Pesatnya laju perkembangan teknologi, terlebih di bidang informasi, sampai saat ini masih belum bisa menyingkirkan benda bernama televisi dari lingkup kehidupan sehari-hari orang Indonesia. Benda tersebut masih setia menempati sudut ruang keluarga sejak bentuk fisiknya masih berupa kotak besar dengan gambar hitam putih dan suara yang terdengar cempreng, sampai sekarang yang bentuknya telah menjadi sangat tipis dengan gambar jernih berwarna dan suara menggelegar. Hal ini didukung pula dengan berkembangnya saluran televisi yang bertambah banyak, dari awalnya hanya TVRI, sampai sekarang terdapat belasan saluran televisi lokal maupun nasional yang mampu ditangkap dengan antena biasa.
Saluran-saluran televisi yang ada tersebut menyediakan beragam acara yang bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia setiap saat. Dari mulai program berita, memasak, musik, infotainment, dan masih banyak lagi. Program-program yang disediakan oleh berbagai stasiun televisi tersebut tentunya bisa sangat mnghibur dan bermanfaat jika berisi materi-materi yang mendidik dan menambah kazanah pengetahuan, namun ada juga beberapa program yang menurutku justru akan menimbulkan efek-efek negatif seharusnya tidak ada di dunia pertelevisian Indonesia
Program pertama yang seharusnya tidak ada adalah serial FTV yang banyak ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. jika kita perhatikan, kisah yang sering diangkat dalam serial FTV ini kebanyakan sangat tidak realistis dan selalu terpusat pada masalah-masalah cinta anak muda. Contohnya adalah ketika ada sebuah serial yang berlatar belakang kehidupan mahasiswa, disitu sama sekali tidak ada hal-hal yang identik dengan dunia kemahasiswaan. Mahasiswa yang ada di FTV tidak pernah terlihat bingung memikirkan Ujian smester, IPK, atau praktikum, melainkan yang dibahas hanya masalah cinta, cinta, dan cinta. Sebagai seorang mahasiswa, saya menganggap acara tersebut sangat memuakkan dan memberikan perspektif lain terhadap dunia kampus yang keras dan penuh perjuangan, seperti perjuangan mencari dosen pembimbing, membuat laporan praktikum, sampai menyiapkan bahan untuk sidang ataupun presentasi.
Kemudian program yang seharusnya tidak ada adalah program musik alay yang ditayangkan setiap pagi oleh hampir semua stasiun televisi berskala nasional. Program musik seperti Inbox, Dahsyat, dan lain sebagainya ini sangat tidak bermutu karena hanya menampilkan musisi-musisi penipu yang hanya berpura-pura menyanyi di panggung. Dan yang membuatku tidak habis pikir adalah, bagaimana bisa di acara-acara live yang tayang hampir bersamaan itu selalu dipenuhi penonton SETIAP HARI. Sering aku bertanya dalam hati, apakah penonton-penonton tersebut tidak pergi ke sekolah, kuliah, kerja, atau aktifitas lainnya. Padahal jika diperhatikan penonton-penonton tersebut usianya berkisar antara 17 sampai 20 tahunan. Aku berpikir, betapa terbelakangnya penonton-penonton ini yang mau berjikngkrak-jingkrak mendengar musisi yang hanya tampil lypsinc. Dan yang paling bodoh adalah ketika yang tampil adalah penyanyi cilik yang ngomongnya pun belum fasih, mereka tetap berjingkrak-jingkrak.
![]() |
| Acara ini selalu dipenuhi penonton SETIAP HARI |
Program ketiga yang seharusnya tidak ada adalah program infotainment. Program yang menjadi favorite kaum ibu-ibu ini menurutku sangatlah tidak mendidik. Entah apa yang bisa kita dapatkan dari mengetahui cerita-cerita perceraian, perselingkuhan, ataupun pacarannya selebritis. Dan apakah orang-orang yang mengaku selebritis tersebut tidak risih selalu dikejar-kejar oleh wartawan yang bertanya tentang pacar barunya, dengan siapa dia berselingkuh, atau kenapa dia bisa memukuli istrinya. Tidak bijak rasanya kalau dalam menilai seorang tokoh atau public figure selalu kita kaitkan dengan kehidupan pribadinya, yaitu harusnya menjadi perhatian kita adalah aktifitas mereka yang bermanfaat atau merugikan publik. Mengenai hal ini kita bisa berkaca pada kasus korupsi yang melibatkan mantan putri Indonesia, Angelina Sondakh. Dalam kasus ini, seharusnya kita mengikuti kasus ini dengan fokus pada modus korupsi yang dilakukan Angie, siapa partnernya, dan berapa kerugian negara akibat perbuatannya. Tapi yang dilakukan infotainment justru malah mengekspose rumah sanak keluarganya, mengungkit-ungkit kematian suaminya, dan juga sisi lain yang sifatnya pribadi serta tidak merugikan publik.
Aku pikir sudah saatnya program-program tersebut hilang dari dunia pertelevisian Indonesia, mengingat sampai saat ini televisi adalah salah satu media yang mempunyai pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Kalau di beberapa negara ada yang memberlakukan sensor yang sangat ketat terhadap program-program televisi yang ditayangkan, mungkin kita tdak perlu melakukan hal yang sama. Yang dibutuhkan adalah kesadaran dari masing-masing pemilik modal akan tanggung jawabnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk menghasilkan program-program televisi yang berkualitas dan mendidik.
Oleh : Munirul I (General Secretary of Islamic Association of Unversity Student)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar