Selasa, 04 Juni 2019

Cara Mudah Menghafal Asmaul Husna


Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
 (Qur’an Surah Al A'raf, ayat 180)


Setidaknya Allah memiliki 99 nama baik yang tercantum di dalam Al Qur’an yang sering disebut dengan Asmaul Husna. Allah sendiri memberikan tarbiyah kepada kita untuk menyebut nama-namaNya ketika sedang berdoa. Bahkan seorang ulama pernah mengatkan, jika kita berdoa menggunakan asmaul husna maka kita tidak membutuhkan doa-doa yang lain. Kita tidak harus setuju dengan pendapat tersebut, tapi tentunya pendapat tersebut menunjukkan betapa mulianya Asmaul Husna. Baginda Rasulullah SAW dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari mengatakan, “Sesunguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, siapa yang menjaganya maka dia masuk surga.”

Maka dari itu sebagai umat Islam sudah seharusnya kita menghormati nama-nama Allah tersebut dan sering menyebutnya ketika berdzikir dan berdoa. Dan alangkah baiknya jika kita mulai menghafalkan 99 asmaul husna tersebut, karena Nabi SAW mengatakan barangsiapa yang menjaganya maka dia akan masuk surga. Tapi bagaimana cara yang mudah untuk menghafalkan 99 nama tersebut? Berikut beberapa tips cara mudah menghafalkan Asmaul Husna.

Pertama-tama asumsikan jumlah Asmaul Husna itu 100 (ingat, Cuma asumsi lo). Kemudian bagi Asmaul Husna yang 100 tadi ke dalam 10 hari. Jadi kita butuh 10 hari untuk menghafalkan semuanya, dan tugas kita setiap hari menghafalkan 10 nama. Dari 10 nama tersebut pasangkanlah dua nama menjadi satu pelafalan sehingga kita hanya perlu menghafal 5 pasang nama dalam sehari. Ringan saja kan tentunya? Mari kita mulai bersama-sama.

Hari pertama, hafalkan 5 pasang nama berikut
Ya Rahman – Ya Rahim
Ya Malik – Ya Quddus
Ya Salaam - Ya Mu’min
Ya Muhaimin – Ya ‘Aziiz
Ya Jabbar – Ya Mutakabbir

Hari kedua, hafalkan 5 pasang berikutnya
Ya Khaliq – Ya Baari’
Ya Mushawwir – Ya Ghaffar
Ya Qahhaar – Ya Wahhaab
Ya Razzaaq – Ya Fattaah
Ya ‘Aliim – Ya Qaabidh

Hari ketiga, lanjutkan
Ya Baasith – Ya khaafidh
Ya Raafi’ – Ya Mu’izz
Ya Mudzil – Ya Samii’
Ya Bashiir – Ya hakam
Ya ‘Adl – Ya Lathiif

Hari keempat, lanjutkan
Ya Khabiir – Ya Haliim
Ya ‘Azhiim – Ya Ghafuur
Ya Syakuur – Ya ‘Aliy
Ya Kabiir – Ya Hafizh
Ya Muqiit – Ya Hasiib

Hari Kelima, lanjutkan
Ya Jaliil – Ya Kariim
Ya Raqiib – Ya Mujiib
Ya Waasi’ – Ya Hakiim
Ya Waduud – Ya Majiid
Ya Baa’its – Ya Syahiid

Hari keenam, lanjutkan
Ya Haqq – Ya Wakiil
Ya Qawiyyu – Ya Matiin
Ya Waliyy – Ya Hamiid
Ya Muhshi – Ya Mubdi’
Ya Mu’iid – Ya Muhyii

Hari ketujuh, lanjutkan
Ya Mumiitu – Ya Hayyu
Ya Qayyuum – Ya Waajid
Ya Maajid – Ya Wahiid
Ya Ahad – Ya Shomad
Ya Qaadir – Ya Muqtadir

Hari kedelapan
Ya Muqadddim – Ya Mu’akhkhir
Ya Awwal – Ya Aakhir
Ya Zhaahir – Ya Baathin
Ya Aaali – Ya Muta’aali
Ya Barri – Ya Tawwaab

Hari kesembilan, agak beda karena ada satu nama yang tidak berpasangan
Ya Muntaqim – Ya Afuww
Ya Ra’uuf – Ya Malikul Mulk
Ya Dzal Jalaali Wal Ikram
Ya Muqsith – Ya Jamii
Ya Ghaniyy – Ya Mughnii

Hari kesepuluh, terakhir dan pas 99 nama
Ya Maani – Ya Dhaar
Ya Nafii’ – Ya Nuur
Ya Haadi – Ya Baadii
Ya Baaqii – Ya Waarits
Ya Rasyiid – Ya Shabuur

Itulah tadi cara mudah menghafal Asmaul Husna dalam waktu 10 hari. Semoga dengan menghafal dan selalu menyebutnya dalam setiap dzikir serta doa, di kemudian hari kita juga mampu merenungkan sekaligus mengamalkan makna-maknanya. Amiin Ya Robbal Alamin.

