Senin, 30 Januari 2012

Monumen Kresek : Memoar sebuah Pemberontakan


Udara sejuk, sungai jernih dan dangkal dengan batuan yang tak beraturan, lengkap panorama sawah yang sedang hijau-hijaunya tentu merupakan sebuah perpaduan yang sangat indah. Kombinasi alami seperti ini salah satunya dapat kita temukan di sekitaran Kecamatan Wungu, yang masuk dalam wilayah kabupaten Madiun. Kawasan yang dapat berupa dataran tinggi ini bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit dari pusat kota dengan kendaraan pribadi. Pemandangan di kanan kiri jalan yang hijau khas pedesaan membuat perjalanan menjadi menyenangkan dan jauh dari kata membosankan.

Ada beberapa tempat di kawasan ini yang bias dijadikan sebagai tujuan wisata. Salah satunya adalah monument pemberontakan PKI yang terletak di Desa Kresek. Jika dilihat dari salah satu prasasti yang terdapat dalam komplek monument tersebut, kita akan tahu bahwa monumen ini telah diresmikan pada tanggal 19 Juni 1991.

Dalam kunjunganku yang terakhir, situs yang dibangun diantara aliran sungai dan tebing ini tidak terlalu ramai pengunjung, walaupun tidak bisa juga dikatakan sepi. Diantaranya yang nampak saat itu adalah sebuah rombongan SMA yang terkoordinir dan berseragam, beberapa pasang muda-mudi yang sedang berpacaran, juga beberapa penduduk sekitar yang sekedar ingin bersantai di warkop yang memang banyak bertebaran di sekitar lokasi.

Sayang sekali dalam kunjunganku tersebut aku tidak sempat mengambil gambar satu pun. Hal ini membuatku kesulitan untuk menceritakan keadaan visual kawasan ini. Juga pengetahuanku yang kurang mendalam tentang peristiwa yang dinamakan Pemberontakan PKI 1948 menimbulkan sedikit kesulitan untuk menjelaskan secara gamblang dan objektif tentang makna dibalik pembangunan tempat ini. Paling banyak pengetahuanku tentang peberontakan PKI di Madiun berasal dari biografi Musso, seorang ketua PKI yang tertembak mati dalam pelariannya di daerah Ponorogo.

Monumen yang oleh masyarakat umum dikenal dengan nama monument Kresek ini menempati tanah seluas kurang lebih tiga kali lapagan bola. Dengan sepasang gapura tinggi sebagai pintu masuk utamanya. Puintu utama ini menghadap langsung ke jalan raya yang menanjak khas daerah pegunungan. Di sebelah kanan pintu utama terdapat sebuah pintu lagi yang lebih kecil. Disekelilingnya terdapat beberapa penjual buah rambutan dan buah durian (kebetulan saat aku berkunjung sedang musim rambutan dan durian). Disamping pintu kecil ini mengalir sebuah sungai yang tidak terlalu besar namun dipenuhi oleh bebatuan.

Begitu memasuki pintu kecil ini, kita akan melihat sebuah dinding sepanjang dua meter yang bertuliskan nama-nama (lengkap dengan jabatannya kala itu) korban keganasan PKI yang berjumlah 17 orang, lengkap dengan patung mayat-mayat bergelimpangan disampingnya. Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk menunjukkan kepada masyarakat atau pengunjung khususnya tentang betapa kejamnya PKI yang telah membantai 17 orang tersebut. Namun kalau pemerintah mau konsisten, pemerintah (orde baru) sebenarnya juga harus membangun dinding yang mungkin panjangnya akan mencapai ratusan meter untuk menuliskan nama-nama ribuan simpatisan PKI (banyak dari mereka yang sebenarnya tidak tahu apa-apa) yang juga menjadi korban keganasan tentara dan rakyat yang anti-komunis, lengkap dengan tanah puluhan meter persegi untuk membangun replika mayat-mayat yang berserakan.

Di dekat dinding tersebut, terdapat sebuah pendapa berukuran sekitar enam kali dua meter persegi dengan lantai keramik warna hitam. Masih bisa kuingat, sewaktu kecil aku sempat melihat pendapa ini digunakan untuk sebuah latihan silat. Namun saat itu kulihat pendapa ini hanya digunakan pengunjung untuk duduk-dukuk dan beristirahat. Di bagian lapangan tengah, tepat di belakang pintu utama, terdapat sebuah lapangan voli sederhana yang garis-garis batasnya dibuat dari bentangan tali raffia. Menurut perkiraanku lapangan ini digunakan oleh warga sekitar untuk berolahraga di sore hari. Dari sinilah kita bisa melihat dengan jelas dua kelompok patung utama di monumen ini. Dua patung tersebut dibangun di atas tebing dan dapat dicapai dengan menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi namun cukup luas. Patung yang pertama berupa enam orang anak yang sedang berdiri, lewat bahasa tubuh dan raut muka, keenam anak ini digambarkan sedang sangat ceria dengan senyum yeng tersungging di bibir polosnya. Tepat di bawah sebelah kanan patung ini terdapat sebuah kolam yang cukup luas namun terlihat tak terawat.

Di sebelah kiri patung enam anak ini terdapat tangga yang menuju ke puncak tebing. Di sinilah terdapat patung besar yang kuanggap paling provokatif dan paling banyak mengandung pesan. Patung ini menggambarkan adegan seorang pria bertubuh besar, kumis tebal, dan bermuka bengis sedang mengayunkan pedangnya ke leher seorang tua yang sedang berlutut. Orang tua ini terlihat mengenakan sarung, surban dan kopyah. Patung ini jelas sekali ingin menunjukkan bagaimana seorang pemuka agama (Islam) yang akan dipancung dengan kejinya oleh seorang gembong PKI berwajah garang. Adegan ini berkaitan erat dengan isu pembunuhan pimpinan-pimpinan pondok pesantren oleh kelompok PKI karena tidak mau mendukung ideologi komunis yang diusungnya. Walaupun kebenaran isu ini masih menjadi bahan perdebatan, namun profokasi ini terukti sangat berhasil menanamkan stigma buruk terhadap PKI kepada masyarakat. Bahkan sampai anak cucu seorang PKI yang tidak tahu apa-apa bisa menjadi korban diskriminasi akibat stigma negative ini. Di belakang patung ini terdapat sebuah relief yang menggambarkan peperangan dan pembunuhan oleh sesama orang Indonesia. Juga di sebelahnya terdapat sebuah prasasti yang isinya mengingatkan para pemuda untuk senantiasa waspada terhadap bahaya komunisme.

Di luar segala kontrofersi dan isu-isu mengenai PKI, tempat ini sangat layak dikunjungi sebagai alternative pengisi liburan bersama keluarga, partner kerja, ataupun dengan sahabat-sahabat lama. Selain karena suasananya yang sejuk dan asri, juga terdapat banyak sekali pondok-pondok makanan, yang sayangnya baru aku ketahui setelah beranjak pulang. Ada sedikit penyesalan karena tidak sempat mampir untuk mencicipi makanannya ataupun sekedar bersantai di pondokan yang terlihat nyaman dan rindang.


Untuk foto-foto monument ini akan aku tampilkan di postingan yang lain. Tentunya setelah mengambil gambarnya secara langsung dan mendapat referensi-referensi yang valid tentang misteri dibalik peristiwa pemberontakan PKI di Madiun yang terjadi pada tahun 1948.

Oleh : Munirul I (Member of Islamic Association of University Student)

Kamis, 19 Januari 2012

Arti Sejarah

Sebagai pelajar jurusan IPA sewaktu SMA, mungkin kegemaranku ini bisa dibilang aneh. Semenjak kelas satu (sebelum masuk di jurusan IPA) aku sangat suka dengan pelajaran sejarah. Dan untungnya, pelajaran sejarah ini tetap diberikan kepada seluruh kelas, baik IPA, IPS, maupun kelas bahasa. Alasannya adalah agar pelajar-pelajar di SMA tidak melupakan sejarah. Dan bisa ditebak, pelajaran sejarah akhirnya menjadi pelajaran yang paling aku sukai ketika itu, tentu saja setelah kimia. Selain menyenangkan, ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Kegagalan, kemenangan, kebiadaban, dan sikap hidup yang mulia, semua terangkum secara lengkap dalam bingkai sejarah. Tergantung bagaimana kita memaknai dan mengambil pelajaran darinya.

Namun sayangnya, masih sangat sedikit pemuda Indonesia yang sekedar tertarik untuk belajar sejarah. Mereka nampaknya telah lupa bahwa Nusantara yang pernah berjaya mengatasi serangan bangsa Mongol di era Majapahit ini juga telah menjadi budak bangsa Belanda selama tiga setengah abad. Mereka juga tidak pernah betul-betul paham bahwa rakyat sangat menderita akibat politik mercusuar yang dicanangkan Bung Karno, juga orang-orang yang dibungkam, bahkan diculik di era pemerintahan Soeharto.

Sebagian dari mereka telah terbuai mimpi-mimpi masa depan yang penuh dengan ilusi. Menginginkan kesejahteraan pribadi agar dapat memuaskan nafsu perut dan gaya hidup hedonnya. Ditambah dengan banyaknya acara televisi sampah yang memprogandakan bahwa mengurus masalah cinta dengan pasangan lebih penting dari apapun. Sehingga untuk belajar sejarah secara sederhana pun, tidaklah terpikirkan oleh mereka.

Sebagian uraian di atas telah cukup menjadi alasan bagiku untuk menuliskan sejarah hidupku yang baru seumur jagung ini. Tentunya dengan keterbatasan kemampuan menggali dan mengolah informasi serta tidak mumpuninya teknik penulisan.

Walaupun begitu, aku anggap niatku ini adalah wujud nyata dari penghargaanku terhadap nilai-nilai sejarah dan seperti yang telah disampaikan sebelumnya, akan banyak hal yang bisa kuambil dari kisah sejarah yang sederhana ini. Karena menurutku, bagaimanapun bentuknya sejarah merupakan landasan paling awal bagi kita untuk merubah masa depan.

Kita Bukan Tukang pagliat!!

Tidak akan ada yang menyangkal jika kita berkata bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya dengan budaya dan kesenian. Berbagai macam tarian, pakaian adat, masakan khas, alat musik, dan lain sebagainya dapat dijumpai di kepulauan yang terbentang dari ujung Pulau We sampai ke merauke di tanah Papua. Belum lagi seniman-seniman kontemporer yang telah dilahirkan di bumi nusantara ini, mulai dari  pelukis, penari, sastrawan, dan juga dalang yang telah kondang baik di dalam maupun di luar negeri. Bahkan untuk hal ini, presiden pertama kita, Ir. Soekarno, pernah berkata secara tegas kepada presiden Amerika “Negara anda punya teknologi, tapi kami juga memiliki seni.


Hal tersebut tentunya dapat kita jadikan alasan yang kuat bagi kita untuk berpikir bahwa Indonesia negara yang berkebudayaan tinggi dan memiliki cita rasa seni yang istimewa dibandingkan dengan negara-negara lain di kolong langit ini. Bahkan banyak produk budaya asli kita yang diklaim oleh negara lain, semisal Reog, lagu rasa sayange,  Tempe, Rendang, dan masih banyak lagi.
Ini baru seninya LELAKI
Namun, kenyataan yang terjadi saat ini boleh jadi membuat kita yang mengaku sebagai anak bangsa ini miris. Selain karena kekurang pedulian kita yang mengakibatkan maraknya klaim negara lain terhadap produk budaya Indonesia, acara-acara yang tayang di berbagai channel televisi belakangan ini juga sudah sangat menjemukan. Secara kasat mata saja bisa kita lihat betapa seragamnya acara-acara tersebut, jelas sekali tidak mencerminkan orisinalitasnya sebagai muara dari proses kreativitas. Apalagi setiap hari dapat kita saksikan acara musik di hampir semua channel televisi, seperti Dahsyat, inbox, Dering, dll. Dan anehnya, yang membuatku tidak habis pikir sampai saat ini adalah jumlah penontonnya yang selalu ramai setiap hari, padahal acara tersebut tayang live di jam-jam sekolah sekaligus jam-jam kerja! Hei dude?! Apa yang kalian lakukan disana? Apa ga sekolah, kuliah, atau kerja mungkin? Selain itu, materi yang disuguhkan dalam acara-acara tersebut juga tidak bisa dikatakan bermutu. Pembawa acara lebih sering mengeluarkan guyonan-guyonan garing yang jauh dari kesan mendidik, sampai-sampai terkadang aku lupa, ini acara musik atau acara lawak?
           
Lebih dari itu, kondisi terkini industri musik Indonesia juga tidak bisa membuat kita erasa bangga. Setelah era band-band melayu yang diawali oleh lahirnya Kangen Band, muncul lagi era band-band alay yang diisi oleh pemusik-pemusik baru yang sudah bisa terkenal walaupun hanya punya satu lagu. Tidak hanya sampai disitu, saat ini telah muncul lagi era baru dalam dunia permusikan indonesia yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Bagaikan sebuah mimpi buruk yang tiba-tiba menjadi nyata, panggung musik Indonesia saat ini dikuasai oleh sebuah rezim yang dinamakan BOYBAND! Yaitu sekumpulan pemuda yang sedang bingung dengan identitas seksualnya, namun dipaksa oleh produser untuk berjoget dan bernyanyi. Era boyband ini dimulai dengan munculnya Sm*sh, yang kemudian bagaikan jamur di musim penghujan diikuti dengan kemunculan grup-grup baru baik laki-laki maupun perempuan (Untuk perempuan dinamai Girlband).
poninya boo, ga nahan

kira-kira apa yang ada di pikiran pemuda-pemuda ini ya?

kalo ini baru yahuuud B)
Pada awalnya aku sempat berpikir positif dengan mengatakan bahwa ketidaksukaanku pada boyband ataupun girlband hanyalah karena masalah selera. Tapi lama-lama aku sadar, bahwa ada satu hal yang patut menjadi pertanyaan serius bagi kita untuk menggugat keberadaan grup joget ini, yaitu masalah orisinalitas. Konsep boyband dan girlband ini jelas sekali meniru para artis asal korea yang memang mempunyai banyak penggemar di Indonesia (selain musik, film-film asal korea juga banyak ditayangkan oleh salah satu televisi swasta). Sungguh malu rasanya kalau bangsa Indonesia, yang kaya dengan kesenian dan kebudayaannya ini, dicap sebagai bangsa tukang plagiat. Dimana letak kreativitas kita sebagai bangsa yang beradab?

Lagi pula, jika kita mau menilik materi lagu yang dibawakan pemusik-pemusik Indonesia masa kini (khususnya yang sering tampil di Dahsyat, Inbox, dll) sangatlah tidak berbobot dan tidak memiliki pesan moral yang konstruktif bagi pendengarnya. Pastilah lirik yang dinyanyikan itu berkutat dengan masalah cinta, perselingkuhan, dll. Bagi bangsa yang sedang terpuruk di bidang politik dan ekonomi ini, kehadiran lagu-lagu tersebut sangatlah tidak penting. Padahal, sebenarnya masih banyak juga musisi-musisi tanah air yang memiliki kualitas, baik dalam skill maupun pesan lagu yang dibawakan. Dan sayangnya mereka sangat jarang tampil di TV (mungkin karena tidak punya nilai jual meurut produser). Lagu-lagu yang dinyanyikan sarat akan makna, entah itu kritik sosial, kritik politik, maupun semangat pemberontakan.

Sampai kapankah masa-masa yang memuakkan ini akan terus berlanjut? Aku tidak sanggup membayangkan ketika suatu saat kita harus mendeklarasikan kepada bangsa-bangsa lain bahwa kita adalah bangsa tukang plagiat. Mungkin memang secara ekonomi dan teknologi prestasi kita bisa dikatakan masih tertinggal. Tapi untuk hal-hal yang berkaitan dengan seni dan keindahan, kita wajib menunjukkan ke dunia luar bahwa kita, bangsa Indonesia, adalah bangsa yang bercita rasa tinggi!

Oleh : Munirul I. (Student of Sepuluh Nopember Institut of Technology)

Puisi Soe Hok Gie

Terhitung belum terlalu lama aku mengenal tokoh ini. Kira-kira baru di smester 3 aku mendengar nama Soe Hok Gie, itupun hanya sekilas. Namun aku lengsung menyimpan kekaguman terhadap salah satu tokoh pergerakan mahasiswa angkatan '66 ini semenjak  melihat film 'GIE' karya sutradara Riri Riza. yang paling membuatku terkesan adalah bait-bait puisi karya lulusan Fakultas Sastra UI ini yang terasa sangat hidup, meskipun aku juga memiliki beberapa kritik tentang sikapnya terhadap organisasi mahasiswa ekstrra kampus.

Dan inilah diantaranya puisi karya Soe Hok Gie yang paling aku suka, puisi yang ditulis oleh seorang pemuda idealis yang sayangnya berusia pendek.

"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.
Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa."
          (CSD, Selasa, 11 November 1969)

Matahari 10 tahun

10 tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk mengingat kembali sebuah kenangan yang terlewat. Seperti baru kemarin rasanya saat terakhir kali aku menginjakkan kaki di kota itu. Kota yang mampu menorehkan berjuta luka dalam waktu semalam. Kota dimana sebelum malam mengerikan itu aku sudah menggantungkan mimpi yang sangat tinggi, setinggi matahari. Dan memang, akhirnya matahari itupun membakarku tanpa ampun. Undangan 10 tahun silam yang kutemukan tak sengaja saat membersihkan gudang telah membawaku kembali mengingat masa-masa itu.

Saat itu aku sungguh menikmati duniaku, aku menemukan orang-orang yang senasib sepertiku. Dibuang dari masyarakat karena dianggap sampah. “BIKIN MALU ORANG TUA!” adalah kalimat yang paling sering aku, dan mungkin ribuan orang sepertiku, dengar. Kalimat itu sungguh sangat menyakitkan. Bagaikan sebuah belati tajam yang menusuk organ vital perasaanku. Namun, karena terlalu seringnya, tusukan itupun menjadi terasa nyaman saat menghujam jantungku.

Di dalam kereta ekonomi gerbong tiga kala itu, aku berbaur dengan puluhan penumpang lain yang rela berdesak-desakan untuk pergi ke kota tujuan mereka masing-masing. Begitu pun aku, sambil memandangi surat undangan yang sudah sebulan lalu aku terima, aku mempunyai mimpi besar tentang kebebasan dan persamaan hidup. Dan, iniah momen yang kupikir sangat tepat bagiku untuk menyampaikan ide-ide yang aku simpulkan dari curahan hati sahabat-sahabatku.

Kereta itu berjalan terasa amat lambat. Tatapan aneh dari penumpang-penumpang lainnya membuatku semakin tidak nyaman. Aku merasa bagaikan seorang Yahudi yang terjebak dalam gerbong berisi orang-orang Nazi anak buah Hittler. Begitu terasing dan terancam. Tatapan sama seperti saat ayah dan kakakku mengusirku dari rumah, hanya tatapan iba dari ibuku lah yang waktu itu seakan mengatakan bahwa aku tidak sendiri. Sambil menggenggam erat undangan ‘harapan’ itu, aku mencoba untuk menahan luka. Aku memimpikan suatu hari nanti tak akan ada lagi tatapan seperti itu, karena akupun juga ciptaan Tuhan sama seperti mereka dan aku juga haus kasih sayangNya.

Dan akhirnya tiba juga aku di stasiun tujuanku. Dengan mantap kususuri jalanan kota itu. Aku tunjukkan sobekan kertas berisi alamat teman lamaku ke orang setempat yang aku temui jika aku mulai kebingungan. Dan tetap saja aku masih dapat melihat tatapan-tatapan itu disini. Bahkan aku agak sedikit takut dan ngeri ketika melihat puluhan orang berjubah di salah satu sudut jalanan itu. Entah apa yang mereka bicarakan, namun jelas sekali terlihat aroma kemarahan di wajah mereka.

Tibalah saatnya malam yang aku tunggu, di aula sebuah gedung pinggiran kota aku berkumpul dengan seratusan orang-orang yang bernasib sama sepertiku. Di tempat ini aku tak lagi merasa aneh, tak lagi kutemui tatapan-tatapan itu, tatapan ayah, tatapan penumpang kereta, dan yang paling membuatku nyaman adalah tak ada tatapan orang-orang berjubah itu.

