Selasa, 19 Juni 2012

Perjalanan ke Kalimati, Go to Semeru Seri 3

Pepohonan adalah puisi yang dituliskan bumi pada langit. Kita menebangnya hingga roboh dan mengubahnya menjadi kertas agar kita bisa merekam kehampaan kita.

(Kahlil Gibran)
Masih melekat kuat dalam ingatanku, sewaktu kecil dulu selalu menggambar pemandangan berupa dua buah gunung kembar di tengah-tengahnya terselip matahari yang berbentuk seperti potongan pizza. Di atasnya terdapat awan-awan yang digambar dengan agak ngawur dan beberapa burung terbang yang bentuknya seperti angka tiga menghadap ke bawah. Yap, begitulah kira-kira aku dan hampir semua teman-teman masa kecilku menggambar pemandangan. Sangat monoton dan membosankan.

Tapi pagi ini aku melihatnya lain. Gambar yang sebelumnya kuanggap monoton dan membosankan itu tiba-tiba kini menjelma menjadi pemandangan yang nyata, yang bisa kulihat dan kurasakan keberadaannya di depan mataku. Di tengah hawa dingin yang menggigit, aku melihat di depanku sebuah matahari yang masih berbentuk seperti potongan pizza mulai muncul di tengah dua buki yang hampir sama besar. Sinar matahari pagi itu nampak seperti goresan spidol kuning yang menyebar ke segala arah. Di atasnya memang tidak terdapat awan maupun burung-burung berbentuk angka tiga menghadap ke bawah, namun sama sekali tidak mengurangi keindahannya yang bagiku sangat menakjubkan. Apalagi di bawah bukit tehampar sebuah danau bening yang sangat menakjubkan, bagaikan sebuah cermin raksasa memantulkan bayangan yang tak kalah indahnya.
Wujud nyata dari gambar-gambar masa kecil

Keceriaan di Ranu Kumbolo

Berat hati meninggalkan keindahannya
Inilah Ranu Kumbolo, sebuah pemandangan hasil karya Sang Maha Abadi yang tidak dilukis di atas kanvas ataupun buku gambar, melainkan benar-benar terwujud di alam nyata tempat kita tinggal, yang mampu mereprentasikan kebesaran dan keagunganNya. Betapa bodohnya jika kita sebagai manusia tetap sombong, bahkan baru di hadapan lukisanNya saja kita sudah terlihat sangat kecil dan tak berarti.

Puas menikmati pemandangan eksotis Ranu Kumbolo, aku segera bergegas membantu kawan-kawan untuk memasak dan merobohkan tenda. Rencananya siang itu kita harus sudah sampai di kalimati agar memiliki waktu yang cukup untuk istirahat sebelum melakukan pendakian pamungkas ke puncak Mahameru.

Sekitar pukul 08.00 kita semua sudah siap melanjutkan pendakian, tenda dan barang-barang lain telah selesai dikemasi, tak lupa sampah-sampah plastik sisa makanan juga telah dikumpulkan ke dalam kantong plastik besar. Dan seperti biasa, sebelum berangkat ke-28 pejuang semeru yang masih lengkap dan sehat ini membentuk lingkaran untuk berhitung dan berdoa. Kali ini dipimpin oleh Ahong. 

Medan pertama yang harus dilalui kali ini adalah tanjakan cinta. Mungkin namanya memang terdengar lembut, tapi percayalah, tanjakan yang sangat panjang dan curam ini sama sekali tak selembut namanya. Aku saja mesti berhenti berkali-kali karena nafasku sudah sangat berantakan. Entah siapa yang memberi nama tanjakan ini, siapapun orang itu aku ingin sekali mengubah namanya menjadi tanjakan penderitaan, mungkin nama itu akan serasi dengan beratnya penderitaan yang harus dirasakan untuk mendaki tanjakan ini.

Kelelahan di puncak tanjakan cinta
Sampai di puncak tanjakan cinta, aku bisa secara bebas memandang hamparan stepa yang sangat luas bernama oro-oro ombo. Dalam bahasa jawa, ‘oro-oro’ berarti tanah lapang, dan ‘ombo’ berarti luas. Sesuai dengan namanya, oro-oro ombo merupakan tanah lapang luas yang hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput ilalang serta bunga lavender setinggi dada orang dewasa, benar-benar mirip dengan apa yang selama ini sering kutonton di liputan-liputan discovery channel tentang habitat satwa di Afrika. Untuk mencapai kesana kita bisa menuruni sebuah turunan curam atau berjalan memutar melalui jalur yang landai.
jalan memutar menuju Oro-oro ombo

Jalan panjang
Hamparan bunga-bunga lavender
Setelah melewati oro-oro ombo, kami istirahat di “pintu gerbang” sebelum masuk ke hutan yang dinamakan cemoro kandang. Pohon-pohon di hutan ini terlihat hampir sama semua dalam hal bentuk dan ukurannya sehingga sering membuat pendaki tersesat. Di tempat inilah, tokoh Arial dalam novel ‘5cm’ pernah tersesat selama seharian penuh. Namun track pendakian yang jelas, serta adanya bendera-bendera yang menandai track pendakian kali ini sangat memudahkan kami. Perjalanan kami kali ini bisa dibilang santai dengan sesekali berhenti sambil ngemil gula merah dan makanan kecil lainnya. Walaupun begitu, ada beberapa track yang perlu kehatian-hatian ekstra ketika melewatinya.
'Pintu gerbang' cemoro kandang
Harus ekstra hati-hati
Kira-kira jam satu siang kami tiba di sebuah tempat yang dinamakan Kalimati. Di tempat inilah terdapat sebuah papan berisi peringatan bahwa pendakian hanya diizinkan sampai tempat ini saja, untuk selanjutnya bukan merupakan tanggung jawab pengelola. Agak ngeri juga aku membacanya, tapi  kupikir tanggung sekali kalau hanya mendaki sampai disini saja. Aku yakin kawan-kawan yang lain akan berpikiran sama denganku. 

Tidak seperti di Ranu Kumbolo, di pos kalimati sama sekali tidak terdapat air. Untuk mengambil air kita harus berjalan kira-kira setengah jam ke sumber mata air yang bernama Sumbermani. Menurut cerita dari kawan-kawan yang mendapat tugas mengambil air, medan yang harus dilalui untuk sampai ke Sumbermani sangatlah curam dan licin sehingga disarankan untuk tidak kesana di atas jam lima sore karena sangat berbahaya dan beresiko tinggi.
Suasana di Sumbermani
Setelah selesai mendirikan tenda, kuhabiskan siang itu paling banyak untuk membungkus diri di dalam tenda dengan sleeping bag. Di luar tenda kawan-kawan menyalakan api unggun, mereka membakar kayu-kayu kering yang didapat dari hutan. Terasa sangat hangat dan bersahabat. Memang benar apa yang selama dikatakan orang bahwa di gunung kita bisa merasakan hal-hal yang tidak akan kita rasakan di tempat terbiasa, terkadang sangat sentimentil, tak jarang juga muncul aroma-aroma mistis. Aku jadi ingat salah satu syair dari Walt Whitman yang pernah dikutip oleh Soe Hok Gie,
“Now I see the secret of making of the best person
It is grow in the open air 
And to eat and sleep with earth” 
Bersama sahabat mencari kehangatan
Selanjutnya waktu yang tersisa kita gunakan untuk bersiap-siap menaklukkan puncak Mahameru. Sungguh hari yang sangat bersejarah bagiku yang untuk pertama kalinya akan merasakan secara lagsung bekunya Arcapada, mistiknya kawasan Cemara Tunggal, juga terjalnya jalur berpasir menuju Mahameru. Semoga yang kami lakukan ini bukanlah hal sia-sia yang hanya menghabiskan waktu, melainkan bisa menjadi sebuah momentum perubahan bagi kami semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
(Bersambung ke seri 4)

Note : Baca cerita sebelumnya di seri 1 dan seri 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar