Rabu, 02 Oktober 2013

Tak perlu Membabi Buta Bela PKI


Dalam dua hari terakhir ini banyak sekali teman-temanku yang mengupload segala hal berbau Partai Komunis Indonesia (PKI). Mulai dari gambar palu-arit yang merupakan lambang universal gerakan komunis, sampai sumpah serapah terhadap rezim orde baru yang membantai habis-habisan partai peraih suara terbesar ke-4 dalam PEMILU 1955 ini. Memang setiap tahun, tanggal 30 september dan 1 oktober, bisa dikatakan sebagai ‘hari’nya PKI. Banyak pemuda yang berlomba-lomba mengekspresikan simpatinya kepada PKI yang sebenarnya telah menjadi korban kekejaman Orde baru, namun ironisnya justru dijadikan sebagai kambing hitam atas peristiwa yang secara resmi dinamakan G30S/PKI. Selain itu, teman-teman yang kebanyakan masih berstatus mahasiswa tersebut juga ingin mengekspresikan rasa marah sekaligus kesal karena sejak kecil dicekoki informasi yang salah dan cerita sejarah hasil rekayasa, sampai kemudian mampu memperoleh dan mencerna sendiri fakta-fakta yang sebenarnya dari berbagai sumber.

Memang benar, pembantaian terhadap elite, kader, serta simpatisan PKI yang dipelopori oleh tentara dan ormas keislaman di rentang waktu 1965-1968 merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan yang sangat biadab. Tak tercatat lagi berapa juta anak bangsa yang mati desembelih massal karena dituduh makar tanpa diadili terlebih dulu. Tak bisa dihitung juga berapa perempuan anggota GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), salah satu organisasi sayap PKI, yang diperkosa serta dilecehkan dengan cara-cara yang sangat tidak manusiawi oleh para tentara dan orang-orang yang mengaku beragama. Bahkan Gus Dur, yang tengah menjalani masa belajar di Irak saat pembantaian itu berlangsung, di kemudian hari meminta maaf atas keterlibatan organisasi yang dipimpinnya dalam pembunuhan massal tersebut.

Namun, yang harus dipahami oleh para pemuda masa kini adalah jangan sampai rasa simpati kepada korban kejahatan orde baru tersebut menghilangkan objektifitas lalu melakukan pembelaan secara membabi buta terhadap PKI.  Diantara kalimat pembelaan yang sering saya dengar adalah “Komunis itu tidak identik dengan atheis”. Memang, komunisme dan atheisme merupakan subyek yang berbeda. Namun perlu diketahui bahwa dalam doktrin yang dirumuskan Karl Marx, sang bapak komunisme, salah satunya disebutkan bahwa agama merupakan penghambat revolusi serta alat penguasa untuk menindas kaum buruh. Walaupun dalam hal pembelaan terhadap kaum tertindas dan perlawanan kepada penumpuk harta paham komunisme memiliki banyak kesamaan dengan gerakan Islam. Namun sepertinya kader-kader komunis menerapkan doktrin tersebut terlalu ekstrim. Sejarah telah mencatata bahwa selama revolusi kebudayaan di China, pemimpin Mao telah menutup ratusan tempat ibadah untuk dijadikan pabrik dan gudang, termasuk salah satunya adalah masjid yang didirikan oleh sahabat Sa'ad bin Abi waqas di Guangzou.

Selain itu, ada lagi yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh PKI merupakan orang Islam dan lulusan pesantren. Hal tersebut sekilas memang benar, namun perlu diketahui bahwa mayoritas orang Indonesia adalah muslim sejak lahir. Sehingga wajar kalau tokoh-tokoh besar bangsa ini beragama Islam, meskipun tokoh tersebut berasal  dari berbagai ideologi, mulai nasionalisme, Islamisme, sampai komunisme. Selain itu perlu diperhatikan juga fakta bahwa di masa kolonial pesantren menjadi satu-satunya sarana pendidikan yang bisa dinikmati anak bangsa tanpa perlu menjadi bangsawan. Jadi tidak heran kalau para pemimpin negeri ini kebanyakan pernah mengenyam pendidikan pesantren, karena jelas waktu itu belum ada IAIN, UIN, maupun universitas-universitas lainnya. Jadi, terlalu mengada-ada kalau mengaitkan gerakan PKI dengan latar belakang keislaman tokoh-tokohnya.

Lalu yang tidak banyak diketahui adalah fakta bahwa PKI waktu itu bukanlah satu-satunya partai politik yang berhaluan sosialis-komunis di Indonesia. Masih ada Partai Sosialis Indonesia (PSI) milik Sutan Syahrir dan Partai MURBA bentukan Tan Malaka. Bisa dikatakan saat itu PKI merupakan partai komunis ekstrem yang mengklaim paling komunis dibandingkan dengan PSI yang moderat-oportunis dan MURBA yang telah merumuskan ideologi marxisme khas Indonesia. Dan semua orang juga akan tahu kalau berkuasanya gerakan ekstrim, apapun ideologi dasarnya, merupakan awal dari kehancuran. Sejarah telah mencatat. Genosida dan kobaran perang dari NAZI di jerman, kekejaman Leninisme dan Stalinisme di Uni Soviet, dan yang paling baru adalah berkuasanya gerakan Ikhwanul Muslimin yang menandai dimulainya rentetan bencana perang saudara di negeri piramida. Bayangkan seandainya PKI semakin besar dan menguasai negeri tecinta ini, Pancasila akan ditendang, agama yang telah menjadi ruh dalam kehidupan masyarakat segera masuk keranjang sampah, dan orang-orang yang tidak sependapat pun akan dibunuh lalu dihilangkan. Demokrasi juga akan mati karena hanya ada satu partai yang boleh hidup, seperti yang saat ini masih dianut oleh korea utara yang tertutup dan diktator.

Kekejaman rezim Orde Baru dalam menyingkirkan lawan-lawan politiknya dan juga kecurangannya dalam merumuskan sejarah bangsa ini memang harus dikutuk serta dijadikan pelajaran bagi kita semua. Namun jangan sampai hal tersebut membuat kita kehilangan objektifitas sehingga tidak menyadari  akan bahaya dari gerakan-gerakan impor yang tidak peduli terhadap nilai-nilai kearifan lokal semacam PKI. Indonesia dengan pancasilanya merupakan kesepakatan final yang tak satupun dari gerakan-gerakan ekstrim dari golongan manapun boleh menggantinya. Hidup Pancasila!!


3 komentar: