Rabu, 13 Juni 2012

My Best old Friend


Dulu, ketika menjalani kehidupan sebagai anak SMP, aku tak pernah menyangka bahwa hal-hal yang kulakukan waktu itu, teman-teman yang kukenal, dan semua hal bodoh yang pernah terjadi akan menjadi sebuah kenangan yang sangat membekas sampai saat ini. Tak pernah kusangka bahwa pertemananku dengan berandal-berandal kecil ketika itu merupakan salah satu hal mengesankan yang tidak ingin kulupakan. Masih jelas sekali gambaran di kepalaku ketika pertama kali kebut-kebutan, berkacak pinggang di sekolah, sampai bermusuhan dengan teman sendiri karena berebut pacar. Semua hal tersebut mungkin dulunya terasa menegangkan, bahkan tidak sedikit yang menyebalkan, namun berubah menjadi pemicu tawa ketika saat ini kuingat-ingat.

Dari semua teman-temanku saat itu, ada seorang sahabat dekat yang sama-sama satu kelas denganku sewaktu kelas satu dan kelas tiga. Pertemanan ini sebenarnya berawal dari sebuah perkelahian yang terjadi sewaktu awal kelas satu, namun entah kenapa justru dari perkelahian itulah keakraban diantara kami mulai terjalin. Namun, terhitung sejak lepas dari masa SMA, aku kehilangan jejaknya sama sekali. Terakhir aku hanya mendengar kabar kalau dia telah bekerja di Kalimantan.

Namun beberapa waktu yang lalu, secara tak sengaja aku bertemu teman karibku tersebut di pintu masuk area parkir Tunjungan Plaza.  Aku lihat dia sedang mengenakan seragam satpam dan sedang bersiap-siap untuk pulang, mungkin baru selesei bertugas. Kusebut pertemuan itu sebagai keberuntungan yang luar biasa, karena selain aku sangat jarang pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, waktu itu aku juga hampir saja tidak jadi pergi kesana.

Jadilah saat itu tergelar sebuah reuni dadakan yang mengharukan, antara seorang mahasiswa yang masih bingung mencari jalan untuk menemukan jati dirinya dengan seorang satpam pusat perbelanjaan yang telah mulai berjuang untuk memperbaiki nasibnya. Sesaat ada perasaan haru dan kasihan melihat pekerjaannya, namun memang jalan rejeki sudah diatur dengan sempurna oleh Dzat yang Maha Sempurna. Sebagai hamba kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa.

Selamat berjuang kawanku, kita telah memilih jalan kita masing-masing. Insya Allah esok Dia akan mempertemukan kita lagi, dalam keadaan yang jauh lebih baik. Seperti jargon yang pernah diucapkan oleh sang raja revolusi, Tan Malaka, “Berpisah kita berjuang, bersama kita memukul!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar