Senin, 16 September 2013

JIHAD Melawan Fundamentalisme Agama

Waktu kuliah merupakan waktu bagi para pemuda-pemudi melakukan pencarian jati diri. Begitulah kira-kira petuah yang sering kudengar dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA. Dan benar saja, memang tren seperti itulah yang terjadi ketika saya telah masuk ke dalam dunia kampus yang bisa dikatakan sebagai tempat bergumulnya berbagai macam ideologi dan pemikiran. Salah satu wujud kegiatan pencarian jati diri ini adalah ekspresi keagamaan mahasiswa di dalam kampus. Karena secara fisik jauh dari keluarga dan orang-orang dekatnya, banyak mahasiswa yang ingin mempelajari agama lebih mendalam agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan sebelumnya. Pola kehidupan beragama di kampus inilah, khususnya dalam rangka pencarian jati diri mahasiswa, yang bisa dikatakan sangat unik.

Setelah kurang lebih 8 semester menjalani masa pendidikan di perguruan tinggi, saya jadi tahu pola kehidupan beragama mahasiswa-mahasiswi di dalam kampus, terutama mereka yang sebelumnya awam dalam masalah agama. Yaitu ketika baru masuk masa perkuliahan, mereka langsung ditawari dengan corak Islam yang mengedepankan simbol. Dalam artian Islam yang berorientasi pada tradisi ke-arab-araban. Seperti celana cingkrang, poligami, panggilan ukhti-akhi, dan lain sebagainya.

Bagi mahasiswa-mahasiswi yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh gerakan-gerakan dakwah Islam yang berorientasi kebangsaan (katakanlah seperti NU dan Muhammadiyah), tentunya tawaran Islam simbolis tersebut sangatlah menggiurkan. Apalagi klaim-klaim yang ditekankan bahwa kelompok mereka merupakan Islam yang kaffah, sedangkan kelompok lain adalah bid’ah, tidak Islami, bahkan dicap bukan Islam.

Untuk membentuk militansi dan kesetiaan terhadap gerakan, dakwah dengan metode klaim dan doktrinasi seperti itu memang ampuh. Karena biasanya kader atau simpatisan yang terbentuk akan lebih rajin melaksanakan ibadah formal dan lebih santun dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain seusianya. Namun dari segi pemikiran, yang ada seolah-olah mereka diupayakan agar tetap bodoh dengan menganggap tabu pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan doktrin yang sudah dianggap final. Hal ini rawan sekali menimbulkan kemandekan proses berpikir yang bermuara pada sikap manut mawon kepada orang yang dianggap memiliki otoritas dalam menentukan setiap detail jalan hidup mereka. Orang seperti ini biasanya disebut murobbi.

Kemudian, efek buruk lanjutan yang dihasilkan dari sistem pengkaderan seperti ini adalah matinya nalar kritis mahasiswa Islam yang sebenarnya sangat cerdas dan prestatif. Mereka sama sekali tidak melawan ketika dijejali dengan pemahaman Islam yang eksklusif, intoleran, dan tidak berorientasi kebangsaan. Dan yang patut disayangkan, mereka juga tidak sadar ketika disuguhi isu-isu yang nampaknya relijius namun sebenarnya bertendensi politik, seperti kasus Mesir, Ahmadiyah, anti-JIL, maupun penolakan Miss World.

Selain mendapatkan pemahaman beragama dengan metode doktrinasi, hal yang paling menyedihkan adalah ketika mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang seharusnya  menjadi penggerak kehidupan bangsa yang damai dan inklusif,  justru diarahkan untuk menjadi kader pendukung sebuah partai politik. Yang mana partai tersebut dikenal sebagai partai yang mengusung simbolisme Islam, eksklusif, dan tidak apresiatif dengan adanya perbedaan pemahaman di dunia Islam Indonesia.

Melihat begitu massifnya gerakan-gerakan yang condong pada fundamentalisme beragama tersebut, tentu sangat diperlukan upaya-upaya untuk membendung gerakan ini. Pengenalan terhadap pemahaman Islam yang inklusif, moderat, dan berorientasi kebangsaan harus lebih intens lagi dilakukan. Diperlukan kerja keras sekaligus kerja sama antara organisasi-organisasi Islam yang memiliki sejarah dan berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri yang berbhineka ini, seperti NU, Muhammadiyah, HMI, Persis, dll. Bahkan kalau diperlukan, saya rasa patut juga menggunakan semangat yang sering sekali mereka pelintir untuk tujuan-tujuan tertentu, yaitu semangat JIHAD!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar