Senin, 25 Juni 2012

Status Facebook, Perempuan, dan Menjadi Aktivis


Kemarin, aku sempat membaca status facebook dari salah satu seniorku di ITS. Aku masih ingat kira-kira seperti ini isinya “Aku adalah perempuan aktif, bukan seorang aktivis perempuan”. Dan di kolom komentar dia menambahkan lagi bahwa yang dimaksud dengan aktivis perempuan adalah mereka yang berteriak-teriak menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Argumen yang digunakannya adalah “la wong sudah enak jadi perempuan, kok pengen sama kayak laki-laki”.

Sekilas argumen tersebut memang tampak benar. Bukankah sudah enak jadi perempuan? Bagaimana tidak, dalam budaya kita saat ini, perempuan tidak wajib bekerja, tapi kalau misalnya kepengen bekerja dan menekuni karir sampai mendapat jabatan yang tinggi, ya silahkan saja. Selain itu, karena tidak harus mencukupi kebutuhan keluarga, perempuan juga tidak terbebani harus sekolah tinggi dan mendapat ijasah sarjana, tapi kalau misalnya dia ingin menuntut ilmu sampai jenjang S2, S3, dan bahkan seterusnya, ya monggo-monggo saja, ga ada yang boleh ngelarang. Sudah enak begitu, kok masih ribut nuntut persamaan. Masalah repot mengandung, melahirkan, dan menyusui anak itu kan hal wajar, dinikmatin aja. Mungkin seperti itulah jalan pikir seniorku tersebut dan juga perempuan-perempuan lain yang sama-sama mengecam aktivis perempuan.

Terserah apa yang dikatakannya, tapi menurutku orang-orang seperti itu adalah tipe orang yang hanya memikirkan keadaan dirinya sendiri, self sentris. Memang tidak salah kalau mereka mengatakan “Enak jadi perempuan”. Tapi itu kan di sini, saat ini, yang mana perempuan-perempuan seperti mereka bisa bebas kuliah di kampus jurusan manapun (termasuk teknik), berorganisasi, pulang malam, serta beraktifitas untuk mengembangkan dirinya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada.

Tapi, apakah mereka pernah membayangkan seandainya mereka hidup di jaman pra-Kartini? Yang mana perempuan tidak boleh sekolah dan sudah harus kawin di usia 12 tahun dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah dia kenal sebelumnya. Apakah dia pernah membayangkan seandainya dia terlahir di Afghanistan pas jaman penguasaan Taliban? Dimana saat itu seluruh perempuan, baik itu guru, karyawan, dokter, atau apapun, tidak diperkenankan untuk berada di luar rumah. Bahkan, bagi perempuan korban pemerkosaan pun, tidak diberi kesempatan untuk membela diri dari tuntutan hukum rajam. Dan apakah dia pernah membayangkan seandainya dia terlahir sebagai perempuan miskin yang tidak punya kesempatan bersekolah? Yang akhirnya mudah ditipu dan dijadikan budak sex di Batam, Macau, dan tempat-tempat prostitusi kelas dunia lainnya.

Semoga saja mereka semua tahu, menjadi aktivis perempuan bukan hanya soal menuntut persamaan dengan laki-laki saja. Namun, menjadi seorang aktivis perempuan adalah panggilan hati untuk memerangi penindasan dan ketidakadilan yang menimpa kaumnya. Syukurlah kalau memang hidup kalian sudah enak dan bahagia, semoga hal tersebut bisa berlangsung lama. Tapi, sekali lagi ingat! Di luar sana masih banyak perempuan yang tertindas, yang tidak memiliki kebebasan untuk berkembang, bahkan tidak sedikit yang hanya memiliki dua pilihan yang sama-sama sulit dalam hidupnya, mati…. Atau menjadi Pelacur!!

Selasa, 19 Juni 2012

Perjalanan ke Kalimati, Go to Semeru Seri 3

Pepohonan adalah puisi yang dituliskan bumi pada langit. Kita menebangnya hingga roboh dan mengubahnya menjadi kertas agar kita bisa merekam kehampaan kita.

(Kahlil Gibran)
Masih melekat kuat dalam ingatanku, sewaktu kecil dulu selalu menggambar pemandangan berupa dua buah gunung kembar di tengah-tengahnya terselip matahari yang berbentuk seperti potongan pizza. Di atasnya terdapat awan-awan yang digambar dengan agak ngawur dan beberapa burung terbang yang bentuknya seperti angka tiga menghadap ke bawah. Yap, begitulah kira-kira aku dan hampir semua teman-teman masa kecilku menggambar pemandangan. Sangat monoton dan membosankan.

Tapi pagi ini aku melihatnya lain. Gambar yang sebelumnya kuanggap monoton dan membosankan itu tiba-tiba kini menjelma menjadi pemandangan yang nyata, yang bisa kulihat dan kurasakan keberadaannya di depan mataku. Di tengah hawa dingin yang menggigit, aku melihat di depanku sebuah matahari yang masih berbentuk seperti potongan pizza mulai muncul di tengah dua buki yang hampir sama besar. Sinar matahari pagi itu nampak seperti goresan spidol kuning yang menyebar ke segala arah. Di atasnya memang tidak terdapat awan maupun burung-burung berbentuk angka tiga menghadap ke bawah, namun sama sekali tidak mengurangi keindahannya yang bagiku sangat menakjubkan. Apalagi di bawah bukit tehampar sebuah danau bening yang sangat menakjubkan, bagaikan sebuah cermin raksasa memantulkan bayangan yang tak kalah indahnya.
Wujud nyata dari gambar-gambar masa kecil

Keceriaan di Ranu Kumbolo

Berat hati meninggalkan keindahannya
Inilah Ranu Kumbolo, sebuah pemandangan hasil karya Sang Maha Abadi yang tidak dilukis di atas kanvas ataupun buku gambar, melainkan benar-benar terwujud di alam nyata tempat kita tinggal, yang mampu mereprentasikan kebesaran dan keagunganNya. Betapa bodohnya jika kita sebagai manusia tetap sombong, bahkan baru di hadapan lukisanNya saja kita sudah terlihat sangat kecil dan tak berarti.

Puas menikmati pemandangan eksotis Ranu Kumbolo, aku segera bergegas membantu kawan-kawan untuk memasak dan merobohkan tenda. Rencananya siang itu kita harus sudah sampai di kalimati agar memiliki waktu yang cukup untuk istirahat sebelum melakukan pendakian pamungkas ke puncak Mahameru.

Sekitar pukul 08.00 kita semua sudah siap melanjutkan pendakian, tenda dan barang-barang lain telah selesai dikemasi, tak lupa sampah-sampah plastik sisa makanan juga telah dikumpulkan ke dalam kantong plastik besar. Dan seperti biasa, sebelum berangkat ke-28 pejuang semeru yang masih lengkap dan sehat ini membentuk lingkaran untuk berhitung dan berdoa. Kali ini dipimpin oleh Ahong. 

Medan pertama yang harus dilalui kali ini adalah tanjakan cinta. Mungkin namanya memang terdengar lembut, tapi percayalah, tanjakan yang sangat panjang dan curam ini sama sekali tak selembut namanya. Aku saja mesti berhenti berkali-kali karena nafasku sudah sangat berantakan. Entah siapa yang memberi nama tanjakan ini, siapapun orang itu aku ingin sekali mengubah namanya menjadi tanjakan penderitaan, mungkin nama itu akan serasi dengan beratnya penderitaan yang harus dirasakan untuk mendaki tanjakan ini.

Kelelahan di puncak tanjakan cinta
Sampai di puncak tanjakan cinta, aku bisa secara bebas memandang hamparan stepa yang sangat luas bernama oro-oro ombo. Dalam bahasa jawa, ‘oro-oro’ berarti tanah lapang, dan ‘ombo’ berarti luas. Sesuai dengan namanya, oro-oro ombo merupakan tanah lapang luas yang hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput ilalang serta bunga lavender setinggi dada orang dewasa, benar-benar mirip dengan apa yang selama ini sering kutonton di liputan-liputan discovery channel tentang habitat satwa di Afrika. Untuk mencapai kesana kita bisa menuruni sebuah turunan curam atau berjalan memutar melalui jalur yang landai.
jalan memutar menuju Oro-oro ombo

Jalan panjang
Hamparan bunga-bunga lavender
Setelah melewati oro-oro ombo, kami istirahat di “pintu gerbang” sebelum masuk ke hutan yang dinamakan cemoro kandang. Pohon-pohon di hutan ini terlihat hampir sama semua dalam hal bentuk dan ukurannya sehingga sering membuat pendaki tersesat. Di tempat inilah, tokoh Arial dalam novel ‘5cm’ pernah tersesat selama seharian penuh. Namun track pendakian yang jelas, serta adanya bendera-bendera yang menandai track pendakian kali ini sangat memudahkan kami. Perjalanan kami kali ini bisa dibilang santai dengan sesekali berhenti sambil ngemil gula merah dan makanan kecil lainnya. Walaupun begitu, ada beberapa track yang perlu kehatian-hatian ekstra ketika melewatinya.
'Pintu gerbang' cemoro kandang
Harus ekstra hati-hati
Kira-kira jam satu siang kami tiba di sebuah tempat yang dinamakan Kalimati. Di tempat inilah terdapat sebuah papan berisi peringatan bahwa pendakian hanya diizinkan sampai tempat ini saja, untuk selanjutnya bukan merupakan tanggung jawab pengelola. Agak ngeri juga aku membacanya, tapi  kupikir tanggung sekali kalau hanya mendaki sampai disini saja. Aku yakin kawan-kawan yang lain akan berpikiran sama denganku. 

Tidak seperti di Ranu Kumbolo, di pos kalimati sama sekali tidak terdapat air. Untuk mengambil air kita harus berjalan kira-kira setengah jam ke sumber mata air yang bernama Sumbermani. Menurut cerita dari kawan-kawan yang mendapat tugas mengambil air, medan yang harus dilalui untuk sampai ke Sumbermani sangatlah curam dan licin sehingga disarankan untuk tidak kesana di atas jam lima sore karena sangat berbahaya dan beresiko tinggi.
Suasana di Sumbermani
Setelah selesai mendirikan tenda, kuhabiskan siang itu paling banyak untuk membungkus diri di dalam tenda dengan sleeping bag. Di luar tenda kawan-kawan menyalakan api unggun, mereka membakar kayu-kayu kering yang didapat dari hutan. Terasa sangat hangat dan bersahabat. Memang benar apa yang selama dikatakan orang bahwa di gunung kita bisa merasakan hal-hal yang tidak akan kita rasakan di tempat terbiasa, terkadang sangat sentimentil, tak jarang juga muncul aroma-aroma mistis. Aku jadi ingat salah satu syair dari Walt Whitman yang pernah dikutip oleh Soe Hok Gie,
“Now I see the secret of making of the best person
It is grow in the open air 
And to eat and sleep with earth” 
Bersama sahabat mencari kehangatan
Selanjutnya waktu yang tersisa kita gunakan untuk bersiap-siap menaklukkan puncak Mahameru. Sungguh hari yang sangat bersejarah bagiku yang untuk pertama kalinya akan merasakan secara lagsung bekunya Arcapada, mistiknya kawasan Cemara Tunggal, juga terjalnya jalur berpasir menuju Mahameru. Semoga yang kami lakukan ini bukanlah hal sia-sia yang hanya menghabiskan waktu, melainkan bisa menjadi sebuah momentum perubahan bagi kami semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
(Bersambung ke seri 4)

Note : Baca cerita sebelumnya di seri 1 dan seri 2)

Jumat, 15 Juni 2012

Menuju Danau di Atas Awan (Go to Semeru Seri 2)

Jangan mengambil apapun, kecuali foto.
Jangan meninggalkan apapun, kecuali jejak.

Jangan membakar apapun, kecuali semangat.
(Etika pendakian)
Pagi itu di Ranu Pani, 28 orang yang menamakan diri sebagai pejuang semeru berbaris merapat. Ketua rombongan, Farizal Maulana, memberikan briefing sekaligus memimpin doa sebelum berangkat mendaki. Seluruh anggota rombongan yang mayoritas merupakan anak-anak HMI Sepuluh Nopember memperhatikan dengan seksama. Kehilangan satu kardus mie instan dan juga tertinggalnya dua teman di pasar Tumpang telah menunjukkan betapa cerobohnya kami sehingga saat itu juga semua anggota rombongan, tanpa terkecuali, bertekad untuk lebih berhati-hati dan saling menjaga satu sama lain.

Pukul 10.00 pendakian akhirnya benar-benar dimulai. Langkah pertama yang diiringi dengan ucapan bismillah ini kuharapkan dapat mengantarkanku menikmati hasil karya Tuhan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Jalanan turun beraspal mengawali pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa ini, masih terdengar tawa keras dari wajah-wajah ceria kami. Tas carrier berisi tenda, logistik, dan barang kebutuhan lain masih belum terasa membebani. Semua nampak indah dengan pemandangan hijau dan suhu dingin khas pegunungan.
menjelang Pos 1
Tapi, suasana menyenangkan tersebut tidak bertahan lama. Setelah melewati tikungan pertama, kaki-kaki ini sudah harus menapaki jalan setapak yang tak beraspal. Tidak seberapa jauh kemudian, jalur pendakian berpindah ke sisi sebelah kiri dan sampailah kami pada tanjakan pertama yang menurutku cukup curam. Sebuah shock therapy pikirku.seketika tak terdengar lagi suara obrolan, apalagi canda dan tawa, berganti dengan suara-suara keluhan dan deru nafas yang semakin tidak beraturan. Rombongan mulai terpencar, beberapa sudah jauh di depan, sedangkan sebagian besar masih tertinggal di belakang.

Setelah tanjakan pertama, jalur pendakian selanjutnya bisa dibilang landai dengan beberapa tanjakan dan turunan yang tidak terlalu curam. Jarak antar anggota rombongan juga sudah semakin mendekat. Pendakian sejauh ini bisa dibilang  lancar. Kami semua sudah mulai akrab dengan jalan setapak yang berhias dinding tebing dan jurang di kanan kirinya. Juga dengan batang-batang pohon robohnyang membuat langkah kaki sedikit terhambat.

Pukul 11.15 rombongan tiba di Pos 1 sebelum Ranu Kumbolo. Huft, akhirnya ada kesempatan juga untuk memperbaiki nafas. Segera tas carrier berisi logistik kuturunkan dari punggungku. Di pos 1 kami bertemu dengan rombongan dari Kalpataru (Teknik Elektro ITS) dan juga bocah kecil (kira-kira usianya sekitar 5 tahun) yang mendaki bersama keluarganya. Melihat anak seusia itu, membuat kami semua termotifasi, apalagi sudah bukan rahasia lagi kalau anak-anak HMI tidak pernah mau kalah.

Jarak antara Pos 1 dan Pos 2 bisa dibilang dekat dengan medan yang tidak terlalu berat. Berbeda dengan jalur antara Pos 2 ke Pos 3 yang cukup berat sehingga memaksaku untuk berhenti berkali-kali. Sesekali kami berpapasan dengan bule yang sedang mengikuti lomba marathon menuruni gunung dari kawasan Kalimati.

Akhirnya tepat pada pukul 12.54 aku dan beberapa kawan yang lain tiba di Pos 3. Rombongan terbagi menjadi tiga gap, aku termasuk pada gap kedua karena masih ada yang tertinggal di belakang. Di Pos ini aku beristirahat agak lama disebabkan tubuhku yang sangat lelah. Namun, mengingat persediaan air yang sudah menipis dan juga waktu sudah semakin sore, kuputuskan untuk bangkit dan mengejar kelompok pertama yang sudah berada di depan. Aku harus segera sampai ke Ranu Kumbolo, pikirku.

Medan yang harus dilalui setelah Pos 3 sangatlah berat dengan sudut kemiringan tanjakan lebih dari 450. Dengan jalur menanjak securam itu, aku terpaksa harus berhenti setiap lima langkah untuk mengatur nafas yang sudah semakin ngos-ngosan dengan sesekali istirahat agak lama jika menemukan batu besar ataupun batang pohon tumbang yang bisa diunakan untuk duduk. Dan ketika tenagaku sudah benar-benar akan habis, juga motivasi sudah mulai surut, entah kebetulan atau tidak tiba-tiba pandanganku menuju tepat ke arah sebuah danau besar yang sangat indah. Seketika aku berteriak “Itu Ranu Kumbolo!”.

Subhanallah, betapa indahnya danau tersebut. dikelilingi oleh padang rumput dan bukit-bukit yang berbaris rapi. Saat itu aku juga sempat mendengar teriakan tasbih dari kawan-kawan yang lain. Wajar memang jika mereka semua terkagum, danau ini memang sangat indah. Tak salah jika orang-orang menamakannya Ranu Kumbolo, yang berarti danau di atas awan.
Danau di atas awan
Sekitar pukul 14.00 akhirnya aku sampai juga ke Ranu Kumbolo. Suhu dingin menggigil mulai terasa bersamaan dengan datangnya kabut dari arah selatan. Sambil istirahat kami menunggu kawan-kawan lain yang masih tertinggal di belakang. Ada kabar kalau Faris mengalami cedera kaki sehingga harus dipapah. Baru pukul 16.00 semua anggota rombongan tiba. Setelah istirahat sebentar, kami semua mulai mencari tempat untuk mendirikan enam tenda yang sebagian disewa dari sebuah tempat persewaan di Malang.
Bersantai sejenak di tepi danau
Pemukiman kecil di Ranu Kumbolo
Saat itu kondisi fisikku sudah sangat drop, kepalaku pusing dan tubuh menggigil kedinginan. Jadilah malam itu kuhabiskan dengan tidur mendekap di dalam tenda, meninggalkan hiruk pikuk pejuang-pejuang lain yang sedang sibuk memasak dan membenahi tenda di luar. Hanya sekali aku keluar untuk sekedar mengisi perut yang kosong dengan beberapa suap mie instan. Memang benar kata orang, makanan macam apapun akan selalu terasa enak jika dimakan di gunung.
Semua makanan akan terasa enak saat di gunung
Hari itu adalah hari pertama aku mendaki gunung, dan malam itu juga untuk pertama kalinya aku tidur di tepi sebuah danau bekas kawah vulkanik. Entah apa saja yang terjadi setelah itu aku tidak tahu, kabut Ranu Kumbolo seolah-olah membius dan melelapkanku dalam pelukannya yang damai.
(Bersambung ke seri 3)

Note : Baca cerita sebelumnya di seri 1

Kamis, 14 Juni 2012

Pesona Menuju Ranu Pani (Go to Semeru Seri 1)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
(Sapardi Djoko Darmono)
Waktu subuh masih tersisa ketika dua buah angkot yang mengangkut rombongan kami tiba di kawasan Pasar Tumpang. Setelah menurunkan barang-barang perbekalan dari atap angkot, beberapa dari kami segera bergegas menuju  Masjid yang terletak di seberang jalan. Masjid ini bisa dibilang cukup megah untuk ukuran daerah yang jauh dari pusat kota.

Sebelum sholat, aku sempat dibuat bingung dengan desain kamar mandi dan tempat wudhu yang berliku-liku mirip labirin. Dan yang lebih membuatku bingung, atau lebih tepatnya terkejut, adalah sebuah papan dari semen yang bertuliskan “Menumpang kencing, berak, dan mandi teteapi tidak sholat, hukumnya adalah HARAM”. Entah apa yang dipikirkan ta’mir masjid ketika membuat tulisan itu. Tapi yasudah lah, memang setiap orang punya pandangan sendiri-sendiri tentang peran dan fungsi masjid.

Sembari menunggu truk sewaan yang akan mengantarkan kami ke Ranu Pani, beberapa anak pergi ke Alfamart untuk membeli makanan ringan, minuman botol, dan juga tissue basah. Sedangkan sebagian yang lain memutuskan untuk menambah perbekalan dengan berbelanja di toko kelontong yang terletak tidak jauh dari rumah pemilik truk. Bekal yang ditambahkan waktu itu adalah bahan makanan seperti mie instan, beras, dan sosis siap makan.

Sinar matahari sudah mulai menghangat ketika supir truk menginstruksikan kami semua agar segera berangkat. Lalu, bergegas 28 anggota rombongan menaikkan barang bawaan yang terdiri dari tas carrier, tenda, dan bahan-bahan logistik secara estafet ke dalam bak truk. Tak beberapa lama kami semua sudah berada di atas truck, bersama seorang lagi di luar anggota rombongan yang menumpang ke Ranu Pani.
Sumpah, kami bukan romusha!
Perjalanan dari Pasar Tumpang ke Ranu Pani adalah fase yang paling banyak memakan biaya dalam misi pendakian Gunung Semeru. Bayangkan saja, untuk menyewa truk yang bisa muat samai 30 orang ini dibutuhkan biaya 800 ribu sekali jalan. Sedangkan untuk mobil hardtop dengan kapasitas 15 orang, harga sewanya mencapai 450 ribu untuk sekali jalan.

Pukul 06:30 perjalanan menuju Ranu Pani dimulai. Nampak wajah-wajah sumringah dari anggota rombongan yang rata-rata belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Selain itu, bagi kami yang sudah lama hidup di Surabaya, merasakan hawa dingin nan sejuk khas pegunungan adalah sebuah kenikmatan yang sungguh tak terkira. Namun di tengah-tengah suasana yang penuh canda tawa ini, terjadi sebuah insiden yang menurutku sangat fatal. Dua teman kami, Indi dan Adiguna (Keduanya anak Mesin 2008) ternyata tidak ada di dalam truk bersama kami, mereka tertinggal di Pasar Tumpang. Terpaksa truk kembali untuk menjemput mereka, untung saja waktu itu jarak yang telah ditempuh belum terlalu jauh. Ketika truk telah sampai lagi ke pasar tumpang, aku bertemu dua kawan SMA yang juga sama-sama ingin mendaki. Keduanya adalah mahasiswa UB (Malang) dan Unnes (Semarang). Sayang sekali truck yang kutumpangi sudah tidak muat lagi untuk mengikutkan mereka.
Disini baru sadar ada kawan yang tertinggal
Sepanjang perjalanan kami semua dibuat terperangah dengan pemandangan yang terhampar di kanan kiri jalan. Aku membayangkan betapa indahnya kehidupan seorang pendaki. Bagaimana tidak, bahkan sebelum memulai pendakian saja sudah tersedia suguhan berupa lukisan-lukisan alam yang sebelumnya hanya pernah kulihat di atas kanvas ataupun dari hasil penelusuran mesin pencari google.com. Terasiring tertata rapi di sela-sela bukit dan jurang, tebing-tebing yang lebat oleh hutan belantara, serta lautan awan yang ajaibnya terletak di bawah kakiku. Semua nampak indah dan melenakan, tak pernah sebelumnya aku melihat keindahan seperti itu. Bahkan sempat muncul perasaan terkejut kala itu, ternyata di bumi Indonesia ini terdapat tempat seindah ‘lautan pasir’ dan ‘bukit teletubbies’.
Bukit teletubbies dan lautan awan
Selain keindahan pemandangan, sulitnya medan yang harus dilalui membuat perjalanan menuju Ranu Pani menjadi perjalanan yang akan sulit untuk dilupakan. Selalu berdesir jantung ini ketika truk harus melalui jalan yang menyempit sekaligus menanjak, apalagi kalau dari arah berlawanan muncul truk atau kendaraan lain yang juga ingin melintas. Saat itu aku langsung tersadar bahwa 800 ribu adalah harga yang sangat pantas untuk medan seberat ini.

Sekitar pukul 8.30 kami sampai di Ranu Pani yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa sekaligus start awal pendakian ke Gunung Semeru. Disini rombongan terbagi, ada yang mengurus surat ijin pendakian, ada yang sarapan, dan ada juga yang menunaikan ‘hajat’ yang lain sebelum benar-benar terjun ke alam bebas. Namun, sekali lagi kesalahan fatal terulang. Satu kardus mie instan yang dibeli dari Surabaya hilang entah kemana. Ada yang bilang tertinggal di dalam truk, ada juga yang mengatakan kalau dari awal kardus mie tersebut memang tidak ikut dinaikkan ke dalam truk.

Dua kecerobohan fatal, tertinggalnya teman dan hilangnya perbekalan, seakan-akan telah menampar kami semua agar lebih meningkatkan kekompakan sesama anggota rombongan. Karena tidak bisa dipungkiri, dan hampir semua setuju, bahwa kekompakan modal paling utama untuk bisa menaklukkan alam bebas yang selain indah, juga terkenal sangat ganas. Untuk itulah, Fariz yang bertindak sebagai ketua rombongan menekankan kepada seluruh anggota rombongan untuk segera merubah mindset bahwa target pendakian kali ini bukanlah untuk mencapai puncak Mahameru. Namun, target sebenarnya dari pendakian ini adalah berhasil membawa 28 orang anggota kembali ke Surabaya dengan lengkap dan selamat.
(Bersambung ke seri 2)

Rabu, 13 Juni 2012

Hidup Adalah pilihan


Banyak yang berkata bahwa hidup adalah pilihan. Namun lebih banyak lagi kutemui orang-orang yang sampai tua umurnya tidak berani mengambil sebuah pilihan besar dalam hidupnya. Banyak orang yang semenjak muda sampai keriput kulitnya tetap saja menjadi petani yang secara ekonomi hidup pas-pasan dengan sawah yang tak pernah bertambah luas. Ada juga yang masih terhitung keluarga dekatku sendiri, yang semenjak aku kecil sampai sekarang masih saja menjadi tukang ojek yang gemar mabuk dan tidur  di jalanan.

Beberapa contoh tersebut membuatku tersadar, apalagi setelah kemarin mendapat petuah dari Ir. Hanafi (Teknik Kimia ITS angkatan pertama), bahwa hidup yang hanya mengikuti arus adalah hidup yang berbahaya. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa arus yang kita ikuti akan membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin hal itu.

Untuk menjadikan hidup bermakna, setiap orang harus berani mengambil pilihan. Sesulit apapun itu. Sebagai contoh, dulu ibuku berani memilih untuk terus melanjutkan sekolah di tengah kemiskinan keluarga kakekku, walaupun konsekuensinya beliau harus menanakkan nasi untuk para pekerja di sebuah pabrik gula rumahan setiap jam tiga pagi. Hal tersebut harus dilakukan untuk mendapatkan biaya SPP dan uang saku untuk transport ke sekolah. Saat itu, di usia yang masih sangat belia ibuku sudah berani memilih. Beliau tidak mau hidupnya hanya berakhir sebagai petani kecil yang pas-pasan, seperti yang kini dijalani oleh teman-teman sepermainannya dulu.

Selain contoh di atas, contoh lain yang cakupannya jauh lebih luas dapat kita lihat dari founding father kita, Ir. Sukarno. Sebagai seorang engineer di jaman Hindia-Belanda, tentunya Sukarno bisa ikut arus dengan hidup mewah dan mendapat gaji besar dari pemerintah waktu itu. Namun, rasa nasionalisme yang memuncak dan jiwa agitator yang bergelora telah memaksanya untuk membuat sebuah pilihan besar, bahwa negeri yang kaya raya ini tidak boleh lagi dihisap oleh lintah-lintah raksasa bernama Belanda. “Negeri ini harus merdeka!” Katanya. Walaupun pilihan tersebut harus dibayarnya dengan keluar-masuk penjara dan berpindah-pindah dari tempat pembuangan satu ke tempat pembuangan lainnya.

Untuk itulah, sudah saatnya kita mulai berani mengambil pilihan dalam hidup. Sesulit apapun itu, dan seberat apapun konsekuensinya. Karena tentunya kita semua tidak ingin menghabiskan hidup kita hanya sebagai saksi atas terbit dan terbenamnya matahari, tanpa makna lebih.

Berani memilih, berani melawan arus, dan selalu siap menghadapi konsekuensinya. Bismillah yakin, usaha, sampai!!

My Best old Friend


Dulu, ketika menjalani kehidupan sebagai anak SMP, aku tak pernah menyangka bahwa hal-hal yang kulakukan waktu itu, teman-teman yang kukenal, dan semua hal bodoh yang pernah terjadi akan menjadi sebuah kenangan yang sangat membekas sampai saat ini. Tak pernah kusangka bahwa pertemananku dengan berandal-berandal kecil ketika itu merupakan salah satu hal mengesankan yang tidak ingin kulupakan. Masih jelas sekali gambaran di kepalaku ketika pertama kali kebut-kebutan, berkacak pinggang di sekolah, sampai bermusuhan dengan teman sendiri karena berebut pacar. Semua hal tersebut mungkin dulunya terasa menegangkan, bahkan tidak sedikit yang menyebalkan, namun berubah menjadi pemicu tawa ketika saat ini kuingat-ingat.

Dari semua teman-temanku saat itu, ada seorang sahabat dekat yang sama-sama satu kelas denganku sewaktu kelas satu dan kelas tiga. Pertemanan ini sebenarnya berawal dari sebuah perkelahian yang terjadi sewaktu awal kelas satu, namun entah kenapa justru dari perkelahian itulah keakraban diantara kami mulai terjalin. Namun, terhitung sejak lepas dari masa SMA, aku kehilangan jejaknya sama sekali. Terakhir aku hanya mendengar kabar kalau dia telah bekerja di Kalimantan.

Namun beberapa waktu yang lalu, secara tak sengaja aku bertemu teman karibku tersebut di pintu masuk area parkir Tunjungan Plaza.  Aku lihat dia sedang mengenakan seragam satpam dan sedang bersiap-siap untuk pulang, mungkin baru selesei bertugas. Kusebut pertemuan itu sebagai keberuntungan yang luar biasa, karena selain aku sangat jarang pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, waktu itu aku juga hampir saja tidak jadi pergi kesana.

Jadilah saat itu tergelar sebuah reuni dadakan yang mengharukan, antara seorang mahasiswa yang masih bingung mencari jalan untuk menemukan jati dirinya dengan seorang satpam pusat perbelanjaan yang telah mulai berjuang untuk memperbaiki nasibnya. Sesaat ada perasaan haru dan kasihan melihat pekerjaannya, namun memang jalan rejeki sudah diatur dengan sempurna oleh Dzat yang Maha Sempurna. Sebagai hamba kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa.

Selamat berjuang kawanku, kita telah memilih jalan kita masing-masing. Insya Allah esok Dia akan mempertemukan kita lagi, dalam keadaan yang jauh lebih baik. Seperti jargon yang pernah diucapkan oleh sang raja revolusi, Tan Malaka, “Berpisah kita berjuang, bersama kita memukul!”