Jumat, 15 Juni 2012

Menuju Danau di Atas Awan (Go to Semeru Seri 2)

Jangan mengambil apapun, kecuali foto.
Jangan meninggalkan apapun, kecuali jejak.

Jangan membakar apapun, kecuali semangat.
(Etika pendakian)
Pagi itu di Ranu Pani, 28 orang yang menamakan diri sebagai pejuang semeru berbaris merapat. Ketua rombongan, Farizal Maulana, memberikan briefing sekaligus memimpin doa sebelum berangkat mendaki. Seluruh anggota rombongan yang mayoritas merupakan anak-anak HMI Sepuluh Nopember memperhatikan dengan seksama. Kehilangan satu kardus mie instan dan juga tertinggalnya dua teman di pasar Tumpang telah menunjukkan betapa cerobohnya kami sehingga saat itu juga semua anggota rombongan, tanpa terkecuali, bertekad untuk lebih berhati-hati dan saling menjaga satu sama lain.

Pukul 10.00 pendakian akhirnya benar-benar dimulai. Langkah pertama yang diiringi dengan ucapan bismillah ini kuharapkan dapat mengantarkanku menikmati hasil karya Tuhan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Jalanan turun beraspal mengawali pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa ini, masih terdengar tawa keras dari wajah-wajah ceria kami. Tas carrier berisi tenda, logistik, dan barang kebutuhan lain masih belum terasa membebani. Semua nampak indah dengan pemandangan hijau dan suhu dingin khas pegunungan.
menjelang Pos 1
Tapi, suasana menyenangkan tersebut tidak bertahan lama. Setelah melewati tikungan pertama, kaki-kaki ini sudah harus menapaki jalan setapak yang tak beraspal. Tidak seberapa jauh kemudian, jalur pendakian berpindah ke sisi sebelah kiri dan sampailah kami pada tanjakan pertama yang menurutku cukup curam. Sebuah shock therapy pikirku.seketika tak terdengar lagi suara obrolan, apalagi canda dan tawa, berganti dengan suara-suara keluhan dan deru nafas yang semakin tidak beraturan. Rombongan mulai terpencar, beberapa sudah jauh di depan, sedangkan sebagian besar masih tertinggal di belakang.

Setelah tanjakan pertama, jalur pendakian selanjutnya bisa dibilang landai dengan beberapa tanjakan dan turunan yang tidak terlalu curam. Jarak antar anggota rombongan juga sudah semakin mendekat. Pendakian sejauh ini bisa dibilang  lancar. Kami semua sudah mulai akrab dengan jalan setapak yang berhias dinding tebing dan jurang di kanan kirinya. Juga dengan batang-batang pohon robohnyang membuat langkah kaki sedikit terhambat.

Pukul 11.15 rombongan tiba di Pos 1 sebelum Ranu Kumbolo. Huft, akhirnya ada kesempatan juga untuk memperbaiki nafas. Segera tas carrier berisi logistik kuturunkan dari punggungku. Di pos 1 kami bertemu dengan rombongan dari Kalpataru (Teknik Elektro ITS) dan juga bocah kecil (kira-kira usianya sekitar 5 tahun) yang mendaki bersama keluarganya. Melihat anak seusia itu, membuat kami semua termotifasi, apalagi sudah bukan rahasia lagi kalau anak-anak HMI tidak pernah mau kalah.

Jarak antara Pos 1 dan Pos 2 bisa dibilang dekat dengan medan yang tidak terlalu berat. Berbeda dengan jalur antara Pos 2 ke Pos 3 yang cukup berat sehingga memaksaku untuk berhenti berkali-kali. Sesekali kami berpapasan dengan bule yang sedang mengikuti lomba marathon menuruni gunung dari kawasan Kalimati.

Akhirnya tepat pada pukul 12.54 aku dan beberapa kawan yang lain tiba di Pos 3. Rombongan terbagi menjadi tiga gap, aku termasuk pada gap kedua karena masih ada yang tertinggal di belakang. Di Pos ini aku beristirahat agak lama disebabkan tubuhku yang sangat lelah. Namun, mengingat persediaan air yang sudah menipis dan juga waktu sudah semakin sore, kuputuskan untuk bangkit dan mengejar kelompok pertama yang sudah berada di depan. Aku harus segera sampai ke Ranu Kumbolo, pikirku.

Medan yang harus dilalui setelah Pos 3 sangatlah berat dengan sudut kemiringan tanjakan lebih dari 450. Dengan jalur menanjak securam itu, aku terpaksa harus berhenti setiap lima langkah untuk mengatur nafas yang sudah semakin ngos-ngosan dengan sesekali istirahat agak lama jika menemukan batu besar ataupun batang pohon tumbang yang bisa diunakan untuk duduk. Dan ketika tenagaku sudah benar-benar akan habis, juga motivasi sudah mulai surut, entah kebetulan atau tidak tiba-tiba pandanganku menuju tepat ke arah sebuah danau besar yang sangat indah. Seketika aku berteriak “Itu Ranu Kumbolo!”.

Subhanallah, betapa indahnya danau tersebut. dikelilingi oleh padang rumput dan bukit-bukit yang berbaris rapi. Saat itu aku juga sempat mendengar teriakan tasbih dari kawan-kawan yang lain. Wajar memang jika mereka semua terkagum, danau ini memang sangat indah. Tak salah jika orang-orang menamakannya Ranu Kumbolo, yang berarti danau di atas awan.
Danau di atas awan
Sekitar pukul 14.00 akhirnya aku sampai juga ke Ranu Kumbolo. Suhu dingin menggigil mulai terasa bersamaan dengan datangnya kabut dari arah selatan. Sambil istirahat kami menunggu kawan-kawan lain yang masih tertinggal di belakang. Ada kabar kalau Faris mengalami cedera kaki sehingga harus dipapah. Baru pukul 16.00 semua anggota rombongan tiba. Setelah istirahat sebentar, kami semua mulai mencari tempat untuk mendirikan enam tenda yang sebagian disewa dari sebuah tempat persewaan di Malang.
Bersantai sejenak di tepi danau
Pemukiman kecil di Ranu Kumbolo
Saat itu kondisi fisikku sudah sangat drop, kepalaku pusing dan tubuh menggigil kedinginan. Jadilah malam itu kuhabiskan dengan tidur mendekap di dalam tenda, meninggalkan hiruk pikuk pejuang-pejuang lain yang sedang sibuk memasak dan membenahi tenda di luar. Hanya sekali aku keluar untuk sekedar mengisi perut yang kosong dengan beberapa suap mie instan. Memang benar kata orang, makanan macam apapun akan selalu terasa enak jika dimakan di gunung.
Semua makanan akan terasa enak saat di gunung
Hari itu adalah hari pertama aku mendaki gunung, dan malam itu juga untuk pertama kalinya aku tidur di tepi sebuah danau bekas kawah vulkanik. Entah apa saja yang terjadi setelah itu aku tidak tahu, kabut Ranu Kumbolo seolah-olah membius dan melelapkanku dalam pelukannya yang damai.
(Bersambung ke seri 3)

Note : Baca cerita sebelumnya di seri 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar