Kamis, 12 September 2013

Syukur Atas Keterbatasan


Secara kasat mata, keterbatasan adalah suatu hal yang membelenggu. Milyaran manusia membencinya, dan karena itu mati-matian berusaha menyingkirkannya. Segala macam upaya dilakukan manusia untuk bisa lepas dari keterbatasan yang dimiliki. Lalu dengan akal dan daya cipta yang dianugerahkan oleh Tuhan, sedikit-demi sedikit manusia mampu mengatasi ‘belenggu’ tersebut.  Kapal laut, teleskop, dan pesawat terbang adalah beberapa contoh hasil karya manusia untuk menutupi keterbatasan fisik mereka.

Namun, yang sering kita lupakan adalah kenyataan bahwa sebenarnya keterbatasan merupakan anugerah yang harus disyukuri. Coba saja kita bayangkan, misalnya pendengaran kita tidak dibatasi pada frekuensi 20 sampai 20.000 Hertz, pasti kita akan pusing mendengar berbagai macam suara infrasonik yang selama ini hanya bisa didengar oleh hewan semacam jangkrik dan anjing. Begitu juga dengan kemampuan penglihatan, harus disyukuri kita hanya ‘diijinkan’ melihat suatu benda sampai ukuran tertentu. Bayangkan saja jika mata kita memiliki kemampuan melihat seperti mikroskop, tentu setiap saat kita akan merasa jijik melihat jutaan bakteri dan virus bertebaran di sekitar kita.

Selain kedua hal tersebut, masih banyak lagi keterbatasan-keterbatasan yang patut dianggap sebagai anugerah. Contoh kongkritnya adalah saya sendiri secara sadar sangat bersyukur telah lahir dan dibesarkan oleh orang tua dengan kemampuan ekonomi terbatas. Karena bukan dari golongan orang kaya, sejak kecil saya tidak mengenal pembantu sehingga bisa lebih mandiri dalam berbagai hal. Orang tuaku juga tidak bisa membelikan video game dan mainan berlebihan sehingga masa kecilku lebih banyak habis untuk bermain bersama teman-teman dan membaca buku. Sekolahku juga bukan sekolah terpadu yang mahal, melainkan sekolah kampung yang tidak banyak menyedot waktu anak-anak, yang seharusnya memang waktu tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan utamanya, yaitu bermain.

Dan keterbatasan yang selama empat tahun terakhir ini saya syukuri adalah uang bulanan dari orang tua yang nge-press. Karena kengepressan itulah saya bisa merasakan pahit getirnya ‘tirakat’ di perantauan. Yang pastinya hal tersebut akan mempercepat proses pendewasaan dan menumbuhkan jiwa sosialis dalam diri ini.

Entah, setelah ini keterbatasan macam apa lagi yang bisa saya syukuri. Alhamdulillah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar