Pepohonan adalah puisi yang dituliskan bumi pada langit. Kita menebangnya hingga roboh dan mengubahnya menjadi kertas agar kita bisa merekam kehampaan kita.
(Kahlil Gibran)
Masih melekat kuat dalam
ingatanku, sewaktu kecil dulu selalu menggambar pemandangan berupa dua buah
gunung kembar di tengah-tengahnya terselip matahari yang berbentuk
seperti potongan pizza. Di atasnya terdapat awan-awan yang digambar dengan agak
ngawur dan beberapa burung terbang yang bentuknya seperti angka tiga menghadap
ke bawah. Yap, begitulah kira-kira aku dan hampir semua teman-teman masa
kecilku menggambar pemandangan. Sangat monoton dan membosankan.
Tapi pagi ini aku melihatnya
lain. Gambar yang sebelumnya kuanggap monoton dan membosankan itu tiba-tiba
kini menjelma menjadi pemandangan yang nyata, yang bisa kulihat dan kurasakan
keberadaannya di depan mataku. Di tengah hawa dingin yang menggigit, aku
melihat di depanku sebuah matahari yang masih berbentuk seperti potongan pizza
mulai muncul di tengah dua buki yang hampir sama besar. Sinar matahari pagi itu
nampak seperti goresan spidol kuning yang menyebar ke segala arah. Di atasnya
memang tidak terdapat awan maupun burung-burung berbentuk angka tiga menghadap
ke bawah, namun sama sekali tidak mengurangi keindahannya yang bagiku sangat menakjubkan.
Apalagi di bawah bukit tehampar sebuah danau bening yang sangat menakjubkan,
bagaikan sebuah cermin raksasa memantulkan bayangan yang tak kalah indahnya.
![]() |
| Wujud nyata dari gambar-gambar masa kecil |
| Keceriaan di Ranu Kumbolo |
| Berat hati meninggalkan keindahannya |
Inilah Ranu Kumbolo, sebuah
pemandangan hasil karya Sang Maha Abadi yang tidak dilukis di atas kanvas
ataupun buku gambar, melainkan benar-benar terwujud di alam nyata tempat kita
tinggal, yang mampu mereprentasikan kebesaran dan keagunganNya. Betapa bodohnya
jika kita sebagai manusia tetap sombong, bahkan baru di hadapan lukisanNya saja
kita sudah terlihat sangat kecil dan tak berarti.
Puas menikmati pemandangan
eksotis Ranu Kumbolo, aku segera bergegas membantu kawan-kawan untuk memasak
dan merobohkan tenda. Rencananya siang itu kita harus sudah sampai di kalimati
agar memiliki waktu yang cukup untuk istirahat sebelum melakukan pendakian
pamungkas ke puncak Mahameru.
Sekitar pukul 08.00 kita semua
sudah siap melanjutkan pendakian, tenda dan barang-barang lain telah selesai
dikemasi, tak lupa sampah-sampah plastik sisa makanan juga telah dikumpulkan ke
dalam kantong plastik besar. Dan seperti biasa, sebelum berangkat ke-28 pejuang
semeru yang masih lengkap dan sehat ini membentuk lingkaran untuk berhitung dan
berdoa. Kali ini dipimpin oleh Ahong.
Medan pertama yang harus dilalui kali
ini adalah tanjakan cinta. Mungkin namanya memang terdengar lembut, tapi
percayalah, tanjakan yang sangat panjang dan curam ini sama sekali tak selembut namanya. Aku saja mesti berhenti berkali-kali karena nafasku sudah sangat
berantakan. Entah siapa yang memberi nama tanjakan ini, siapapun orang itu aku
ingin sekali mengubah namanya menjadi tanjakan penderitaan, mungkin nama itu
akan serasi dengan beratnya penderitaan yang harus dirasakan untuk mendaki
tanjakan ini.
| Kelelahan di puncak tanjakan cinta |
Sampai di puncak tanjakan cinta,
aku bisa secara bebas memandang hamparan stepa yang sangat luas bernama oro-oro
ombo. Dalam bahasa jawa, ‘oro-oro’ berarti tanah lapang, dan ‘ombo’ berarti luas. Sesuai
dengan namanya, oro-oro ombo merupakan tanah lapang luas yang hanya ditumbuhi
oleh rumput-rumput ilalang serta bunga lavender setinggi dada orang dewasa,
benar-benar mirip dengan apa yang selama ini sering kutonton di liputan-liputan discovery channel tentang habitat satwa di
Afrika. Untuk mencapai kesana kita bisa menuruni sebuah turunan curam atau
berjalan memutar melalui jalur yang landai.
| jalan memutar menuju Oro-oro ombo |
| Jalan panjang |
![]() |
| Hamparan bunga-bunga lavender |
Setelah melewati oro-oro ombo,
kami istirahat di “pintu gerbang” sebelum masuk ke hutan yang dinamakan cemoro
kandang. Pohon-pohon di hutan ini terlihat hampir sama semua dalam hal
bentuk dan ukurannya sehingga sering membuat pendaki tersesat. Di tempat
inilah, tokoh Arial dalam novel ‘5cm’ pernah tersesat selama seharian penuh. Namun
track pendakian yang jelas, serta adanya bendera-bendera yang menandai track
pendakian kali ini sangat memudahkan kami. Perjalanan kami kali ini bisa
dibilang santai dengan sesekali berhenti sambil ngemil gula merah dan makanan
kecil lainnya. Walaupun begitu, ada beberapa track yang perlu kehatian-hatian
ekstra ketika melewatinya.
| 'Pintu gerbang' cemoro kandang |
![]() |
| Harus ekstra hati-hati |
Kira-kira jam satu siang kami
tiba di sebuah tempat yang dinamakan Kalimati. Di tempat inilah terdapat sebuah
papan berisi peringatan bahwa pendakian hanya diizinkan sampai tempat ini saja,
untuk selanjutnya bukan merupakan tanggung jawab pengelola. Agak ngeri juga aku
membacanya, tapi kupikir tanggung sekali
kalau hanya mendaki sampai disini saja. Aku yakin kawan-kawan yang lain akan
berpikiran sama denganku.
Tidak seperti di Ranu Kumbolo, di
pos kalimati sama sekali tidak terdapat air. Untuk mengambil air kita harus
berjalan kira-kira setengah jam ke sumber mata air yang bernama Sumbermani. Menurut
cerita dari kawan-kawan yang mendapat tugas mengambil air, medan yang harus dilalui
untuk sampai ke Sumbermani sangatlah curam dan licin sehingga disarankan untuk tidak
kesana di atas jam lima sore karena sangat berbahaya dan beresiko tinggi.
| Suasana di Sumbermani |
Setelah selesai mendirikan tenda,
kuhabiskan siang itu paling banyak untuk membungkus diri di dalam tenda dengan sleeping bag. Di luar tenda kawan-kawan menyalakan
api unggun, mereka membakar kayu-kayu kering yang didapat dari hutan. Terasa sangat
hangat dan bersahabat. Memang benar apa yang selama dikatakan orang bahwa di
gunung kita bisa merasakan hal-hal yang tidak akan kita rasakan di tempat
terbiasa, terkadang sangat sentimentil, tak jarang juga muncul aroma-aroma
mistis. Aku jadi ingat salah satu syair dari Walt Whitman yang pernah dikutip
oleh Soe Hok Gie,
“Now I see the secret of making of the best person
It is grow in the open air
And to eat and sleep with earth”
And to eat and sleep with earth”
| Bersama sahabat mencari kehangatan |
Selanjutnya waktu yang tersisa
kita gunakan untuk bersiap-siap menaklukkan puncak Mahameru. Sungguh hari yang
sangat bersejarah bagiku yang untuk pertama kalinya akan merasakan secara
lagsung bekunya Arcapada, mistiknya kawasan Cemara Tunggal, juga terjalnya
jalur berpasir menuju Mahameru. Semoga yang kami lakukan ini bukanlah hal
sia-sia yang hanya menghabiskan waktu, melainkan bisa menjadi sebuah momentum
perubahan bagi kami semua untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
(Bersambung ke seri 4)
Note : Baca cerita sebelumnya di seri 1 dan seri 2)
(Bersambung ke seri 4)
Note : Baca cerita sebelumnya di seri 1 dan seri 2)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar