Jumat, 20 September 2013

Tuhan Sulastri

Lelah. Entah sudah berapa banyak senyuman yang dilemparkannya malam ini. Bahkan lambaian tangan nakalnya pun tak mampu menarik seekor kumbang pun untuk sekedar menghisap madu dari cawan yang sejak tadi dia tawarkan. Bedak murahan merek fanbo yang biasa dibelinya dari warung Mak Iyem juga sudah mulai luntur oleh keringat.

Wanita setengah baya itu mulai gelisah, dilihatnya kembang-kembang lain yang lebih muda sudah mulai bergelayutan manja di pelukan mangsa-mangsanya sambil mencari tempat untuk saling bertukar madu dan racun dalam dosa. Sedangkan Sulastri, nama asli wanita itu, masih saja sendiri. Terkadang berdiri, terkadang duduk bersilang kaki untuk memamerkan bagian pahanya yang tak lagi mulus itu.

Ditemani segelas hemaviton merah rasa anggur dan Mak Iyem, penjaga warung di lingkungan lokalisasi di pinggiran Jakarta, Sulastri menghabiskan malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Bukan untuk membunuh waktu seperti yang selalu dilakukan orang-orang yang lebih beruntung darinya, melainkan untuk membunuh harga dirinya sendiri agar bisa terus menghidupi dan menyekolahkan anak semata wayangnya.

Dan nampaknya malam ini sama sekali bukan malam keberuntungan Sulastri, hingga gelasnya kosong dan kembang-kembang trotoar yang lain sudah habis “dipetik”, wanita beranak satu yang telah lama ditinggal kabur suaminya itu belum juga mendapatkan seorang pelanggan pun. Bayang-bayang kartu SPP anaknya yang sudah tiga bulan belum dibayar, beras yang sudah tinggal setengah gelas, dan bedak merek fanbonya yang sudah hampir habis membuat kegelisahannya kini semakin menjadi-jadi.

Dengan langkah gontai, Sulastri yang telah putus asa melangkahkan kaki meninggalkan tempat dimana dia biasa bercumbu untuk sejenak kembali ke gubug peraduan. Otaknya mulai berputar keras mencari cara agar paling tidak dapurnya masih bisa berasap esok hari. Sungguh berat beban yang dipikulnya saat ini. Bicara tentang dosa? Mungkin sudah sejak lama Sulastri menghapus kata tersebut dari kamus hidupnya.

Sorot lampu jalanan di tengah malam menjelang pagi tiba-tiba membuat Sulastri terbayang wajah perempuan bajingan yang dulu telah membawa kabur suaminya. Entah apa yang ada di otak suaminya kala itu hingga tega meninggalkan anaknya dan membiarkan dirinya kini terjebak dalam kubangan lumpur yang hina. Tapi kemudian cepat-cepat Sulastri tersadar, tidak ada gunanya lagi mengingat hal tersebut, hanya menambah luka di hatinya yang sudah berlumur darah. Lagi pula dia juga sadar bahwa tidak ada bedanya saat ini dirinya dengan perempuan bajingan itu. Entah sudah berapa banyak suami orang yang telah tidur dengannya tiap malam.

“Allahu Akbar – Allahu Akbar.” Suara nyaring dari Masjid megah yang tak jauh dari jalanan itu menandakan malam telah berakhir. Biasanya Sulastri tak pernah peduli dengan suara panggilan tersebut. Baginya Tuhan telah lama mati. Digantung oleh kemiskinan dan kejamnya kehidupan malam yang menjijikkan.

Namun memang malam ini nampaknya memang bukan malam yang biasa bagi Sulastri. Amarah dan kebosanannya akan kerasnya kehidupan ini benar-benar telah memuncak. Di tengah gemuruh suara adzan berteriaklah Sulastri,

“Hai Kau yang katanya Tuhan. Kemana saja kau selama ini? Kau biarkan aku tercompang-camping dan tersiksa disini! Tuhan macam apa kau ini?!”

Seketika itu juga tubuh Sulastri terasa seperti dipeluk dengan sangat kuat. Bukan pelukan biasa karena kini dia sama sekali tak bisa bernafas. Keringat pun dalam sekejap bercucuran membasahi tubuh pelacur jalanan yang sedang sangat ketakutan ini. Namun di tengah rasa sakit yang amat sangat itu, Sulastri masih sempat mendengar suara orang yang berbisik di telinganya.

Tenanglah nak, aku Izrail dan kau akan segera bertemu Tuhanmu.”
Oleh : Munirul Ichwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar