Selasa, 06 Maret 2012

Parade Antagonis Negeri Ini

Dalam setiap lakon drama, entah itu berupa tragedi, roman, ataupun legenda, selalu terdapat tokoh yang dinamakan tokoh antagonis. Tokoh ini selalu identik dengan hal-hal negatif yang menyebabkan terhambatnya kerja ataupun gerak dari tokoh utama. Namun demikian, keberadaan tokoh antagonis juga tidak boleh dianggap sebelah mata. Karena tanpanya, sebuah kisah drama akan terasa hambar dan sama sekali tidak menarik. Coba kita bayangkan, seandainya tokoh bawang merah selalu baik dan bersahabat dengan bawang putih, apakah kisah bawang merah dan bawang putih masih menjadi kisah yang ‘hidup’ sampai dengan saat ini? Begitu juga dengan kisah Cinderela, Romeo-Juliet, maupun serial kartun Tom and Jerry. Tanpa adanya tokoh yang berperan sebagai tokoh antagonis, kisah-kisah tersebut tidak akan laku terjual.
Gayus Tambunan : Salah satu aktor parade antagonis

Fenomena tersebut nampaknya benar-benar dihayati oleh penggiat media di negeri ini. Hampir semua media cetak maupun elektronik seakan-akan telah sepakat untuk selalu mengekspose seorang tokoh dan dengan kejam menempatkannya pada peran antagonis dalam lakon sinetron negeri ini. Dengan dieksposenya seorang yang sedang tersandung kasus yang menyangkut kepentingan publik secara luas, berita-berita yang disuguhkan oleh media seakan menjadi barang dagangan yang laris manis diborong pelanggan. Entah karena berita tersebut menjadi berbobot dengan dieksposenya seorang yang dianggap merugikan negara, atau karena memang sudah tipikal masyarakat kita yang suka menghujat. Dan jika seiring berjalannya waktu berita tersebut mulai basi, alias masyarakat sudah bosan, kembali dimunculkan lagi tokoh antagonis yang akan menggantikan posisi tokoh lama yang-meminjam istilah dalam dunia pemasaran-sudah tidak menjual. Dan seperti pisang goreng yang masih panas dan berasap, dagangan media ini pun kembali laris manis, diborong oleh masyarakat yang, selain terkenal senang menghujat, juga terkenal mudah lupa.

Di negeri ini siapa yang tidak mengenal nama Nurdin Halid, mantan ketua umum PSSI ini dihujat habis-habisan oleh masyarakat karena media ramai memberitakan dosa-dosanya terhadap persebakbolaan Indonesia. Dia dituduh telah melakukan korupsi dan pelanggaran konstitusi lainnya sehingga dianggap harus lengser dari jabatannya sebagai ketua umum PSSI. Setelah berita tentang Nurdin Halid menguap, muncul lagi nama Gayus Tambunan, seorang pegawai pajak yang kontroversial karena kekayaannya yang tidak wajar. Selain itu, namanya kembali dihujat karena kedapatan sedang menonton sebuah pertandingan tennis di Bali, padahal semua orang tahu Gayus sedang menjalani masa tahanan di Jakarta. Sontak para penegak hukumpun tak lepas dari hujatan karena sistemnya yang amburadul dan gampang disuap. Anehnya, kasus Gayus ini seolah-olah menguap dan tak lagi diberitakan, padahal belum ada kejelasan tentang siapa ikan kakap dibalik Gayus yang masih dianggap mafia pajak kelas teri ini.

Seolah tanggap dengan kebutuhan rakyat yang ingin menghujat, media kembali menyuguhkan seorang sosialita hedon bernama Malinda Dee sebagai tokoh antagonis penerus Gayus. Kemudian berturut-turut media menampilkan Nazarudin, Rosalina, dan kemudian yang terbaru wanita cantik mantan putri Indonesia, Angelina Sondakh. Mereka dipaksa untuk bergaya dengan lenggak-lenggoknya dalam sebuah parade antagonis negeri ini. Parade yang tanpa disadari telah menghibur sebagian masyarakat Indonesia, setidaknya untuk mereka-mereka yang senang menghujat sambil menanti-nanti siapakah yang akan ditampilkan dalam kelanjutan parade berikutnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar