperankan oleh Kurawa. Dan hasilnya tentu
saja bisa ditebak, kekuatan baik akan selalu menang melawan kejahatan.
Dari kisah tersebut tentunya kita bisa
mengambil sebuah pelajaran bahwa sudah seharusnya kita berada pada kelompok
baik dan memerangi segala kekuatan jahat. Namun, bagaimana cara kita
mengaplikasikan pelajaran tersebut di dunia modern abad 21 ini? Jangankan untuk
mengambil sikap, bahkan untuk sekedar mengambil penilaian tentang baik/jahat,
benar/salah, kita selalu mengalami kebiasan. Entah di zaman ketika disusunnya
Mahabarata tersebut mengandung pesan yang relevan atau tidak, namun yang jelas
kisah tersebut tidak bisa dijadikan patokan lagi sebagai dasar untuk melakukan
penilaian terhadap sebuah pertikaian ataupun permusuhan.
Jika kita mau menilik beberapa pertikaian
yang telah terjadi di zaman modern ini, tentu kita akan mengalami kesulitan
untuk menentukan siapa yang pandawa dan siapa yang kurawa. Sebagai contoh bisa
kita lihat dalam perang Irak versus Iran, para tentara dari kedua belah
pihak sama-sama meneriakkan Allahu
Akbar ketika berusaha
membunuh musuhnya. Atau lihat juga perang dingin yang telah terjadi
bertahun-tahun antara Uni Soviet yang komunis, melawan Amerika Serikat yang
kapitalis. Tidak jelas siapa yang benar dan siapa yang salah di antara
keduanya. Masing-masing memiliki landasan ideologis yang mendasari segala macam
tindakan atau kebijakannya. Selain itu, masih banyak lagi pertikaian-pertikaian
yang berskala besar maupun kecil yang terjadi di sekitar kita yang senantiasa
membuat bingung, di pihak mana kita harus memihak? Pihak siapa yang benar? Dan
siapa yang harus kita bela?
Pertanyaan-pertanyaan tersebur pasti
muncul dalam benak kita, karena pada dasarnya manusia membutuhkan suatu
pembenaran untuk menghilangkan perasaan ragu-ragu dalam bertindak. Dan tentunya
setiap orang akan memiliki jawaban yang berbeda-beda mengenai pertanyaan
tersebut, meskipun dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sama. Hal tersebut
telah mengajarkan kita bahwa segala sesuatu tidak dapat dinilai dengan predikat
hitam/putih, benar/salah, ataupun baik/jahat. Karena wilayah yang sedang kita hadapi
saat ini adalah sebuah wilayah yang abu-abu. Padang
Kurusetra di abad 21 ini
dipenuhi dengan kontradiksi-kontradiksi yang terkadang tidak terlihat secara
kasat mata. Kita pun juga tidak berhakdengan serta merta
menggembar-gemborkan bahwa apa yang kita yakini adalah suatu kebenaran yang
mutlak.
Apakah dengan memakai jubah dan membawa
bendera FPI (Front Pedmbela Islam) kita berhak merusak kota dan memukuli waria?
Apakah dengan menjadi murid Abu Bakar Ba’asyir serta pernah menjalani latihan perang
di Afghanistan kita menjadi berhak meledakkan isi perut dan kepala orang yang
tidak tahu apa-apa? Dan apakah dengan memakai seragam Polisi Pamong Praja
lantas kita berhak memukul dan menendang anak-anak negeri demi alasan
kenyamanan dan ketertiban? Pertanyaan tersebut tentunya akan sangat mudah
dijawab jika kita mampu berpikir bahwa kebenaran itu sangatlah relatif serta
dunia ini tidak bisa dinilai dengan predikat hitam melawan putih.
Jika saja kita mau membuka mata lebih
lebar lagi, kita harus siap dengan kenyataan bahwa suatu hal yang selama ini
kita yakini mulia, ternyata memiliki bopeng-bopeng yang merupakan wujud
ketidaksempurnaannya. Siapa sangka selama ini FPI didanai dan dikendalikan oleh
kepolisian? Siapa sangka sebagian pemimpin demonstran ’98 telah mendapatkan
karung-karung berisi uang sebagai imbalan dari pihak-pihak yang berkepentingan?
Dan siapa pula yang akan menyangka, dibalik wajah yang sering kita lihat di
cermin ini tersimpan wajah-wajah lain yang sarat dengan kemunafikan?
Oleh : Munirul I.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar