Kemi dan Rahmat, dua sahabat ini sama-sama menimba ilmu di sebuah pesantren pimpinan Kyai Rois di Madiun. Keduanya merupakan santri kesayangan Sang Kyiai dan dianggap sebagai amunisi-amunisi handal dalam memperkuat barisan pengajar di pesantren yang bernama Minhajul Abidin ini. Namun, suatu hari karena alasan misterius Kemi meninggalkan pesantren untuk melanjutkan kuliah di Jakarta. Kepergian Kemi sangat disayangkan oleh Kyiai Rois karena merasa muridnya tersebut belum memiliki ilmu yang cukup untuk menghadapi dahsayatnya godaan-godaan yang ada di luar pesantren.
Lingkungan dan wawasan baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya di pesantren telah membuat Kemi berubah. Kemi yang dulu merupakan seorang santri yang cerdas dan rajin beribadah berubah menjadi seorang aktivis liberal yang sibuk kesana-sini membuat proposal dan pelatihan berbasis pluralisme yang dianggap sesat oleh kalangan pesantren.
Kabar tentang aktivitas Kemi sontak membuat Kyiai Rois kecewa, dan setelah melalui pertimbangan yang matang kemudian diutuslah Rahmad untuk menyadarkan dan mengajak sahabatnya tersebut kembali ke pesantren. Dalam misinya yang penuh resiko inilah Rahmat bertemu dengan tokoh-tokoh liberal yang dianggapnya telah keblinger karena menganggap semua agama sama. Usaha menyadarkan Kemi ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan, karena dibalik kegiatan para aktivis liberal tersebut ternyata terdapat sebuah sindikat yang memanipulasi dana dari berbagai foundation untuk kepentingan pribadi.
Novel ini mengangkat kembali kehidupan pesantren dan aktivitas Islam liberal yang seolah-olah tidak pernah habis untuk dibicarakan. Dalam novel ini sangat terihat tendensi pengarang untuk menyudutkan aktivitas kalangan Islam Liberal, mulai dari pemikiran-pemikiran sesat yang dianggap telah merusak akidah sampai perhhal pendanaan yang berasal dari proyek-proyek barat dalam menjinakkan Islam.
Selain itu, deskripsi yang rancu dalam sebuah pragraf
Rumah kos Kemi terbilang untuk ukuran mahasiswa. Sebuah rumah petak berukuran 3,5 x 7 meter. Tidak ada kamar, hanya ada ruang tamu dan dapur serta kamar mandi sendiri. Kemi sendirian tinggal di situ. KAMARnya berantakan. Buku-bukunya berserakan. Tampak ia rajin mengupulkan dan membaca buku.
Dalam paragraf tersebut pada tidak konsisten karena pada awalnya dijelaskan bahwa rumah kontrakan Kemi tidak memiliki kamar, tapi kemudian dijelaskan bahwa kamar Kemi berantakan. Dan meskipun cerita ini tergolong fiksi, namun deskripsi bahwa Rahmat telah memegang sabuk itam di perguruan silat Singa Menari tetap saja terdengar aneh bagi saya yang asli Madiun dan tahu persis tentang budaya pencak silat di kota tersebut.
Judul : KEMI, Cinta Kebebasan yang Tersesat. Penulis : Adian Husaini. Penerbit : Gema Insani Press. Tebal : 316 hal. Cetakan : Ketiga, Maret 2011
Oleh : Munirul I (Student of Sepuluh Nopember Institut of Technology)




