Waktu kuliah merupakan waktu bagi
para pemuda-pemudi melakukan pencarian jati diri. Begitulah kira-kira petuah
yang sering kudengar dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA. Dan benar saja,
memang tren seperti itulah yang
terjadi ketika saya telah masuk ke dalam dunia kampus yang bisa dikatakan
sebagai tempat bergumulnya berbagai macam ideologi dan pemikiran. Salah satu
wujud kegiatan pencarian jati diri ini adalah ekspresi keagamaan mahasiswa di
dalam kampus. Karena secara fisik jauh dari keluarga dan orang-orang dekatnya,
banyak mahasiswa yang ingin mempelajari agama lebih mendalam agar terhindar
dari hal-hal yang tidak diinginkan sebelumnya. Pola kehidupan beragama di
kampus inilah, khususnya dalam rangka pencarian jati diri mahasiswa, yang bisa
dikatakan sangat unik.
Setelah kurang lebih 8 semester
menjalani masa pendidikan di perguruan tinggi, saya jadi tahu pola kehidupan
beragama mahasiswa-mahasiswi di dalam kampus, terutama mereka yang sebelumnya
awam dalam masalah agama. Yaitu ketika baru masuk masa perkuliahan, mereka
langsung ditawari dengan corak Islam yang mengedepankan simbol. Dalam artian
Islam yang berorientasi pada tradisi ke-arab-araban.
Seperti celana cingkrang, poligami, panggilan ukhti-akhi, dan lain sebagainya.
Bagi mahasiswa-mahasiswi yang
sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh gerakan-gerakan dakwah Islam yang berorientasi
kebangsaan (katakanlah seperti NU dan Muhammadiyah), tentunya tawaran Islam
simbolis tersebut sangatlah menggiurkan. Apalagi klaim-klaim yang ditekankan
bahwa kelompok mereka merupakan Islam yang kaffah,
sedangkan kelompok lain adalah bid’ah,
tidak Islami, bahkan dicap bukan Islam.
Untuk membentuk militansi dan
kesetiaan terhadap gerakan, dakwah dengan metode klaim dan doktrinasi seperti itu
memang ampuh. Karena biasanya kader atau simpatisan yang terbentuk akan lebih
rajin melaksanakan ibadah formal dan lebih santun dibandingkan dengan
pemuda-pemuda lain seusianya. Namun dari segi pemikiran, yang ada seolah-olah
mereka diupayakan agar tetap bodoh dengan menganggap tabu pertanyaan-pertanyaan
yang berkaitan dengan doktrin yang sudah dianggap final. Hal ini rawan sekali
menimbulkan kemandekan proses berpikir yang bermuara pada sikap manut mawon kepada orang yang dianggap
memiliki otoritas dalam menentukan setiap detail jalan hidup mereka. Orang
seperti ini biasanya disebut murobbi.
Kemudian, efek buruk lanjutan yang
dihasilkan dari sistem pengkaderan seperti ini adalah matinya nalar kritis
mahasiswa Islam yang sebenarnya sangat cerdas dan prestatif. Mereka sama sekali
tidak melawan ketika dijejali dengan pemahaman Islam yang eksklusif, intoleran,
dan tidak berorientasi kebangsaan. Dan yang patut disayangkan, mereka juga
tidak sadar ketika disuguhi isu-isu yang nampaknya relijius namun sebenarnya
bertendensi politik, seperti kasus Mesir, Ahmadiyah,
anti-JIL, maupun penolakan Miss World.
Selain mendapatkan pemahaman beragama dengan metode doktrinasi, hal yang paling menyedihkan adalah ketika mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang seharusnya menjadi penggerak kehidupan bangsa yang damai dan inklusif, justru diarahkan untuk menjadi kader pendukung sebuah partai politik. Yang mana partai tersebut dikenal sebagai partai yang mengusung simbolisme Islam, eksklusif, dan tidak apresiatif dengan adanya perbedaan pemahaman di dunia Islam Indonesia.
Melihat begitu massifnya gerakan-gerakan yang condong
pada fundamentalisme beragama tersebut, tentu sangat diperlukan upaya-upaya
untuk membendung gerakan ini. Pengenalan terhadap pemahaman Islam yang inklusif,
moderat, dan berorientasi kebangsaan harus lebih intens lagi dilakukan.
Diperlukan kerja keras sekaligus kerja sama antara organisasi-organisasi Islam
yang memiliki sejarah dan berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri yang
berbhineka ini, seperti NU, Muhammadiyah, HMI, Persis, dll. Bahkan kalau
diperlukan, saya rasa patut juga menggunakan semangat yang sering sekali mereka
pelintir untuk tujuan-tujuan tertentu, yaitu semangat JIHAD!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar