Banyak yang berkata bahwa hidup
adalah pilihan. Namun lebih banyak lagi kutemui orang-orang yang sampai tua
umurnya tidak berani mengambil sebuah pilihan besar dalam hidupnya. Banyak
orang yang semenjak muda sampai keriput kulitnya tetap saja menjadi petani yang
secara ekonomi hidup pas-pasan dengan sawah yang tak pernah bertambah luas.
Ada juga yang masih terhitung keluarga dekatku sendiri, yang semenjak aku kecil
sampai sekarang masih saja menjadi tukang ojek yang gemar mabuk dan tidur di jalanan.
Beberapa contoh tersebut
membuatku tersadar, apalagi setelah kemarin mendapat petuah dari Ir. Hanafi
(Teknik Kimia ITS angkatan pertama), bahwa hidup yang hanya mengikuti arus
adalah hidup yang berbahaya. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa arus yang kita
ikuti akan membawa kita menuju kehidupan yang lebih baik. Sekali lagi, tidak
ada yang bisa menjamin hal itu.
Untuk menjadikan hidup bermakna,
setiap orang harus berani mengambil pilihan. Sesulit apapun itu. Sebagai
contoh, dulu ibuku berani memilih untuk terus melanjutkan sekolah di tengah
kemiskinan keluarga kakekku, walaupun konsekuensinya beliau harus menanakkan
nasi untuk para pekerja di sebuah pabrik gula rumahan setiap jam tiga pagi. Hal
tersebut harus dilakukan untuk mendapatkan biaya SPP dan uang saku untuk
transport ke sekolah. Saat itu, di usia yang masih sangat belia ibuku sudah
berani memilih. Beliau tidak mau hidupnya hanya berakhir sebagai petani kecil
yang pas-pasan, seperti yang kini dijalani oleh teman-teman sepermainannya dulu.
Selain contoh di atas, contoh
lain yang cakupannya jauh lebih luas dapat kita lihat dari founding father
kita, Ir. Sukarno. Sebagai seorang engineer di jaman Hindia-Belanda, tentunya
Sukarno bisa ikut arus dengan hidup mewah dan mendapat gaji besar dari
pemerintah waktu itu. Namun, rasa nasionalisme yang memuncak dan jiwa
agitator yang bergelora telah memaksanya untuk membuat sebuah pilihan besar,
bahwa negeri yang kaya raya ini tidak boleh lagi dihisap oleh lintah-lintah
raksasa bernama Belanda. “Negeri ini harus merdeka!” Katanya. Walaupun
pilihan tersebut harus dibayarnya dengan keluar-masuk penjara dan
berpindah-pindah dari tempat pembuangan satu ke tempat pembuangan lainnya.
Untuk itulah, sudah saatnya kita
mulai berani mengambil pilihan dalam hidup. Sesulit apapun itu, dan seberat
apapun konsekuensinya. Karena tentunya kita semua tidak ingin menghabiskan
hidup kita hanya sebagai saksi atas terbit dan terbenamnya matahari, tanpa
makna lebih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar