Lelah. Entah sudah berapa banyak senyuman yang dilemparkannya malam ini. Bahkan lambaian tangan nakalnya pun tak mampu menarik seekor kumbang pun untuk sekedar menghisap madu dari cawan yang sejak tadi dia tawarkan. Bedak murahan merek fanbo yang biasa dibelinya dari warung Mak Iyem juga sudah mulai luntur oleh keringat.
Wanita setengah baya itu mulai
gelisah, dilihatnya kembang-kembang lain yang lebih muda sudah mulai
bergelayutan manja di pelukan mangsa-mangsanya sambil mencari tempat untuk
saling bertukar madu dan racun dalam dosa. Sedangkan Sulastri, nama asli wanita
itu, masih saja sendiri. Terkadang berdiri, terkadang duduk bersilang kaki untuk memamerkan
bagian pahanya yang tak lagi mulus itu.
Ditemani segelas hemaviton merah rasa anggur dan Mak
Iyem, penjaga warung di lingkungan lokalisasi di pinggiran Jakarta, Sulastri menghabiskan malam
ini seperti malam-malam sebelumnya. Bukan untuk membunuh waktu seperti yang
selalu dilakukan orang-orang yang lebih beruntung darinya, melainkan untuk
membunuh harga dirinya sendiri agar bisa terus menghidupi dan menyekolahkan
anak semata wayangnya.
Dan nampaknya malam ini sama
sekali bukan malam keberuntungan Sulastri, hingga gelasnya kosong
dan kembang-kembang trotoar yang lain sudah habis “dipetik”, wanita beranak
satu yang telah lama ditinggal kabur suaminya itu belum juga mendapatkan
seorang pelanggan pun. Bayang-bayang kartu SPP anaknya yang sudah tiga bulan
belum dibayar, beras yang sudah tinggal setengah gelas, dan bedak merek fanbonya yang sudah hampir habis membuat
kegelisahannya kini semakin menjadi-jadi.
Dengan langkah gontai, Sulastri
yang telah putus asa melangkahkan kaki meninggalkan tempat dimana dia biasa
bercumbu untuk sejenak kembali ke gubug peraduan. Otaknya mulai berputar keras
mencari cara agar paling tidak dapurnya masih bisa berasap esok hari. Sungguh
berat beban yang dipikulnya saat ini. Bicara tentang dosa? Mungkin sudah sejak
lama Sulastri menghapus kata tersebut dari kamus hidupnya.
Sorot lampu jalanan di tengah
malam menjelang pagi tiba-tiba membuat Sulastri terbayang wajah perempuan
bajingan yang dulu telah membawa kabur suaminya. Entah apa yang ada di otak
suaminya kala itu hingga tega meninggalkan anaknya dan membiarkan dirinya kini
terjebak dalam kubangan lumpur yang
hina. Tapi kemudian cepat-cepat Sulastri tersadar, tidak
ada gunanya lagi mengingat hal tersebut, hanya menambah luka di hatinya yang
sudah berlumur darah. Lagi pula dia juga sadar bahwa tidak ada bedanya saat ini
dirinya dengan perempuan bajingan itu. Entah sudah berapa banyak suami orang
yang telah tidur dengannya tiap malam.
“Allahu Akbar – Allahu Akbar.”
Suara nyaring dari Masjid megah yang tak jauh dari jalanan itu menandakan malam
telah berakhir. Biasanya Sulastri tak pernah peduli dengan suara panggilan
tersebut. Baginya Tuhan telah lama mati. Digantung oleh kemiskinan dan kejamnya
kehidupan malam yang menjijikkan.
Namun memang malam ini nampaknya
memang bukan malam yang biasa bagi Sulastri. Amarah dan kebosanannya akan
kerasnya kehidupan ini benar-benar telah memuncak. Di tengah gemuruh suara
adzan berteriaklah Sulastri,
“Hai Kau yang katanya Tuhan.
Kemana saja kau selama ini? Kau biarkan aku tercompang-camping dan tersiksa
disini! Tuhan macam apa kau ini?!”
Seketika itu juga tubuh Sulastri terasa
seperti dipeluk dengan sangat kuat. Bukan pelukan biasa karena kini dia sama
sekali tak bisa bernafas. Keringat pun dalam sekejap bercucuran membasahi tubuh
pelacur jalanan yang sedang sangat ketakutan ini. Namun di tengah rasa sakit
yang amat sangat itu, Sulastri masih sempat mendengar suara orang yang berbisik
di telinganya.
“Tenanglah nak, aku Izrail dan kau akan segera
bertemu Tuhanmu.”
Oleh : Munirul Ichwan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar