Senin, 25 Juni 2012

Status Facebook, Perempuan, dan Menjadi Aktivis


Kemarin, aku sempat membaca status facebook dari salah satu seniorku di ITS. Aku masih ingat kira-kira seperti ini isinya “Aku adalah perempuan aktif, bukan seorang aktivis perempuan”. Dan di kolom komentar dia menambahkan lagi bahwa yang dimaksud dengan aktivis perempuan adalah mereka yang berteriak-teriak menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Argumen yang digunakannya adalah “la wong sudah enak jadi perempuan, kok pengen sama kayak laki-laki”.

Sekilas argumen tersebut memang tampak benar. Bukankah sudah enak jadi perempuan? Bagaimana tidak, dalam budaya kita saat ini, perempuan tidak wajib bekerja, tapi kalau misalnya kepengen bekerja dan menekuni karir sampai mendapat jabatan yang tinggi, ya silahkan saja. Selain itu, karena tidak harus mencukupi kebutuhan keluarga, perempuan juga tidak terbebani harus sekolah tinggi dan mendapat ijasah sarjana, tapi kalau misalnya dia ingin menuntut ilmu sampai jenjang S2, S3, dan bahkan seterusnya, ya monggo-monggo saja, ga ada yang boleh ngelarang. Sudah enak begitu, kok masih ribut nuntut persamaan. Masalah repot mengandung, melahirkan, dan menyusui anak itu kan hal wajar, dinikmatin aja. Mungkin seperti itulah jalan pikir seniorku tersebut dan juga perempuan-perempuan lain yang sama-sama mengecam aktivis perempuan.

Terserah apa yang dikatakannya, tapi menurutku orang-orang seperti itu adalah tipe orang yang hanya memikirkan keadaan dirinya sendiri, self sentris. Memang tidak salah kalau mereka mengatakan “Enak jadi perempuan”. Tapi itu kan di sini, saat ini, yang mana perempuan-perempuan seperti mereka bisa bebas kuliah di kampus jurusan manapun (termasuk teknik), berorganisasi, pulang malam, serta beraktifitas untuk mengembangkan dirinya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada.

Tapi, apakah mereka pernah membayangkan seandainya mereka hidup di jaman pra-Kartini? Yang mana perempuan tidak boleh sekolah dan sudah harus kawin di usia 12 tahun dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah dia kenal sebelumnya. Apakah dia pernah membayangkan seandainya dia terlahir di Afghanistan pas jaman penguasaan Taliban? Dimana saat itu seluruh perempuan, baik itu guru, karyawan, dokter, atau apapun, tidak diperkenankan untuk berada di luar rumah. Bahkan, bagi perempuan korban pemerkosaan pun, tidak diberi kesempatan untuk membela diri dari tuntutan hukum rajam. Dan apakah dia pernah membayangkan seandainya dia terlahir sebagai perempuan miskin yang tidak punya kesempatan bersekolah? Yang akhirnya mudah ditipu dan dijadikan budak sex di Batam, Macau, dan tempat-tempat prostitusi kelas dunia lainnya.

Semoga saja mereka semua tahu, menjadi aktivis perempuan bukan hanya soal menuntut persamaan dengan laki-laki saja. Namun, menjadi seorang aktivis perempuan adalah panggilan hati untuk memerangi penindasan dan ketidakadilan yang menimpa kaumnya. Syukurlah kalau memang hidup kalian sudah enak dan bahagia, semoga hal tersebut bisa berlangsung lama. Tapi, sekali lagi ingat! Di luar sana masih banyak perempuan yang tertindas, yang tidak memiliki kebebasan untuk berkembang, bahkan tidak sedikit yang hanya memiliki dua pilihan yang sama-sama sulit dalam hidupnya, mati…. Atau menjadi Pelacur!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar