Kemarin, aku sempat membaca
status facebook dari salah satu seniorku di ITS. Aku masih ingat
kira-kira seperti ini isinya “Aku adalah perempuan aktif, bukan seorang aktivis
perempuan”. Dan di kolom komentar dia menambahkan lagi bahwa yang dimaksud
dengan aktivis perempuan adalah mereka yang berteriak-teriak menuntut persamaan
hak dengan laki-laki. Argumen yang digunakannya adalah “la wong sudah enak jadi perempuan, kok pengen sama kayak laki-laki”.
Sekilas argumen tersebut memang
tampak benar. Bukankah sudah enak jadi perempuan? Bagaimana tidak, dalam budaya
kita saat ini, perempuan tidak wajib bekerja, tapi kalau misalnya kepengen bekerja dan menekuni karir
sampai mendapat jabatan yang tinggi, ya silahkan saja. Selain itu, karena tidak
harus mencukupi kebutuhan keluarga, perempuan juga tidak terbebani harus
sekolah tinggi dan mendapat ijasah sarjana, tapi kalau misalnya dia ingin
menuntut ilmu sampai jenjang S2, S3, dan bahkan seterusnya, ya monggo-monggo saja, ga ada yang boleh ngelarang.
Sudah enak begitu, kok masih ribut nuntut persamaan. Masalah repot mengandung,
melahirkan, dan menyusui anak itu kan hal wajar, dinikmatin aja. Mungkin
seperti itulah jalan pikir seniorku tersebut dan juga perempuan-perempuan lain
yang sama-sama mengecam aktivis perempuan.
Terserah apa yang dikatakannya,
tapi menurutku orang-orang seperti itu adalah tipe orang yang hanya memikirkan
keadaan dirinya sendiri, self sentris.
Memang tidak salah kalau mereka mengatakan “Enak jadi perempuan”. Tapi itu kan
di sini, saat ini, yang mana perempuan-perempuan seperti mereka bisa bebas
kuliah di kampus jurusan manapun (termasuk teknik), berorganisasi, pulang
malam, serta beraktifitas untuk mengembangkan dirinya dengan memanfaatkan
fasilitas yang ada.
Tapi, apakah mereka pernah
membayangkan seandainya mereka hidup di jaman pra-Kartini? Yang mana perempuan
tidak boleh sekolah dan sudah harus kawin di usia 12 tahun dengan laki-laki
yang sama sekali belum pernah dia kenal sebelumnya. Apakah dia pernah
membayangkan seandainya dia terlahir di Afghanistan pas jaman penguasaan Taliban? Dimana saat itu seluruh perempuan,
baik itu guru, karyawan, dokter, atau apapun, tidak diperkenankan untuk berada
di luar rumah. Bahkan, bagi perempuan korban pemerkosaan pun, tidak diberi
kesempatan untuk membela diri dari tuntutan hukum rajam. Dan apakah dia pernah
membayangkan seandainya dia terlahir sebagai perempuan miskin yang tidak punya
kesempatan bersekolah? Yang akhirnya mudah ditipu dan dijadikan budak sex di
Batam, Macau, dan tempat-tempat prostitusi kelas dunia lainnya.
Semoga saja mereka semua tahu,
menjadi aktivis perempuan bukan hanya soal menuntut persamaan dengan laki-laki
saja. Namun, menjadi seorang aktivis perempuan adalah panggilan hati untuk
memerangi penindasan dan ketidakadilan yang menimpa kaumnya. Syukurlah kalau
memang hidup kalian sudah enak dan bahagia, semoga hal tersebut bisa
berlangsung lama. Tapi, sekali lagi ingat! Di luar sana masih banyak perempuan yang
tertindas, yang tidak memiliki kebebasan untuk berkembang, bahkan tidak sedikit
yang hanya memiliki dua pilihan yang sama-sama sulit dalam hidupnya, mati….
Atau menjadi Pelacur!!


