Yang paling menakutkan dari
perjalanan hidup manusia sebenarnya bukanlah tantangan, kesulitan, atau
ancaman. Melainkan yang paling banyak “membunuh” kita justru adalah perasaan
aman dan nyaman. Ya, ketika kita sudah merasa aman, maka sensor-sensor kewaspadaan
kita akan melemah. Respon terhadap bahaya tak pernah dikondisikan untuk terus
berlatih. Ujungnya akan lahir pribadi yang stagnan, lamban, dan tidak memiliki
motivasi untuk menjadi lebih baik. Padahal kita semua tahu, air yang tidak
mengalir lama-lama akan membusuk, kawanan rusa yang tak bergerak akan menjadi
santapan empuk singa, dan manusia yang hari ini tak lebih baik dari hari
kemarin adalah manusia yang merugi.
Jika saat ini kita sudah merasa
aman dan nyaman dengan pekerjaan kita, pasangan kita, ataupun kualitas ibadah
kita, maka sekarang lah saat yang tepat untuk berbenah. Pekerjaan yang rutin
sedikit demi sedikit akan mematikan kreativitas. Jika daya kreasi sudah buntu,
maka celah inovasi untuk menjadikan pekerjaan lebih efektif dan efisien tidak
akan terlihat. Celaka lagi jika ternyata ada orang lain yang terus memiliki
semangat belajar tinggi melihat peluang tersebut.
Dalam menjalin hubungan dengan
pasangan, kita juga tidak bisa menuntut agar pasangan menerima kita apa adanya.
Sangat egois jika kita tidak memupuk cinta dengan perhatian yang selalu baru
dan kualitas diri yang semakin meningkat untuk membuat pasangan selalu merasa jatuh
cinta lagi. Jangan sampai lamanya hubungan membuat kita malas memperhatikan
penampilan, malas melakukan hal-hal baru bersama, serta tak lagi menganggap
pasangan sebagai orang yang istimewa. Jadilah pribadi yang pantas untuk selalu
dicintai.
Dalam hal ibadah, seringkali kita
sudah merasa puas terhadap amalan-amalan yang selama ini dikerjakan. Lalu muncul
kebanggaan dan perasaan bahwa telah pantas mendapatkan ganjaran yang telah disebutkan
dalam dalil-dalil fadhilah amal. Rasa puas ini berbahaya karena akan menutup
pintu introspeksi kekurangan amal-amal kita. Dosa-dosa kecil pun menjadi tak
kasat mata. Dan yang paling buruk jika sampai timbul penyakit ujub dan sombong
dalam hati karena merasa telah beribadah dengan baik. Seperti iblis yang berani
menentang perintah Allah karena sudah merasa lebih baik dibandingkan Adam.
Kewaspadaan untuk selalu berbenah
adalah sensor alami yang tidak boleh tumpul dalam perjalanan hidup kita. Karena
kondisi paling berbahaya adalah justru saat kita telah merasa aman. Padahal jihad
akbar melawan hawa nafsu akan terus berlangsung sampai kita menghadap kepada-Nya.
Seorang penyair agung dari dunia Islam, Maulana Jalaluddin Rumi pernah
mengatakan, “Perang melawan diri sendiri, adalah perang yang tidak pernah
berakhir”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar