Secara kasat mata, keterbatasan
adalah suatu hal yang membelenggu. Milyaran manusia membencinya, dan karena itu
mati-matian berusaha menyingkirkannya. Segala macam upaya dilakukan manusia
untuk bisa lepas dari keterbatasan yang dimiliki. Lalu dengan akal dan daya
cipta yang dianugerahkan oleh Tuhan, sedikit-demi sedikit manusia mampu
mengatasi ‘belenggu’ tersebut. Kapal
laut, teleskop, dan pesawat terbang adalah beberapa contoh hasil karya manusia
untuk menutupi keterbatasan fisik mereka.
Namun, yang sering kita lupakan
adalah kenyataan bahwa sebenarnya keterbatasan merupakan anugerah yang harus
disyukuri. Coba saja kita bayangkan, misalnya pendengaran kita tidak dibatasi
pada frekuensi 20 sampai 20.000 Hertz,
pasti kita akan pusing mendengar berbagai macam suara infrasonik yang selama
ini hanya bisa didengar oleh hewan semacam jangkrik dan anjing. Begitu juga
dengan kemampuan penglihatan, harus disyukuri kita hanya ‘diijinkan’ melihat
suatu benda sampai ukuran tertentu. Bayangkan saja jika mata kita memiliki
kemampuan melihat seperti mikroskop, tentu setiap saat kita akan merasa jijik
melihat jutaan bakteri dan virus bertebaran di sekitar kita.
Selain kedua hal tersebut, masih
banyak lagi keterbatasan-keterbatasan yang patut dianggap sebagai anugerah. Contoh
kongkritnya adalah saya sendiri secara sadar sangat bersyukur telah lahir dan
dibesarkan oleh orang tua dengan kemampuan ekonomi terbatas. Karena bukan dari
golongan orang kaya, sejak kecil saya tidak mengenal pembantu sehingga bisa lebih
mandiri dalam berbagai hal. Orang tuaku juga tidak bisa membelikan video game dan mainan berlebihan
sehingga masa kecilku lebih banyak habis untuk bermain bersama teman-teman dan
membaca buku. Sekolahku juga bukan sekolah terpadu yang mahal, melainkan
sekolah kampung yang tidak banyak menyedot waktu anak-anak, yang seharusnya
memang waktu tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan utamanya, yaitu
bermain.
Dan keterbatasan yang selama
empat tahun terakhir ini saya syukuri adalah uang bulanan dari orang tua yang
nge-press. Karena kengepressan itulah saya bisa merasakan
pahit getirnya ‘tirakat’ di perantauan. Yang pastinya hal tersebut akan mempercepat
proses pendewasaan dan menumbuhkan jiwa sosialis dalam diri ini.
Entah, setelah ini keterbatasan macam
apa lagi yang bisa saya syukuri. Alhamdulillah…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar