Rabu, 25 September 2013

Catatan Wisuda 107

Sabtu, 21 September 2013. Merupakan hari yang sangat membahagiakan. Jika saja rentang waktu selama sepuluh tahun semenjak usia SD sampai hari sakral tersebut dihilangkan, niscaya akan seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata. Di Graha Sepuluh Nopember, ditemani orang tua beserta keluarga, bersama teman-teman seperjuangan, dan dihadapan dewan profesor yang begitu berwibawa, merupakan momen yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup. Seakan terngiang-ngiang apa yang telah difirmankan oleh Allah Tuhan semesta alam dalam surat Ar-Rahman 'Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan'.

Hari itu merupakan hari wisuda ke-107 Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dimana segala jerih payah, keringat, dan air mata yang telah dikorbankan selama empat tahun terakhir ini mendapat imbalannya. Bukanlah toga super gagah ini yang menjadikan prosesi wisuda istimewa, bahkan bukan juga karena ijazahnya. Melainkan begitu banyaknya orang yang turut bahagia dan mengapresiasi perjuangan kita. Bayangkan betapa campur aduknya perasaan kita menyaksikan tangis haru orang tua, betapa bahagianya mereka menyaksikan sang anak telah berhasil meraih sebagian dari mimpi-mimpinya. Bahkan aku bisa membayangkan kalo ayahku di alam sana juga sedang tersenyum sambil berkata bangga "you've done it pretty well, son."

Gelar ini untukmu, ayah :')

Entah, kata apa yang pantas aku ucapkan padamu.
Darimu aku belajar tentang makna perjuangan, Ibu...

Selain itu, ada juga gelak tawa dan canda dari teman-teman seperjuangan yang selama empat tahun ini telah bersama dalam berbagai situasi, entah itu pada saat bersama-sama dikader, menjalani ganasnya praktikum, juga pada saat sama-sama bokek karena kiriman dari orang tua terlambat. Selain teman, mereka juga adalah guru yang mengajari arti kebersamaan dan persahabatan. Terima kasih tak terkira untuk kalian yang telah menemani waktuku selama kurang lebih empat tahun di kampus perjuangan.

Tak lupa juga yang membuat prosesi wisuda ini menjadi sangat istimewa adalah sambutan dari adek-adek angkatan maupun teman-teman lainnya. Membahagiakan sekali ketika tahu bahwa ada orang lain yang ikut senang di hari istimewa kita, semua rasa lela dan penat saat menjalani masa-masa kuliah seakan terbayar lunas dengan apresiasi tersebut.
Bersama adek-adek Komisariat Kimia.


Kawan berjuang di HMI Sepuluh Nopember. YAKUSA!!


Teman SMA adalah teman selamanya :)


Keluarga, semoga selanjutnya lebih  bisa membanggakan kalian.

Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih...

Jumat, 20 September 2013

Tuhan Sulastri

Lelah. Entah sudah berapa banyak senyuman yang dilemparkannya malam ini. Bahkan lambaian tangan nakalnya pun tak mampu menarik seekor kumbang pun untuk sekedar menghisap madu dari cawan yang sejak tadi dia tawarkan. Bedak murahan merek fanbo yang biasa dibelinya dari warung Mak Iyem juga sudah mulai luntur oleh keringat.

Wanita setengah baya itu mulai gelisah, dilihatnya kembang-kembang lain yang lebih muda sudah mulai bergelayutan manja di pelukan mangsa-mangsanya sambil mencari tempat untuk saling bertukar madu dan racun dalam dosa. Sedangkan Sulastri, nama asli wanita itu, masih saja sendiri. Terkadang berdiri, terkadang duduk bersilang kaki untuk memamerkan bagian pahanya yang tak lagi mulus itu.

Ditemani segelas hemaviton merah rasa anggur dan Mak Iyem, penjaga warung di lingkungan lokalisasi di pinggiran Jakarta, Sulastri menghabiskan malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Bukan untuk membunuh waktu seperti yang selalu dilakukan orang-orang yang lebih beruntung darinya, melainkan untuk membunuh harga dirinya sendiri agar bisa terus menghidupi dan menyekolahkan anak semata wayangnya.

Dan nampaknya malam ini sama sekali bukan malam keberuntungan Sulastri, hingga gelasnya kosong dan kembang-kembang trotoar yang lain sudah habis “dipetik”, wanita beranak satu yang telah lama ditinggal kabur suaminya itu belum juga mendapatkan seorang pelanggan pun. Bayang-bayang kartu SPP anaknya yang sudah tiga bulan belum dibayar, beras yang sudah tinggal setengah gelas, dan bedak merek fanbonya yang sudah hampir habis membuat kegelisahannya kini semakin menjadi-jadi.

Dengan langkah gontai, Sulastri yang telah putus asa melangkahkan kaki meninggalkan tempat dimana dia biasa bercumbu untuk sejenak kembali ke gubug peraduan. Otaknya mulai berputar keras mencari cara agar paling tidak dapurnya masih bisa berasap esok hari. Sungguh berat beban yang dipikulnya saat ini. Bicara tentang dosa? Mungkin sudah sejak lama Sulastri menghapus kata tersebut dari kamus hidupnya.

Sorot lampu jalanan di tengah malam menjelang pagi tiba-tiba membuat Sulastri terbayang wajah perempuan bajingan yang dulu telah membawa kabur suaminya. Entah apa yang ada di otak suaminya kala itu hingga tega meninggalkan anaknya dan membiarkan dirinya kini terjebak dalam kubangan lumpur yang hina. Tapi kemudian cepat-cepat Sulastri tersadar, tidak ada gunanya lagi mengingat hal tersebut, hanya menambah luka di hatinya yang sudah berlumur darah. Lagi pula dia juga sadar bahwa tidak ada bedanya saat ini dirinya dengan perempuan bajingan itu. Entah sudah berapa banyak suami orang yang telah tidur dengannya tiap malam.

“Allahu Akbar – Allahu Akbar.” Suara nyaring dari Masjid megah yang tak jauh dari jalanan itu menandakan malam telah berakhir. Biasanya Sulastri tak pernah peduli dengan suara panggilan tersebut. Baginya Tuhan telah lama mati. Digantung oleh kemiskinan dan kejamnya kehidupan malam yang menjijikkan.

Namun memang malam ini nampaknya memang bukan malam yang biasa bagi Sulastri. Amarah dan kebosanannya akan kerasnya kehidupan ini benar-benar telah memuncak. Di tengah gemuruh suara adzan berteriaklah Sulastri,

“Hai Kau yang katanya Tuhan. Kemana saja kau selama ini? Kau biarkan aku tercompang-camping dan tersiksa disini! Tuhan macam apa kau ini?!”

Seketika itu juga tubuh Sulastri terasa seperti dipeluk dengan sangat kuat. Bukan pelukan biasa karena kini dia sama sekali tak bisa bernafas. Keringat pun dalam sekejap bercucuran membasahi tubuh pelacur jalanan yang sedang sangat ketakutan ini. Namun di tengah rasa sakit yang amat sangat itu, Sulastri masih sempat mendengar suara orang yang berbisik di telinganya.

Tenanglah nak, aku Izrail dan kau akan segera bertemu Tuhanmu.”
Oleh : Munirul Ichwan

Senin, 16 September 2013

JIHAD Melawan Fundamentalisme Agama

Waktu kuliah merupakan waktu bagi para pemuda-pemudi melakukan pencarian jati diri. Begitulah kira-kira petuah yang sering kudengar dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA. Dan benar saja, memang tren seperti itulah yang terjadi ketika saya telah masuk ke dalam dunia kampus yang bisa dikatakan sebagai tempat bergumulnya berbagai macam ideologi dan pemikiran. Salah satu wujud kegiatan pencarian jati diri ini adalah ekspresi keagamaan mahasiswa di dalam kampus. Karena secara fisik jauh dari keluarga dan orang-orang dekatnya, banyak mahasiswa yang ingin mempelajari agama lebih mendalam agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan sebelumnya. Pola kehidupan beragama di kampus inilah, khususnya dalam rangka pencarian jati diri mahasiswa, yang bisa dikatakan sangat unik.

Setelah kurang lebih 8 semester menjalani masa pendidikan di perguruan tinggi, saya jadi tahu pola kehidupan beragama mahasiswa-mahasiswi di dalam kampus, terutama mereka yang sebelumnya awam dalam masalah agama. Yaitu ketika baru masuk masa perkuliahan, mereka langsung ditawari dengan corak Islam yang mengedepankan simbol. Dalam artian Islam yang berorientasi pada tradisi ke-arab-araban. Seperti celana cingkrang, poligami, panggilan ukhti-akhi, dan lain sebagainya.

Bagi mahasiswa-mahasiswi yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh gerakan-gerakan dakwah Islam yang berorientasi kebangsaan (katakanlah seperti NU dan Muhammadiyah), tentunya tawaran Islam simbolis tersebut sangatlah menggiurkan. Apalagi klaim-klaim yang ditekankan bahwa kelompok mereka merupakan Islam yang kaffah, sedangkan kelompok lain adalah bid’ah, tidak Islami, bahkan dicap bukan Islam.

Untuk membentuk militansi dan kesetiaan terhadap gerakan, dakwah dengan metode klaim dan doktrinasi seperti itu memang ampuh. Karena biasanya kader atau simpatisan yang terbentuk akan lebih rajin melaksanakan ibadah formal dan lebih santun dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain seusianya. Namun dari segi pemikiran, yang ada seolah-olah mereka diupayakan agar tetap bodoh dengan menganggap tabu pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan doktrin yang sudah dianggap final. Hal ini rawan sekali menimbulkan kemandekan proses berpikir yang bermuara pada sikap manut mawon kepada orang yang dianggap memiliki otoritas dalam menentukan setiap detail jalan hidup mereka. Orang seperti ini biasanya disebut murobbi.

Kemudian, efek buruk lanjutan yang dihasilkan dari sistem pengkaderan seperti ini adalah matinya nalar kritis mahasiswa Islam yang sebenarnya sangat cerdas dan prestatif. Mereka sama sekali tidak melawan ketika dijejali dengan pemahaman Islam yang eksklusif, intoleran, dan tidak berorientasi kebangsaan. Dan yang patut disayangkan, mereka juga tidak sadar ketika disuguhi isu-isu yang nampaknya relijius namun sebenarnya bertendensi politik, seperti kasus Mesir, Ahmadiyah, anti-JIL, maupun penolakan Miss World.

Selain mendapatkan pemahaman beragama dengan metode doktrinasi, hal yang paling menyedihkan adalah ketika mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang seharusnya  menjadi penggerak kehidupan bangsa yang damai dan inklusif,  justru diarahkan untuk menjadi kader pendukung sebuah partai politik. Yang mana partai tersebut dikenal sebagai partai yang mengusung simbolisme Islam, eksklusif, dan tidak apresiatif dengan adanya perbedaan pemahaman di dunia Islam Indonesia.

Melihat begitu massifnya gerakan-gerakan yang condong pada fundamentalisme beragama tersebut, tentu sangat diperlukan upaya-upaya untuk membendung gerakan ini. Pengenalan terhadap pemahaman Islam yang inklusif, moderat, dan berorientasi kebangsaan harus lebih intens lagi dilakukan. Diperlukan kerja keras sekaligus kerja sama antara organisasi-organisasi Islam yang memiliki sejarah dan berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri yang berbhineka ini, seperti NU, Muhammadiyah, HMI, Persis, dll. Bahkan kalau diperlukan, saya rasa patut juga menggunakan semangat yang sering sekali mereka pelintir untuk tujuan-tujuan tertentu, yaitu semangat JIHAD!!

Keajaiban

Ketika Ibrahim merasa kedinginan di tengah kobaran api, itulah keajaiban. Ketika Musa membelah laut merah dengan sabetan tongkatnya, itulah keajaiban. Dan ketika Isa berjalan dengan tenang di atas air, itulah keajaiban.
Kurang lebih begitulah sebagian dari kita menjawab ketika disuguhi pertanyaan tentang apa itu keajaiban. Dan sangat wajar, karena pada kisah-kisah tersebut kita bisa merasakan betapa hebatnya Tuhan. Apapun yang dikehendakiNya pasti terjadi, sekalipun harus melanggar hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya sendiri. Itulah definisi keajaiban menurut sebagian orang.

Karena definisi keajaiban yang hebat itulah kita manusia biasa, yang tak seteguh Ibrahim, tak sehebat Musa, dan tak semulia Isa sering sekali merasa iri. Entah sudah berapa banyak doa-doa tak tahu diri yang terucap. Meminta apa yang kita kehendaki dengan membabi buta. Keajaiban, keajaiban, dan keajaiban.
Itulah yang berulang kali, dengan penuh ketidaksabaran, kita pertanyakan kepada Tuhan. sungguh lucu tingkah manusia.

Aku berimajinasi, mungkin di atas sana Tuhan sedang cekikikan. Menertawakan lelucon yang diperbuat ‘anak-anak’Nya.

Bagaimana Tuhan tidak cekikikan? Di dunia manusia meminta keajaiban, tapi tidak melihat tanda-tanda yang nyata dariNya. Manusia minta menjadi orang yang berilmu tinggi, punya gelar haji atau ustadz, bahkan ada yang kurang ajar meminta dirinya sendiri menjadi tuhan kedua, yang berhak menentukan manusia mana yang benar dan mana yang tersesat.

Tanpa disadari permintaan-permintaan tersebut membutakan manusia dari keajaiban yang sesungguhnya. Banyak yang tidak menyadari bahwa dibalik senyum orang miskin yang dibantunyalah, sebenarnya terletak keajaiban. Di kening bocah yatim yang diusapnyalah, tersimpan keajaiban. Dan di sekujur tubuh orang tua yang dia bersihkan kotoran-kotorannya lah, ada keajaiban yang dicari-cari.

Entah bagaimana metode kerja Tuhan yang maha baik ini. Dan karena kebaikanNya lah tidak semua doa dikabulkan.

Dan tentu saja karena kebaikanNya juga lah manusia diberi petunjuk tentang apa yang harus diminta. Dengan tanda-tanda yang tidak semua mampu menyadarinya.


Itulah, keajaiban…

Kamis, 12 September 2013

Syukur Atas Keterbatasan


Secara kasat mata, keterbatasan adalah suatu hal yang membelenggu. Milyaran manusia membencinya, dan karena itu mati-matian berusaha menyingkirkannya. Segala macam upaya dilakukan manusia untuk bisa lepas dari keterbatasan yang dimiliki. Lalu dengan akal dan daya cipta yang dianugerahkan oleh Tuhan, sedikit-demi sedikit manusia mampu mengatasi ‘belenggu’ tersebut.  Kapal laut, teleskop, dan pesawat terbang adalah beberapa contoh hasil karya manusia untuk menutupi keterbatasan fisik mereka.

Namun, yang sering kita lupakan adalah kenyataan bahwa sebenarnya keterbatasan merupakan anugerah yang harus disyukuri. Coba saja kita bayangkan, misalnya pendengaran kita tidak dibatasi pada frekuensi 20 sampai 20.000 Hertz, pasti kita akan pusing mendengar berbagai macam suara infrasonik yang selama ini hanya bisa didengar oleh hewan semacam jangkrik dan anjing. Begitu juga dengan kemampuan penglihatan, harus disyukuri kita hanya ‘diijinkan’ melihat suatu benda sampai ukuran tertentu. Bayangkan saja jika mata kita memiliki kemampuan melihat seperti mikroskop, tentu setiap saat kita akan merasa jijik melihat jutaan bakteri dan virus bertebaran di sekitar kita.

Selain kedua hal tersebut, masih banyak lagi keterbatasan-keterbatasan yang patut dianggap sebagai anugerah. Contoh kongkritnya adalah saya sendiri secara sadar sangat bersyukur telah lahir dan dibesarkan oleh orang tua dengan kemampuan ekonomi terbatas. Karena bukan dari golongan orang kaya, sejak kecil saya tidak mengenal pembantu sehingga bisa lebih mandiri dalam berbagai hal. Orang tuaku juga tidak bisa membelikan video game dan mainan berlebihan sehingga masa kecilku lebih banyak habis untuk bermain bersama teman-teman dan membaca buku. Sekolahku juga bukan sekolah terpadu yang mahal, melainkan sekolah kampung yang tidak banyak menyedot waktu anak-anak, yang seharusnya memang waktu tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan utamanya, yaitu bermain.

Dan keterbatasan yang selama empat tahun terakhir ini saya syukuri adalah uang bulanan dari orang tua yang nge-press. Karena kengepressan itulah saya bisa merasakan pahit getirnya ‘tirakat’ di perantauan. Yang pastinya hal tersebut akan mempercepat proses pendewasaan dan menumbuhkan jiwa sosialis dalam diri ini.

Entah, setelah ini keterbatasan macam apa lagi yang bisa saya syukuri. Alhamdulillah…