Di sebuah pulau kecil di ujung
timur Indonesia, sore itu aku sedang bekerja seperti biasanya di satu-satunya
PLTU di provinsi Maluku Utara. Ya, sudah hampir setengah tahun waktu itu aku
menjalani Long distance marriage
bersama istri yang sedang hamil. Ceritanya, karena khawatir dengan fasilitas
kesehatan di remote area dan lagi belum
memiliki pengalaman masalah kehamilan, kami memutuskan selama hamil istri
tinggal dulu bersama mertua di Madiun. Tentunya untuk menghindari hal-hal yang
tidak diinginkan.
Lalu sekitar pukul 4 sore, setelah
membereskan sisa-sisa pekerjaan untuk bersiap pulang, aku mendapat kabar dari
istri bahwa dokter kandungan memerintahkannya untuk segera masuk rumah sakit
dan menjalani operasi cesar keesokan paginya. Padahal hari perkiraan lahir
(HPL) masih dua minggu lagi dan saat itu awalnya pergi ke dokter hanya untuk periksa
rutin saja.
Aku bingung tentu saja, buru-buru
segera mengurus surat ijin cuti ke bos. Tapi sayangnya aku harus menunggu
penerbangan esok pagi karena pesawat terakhir dari Ternate ke Surabaya jam 3
sore. Istriku didiagnosa preclamsia
yang gejalanya kaki terlihat membengkak dan yang membuat dokter memaksakan
segera operasi adalah tekanan darah istriku saat itu mencapai 180 mmHg, yang
mana dari sisi medis sangat mengkawatirkan jika menjalani proses melahirkan
secara normal.
Bersyukur di Madiun aku memiliki
keluarga besar yang sangat support.
Baik keluarga mertua maupun keluargaku sendiri. Jadi walaupun aku tidak ada di
sana, tetap ada yang mengantarkan istriku ke dokter waktu itu. Jadilah malam
itu kulewatkan dengan perasaan harap-harap cemas. Hanya berdoa dan bersholawat
yang bisa kulakukan, berharap semua lancar dan tidak terjadi apa-apa.
Keesokan paginya, dengan pesawat
paling awal, jam 8 pagi WIT aku berangkat ke Surabaya. Dan alhamdulillah wa syukurillah, tepat di saat terakhir menjelang boarding, ibuku menelpon, mengabarkan
kalau puteriku telah lahir dengan selamat. Perasaanku campur aduk ketika itu.
Antara bahagia, kaget, dan takjub menjadi satu. Seorang Munirul Ichwan sekarang
sudah menjadi ayah. Terbayang kelucuan ketika nanti aku bermain dengan anakku,
tapi juga tersadar bahwa amanah yang tersemat dipundakku tidaklah ringan. Mulai
saat ini aku harus benar-benar memikirkan tanggung jawab ekonomi, pendidikan-agama,
dan pergaulan anakku ke depannya.
Sepanjang perjalanan di pesawat
aku tak berkata apa-apa. Hanya sekedar bengong dan senyum-senyum sendiri. Tak
sabar sekali rasanya ingin segera menemui istriku, mengecup kening dan meminta
maaf karena tidak di sampingnya di saat-saat paling menentukan. Sampai di
bandara Juanda sekitar jam 10 WIB aku langsung meneruskan perjalanan darat ke
Madiun naik bis. Di bis pun aku juga masih terbengong-bengong, tidak peduli
dengan musik koplo yang diputar oleh armada bis, aku sibuk memperhatikan
foto-foto anakku yang dikirim oleh kakak iparku. Tak henti-hentinya merasa
takjub bahwa bayi merah lucu yang tergeletak di box khusus bayi itu adalah
darah dagingku.
Namun, rasa takjub dan berbunga-bunga
seolah menguap sementara ketika kulihat istriku tergeletak lemas, tak berdaya
di pembaringan ruang pasca operasi. Sekujur tubuhnya terasa panas walaupun saat
itu suhu ruangan sudah dalam kondisi yang paling dingin. Memang, sejauh yang
kutahu melahirkan dengan metode operasi cesar justru lebih menyiksa si ibu di
hari-hari pasca persalinan. Saat itulah, jarum penunjuk "speedometer cinta" ke
istri seakan berada di titik tertinggi. Wanita muda dengan segala potensinya
ini telah merelakan masa depannya untuk mengabdi kepadaku, mengandung anakku, lalu
kini bersimbah darah dan air mata demi melahirkan buah hatiku.
Seusai membantu semua kebutuhan
istri dan memindahkannya ke kamar rawat, tibalah saatnya aku bertemu dengan
puteri pertamaku. Seorang perempuan yang sudah aku sayangi bahkan sebelum bertemu
dengannya. Pelan-pelan kuangkat tubuh mungilnya yang masih terlilit kain
bedong. Walaupun sebelumnya sama sekali belum pernah menyentuh bayi, bahkan
cenderung takut hanya untuk sekedar meyentuh, namun waktu itu tiba-tiba saja
aku menjadi sangat “prigel” menggendong anakku. Kuperhatikan matanya yang masih
terpejam, bibirnya yang mungil memerah, serta aroma khas bayinya. Sungguh karunia luar biasa dari Allahyang tak henti-hentinya kusyukuri.
Anakku, terima kasih telah datang
ke kepada kami dengan penuh keceriaan. Hadirmu bagai siraman hujan di siang
hari yang terang. Membasahi, menyejukkan, dan menciptakan pelangi paling cantik
yang mewarnai keluarga ini. Kalau banyak orang mengatakan mengurus anak itu
merepotkan, memang iya. Tapi suasana rumah menjadi lebih hidup dan menyenangkan.
Ada lagi yang mengeluh biaya merawat anak itu tidak murah. Aku katakan
memang iya, tapi cinta yang diberikan oleh ‘sang penyejuk mata’ jauh lebih
besar dan selalu memberiku alasan untuk berjuang lebih keras lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar