Jumat, 16 Maret 2012

KEMI : Cinta Kebebasan yang Tersesat

Kemi dan Rahmat, dua sahabat ini sama-sama menimba ilmu di sebuah pesantren pimpinan Kyai Rois di Madiun. Keduanya merupakan santri kesayangan Sang Kyiai dan dianggap sebagai amunisi-amunisi handal dalam memperkuat barisan pengajar di pesantren yang bernama Minhajul Abidin ini. Namun, suatu hari karena alasan misterius Kemi meninggalkan pesantren untuk melanjutkan kuliah di Jakarta. Kepergian Kemi sangat disayangkan oleh Kyiai Rois karena merasa muridnya tersebut belum memiliki ilmu yang cukup untuk menghadapi dahsayatnya godaan-godaan yang ada di luar pesantren.

Lingkungan dan wawasan baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya di pesantren telah membuat Kemi berubah. Kemi yang dulu merupakan seorang santri yang cerdas dan rajin beribadah berubah menjadi seorang aktivis liberal yang sibuk kesana-sini membuat proposal dan pelatihan berbasis pluralisme yang dianggap sesat oleh kalangan pesantren.

Kabar tentang aktivitas Kemi sontak membuat Kyiai Rois kecewa, dan setelah melalui pertimbangan yang matang kemudian diutuslah Rahmad untuk menyadarkan dan mengajak sahabatnya tersebut kembali ke pesantren. Dalam misinya yang penuh resiko inilah Rahmat bertemu dengan tokoh-tokoh liberal yang dianggapnya telah keblinger karena menganggap semua agama sama. Usaha menyadarkan Kemi ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, karena dibalik kegiatan para aktivis liberal tersebut ternyata terdapat sebuah sindikat yang memanipulasi dana dari berbagai foundation untuk kepentingan pribadi.

Novel ini mengangkat kembali kehidupan pesantren dan aktivitas Islam liberal yang seolah-olah tidak pernah habis untuk dibicarakan. Dalam novel ini sangat terihat tendensi pengarang untuk menyudutkan aktivitas kalangan Islam Liberal, mulai dari pemikiran-pemikiran sesat yang dianggap telah merusak akidah sampai perhhal pendanaan yang berasal dari proyek-proyek barat dalam menjinakkan Islam.

Selain itu, deskripsi yang rancu dalam sebuah pragraf
Rumah kos Kemi terbilang untuk ukuran mahasiswa. Sebuah rumah petak berukuran 3,5 x 7 meter. Tidak ada kamar, hanya ada ruang tamu dan dapur serta kamar mandi sendiri. Kemi sendirian tinggal di situ. KAMARnya berantakan. Buku-bukunya berserakan. Tampak ia rajin mengupulkan dan membaca buku.
Dalam paragraf tersebut pada tidak konsisten karena pada awalnya dijelaskan bahwa rumah kontrakan Kemi tidak memiliki kamar, tapi kemudian dijelaskan bahwa kamar Kemi berantakan. Dan meskipun cerita ini tergolong fiksi, namun deskripsi bahwa Rahmat telah memegang sabuk itam di perguruan silat Singa Menari tetap saja terdengar aneh bagi saya yang asli Madiun dan tahu persis tentang budaya pencak silat di kota tersebut.
Judul : KEMI, Cinta Kebebasan yang Tersesat. Penulis : Adian Husaini. Penerbit : Gema Insani Press. Tebal : 316 hal. Cetakan : Ketiga, Maret 2011

Oleh : Munirul I (Student of Sepuluh Nopember Institut of Technology)

Selasa, 13 Maret 2012

Great Night with Superman is Dead


“Nonton bareng Manchester United Vs. Wesbromich Albion.” Kira-kira kalimat seperti itulah yang kubaca di sebuah balIho di ujung jalan Agus Salim Madiun. Awalnya tidak terlalu kuperhatikan karena aku termasuk seorang manchunian yang tidak suka dengan acara-acara nonton bareng seperti itu. Bagiku lebih baik nonton TV di rumah sambil menikmati segelas kopi susu yang nikmat dan, ehmm.. gratis.

Namun, ketika melihat logo kecil di pojok kanan atas baliho yang menginfokan bahwa bintang tamunya adalah SID (akronim dari superman is dead), aku langsung berubah pikiran. Apalagi ketika membuka facebook dan twitter, ada kawan-kawan mantan outsider yang pengen datang juga. maka, langsung saja kukontak mereka untuk datang bersama-sama. Itung-itung mengenang masa-masa muda dulu, hehee…

Dan jadilah, walaupun hujan gerimis mengguyur hampir semua wilayah kota Madiun semenjak sore hari, kita tetap datang ke markas Brimob, tempat digelarnya acara nonton bareng tersebut. bersama tiga mantan anggota outsider lainnya, akhirnya aku bisa menikmati konser SID untuk pertama kalinya sejak tiga tahun yang lalu. Tapi, tidak seperti dulu yang setiap konser aku selalu berada di barisan paling depan sambil pecicilan bergoyang fogo, kali ini aku, dan tiga temanku yang lain, hanya berdiri dan sedakep di tempat sepi di barisan paling belakang. Hahaa, waktu memang sangat berkuasa untuk merubah segalanya.

Walaupun begitu, setidaknya hentakan sebelas lagu dari Jerinx, Eka, dan Bobby ini sanggup menghilangkan kekecewaanku pada dunia palsu yang telah kujalani tiga tahun belakangan ini. Di tempat yang penuh dengan gembel, anak-anak urakan, dan alunan musik cadas ini bisa kutemukan solidaritas dan kejujuran yang tidak bisa kutemukan di tempat yang penuh dengan orang-orang rapi dan sopan. Karena justru di tempat yang terlihat ‘baik’ itulah orang-orangnya tega memangsa kawan yang ‘katanya’ satu perjuangan.

Akhirnya, walaupun tertipu oleh iklan di baliho karena yang ditayangkan ternyata pertandingan Chelsea Vs. Stoke City, malam itu aku bisa pulang dengan kepala tegak dan dada bergemuruh. Masih terngiang salah satu bait lagu yang paling aku suka di telingaku…

“Aku bukan pahlawan berparas tampan, sayap-sayap pupus terbakar
Sayap-sayap pupus terbakar…
Salah enar semua pernah kulakukan,
Angkat gelas kita bersulang!!!!”
Kenangan masa muda dulu

Resensi : Robohnya Surau Kami


Judul Buku          = Robohnya Surau kami
Penulis                 = A.A. Navis
Penerbit              = PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal Halaman  = v + 142 hal

A.A. Navis merupakan salah satu sastrawan besar Indonesia yang lahir di padang Panjang, Sumatera Barat. Karya-karyanya selama ini telah mampu menularkan pemikiran-pemikiran kritis kepada para pembacanya, khususnya di bidang sosial keagamaan. Buku yang berisi kumpulan cerpen karya beliau ini terdiri dari sepuluh judul cerpen dengan gaya bahasa khas karya sastra periode balai pustaka, yang mana salah satunya dijadikan judul utama buku ini, yaitu Robohnya Surau Kami.

Cerpen-cerpen dalam buku ini mampu menggiring kita untuk mengkritisi kembali paham maupun kebiasaan yang telah kita anut selama ini. Seperti kisah Haji Sholeh yang telah menghabiskan seumur hidupnya untuk beribadah sehingga dibiarkan dirinya sendiri melarat, sampai anak cucunya pun teraniaya semua. Selain itu, ada juga kisah ompi yang harus merasakan pahitnya rasa kecewa karena anak semata wayang yang selama ini disombongkan tak mampu memenuhi harapannya. Alih-alih pulang ke rumah dengan membawa titel dokter seperti yang telah digembor-gemborkan, sang anak justru hilang entah kemana, tenggelam bersama kelamnya kehidupan ibukota.

Selain itu masih ada lagi kisah-kisah sarat makna yang terangkum dalam kumpulan cerpen ini. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari kisah-kisah tersebut sehingga buku ini menjadi sangat layak untuk dibaca oleh semua masyarakat Indonesia dari latar belakang apapun agar senantiasa bersikap waspada dan menjaga diri dari benih-benih kesombongan.

Resensi Oleh : Munirul Ichwan (Student of Sepuluh Nopember Institute of Technology)

Selasa, 06 Maret 2012

Parade Antagonis Negeri Ini

Dalam setiap lakon drama, entah itu berupa tragedi, roman, ataupun legenda, selalu terdapat tokoh yang dinamakan tokoh antagonis. Tokoh ini selalu identik dengan hal-hal negatif yang menyebabkan terhambatnya kerja ataupun gerak dari tokoh utama. Namun demikian, keberadaan tokoh antagonis juga tidak boleh dianggap sebelah mata. Karena tanpanya, sebuah kisah drama akan terasa hambar dan sama sekali tidak menarik. Coba kita bayangkan, seandainya tokoh bawang merah selalu baik dan bersahabat dengan bawang putih, apakah kisah bawang merah dan bawang putih masih menjadi kisah yang ‘hidup’ sampai dengan saat ini? Begitu juga dengan kisah Cinderela, Romeo-Juliet, maupun serial kartun Tom and Jerry. Tanpa adanya tokoh yang berperan sebagai tokoh antagonis, kisah-kisah tersebut tidak akan laku terjual.
Gayus Tambunan : Salah satu aktor parade antagonis

Fenomena tersebut nampaknya benar-benar dihayati oleh penggiat media di negeri ini. Hampir semua media cetak maupun elektronik seakan-akan telah sepakat untuk selalu mengekspose seorang tokoh dan dengan kejam menempatkannya pada peran antagonis dalam lakon sinetron negeri ini. Dengan dieksposenya seorang yang sedang tersandung kasus yang menyangkut kepentingan publik secara luas, berita-berita yang disuguhkan oleh media seakan menjadi barang dagangan yang laris manis diborong pelanggan. Entah karena berita tersebut menjadi berbobot dengan dieksposenya seorang yang dianggap merugikan negara, atau karena memang sudah tipikal masyarakat kita yang suka menghujat. Dan jika seiring berjalannya waktu berita tersebut mulai basi, alias masyarakat sudah bosan, kembali dimunculkan lagi tokoh antagonis yang akan menggantikan posisi tokoh lama yang-meminjam istilah dalam dunia pemasaran-sudah tidak menjual. Dan seperti pisang goreng yang masih panas dan berasap, dagangan media ini pun kembali laris manis, diborong oleh masyarakat yang, selain terkenal senang menghujat, juga terkenal mudah lupa.

Di negeri ini siapa yang tidak mengenal nama Nurdin Halid, mantan ketua umum PSSI ini dihujat habis-habisan oleh masyarakat karena media ramai memberitakan dosa-dosanya terhadap persebakbolaan Indonesia. Dia dituduh telah melakukan korupsi dan pelanggaran konstitusi lainnya sehingga dianggap harus lengser dari jabatannya sebagai ketua umum PSSI. Setelah berita tentang Nurdin Halid menguap, muncul lagi nama Gayus Tambunan, seorang pegawai pajak yang kontroversial karena kekayaannya yang tidak wajar. Selain itu, namanya kembali dihujat karena kedapatan sedang menonton sebuah pertandingan tennis di Bali, padahal semua orang tahu Gayus sedang menjalani masa tahanan di Jakarta. Sontak para penegak hukumpun tak lepas dari hujatan karena sistemnya yang amburadul dan gampang disuap. Anehnya, kasus Gayus ini seolah-olah menguap dan tak lagi diberitakan, padahal belum ada kejelasan tentang siapa ikan kakap dibalik Gayus yang masih dianggap mafia pajak kelas teri ini.

Seolah tanggap dengan kebutuhan rakyat yang ingin menghujat, media kembali menyuguhkan seorang sosialita hedon bernama Malinda Dee sebagai tokoh antagonis penerus Gayus. Kemudian berturut-turut media menampilkan Nazarudin, Rosalina, dan kemudian yang terbaru wanita cantik mantan putri Indonesia, Angelina Sondakh. Mereka dipaksa untuk bergaya dengan lenggak-lenggoknya dalam sebuah parade antagonis negeri ini. Parade yang tanpa disadari telah menghibur sebagian masyarakat Indonesia, setidaknya untuk mereka-mereka yang senang menghujat sambil menanti-nanti siapakah yang akan ditampilkan dalam kelanjutan parade berikutnya?

Sabtu, 03 Maret 2012

Yang Seharusnya Tidak Ada di Televisi


Pesatnya laju perkembangan teknologi, terlebih di bidang informasi, sampai saat ini masih belum bisa menyingkirkan benda bernama televisi dari lingkup kehidupan sehari-hari orang Indonesia. Benda tersebut masih setia menempati sudut ruang keluarga sejak bentuk fisiknya masih berupa kotak besar dengan gambar hitam putih dan suara yang terdengar cempreng, sampai sekarang yang bentuknya telah menjadi sangat tipis dengan gambar jernih berwarna dan suara menggelegar. Hal ini didukung pula dengan berkembangnya saluran televisi yang bertambah banyak, dari awalnya hanya TVRI, sampai sekarang terdapat belasan saluran televisi lokal maupun nasional yang mampu ditangkap dengan antena biasa.

Saluran-saluran televisi yang ada tersebut menyediakan beragam acara yang bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia setiap saat. Dari mulai program berita, memasak, musik, infotainment, dan masih banyak lagi.  Program-program yang disediakan oleh berbagai stasiun televisi tersebut tentunya bisa sangat mnghibur dan bermanfaat jika berisi materi-materi yang mendidik dan menambah kazanah pengetahuan, namun ada juga beberapa program yang menurutku justru akan menimbulkan efek-efek negatif seharusnya tidak ada di dunia pertelevisian Indonesia

Program pertama yang seharusnya tidak ada adalah serial FTV yang banyak ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia.  jika kita perhatikan, kisah yang sering diangkat dalam serial FTV ini kebanyakan sangat tidak realistis dan selalu terpusat pada masalah-masalah cinta anak muda. Contohnya adalah ketika ada sebuah serial yang berlatar belakang kehidupan mahasiswa, disitu sama sekali tidak ada hal-hal yang identik dengan dunia kemahasiswaan. Mahasiswa yang ada di FTV tidak pernah terlihat bingung memikirkan Ujian smester, IPK, atau praktikum, melainkan yang dibahas hanya masalah cinta, cinta, dan cinta. Sebagai seorang mahasiswa, saya menganggap acara tersebut sangat memuakkan dan memberikan perspektif lain terhadap dunia kampus yang keras dan penuh perjuangan, seperti perjuangan mencari dosen pembimbing, membuat laporan praktikum, sampai menyiapkan bahan untuk sidang ataupun presentasi.

Kemudian program yang seharusnya tidak ada adalah program musik alay yang ditayangkan setiap pagi oleh hampir semua stasiun televisi berskala nasional. Program musik seperti Inbox, Dahsyat, dan lain sebagainya ini sangat tidak bermutu karena hanya menampilkan musisi-musisi penipu yang hanya berpura-pura menyanyi di panggung. Dan yang membuatku tidak habis pikir adalah, bagaimana bisa di acara-acara live yang tayang hampir bersamaan itu selalu dipenuhi penonton SETIAP HARI. Sering aku bertanya dalam hati, apakah penonton-penonton tersebut tidak pergi ke sekolah, kuliah, kerja, atau aktifitas lainnya. Padahal jika diperhatikan penonton-penonton tersebut usianya berkisar antara 17 sampai 20 tahunan. Aku berpikir, betapa terbelakangnya penonton-penonton ini yang mau berjikngkrak-jingkrak mendengar musisi yang hanya tampil lypsinc. Dan yang paling bodoh adalah ketika yang tampil adalah penyanyi cilik yang ngomongnya pun belum fasih, mereka tetap berjingkrak-jingkrak.
Acara ini selalu dipenuhi penonton SETIAP HARI

Program ketiga yang seharusnya tidak ada adalah program infotainment. Program yang menjadi favorite kaum ibu-ibu ini menurutku sangatlah tidak mendidik. Entah apa yang bisa kita dapatkan dari mengetahui cerita-cerita perceraian, perselingkuhan, ataupun pacarannya selebritis. Dan apakah orang-orang yang mengaku selebritis tersebut tidak risih selalu dikejar-kejar oleh wartawan yang bertanya tentang pacar barunya, dengan siapa dia berselingkuh, atau kenapa dia bisa memukuli istrinya. Tidak bijak rasanya kalau dalam menilai seorang tokoh atau public figure selalu kita kaitkan dengan kehidupan pribadinya, yaitu harusnya menjadi perhatian kita adalah aktifitas mereka yang bermanfaat atau merugikan publik. Mengenai hal ini kita bisa berkaca pada kasus korupsi yang melibatkan mantan putri Indonesia, Angelina Sondakh. Dalam kasus ini, seharusnya kita mengikuti kasus ini dengan fokus pada modus korupsi yang dilakukan Angie, siapa partnernya, dan berapa kerugian negara akibat perbuatannya. Tapi yang dilakukan infotainment justru malah mengekspose rumah sanak keluarganya, mengungkit-ungkit kematian suaminya, dan juga sisi lain yang sifatnya pribadi serta tidak merugikan publik.

Aku pikir sudah saatnya program-program tersebut hilang dari dunia pertelevisian Indonesia, mengingat sampai saat ini televisi adalah salah satu media yang  mempunyai pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Kalau di beberapa negara ada yang memberlakukan sensor yang sangat ketat terhadap program-program televisi yang ditayangkan, mungkin kita tdak perlu melakukan hal yang sama. Yang dibutuhkan adalah kesadaran dari masing-masing pemilik modal akan tanggung jawabnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk menghasilkan program-program televisi yang berkualitas dan mendidik. 

Oleh : Munirul I (General Secretary of Islamic Association of Unversity Student)