Kamis, 14 Juni 2012

Pesona Menuju Ranu Pani (Go to Semeru Seri 1)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
(Sapardi Djoko Darmono)
Waktu subuh masih tersisa ketika dua buah angkot yang mengangkut rombongan kami tiba di kawasan Pasar Tumpang. Setelah menurunkan barang-barang perbekalan dari atap angkot, beberapa dari kami segera bergegas menuju  Masjid yang terletak di seberang jalan. Masjid ini bisa dibilang cukup megah untuk ukuran daerah yang jauh dari pusat kota.

Sebelum sholat, aku sempat dibuat bingung dengan desain kamar mandi dan tempat wudhu yang berliku-liku mirip labirin. Dan yang lebih membuatku bingung, atau lebih tepatnya terkejut, adalah sebuah papan dari semen yang bertuliskan “Menumpang kencing, berak, dan mandi teteapi tidak sholat, hukumnya adalah HARAM”. Entah apa yang dipikirkan ta’mir masjid ketika membuat tulisan itu. Tapi yasudah lah, memang setiap orang punya pandangan sendiri-sendiri tentang peran dan fungsi masjid.

Sembari menunggu truk sewaan yang akan mengantarkan kami ke Ranu Pani, beberapa anak pergi ke Alfamart untuk membeli makanan ringan, minuman botol, dan juga tissue basah. Sedangkan sebagian yang lain memutuskan untuk menambah perbekalan dengan berbelanja di toko kelontong yang terletak tidak jauh dari rumah pemilik truk. Bekal yang ditambahkan waktu itu adalah bahan makanan seperti mie instan, beras, dan sosis siap makan.

Sinar matahari sudah mulai menghangat ketika supir truk menginstruksikan kami semua agar segera berangkat. Lalu, bergegas 28 anggota rombongan menaikkan barang bawaan yang terdiri dari tas carrier, tenda, dan bahan-bahan logistik secara estafet ke dalam bak truk. Tak beberapa lama kami semua sudah berada di atas truck, bersama seorang lagi di luar anggota rombongan yang menumpang ke Ranu Pani.
Sumpah, kami bukan romusha!
Perjalanan dari Pasar Tumpang ke Ranu Pani adalah fase yang paling banyak memakan biaya dalam misi pendakian Gunung Semeru. Bayangkan saja, untuk menyewa truk yang bisa muat samai 30 orang ini dibutuhkan biaya 800 ribu sekali jalan. Sedangkan untuk mobil hardtop dengan kapasitas 15 orang, harga sewanya mencapai 450 ribu untuk sekali jalan.

Pukul 06:30 perjalanan menuju Ranu Pani dimulai. Nampak wajah-wajah sumringah dari anggota rombongan yang rata-rata belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Selain itu, bagi kami yang sudah lama hidup di Surabaya, merasakan hawa dingin nan sejuk khas pegunungan adalah sebuah kenikmatan yang sungguh tak terkira. Namun di tengah-tengah suasana yang penuh canda tawa ini, terjadi sebuah insiden yang menurutku sangat fatal. Dua teman kami, Indi dan Adiguna (Keduanya anak Mesin 2008) ternyata tidak ada di dalam truk bersama kami, mereka tertinggal di Pasar Tumpang. Terpaksa truk kembali untuk menjemput mereka, untung saja waktu itu jarak yang telah ditempuh belum terlalu jauh. Ketika truk telah sampai lagi ke pasar tumpang, aku bertemu dua kawan SMA yang juga sama-sama ingin mendaki. Keduanya adalah mahasiswa UB (Malang) dan Unnes (Semarang). Sayang sekali truck yang kutumpangi sudah tidak muat lagi untuk mengikutkan mereka.
Disini baru sadar ada kawan yang tertinggal
Sepanjang perjalanan kami semua dibuat terperangah dengan pemandangan yang terhampar di kanan kiri jalan. Aku membayangkan betapa indahnya kehidupan seorang pendaki. Bagaimana tidak, bahkan sebelum memulai pendakian saja sudah tersedia suguhan berupa lukisan-lukisan alam yang sebelumnya hanya pernah kulihat di atas kanvas ataupun dari hasil penelusuran mesin pencari google.com. Terasiring tertata rapi di sela-sela bukit dan jurang, tebing-tebing yang lebat oleh hutan belantara, serta lautan awan yang ajaibnya terletak di bawah kakiku. Semua nampak indah dan melenakan, tak pernah sebelumnya aku melihat keindahan seperti itu. Bahkan sempat muncul perasaan terkejut kala itu, ternyata di bumi Indonesia ini terdapat tempat seindah ‘lautan pasir’ dan ‘bukit teletubbies’.
Bukit teletubbies dan lautan awan
Selain keindahan pemandangan, sulitnya medan yang harus dilalui membuat perjalanan menuju Ranu Pani menjadi perjalanan yang akan sulit untuk dilupakan. Selalu berdesir jantung ini ketika truk harus melalui jalan yang menyempit sekaligus menanjak, apalagi kalau dari arah berlawanan muncul truk atau kendaraan lain yang juga ingin melintas. Saat itu aku langsung tersadar bahwa 800 ribu adalah harga yang sangat pantas untuk medan seberat ini.

Sekitar pukul 8.30 kami sampai di Ranu Pani yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa sekaligus start awal pendakian ke Gunung Semeru. Disini rombongan terbagi, ada yang mengurus surat ijin pendakian, ada yang sarapan, dan ada juga yang menunaikan ‘hajat’ yang lain sebelum benar-benar terjun ke alam bebas. Namun, sekali lagi kesalahan fatal terulang. Satu kardus mie instan yang dibeli dari Surabaya hilang entah kemana. Ada yang bilang tertinggal di dalam truk, ada juga yang mengatakan kalau dari awal kardus mie tersebut memang tidak ikut dinaikkan ke dalam truk.

Dua kecerobohan fatal, tertinggalnya teman dan hilangnya perbekalan, seakan-akan telah menampar kami semua agar lebih meningkatkan kekompakan sesama anggota rombongan. Karena tidak bisa dipungkiri, dan hampir semua setuju, bahwa kekompakan modal paling utama untuk bisa menaklukkan alam bebas yang selain indah, juga terkenal sangat ganas. Untuk itulah, Fariz yang bertindak sebagai ketua rombongan menekankan kepada seluruh anggota rombongan untuk segera merubah mindset bahwa target pendakian kali ini bukanlah untuk mencapai puncak Mahameru. Namun, target sebenarnya dari pendakian ini adalah berhasil membawa 28 orang anggota kembali ke Surabaya dengan lengkap dan selamat.
(Bersambung ke seri 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar