Waktu subuh masih tersisa ketika dua buah angkot yang mengangkut rombongan kami tiba di kawasan Pasar Tumpang. Setelah menurunkan barang-barang perbekalan dari atap angkot, beberapa dari kami segera bergegas menuju Masjid yang terletak di seberang jalan. Masjid ini bisa dibilang cukup megah untuk ukuran daerah yang jauh dari pusat kota.Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.(Sapardi Djoko Darmono)
Sebelum sholat, aku sempat dibuat
bingung dengan desain kamar mandi dan tempat wudhu yang berliku-liku mirip
labirin. Dan yang lebih membuatku bingung, atau lebih tepatnya terkejut, adalah
sebuah papan dari semen yang bertuliskan “Menumpang kencing, berak, dan mandi
teteapi tidak sholat, hukumnya adalah HARAM”. Entah apa yang dipikirkan ta’mir
masjid ketika membuat tulisan itu. Tapi yasudah lah, memang setiap orang punya pandangan
sendiri-sendiri tentang peran dan fungsi masjid.
Sembari menunggu truk sewaan
yang akan mengantarkan kami ke Ranu Pani, beberapa anak pergi ke Alfamart untuk
membeli makanan ringan, minuman botol, dan juga tissue basah. Sedangkan
sebagian yang lain memutuskan untuk menambah perbekalan dengan berbelanja di
toko kelontong yang terletak tidak jauh dari rumah pemilik truk. Bekal yang
ditambahkan waktu itu adalah bahan makanan seperti mie instan, beras, dan sosis
siap makan.
Sinar matahari sudah mulai menghangat
ketika supir truk menginstruksikan kami semua agar segera berangkat. Lalu,
bergegas 28 anggota rombongan menaikkan barang bawaan yang terdiri dari tas carrier, tenda, dan bahan-bahan logistik
secara estafet ke dalam bak truk. Tak beberapa lama kami semua sudah berada di
atas truck, bersama seorang lagi di luar anggota rombongan yang menumpang ke
Ranu Pani.
| Sumpah, kami bukan romusha! |
Perjalanan dari Pasar Tumpang ke
Ranu Pani adalah fase yang paling banyak memakan biaya dalam misi pendakian
Gunung Semeru. Bayangkan saja, untuk menyewa truk yang bisa muat samai 30
orang ini dibutuhkan biaya 800 ribu sekali jalan. Sedangkan untuk mobil hardtop
dengan kapasitas 15 orang, harga sewanya mencapai 450 ribu untuk sekali jalan.
Pukul 06:30 perjalanan menuju
Ranu Pani dimulai. Nampak wajah-wajah sumringah dari anggota rombongan yang
rata-rata belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Selain itu, bagi kami yang
sudah lama hidup di Surabaya, merasakan hawa dingin nan sejuk khas pegunungan
adalah sebuah kenikmatan yang sungguh tak terkira. Namun di tengah-tengah
suasana yang penuh canda tawa ini, terjadi sebuah insiden yang menurutku sangat
fatal. Dua teman kami, Indi dan Adiguna (Keduanya anak Mesin 2008) ternyata
tidak ada di dalam truk bersama kami, mereka tertinggal di Pasar Tumpang. Terpaksa
truk kembali untuk menjemput mereka, untung saja waktu itu jarak yang telah
ditempuh belum terlalu jauh. Ketika truk telah sampai lagi ke pasar tumpang,
aku bertemu dua kawan SMA yang juga sama-sama ingin mendaki. Keduanya adalah
mahasiswa UB (Malang) dan Unnes (Semarang). Sayang sekali truck yang kutumpangi
sudah tidak muat lagi untuk mengikutkan mereka.
| Disini baru sadar ada kawan yang tertinggal |
Sepanjang perjalanan kami semua
dibuat terperangah dengan pemandangan yang terhampar di kanan kiri jalan. Aku
membayangkan betapa indahnya kehidupan seorang pendaki. Bagaimana tidak, bahkan
sebelum memulai pendakian saja sudah tersedia suguhan berupa lukisan-lukisan
alam yang sebelumnya hanya pernah kulihat di atas kanvas ataupun dari hasil
penelusuran mesin pencari google.com. Terasiring tertata rapi di sela-sela bukit dan
jurang, tebing-tebing yang lebat oleh hutan belantara, serta lautan awan yang
ajaibnya terletak di bawah kakiku. Semua nampak indah dan melenakan, tak pernah
sebelumnya aku melihat keindahan seperti itu. Bahkan sempat muncul perasaan terkejut
kala itu, ternyata di bumi Indonesia ini terdapat tempat seindah ‘lautan pasir’
dan ‘bukit teletubbies’.
| Bukit teletubbies dan lautan awan |
Selain keindahan pemandangan,
sulitnya medan yang harus dilalui membuat perjalanan menuju Ranu Pani menjadi
perjalanan yang akan sulit untuk dilupakan. Selalu berdesir jantung ini ketika
truk harus melalui jalan yang menyempit sekaligus menanjak, apalagi kalau dari
arah berlawanan muncul truk atau kendaraan lain yang juga ingin melintas. Saat
itu aku langsung tersadar bahwa 800 ribu adalah harga yang sangat pantas untuk
medan seberat ini.
Sekitar pukul 8.30 kami sampai di
Ranu Pani yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa sekaligus start awal
pendakian ke Gunung Semeru. Disini rombongan terbagi, ada yang mengurus surat
ijin pendakian, ada yang sarapan, dan ada juga yang menunaikan ‘hajat’ yang
lain sebelum benar-benar terjun ke alam bebas. Namun, sekali lagi kesalahan
fatal terulang. Satu kardus mie instan yang dibeli dari Surabaya hilang entah
kemana. Ada yang bilang tertinggal di dalam truk, ada juga yang mengatakan
kalau dari awal kardus mie tersebut memang tidak ikut dinaikkan ke dalam truk.
Dua kecerobohan fatal,
tertinggalnya teman dan hilangnya perbekalan, seakan-akan telah menampar kami
semua agar lebih meningkatkan kekompakan sesama anggota rombongan. Karena tidak
bisa dipungkiri, dan hampir semua setuju, bahwa kekompakan modal paling utama
untuk bisa menaklukkan alam bebas yang selain indah, juga terkenal sangat
ganas. Untuk itulah, Fariz yang bertindak sebagai ketua rombongan menekankan
kepada seluruh anggota rombongan untuk segera merubah mindset bahwa target
pendakian kali ini bukanlah untuk mencapai puncak Mahameru. Namun, target
sebenarnya dari pendakian ini adalah berhasil membawa 28 orang anggota kembali
ke Surabaya dengan lengkap dan selamat.
(Bersambung ke seri 2)
(Bersambung ke seri 2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar