Minggu, 02 Juni 2019

Yang Dinantikan : Cerita Kelahiran Anak Pertama


Di sebuah pulau kecil di ujung timur Indonesia, sore itu aku sedang bekerja seperti biasanya di satu-satunya PLTU di provinsi Maluku Utara. Ya, sudah hampir setengah tahun waktu itu aku menjalani Long distance marriage bersama istri yang sedang hamil. Ceritanya, karena khawatir dengan fasilitas kesehatan di remote area dan lagi belum memiliki pengalaman masalah kehamilan, kami memutuskan selama hamil istri tinggal dulu bersama mertua di Madiun. Tentunya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. 

Lalu sekitar pukul 4 sore, setelah membereskan sisa-sisa pekerjaan untuk bersiap pulang, aku mendapat kabar dari istri bahwa dokter kandungan memerintahkannya untuk segera masuk rumah sakit dan menjalani operasi cesar keesokan paginya. Padahal hari perkiraan lahir (HPL) masih dua minggu lagi dan saat itu awalnya pergi ke dokter hanya untuk periksa rutin saja.

Aku bingung tentu saja, buru-buru segera mengurus surat ijin cuti ke bos. Tapi sayangnya aku harus menunggu penerbangan esok pagi karena pesawat terakhir dari Ternate ke Surabaya jam 3 sore. Istriku didiagnosa preclamsia yang gejalanya kaki terlihat membengkak dan yang membuat dokter memaksakan segera operasi adalah tekanan darah istriku saat itu mencapai 180 mmHg, yang mana dari sisi medis sangat mengkawatirkan jika menjalani proses melahirkan secara normal.

Bersyukur di Madiun aku memiliki keluarga besar yang sangat support. Baik keluarga mertua maupun keluargaku sendiri. Jadi walaupun aku tidak ada di sana, tetap ada yang mengantarkan istriku ke dokter waktu itu. Jadilah malam itu kulewatkan dengan perasaan harap-harap cemas. Hanya berdoa dan bersholawat yang bisa kulakukan, berharap semua lancar dan tidak terjadi apa-apa.

Keesokan paginya, dengan pesawat paling awal, jam 8 pagi WIT aku berangkat ke Surabaya. Dan alhamdulillah wa syukurillah, tepat di saat terakhir menjelang boarding, ibuku menelpon, mengabarkan kalau puteriku telah lahir dengan selamat. Perasaanku campur aduk ketika itu. Antara bahagia, kaget, dan takjub menjadi satu. Seorang Munirul Ichwan sekarang sudah menjadi ayah. Terbayang kelucuan ketika nanti aku bermain dengan anakku, tapi juga tersadar bahwa amanah yang tersemat dipundakku tidaklah ringan. Mulai saat ini aku harus benar-benar memikirkan tanggung jawab ekonomi, pendidikan-agama, dan pergaulan anakku ke depannya.

Sepanjang perjalanan di pesawat aku tak berkata apa-apa. Hanya sekedar bengong dan senyum-senyum sendiri. Tak sabar sekali rasanya ingin segera menemui istriku, mengecup kening dan meminta maaf karena tidak di sampingnya di saat-saat paling menentukan. Sampai di bandara Juanda sekitar jam 10 WIB aku langsung meneruskan perjalanan darat ke Madiun naik bis. Di bis pun aku juga masih terbengong-bengong, tidak peduli dengan musik koplo yang diputar oleh armada bis, aku sibuk memperhatikan foto-foto anakku yang dikirim oleh kakak iparku. Tak henti-hentinya merasa takjub bahwa bayi merah lucu yang tergeletak di box khusus bayi itu adalah darah dagingku.

Namun, rasa takjub dan berbunga-bunga seolah menguap sementara ketika kulihat istriku tergeletak lemas, tak berdaya di pembaringan ruang pasca operasi. Sekujur tubuhnya terasa panas walaupun saat itu suhu ruangan sudah dalam kondisi yang paling dingin. Memang, sejauh yang kutahu melahirkan dengan metode operasi cesar justru lebih menyiksa si ibu di hari-hari pasca persalinan. Saat itulah, jarum penunjuk "speedometer cinta" ke istri seakan berada di titik tertinggi. Wanita muda dengan segala potensinya ini telah merelakan masa depannya untuk mengabdi kepadaku, mengandung anakku, lalu kini bersimbah darah dan air mata demi melahirkan buah hatiku.

Seusai membantu semua kebutuhan istri dan memindahkannya ke kamar rawat, tibalah saatnya aku bertemu dengan puteri pertamaku. Seorang perempuan yang sudah aku sayangi bahkan sebelum bertemu dengannya. Pelan-pelan kuangkat tubuh mungilnya yang masih terlilit kain bedong. Walaupun sebelumnya sama sekali belum pernah menyentuh bayi, bahkan cenderung takut hanya untuk sekedar meyentuh, namun waktu itu tiba-tiba saja aku menjadi sangat “prigel” menggendong anakku. Kuperhatikan matanya yang masih terpejam, bibirnya yang mungil memerah, serta aroma khas bayinya. Sungguh karunia luar biasa dari Allahyang tak henti-hentinya kusyukuri.

Anakku, terima kasih telah datang ke kepada kami dengan penuh keceriaan. Hadirmu bagai siraman hujan di siang hari yang terang. Membasahi, menyejukkan, dan menciptakan pelangi paling cantik yang mewarnai keluarga ini. Kalau banyak orang mengatakan mengurus anak itu merepotkan, memang iya. Tapi suasana rumah menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Ada lagi yang mengeluh biaya merawat anak itu tidak murah. Aku katakan memang iya, tapi cinta yang diberikan oleh ‘sang penyejuk mata’ jauh lebih besar dan selalu memberiku alasan untuk berjuang lebih keras lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar