Dulu, ketika menjalani kehidupan
sebagai anak SMP, aku tak pernah menyangka bahwa hal-hal yang kulakukan waktu
itu, teman-teman yang kukenal, dan semua hal bodoh yang pernah terjadi akan
menjadi sebuah kenangan yang sangat membekas sampai saat ini. Tak pernah
kusangka bahwa pertemananku dengan berandal-berandal kecil ketika itu merupakan
salah satu hal mengesankan yang tidak ingin kulupakan. Masih jelas sekali
gambaran di kepalaku ketika pertama kali kebut-kebutan, berkacak pinggang di
sekolah, sampai bermusuhan dengan teman sendiri karena berebut pacar. Semua hal
tersebut mungkin dulunya terasa menegangkan, bahkan tidak sedikit yang
menyebalkan, namun berubah menjadi pemicu tawa ketika saat ini kuingat-ingat.
Dari semua teman-temanku saat
itu, ada seorang sahabat dekat yang sama-sama satu kelas denganku sewaktu kelas
satu dan kelas tiga. Pertemanan ini sebenarnya berawal dari sebuah perkelahian
yang terjadi sewaktu awal kelas satu, namun entah kenapa justru dari
perkelahian itulah keakraban diantara kami mulai terjalin. Namun, terhitung
sejak lepas dari masa SMA, aku kehilangan jejaknya sama sekali. Terakhir aku
hanya mendengar kabar kalau dia telah bekerja di Kalimantan.
Namun beberapa waktu yang lalu,
secara tak sengaja aku bertemu teman karibku tersebut di pintu masuk area
parkir Tunjungan Plaza. Aku lihat dia
sedang mengenakan seragam satpam dan sedang bersiap-siap untuk pulang, mungkin
baru selesei bertugas. Kusebut pertemuan itu sebagai keberuntungan yang luar
biasa, karena selain aku sangat jarang pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, waktu
itu aku juga hampir saja tidak jadi pergi kesana.
Jadilah saat itu tergelar sebuah
reuni dadakan yang mengharukan, antara seorang mahasiswa yang masih bingung
mencari jalan untuk menemukan jati dirinya dengan seorang satpam pusat
perbelanjaan yang telah mulai berjuang untuk memperbaiki nasibnya. Sesaat ada
perasaan haru dan kasihan melihat pekerjaannya, namun memang jalan rejeki sudah
diatur dengan sempurna oleh Dzat yang Maha Sempurna. Sebagai hamba kita hanya
bisa berikhtiar dan berdoa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar