Jangan mengambil apapun, kecuali foto.Jangan meninggalkan apapun, kecuali jejak.
Jangan membakar apapun, kecuali semangat.(Etika pendakian)
Pagi itu di Ranu Pani,
28 orang yang menamakan diri sebagai pejuang semeru berbaris merapat. Ketua
rombongan, Farizal Maulana, memberikan briefing
sekaligus memimpin doa sebelum berangkat mendaki. Seluruh anggota rombongan yang
mayoritas merupakan anak-anak HMI Sepuluh Nopember memperhatikan dengan
seksama. Kehilangan satu kardus mie instan dan juga tertinggalnya dua teman di
pasar Tumpang telah menunjukkan betapa cerobohnya kami sehingga saat itu juga
semua anggota rombongan, tanpa terkecuali, bertekad untuk lebih berhati-hati
dan saling menjaga satu sama lain.
Pukul 10.00 pendakian
akhirnya benar-benar dimulai. Langkah pertama yang diiringi dengan ucapan
bismillah ini kuharapkan dapat mengantarkanku menikmati hasil karya Tuhan yang
belum pernah kulihat sebelumnya. Jalanan turun beraspal mengawali pendakian
gunung tertinggi di Pulau Jawa ini, masih terdengar tawa keras dari wajah-wajah
ceria kami. Tas carrier berisi tenda,
logistik, dan barang kebutuhan lain masih belum terasa membebani. Semua nampak
indah dengan pemandangan hijau dan suhu dingin khas pegunungan.
| menjelang Pos 1 |
Tapi, suasana
menyenangkan tersebut tidak bertahan lama. Setelah melewati tikungan pertama,
kaki-kaki ini sudah harus menapaki jalan setapak yang tak beraspal. Tidak seberapa
jauh kemudian, jalur pendakian berpindah ke sisi sebelah kiri dan sampailah
kami pada tanjakan pertama yang menurutku cukup curam. Sebuah shock therapy pikirku.seketika tak
terdengar lagi suara obrolan, apalagi canda dan tawa, berganti dengan suara-suara
keluhan dan deru nafas yang semakin tidak beraturan. Rombongan mulai terpencar,
beberapa sudah jauh di depan, sedangkan sebagian besar masih tertinggal di
belakang.
Setelah tanjakan
pertama, jalur pendakian selanjutnya bisa dibilang landai dengan beberapa
tanjakan dan turunan yang tidak terlalu curam. Jarak antar anggota rombongan
juga sudah semakin mendekat. Pendakian sejauh ini bisa dibilang lancar. Kami semua sudah mulai akrab dengan
jalan setapak yang berhias dinding tebing dan jurang di kanan kirinya. Juga
dengan batang-batang pohon robohnyang membuat langkah kaki sedikit terhambat.
Pukul 11.15 rombongan
tiba di Pos 1 sebelum Ranu Kumbolo. Huft, akhirnya ada kesempatan juga untuk
memperbaiki nafas. Segera tas carrier
berisi logistik kuturunkan dari punggungku. Di pos 1 kami bertemu dengan
rombongan dari Kalpataru (Teknik Elektro ITS) dan juga bocah kecil (kira-kira
usianya sekitar 5 tahun) yang mendaki bersama keluarganya. Melihat anak seusia
itu, membuat kami semua termotifasi, apalagi sudah bukan rahasia lagi kalau
anak-anak HMI tidak pernah mau kalah.
Jarak antara Pos 1 dan
Pos 2 bisa dibilang dekat dengan medan yang tidak terlalu berat. Berbeda dengan
jalur antara Pos 2 ke Pos 3 yang cukup berat sehingga memaksaku untuk berhenti
berkali-kali. Sesekali kami berpapasan dengan bule yang sedang mengikuti lomba marathon menuruni gunung dari
kawasan Kalimati.
Akhirnya tepat pada
pukul 12.54 aku dan beberapa kawan yang lain tiba di Pos 3. Rombongan terbagi
menjadi tiga gap, aku termasuk pada gap kedua karena masih ada yang tertinggal
di belakang. Di Pos ini aku beristirahat agak lama disebabkan tubuhku yang
sangat lelah. Namun, mengingat persediaan air yang sudah menipis dan juga waktu
sudah semakin sore, kuputuskan untuk bangkit dan mengejar kelompok pertama yang
sudah berada di depan. Aku harus segera sampai ke Ranu Kumbolo, pikirku.
Medan yang harus
dilalui setelah Pos 3 sangatlah berat dengan sudut kemiringan tanjakan lebih
dari 450. Dengan jalur menanjak securam itu, aku terpaksa harus
berhenti setiap lima langkah untuk mengatur nafas yang sudah semakin
ngos-ngosan dengan sesekali istirahat agak lama jika menemukan batu besar
ataupun batang pohon tumbang yang bisa diunakan untuk duduk. Dan ketika tenagaku
sudah benar-benar akan habis, juga motivasi sudah mulai surut, entah kebetulan
atau tidak tiba-tiba pandanganku menuju tepat ke arah sebuah danau besar yang
sangat indah. Seketika aku berteriak “Itu Ranu Kumbolo!”.
Subhanallah,
betapa indahnya danau tersebut. dikelilingi oleh padang rumput dan bukit-bukit
yang berbaris rapi. Saat itu aku juga sempat mendengar teriakan tasbih dari
kawan-kawan yang lain. Wajar memang jika mereka semua terkagum, danau ini
memang sangat indah. Tak salah jika orang-orang menamakannya Ranu Kumbolo, yang
berarti danau di atas awan.
| Danau di atas awan |
Sekitar pukul 14.00
akhirnya aku sampai juga ke Ranu Kumbolo. Suhu dingin menggigil mulai terasa
bersamaan dengan datangnya kabut dari arah selatan. Sambil istirahat kami
menunggu kawan-kawan lain yang masih tertinggal di belakang. Ada kabar kalau
Faris mengalami cedera kaki sehingga harus dipapah. Baru pukul 16.00 semua
anggota rombongan tiba. Setelah istirahat sebentar, kami semua mulai mencari
tempat untuk mendirikan enam tenda yang sebagian disewa dari sebuah tempat
persewaan di Malang.
| Bersantai sejenak di tepi danau |
| Pemukiman kecil di Ranu Kumbolo |
Saat itu kondisi
fisikku sudah sangat drop, kepalaku
pusing dan tubuh menggigil kedinginan. Jadilah malam itu kuhabiskan dengan
tidur mendekap di dalam tenda, meninggalkan hiruk pikuk pejuang-pejuang lain
yang sedang sibuk memasak dan membenahi tenda di luar. Hanya sekali aku keluar
untuk sekedar mengisi perut yang kosong dengan beberapa suap mie instan. Memang
benar kata orang, makanan macam apapun akan selalu terasa enak jika dimakan di
gunung.
| Semua makanan akan terasa enak saat di gunung |
Hari itu adalah hari
pertama aku mendaki gunung, dan malam itu juga untuk pertama kalinya aku tidur
di tepi sebuah danau bekas kawah vulkanik. Entah apa saja yang terjadi setelah
itu aku tidak tahu, kabut Ranu Kumbolo seolah-olah membius dan melelapkanku
dalam pelukannya yang damai.
(Bersambung ke seri 3)
Note : Baca cerita sebelumnya di seri 1
(Bersambung ke seri 3)
Note : Baca cerita sebelumnya di seri 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar