Dalam dua hari terakhir ini
banyak sekali teman-temanku yang mengupload
segala hal berbau Partai Komunis Indonesia (PKI). Mulai dari gambar palu-arit
yang merupakan lambang universal gerakan komunis, sampai sumpah serapah
terhadap rezim orde baru yang membantai habis-habisan partai peraih suara
terbesar ke-4 dalam PEMILU 1955 ini. Memang setiap tahun, tanggal 30 september
dan 1 oktober, bisa dikatakan sebagai ‘hari’nya PKI. Banyak pemuda yang
berlomba-lomba mengekspresikan simpatinya kepada PKI yang sebenarnya telah
menjadi korban kekejaman Orde baru, namun ironisnya justru dijadikan sebagai
kambing hitam atas peristiwa yang secara resmi dinamakan G30S/PKI. Selain itu,
teman-teman yang kebanyakan masih berstatus mahasiswa tersebut juga ingin
mengekspresikan rasa marah sekaligus kesal karena sejak kecil dicekoki
informasi yang salah dan cerita sejarah hasil rekayasa, sampai kemudian mampu
memperoleh dan mencerna sendiri fakta-fakta yang sebenarnya dari berbagai
sumber.
Memang benar, pembantaian
terhadap elite, kader, serta simpatisan PKI yang dipelopori oleh tentara dan
ormas keislaman di rentang waktu 1965-1968 merupakan sebuah kejahatan
kemanusiaan yang sangat biadab. Tak tercatat lagi berapa juta anak bangsa yang
mati desembelih massal karena dituduh makar tanpa diadili terlebih dulu. Tak
bisa dihitung juga berapa perempuan anggota GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia),
salah satu organisasi sayap PKI, yang diperkosa serta dilecehkan dengan
cara-cara yang sangat tidak manusiawi oleh para tentara dan orang-orang yang
mengaku beragama. Bahkan Gus Dur, yang tengah menjalani masa belajar di Irak
saat pembantaian itu berlangsung, di kemudian hari meminta maaf atas
keterlibatan organisasi yang dipimpinnya dalam pembunuhan massal tersebut.
Namun, yang harus dipahami oleh
para pemuda masa kini adalah jangan sampai rasa simpati kepada korban kejahatan
orde baru tersebut menghilangkan objektifitas lalu melakukan pembelaan secara
membabi buta terhadap PKI. Diantara kalimat
pembelaan yang sering saya dengar adalah “Komunis itu tidak identik dengan
atheis”. Memang, komunisme dan atheisme merupakan subyek yang berbeda. Namun
perlu diketahui bahwa dalam doktrin yang dirumuskan Karl Marx, sang bapak
komunisme, salah satunya disebutkan bahwa agama merupakan penghambat revolusi
serta alat penguasa untuk menindas kaum buruh. Walaupun dalam hal pembelaan
terhadap kaum tertindas dan perlawanan kepada penumpuk harta paham komunisme
memiliki banyak kesamaan dengan gerakan Islam. Namun sepertinya kader-kader
komunis menerapkan doktrin tersebut terlalu ekstrim. Sejarah telah mencatata
bahwa selama revolusi kebudayaan di China, pemimpin Mao telah menutup ratusan
tempat ibadah untuk dijadikan pabrik dan gudang, termasuk salah satunya adalah
masjid yang didirikan oleh sahabat Sa'ad bin Abi waqas di Guangzou.
Selain itu, ada lagi yang
mengatakan bahwa tokoh-tokoh PKI merupakan orang Islam dan lulusan pesantren.
Hal tersebut sekilas memang benar, namun perlu diketahui bahwa mayoritas orang
Indonesia adalah muslim sejak lahir. Sehingga wajar kalau tokoh-tokoh besar
bangsa ini beragama Islam, meskipun tokoh tersebut berasal dari berbagai ideologi, mulai nasionalisme,
Islamisme, sampai komunisme. Selain itu perlu diperhatikan juga fakta bahwa di
masa kolonial pesantren menjadi satu-satunya sarana pendidikan yang bisa
dinikmati anak bangsa tanpa perlu menjadi bangsawan. Jadi tidak heran kalau
para pemimpin negeri ini kebanyakan pernah mengenyam pendidikan pesantren,
karena jelas waktu itu belum ada IAIN, UIN, maupun universitas-universitas lainnya.
Jadi, terlalu mengada-ada kalau mengaitkan gerakan PKI dengan latar belakang
keislaman tokoh-tokohnya.
Lalu yang tidak banyak diketahui
adalah fakta bahwa PKI waktu itu bukanlah satu-satunya partai politik yang
berhaluan sosialis-komunis di Indonesia. Masih ada Partai Sosialis Indonesia
(PSI) milik Sutan Syahrir dan Partai MURBA bentukan Tan Malaka. Bisa dikatakan
saat itu PKI merupakan partai komunis ekstrem yang mengklaim paling komunis
dibandingkan dengan PSI yang moderat-oportunis dan MURBA yang telah merumuskan
ideologi marxisme khas Indonesia. Dan semua orang juga akan tahu kalau
berkuasanya gerakan ekstrim, apapun ideologi dasarnya, merupakan awal dari
kehancuran. Sejarah telah mencatat. Genosida dan kobaran perang dari NAZI di jerman,
kekejaman Leninisme dan Stalinisme di Uni Soviet, dan yang paling baru adalah
berkuasanya gerakan Ikhwanul Muslimin
yang menandai dimulainya rentetan bencana perang saudara di negeri piramida.
Bayangkan seandainya PKI semakin besar dan menguasai negeri tecinta ini,
Pancasila akan ditendang, agama yang telah menjadi ruh dalam kehidupan
masyarakat segera masuk keranjang sampah, dan orang-orang yang tidak sependapat
pun akan dibunuh lalu dihilangkan. Demokrasi juga akan mati karena hanya ada
satu partai yang boleh hidup, seperti yang saat ini masih dianut oleh korea
utara yang tertutup dan diktator.
Kekejaman rezim Orde Baru dalam menyingkirkan lawan-lawan politiknya dan juga kecurangannya dalam merumuskan sejarah bangsa ini memang harus dikutuk serta dijadikan pelajaran bagi kita semua. Namun jangan sampai hal tersebut membuat kita kehilangan objektifitas sehingga tidak menyadari akan bahaya dari gerakan-gerakan impor yang tidak peduli terhadap nilai-nilai kearifan lokal semacam PKI. Indonesia dengan pancasilanya merupakan kesepakatan final yang tak satupun dari gerakan-gerakan ekstrim dari golongan manapun boleh menggantinya. Hidup Pancasila!!
Kekejaman rezim Orde Baru dalam menyingkirkan lawan-lawan politiknya dan juga kecurangannya dalam merumuskan sejarah bangsa ini memang harus dikutuk serta dijadikan pelajaran bagi kita semua. Namun jangan sampai hal tersebut membuat kita kehilangan objektifitas sehingga tidak menyadari akan bahaya dari gerakan-gerakan impor yang tidak peduli terhadap nilai-nilai kearifan lokal semacam PKI. Indonesia dengan pancasilanya merupakan kesepakatan final yang tak satupun dari gerakan-gerakan ekstrim dari golongan manapun boleh menggantinya. Hidup Pancasila!!

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusJempol.....
BalasHapusSeep bro
BalasHapus