Senin, 03 Juni 2019

PSHT, Sering Dipandang Negatif Tapi Semakin Berkembang


Pakaiannya hitam-hitam, jumlah massanya banyak, dan sering membuat onar. Mungkin kesan tersebut yang sering muncul di benak orang awam ketika mendengar kata PSHT. Sebuah perguruan silat asal Madiun yang memang kerap sekali mengisi kolom berita negatif seperti perkelahian, tawuran dengan perguruan silat lain, dan juga konvoinya yang sering mengganggu pengguna jalan. Bahkan di Timor Leste, PSHT –bersama beberapa perguruan silat yang lain- dinyatakan terlarang oleh pemerintah setempat karena tak terhitung jumlah korban jiwa yang disebabkan oleh bentrokan antar perguruan silat. 

Lalu, apa sih sebenarnya PSHT? Dengan reputasi buruk seperti itu tapi kok anggotanya terus bertambah. Bahkan sampai jutaan anggota, di PSHT dikenal istilah “warga”, yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri. PSHT atau Persaudaraan Setia Hati Terate merupakan salah satu organisasi perguruan silat beraliran SH (Setia Hati) yang berpusat di Padepokan Agung, Jl. Merak Kota Madiun. Aliran SH pertama kali diciptakan oleh Eyang Surodiwiryo yang mana sejak muda telah berkelana mempelajari pencak silat berbagai aliran dari berbagai daerah di tanah air. Aliran-aliran tersebut antara lain Silat Cimande, Silat Betawi, Silek Minang, Silat Batak, dan beberapa aliran lain kemudian merangkumnya dalam gerakan silat yang bernama Joyo Gendilo Cipto Mulyo pada tahun 1903 di desa Winongo, Madiun yang di kemudian hari dirubah namanya menjadi Setia Hati.

Eyang Surodiwiryo sendiri di kemudian hari memiliki murid kesayangan bernama Eyang Hardjo Oetomo dan memberinya izin untuk melatih pencak silat sendiri di kediamannya di Desa Pilangbango, Madiun dengan nama Pemuda Sport Clup (PSC) pada tahun 1922. Perkembangan PSC ini mengalami pasang surut karena saat itu Eyang Hardjo Oetomo harus berlawanan dengan pemerintah Belanda karena kegiatan pemberontakannya. Bahkan Eyang Hardjo pernah ditahan di Penjara Cipinang karena kasus penghadangan kereta milik penjajah. Singkat cerita, PSC kemudian bertransformasi menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate pada 25 Maret 1951 dengan tokoh utamanya waktu itu Soetomo Mangkuwijoyo, yang merupakan murid langsung Eyang Hardjo Oetomo.

Beberapa tokoh yang memiliki peranan penting di dalam PSHT antara lain :


1.  Eyang Hardjo Oetomo (Murid langsung Eyang Suro dan pendiri PSC, dimakamkan di desa Pilangbango, Madiun)
2.  Eyang Soetomo mangkuwijoyo (pemimpin rapat pertama pembentukan organisasi PSHT, dimakamkan di kuburan Cangkring, Madiun)
3.       Eyang Harsono (Putra Eyang Hardjo Oetomo)
4.       Eyang Irsyad (Pencipta 90 senam dasar, dimakamkan di Bandung)
5.   Mas Imam Kusupangat (Yang membesarkan nama PSHT di madiun dan sekitarnya pada era 80an, dimakamkan di kuburan Taman, Madiun)
6.    Eyang Badini (Yang menyempurnakan lambang PSHT, dimakamkan di Ds Ringin agung, Magetan)
7.      Eyang Gunawan Pamudji, Ponorogo (Menantu Eyang Hardjo)
8.   Mbah Kuswanto (Melestarikan Jurus lama PSHT sebelum dirubah di Mubes, dimakamkan di jl. Merpati, Madiun)
9.    Mbah Ling / Mufadhol (Murid Mbah Kuswanto yang mendirikan PSHT di Magetan dan sekitarnya, dimakamkan di komplek Pesantren Sabilil Mutaqin/PSM, Takeran)
10. Mas Tarmadji Budi Harsono (Ketua Umum yang masa jabatannya paling lama, dimakamkan di samping padepokan Agung).

Dan masih banyak lagi pendahulu dan sesepuh PSHT yang namanya harum di masyarakat sekitarnya. Mereka menjadi contoh dan seringkali menjadi tokoh penting atau pemimpin di lingkungannya. Hal tersebut membuktikan bahwa citra jelek yang melekat di PSHT disebabkan hanya karena ulah oknum warga PSHT yang tidak mengerti dalamnya ajaran serta filosofi Setia Hati. Yang mana di dalam PSHT diajarkan filosofi Memayu hayuning bawono, yaitu menjaga keindahan dan kedamaian hidup di bumi. Jadi penting sekali bagi warga PSHT untuk ikut aktif menjaga ketenteraman lingkungan dimana dia berada. Atau jika belum mampu, minimal jangan membuat kerusakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Selain itu, kata “Persaudaraan” juga harus dimaknai secara proporsional, tidak membabi buta. Yang saat ini sering terjadi adalah ketika ada sesama warga yang memiliki masalah dengan orang, maka warga yang lain serta merta membantu mengeroyok orang tersebut tanpa tahu duduk perkaranya. Hal tersebut tentu saja melanggar etika seorang pendekar dan menyalahi salah satu prinsip PSHT yaitu berani karena benar takut karena salah. Seharusnya persaudaraan dimaknai sebagai ikatan batin melebihi saudara kandung, dimana setiap warga harus merasa saling memiliki serta saling asah, asih asuh antar sesama. Membantu jika ada warga yang kesusahan serta menasehati jika ada saudaranya yang lain yang berbuat salah.

Sejak disyahkan pada tahun 2008, saya saya sudah banyak bertemu dengan sesepuh-sesepuh PSHT tingkat 2. Dari beliau-beliau saya banyak belajar tentang kesederhanaan, kasih sayang kepada junior-juniornya, dan kebijaksanaan dalam menjalani hidup. Tidak satupun sesepuh yang saya temui tersebut yang hidupnya suka berbuat onar ataupun dibenci oleh masyarakat sekitarnya. Jadi sudah seharusnya warga-warga muda PSHT meneladani sikap hidup sesepuh kita yang andap asor, ora seneng gawe susahe liyan, serta tidak adigang adigung adiguno. Karena sesungguhnya aneh jika kita bersikap sombong dan ugal-ugalan. Padahal sejak dikecer menjadi warga PSHT, sabuk mori (kain kafan) selalu membelit perut kita, tak pernah berhenti mengingatkan datangnya kematian.




Minggu, 02 Juni 2019

Teruslah Bergerak


Yang paling menakutkan dari perjalanan hidup manusia sebenarnya bukanlah tantangan, kesulitan, atau ancaman. Melainkan yang paling banyak “membunuh” kita justru adalah perasaan aman dan nyaman. Ya, ketika kita sudah merasa aman, maka sensor-sensor kewaspadaan kita akan melemah. Respon terhadap bahaya tak pernah dikondisikan untuk terus berlatih. Ujungnya akan lahir pribadi yang stagnan, lamban, dan tidak memiliki motivasi untuk menjadi lebih baik. Padahal kita semua tahu, air yang tidak mengalir lama-lama akan membusuk, kawanan rusa yang tak bergerak akan menjadi santapan empuk singa, dan manusia yang hari ini tak lebih baik dari hari kemarin adalah manusia yang merugi. 

Jika saat ini kita sudah merasa aman dan nyaman dengan pekerjaan kita, pasangan kita, ataupun kualitas ibadah kita, maka sekarang lah saat yang tepat untuk berbenah. Pekerjaan yang rutin sedikit demi sedikit akan mematikan kreativitas. Jika daya kreasi sudah buntu, maka celah inovasi untuk menjadikan pekerjaan lebih efektif dan efisien tidak akan terlihat. Celaka lagi jika ternyata ada orang lain yang terus memiliki semangat belajar tinggi melihat peluang tersebut.

Dalam menjalin hubungan dengan pasangan, kita juga tidak bisa menuntut agar pasangan menerima kita apa adanya. Sangat egois jika kita tidak memupuk cinta dengan perhatian yang selalu baru dan kualitas diri yang semakin meningkat untuk membuat pasangan selalu merasa jatuh cinta lagi. Jangan sampai lamanya hubungan membuat kita malas memperhatikan penampilan, malas melakukan hal-hal baru bersama, serta tak lagi menganggap pasangan sebagai orang yang istimewa. Jadilah pribadi yang pantas untuk selalu dicintai.

Dalam hal ibadah, seringkali kita sudah merasa puas terhadap amalan-amalan yang selama ini dikerjakan. Lalu muncul kebanggaan dan perasaan bahwa telah pantas mendapatkan ganjaran yang telah disebutkan dalam dalil-dalil fadhilah amal. Rasa puas ini berbahaya karena akan menutup pintu introspeksi kekurangan amal-amal kita. Dosa-dosa kecil pun menjadi tak kasat mata. Dan yang paling buruk jika sampai timbul penyakit ujub dan sombong dalam hati karena merasa telah beribadah dengan baik. Seperti iblis yang berani menentang perintah Allah karena sudah merasa lebih baik dibandingkan Adam.

Kewaspadaan untuk selalu berbenah adalah sensor alami yang tidak boleh tumpul dalam perjalanan hidup kita. Karena kondisi paling berbahaya adalah justru saat kita telah merasa aman. Padahal jihad akbar melawan hawa nafsu akan terus berlangsung sampai kita menghadap kepada-Nya. Seorang penyair agung dari dunia Islam, Maulana Jalaluddin Rumi pernah mengatakan, “Perang melawan diri sendiri, adalah perang yang tidak pernah berakhir”.