Aku mempersiapkan diriku sebaik mungkin, mulai dari pakaian, gaya berjalan, serta catatan kecil dari apa saja yang ingin aku sampaikan nanti. Aku benar-benar berharap malam ini akan membawa perubahan. Perubahan yang selama ini aku impi-impikan. Perubahan yang didambakan yang dinanti-nanti oleh ribuan orang yang senasib denganku. Bagaikan malam yang menantikan datangnya mentari keesokan harinya, mimpi akan kebebasan dan persamaan itu tampak begitu nyata. Perubahan tampak seperti berada di depan mata.
Dan memang benar, perubahan itu memang datang. Perubahan yang bahkan lebih besar dari apa yang kuharapkan semula. Karena seketika batu-batu beterbangan di seluruh aula, bahkan tak sengaja mata ini melihat kobaran api kecil di beberapa sudut ruangan. Teriakan-teriakan suci memekakkan telinga semakin keras terdengar. Dan orang-orang berjubah itupun berkeliaran, bak tentara Jengis khan yang memporak-porandakan kota Baghdad. Kejam dan membawa kehancuran.

Sekuat tenaga aku pun lari, meninggalkan asa, mimpi, dan cita-cita tentang kebebasan terbakar bersama tumpukan batu. Aku sudah tidak menginginkan apa-apa lagi, aku hanya ingin selamat. Sekilas terbayang-bayang wajah ibu yang selalu membelaku dari kemarahan ayah. Entah kenapa aku ingin berlari secepat mungkin untuk menemuinya. Mengadukan semua yang aku alami, seperti saat makan siangku dirampas kakak kelas sewaktu SD dulu. Aku merindukan saat-saat itu.

Dan...
“Yah,ayo cepetan yah. udah ditungguin mama tuh.” Suara gadis kecil berusia 4 tahun itu bagaikan malaikat yang menjemputku dari penjara kenangan kelam itu.

Aku seakan bangun dari mimpi buruk dan mendapati diriku berada di dunia yang lebih baik. Kuletakkan kembali undangan yang berkop “KONFERENSI WARIA TINGKAT NASIONAL 2001” tersebut dan menemui istriku. Seorang wanita yang telah menolongku dari kejaran orang-orang berjubah, 10 tahun yang lalu.

Oleh : Munirul I (Student of Sepuluh Nopember Institut of Technology)

Ingin Makmur? 'tinggalkan' Masjid!

Sudah setengah abad lebih usia republik kita tercinta ini. Namun, kesejahteraan rakyat yang menjadi cita – cita bangsa ini sampai sekarang belum bisa terwujud sepenuhnya. Sebagaimana kita ketahui kemakmuran hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. Sedangkan sebagian besar lainnya masih harus berkutat dengan kemiskinan dan kebodohan.

Sesungguhnya apa yang salah dari negeri ini? Bukankah negeri kita tercinta ini sudah sangat kaya dengan sumber daya alam? Belum lagi budaya kita yang beragam merupakan hal istimewa yang tidak bisa ditemukan di negara lain. Selain itu, kita juga masih mempunyai modal yang sangat kuat untuk mewujudkan kemakmuran. Modal itu tak lain adalah 90% lebih penduduk Indonesia adalah muslim! Umat yang telah dijanjikan kemenangan dunia akhirat oleh Allah SWT dan dibekali dengan dua senjata paling mutakhir sepanjang jaman : Al-Qur’an dan Hadist.

Dengan jumlah orang Islam yang sedemikian banyak, tidak sepatutnya Indonesia menyandang status sebagai negara dunia ketiga. Bukankah Nabi SAW pernah bersabda “Tidak akan bisa dikalahkan 12.000 pasukan muslim”. Lalu apa yang salah dengan ratusan juta muslimin di Indonesia?

Jawabannya bukan terletak pada kurang taatnya umat muslimin di Indonesia. Karena telah begitu banyak Masjid, surau, taman pendidikan Al-Qur’an (TPA), dan sekolah – sekolah islam lainnya bertebaran di hampir seluruh pelosok tanah air. Di dalamnya orang – orang Islam sholat, mengaji, menghafal kitab suci, dll. Namun, cukupkah hanya dengan sholat, mengaji, dan menghafal kitab suci kita bisa memakmurkan negara? Jawabannya adalah TIDAK!

Kesalahan terbesar umat Islam, khususnya para aktivis dakwah, saat ini adalah menganut dogma bahwa Islam itu hanya ada di dalam masjid. Selama ini orang – orang yang dianggap tahu agama mengadakan kajian, ceramah, dan diskusi di dalam masjid. Memang benar sebagai umat Islam kita diwajibkan untuk ikut serta dalam memakmurkan masjid, namun selain itu kita juga diwajibkan untuk begerak mengubah nasib bangsa kita menjadi bangsa yang makmur, termasuk didalamnya terdapat juga orang – orang nonmuslim. Untuk itulah, sudah saatnya kita keluar masjid dan mulai menunaikan kewajiban berdakwah kita. Karena di luar sana sangat banyak saudara – saudara kita yang masih tersesat.

Mengutuk dan menghakimi secara sepihak orang – orang yang ada di tempat prostitusi, pusat perjudian, dan tempat – tempat maksiat lainnya adalah tindakan salah kaprah yang seringkali dilakukan oleh golongan fundamentalis. Karena justru mereka itulah yang sedang membutuhkan kasih sayang kita. Dan sudah kewajiban kita untuk menunjukkan keindahan jalan Allah kepada mereka. Jika sudah begitu, akan semakin banyak saudara – saudara kita yang bergabung dengan barisan untuk mewujudkan kemakmuran bersama seperti yang kita impikan.

Selain itu, anak – anak muda yang sebagian besar berada dalam pengaruh gaya hidup hedon ala barat adalah yang harus menjadi perhatian kita. Karena pemuda – pemuda lah yang nantinya akan menjadi tulang punggung pergerakan kita menuju kemakmuran. Maka dari itu sudah selayaknya kita melakukan upaya – upaya persuasif dan penuh kasih sayang kepada mereka untuk ikut serta memikirkan masalah umat. Kita tunjukkan pada para pemuda, yang merupakan aset paling bagi bangsa ini, kewajiban seorang muslim untuk ikut serta dalam upaya memakmurkan negeri tercinta ini.

Hal – hal tersebut harus dilakukan karena masih sangat sedikit sekarang ini umat muslim yang tersadar dan peduli akan kesejahteraan rakyat. Tentunya tindakan ini harus dilakukan dengan penuh kasih sayang dan dengan menunjukkan sisi indah Islam. Bukan dengan cara kekerasan dan penghakiman secara sepihak. Karena realitanya, sebagian besar dari orang Islam di negeri kita ini tengah terbuai dengan keindahan jalan pikir masing – masing yang dipenuhi dengan materialisme, hedonisme, dan kapitalisme yang menyesatkan.

Jadi, marilah saudara – saudara seperjuanganku semua untuk melepas pikiran – pikiran kolot kita. Mari kita ‘tinggalkan’ masjid untuk mengajak saudara-saudara yang lain masuk ke dalam barisan perjuangan yang penuh dengan rasa toleransi, tentunya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran SELURUH rakyat Indonesia. Amiin Ya Rabbal Alamiin.
Wallahualam bi-shawab.

Oleh : Munirul I. (Member of Islamic Associaton of University Student)

HATI

Sesungguhnya kekuatan terbesar dalam diri manusia bukan terletak pada fisik ataupun kemampuan  bermain otak. Namun kekuatan tersebut terletak di dalam hati masing-masing.

Setiap manusia dilahirkan dengan hati yang putih dan suci. Hatilah yang bisa membuat kita tahu benar salah. Sejahat apapun manusia, walaupun sedikit, hatinya akan selalu berkata tidak ketika ia melakukan kejahatan. Namun, jika kejahatan tersebut tetap dilakukannya maka bukan berarti hatinya yang kotor. Melainkan dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi hatinya dan akhirnya hanya menuruti hawa nafsunya tanpa mendengarkan apa kata hatinya.

Oleh sebab itu, agar kita bisa menjadi manusia yang berbudi luhur, kita harus mempelajari berbagai macam ilmu. Hal itu ditujukan agar diri kita mampu menjaga dan menuruti apa kata hati kita. Sehingga dengan begitu kita dapat membedakan benar dan salah.

Tapi jangan sampai ilmu membuat kita lupa. Menjadikan kita Adigang, Adigung, Adiguno. Kalau sudah begitu, ilmu bukan lagi sebagaipenjaga hati, namun ilmu akan menjajah hati kita hingga tak lagi kita hiraukan lagi apa kata hati kita.

Hidup yang sempurna adalah jika kita mampu menempatkan ilmu dan hati sesuai dengan fungsi masing-masing. Kita gunakan hati untuk merasakan suatu keadaan, lalu hati akan memerintahkan apa yang harus atau tidak boleh kita lakukan. Sedangkan ilmu adalah senjata kita untuk menuruti apa yang telah diinstruksikan hati serta untuk menjaga hati kita agar tetap berperan dalam hidup.

Karenanya, jika kita ingin hidup bahagia dunia akhirat kita tidak boleh menolak apa kata hati kita (ojo selak karo batine).  Karena hati merupakan anugerah dari Allah SWT yang paling berharga. Allah menjadikan hati sebagai kompas dalam perjalanan hidup di dunia yang singkat ini.

Jika kita mampu melaksanakannya, insya Allah kita akan menjadi manusia yang berbudi luhur, tahu benar dan salah, serta bertakwa kepada Allah SWT. Sehingga benarlah falsafah SH Terate yang berbunyi :
“Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan, tetapi manusia tidak dapat dikalahkan  selama manusia itu masih setia pada hatinya sendiri.”

Oleh : Munirul I.

Rabu, 18 Januari 2012

Life is Just a Game


Hidup adalah permainan! Segala yg kita miliki, dan apapun hasil akhir dari yg kita usahakan sudah terlebih dulu tercatat oleh Yang Maha Kuasa dalam kitab yg nyata.

Tapi itu semua bukan berarti kita lalu harus menyerah dan pasrah karena semua telah ditakdirkan, justru hal tersebut mengharuskan kita untuk semakin giat berusaha. Karena yg dinilai dri kita nantinya bukan hasil akhir (karena memang Dialah yang menentukan), melainkan integritas, ketabahan, kesungguhan dalam berdoa, dan sikap kita dalam menerima kenyataan.

Integritas atau kesungguhan, hal ini dapat dicontohkan pada suatu kisah tentang sebuah kebakaran hebat. Di tengah kobaran api yang amat dahsyat, seekor burung kecil berusaha keras memadamkan api dengan mengambil air dri sungai dengan paruh mungilnya. Melihat hal itu, suatu rombongan burung besar tertawa dan berkata “hei, kau tak kan bisa memadamkan api itu dengan paruh kecilmu.”
mendengar itu sang burung kcil pun mnjawab “hei ketahuilah, sesungguhnya aku nanti tidak akan ditanyai mengapa api itu tidak padam, melainkan kenapa kamu diam saja?”

selain itu, kita juga dituntut untuk tabah dalam berusaha dan sungguh-sungguh dalam berdoa, jikalau hal itu tdk mghasilkan apa-apa di dunia, niscaya Allah tdk akan menyia-nyiakan amalan kita.

Dan yang paling penting adalah sikap kita dalam menerima hasil akhir. jikalau kita memang berhasil, apakah kita mmpu benar-benar bersyukur kepadaNya, atau malah kita lupa dan takabur terhadap nikmat dariNya? Dan jika kita gagal, apakah kita mmpu benar-benar bisa bersabar dan pasrah terhadap keputusanNya, atau mlah kita justru menjadi frustasi, mengeluh, dan bahkan menyalahkan Tuhan atas semua kegagalan kita.

Itulah yg sangat perlu kita renungkan. Hidup ini hanyalah permainan, dan Allah telah menuntut kita untuk menjadi pemain yg baik. Dan Allah telah menyiapkan balasan bagi orang-orang yang mengikuti jalanNya.

Oleh : Munirul (Member of Islamic Association of University Student)

Selasa, 17 Januari 2012

Penerang Persaudaraan


Nampak sekali suasana hiruk pikuk di salah satu ruang persalinan sebuah Rumah Sakit Umum. Seorang lelaki paruh baya sibuk memutar batang rokoknya yang telah terbakar setengah. Butiran-butiran keringat yang menetes di dahinya telah cukup menjelaskan kalau saat ini dia sedang sangat gugup. Walaupun terhitung situasi seperti ini bukanlah yang pertama kali baginya.

Disampingnya, di sebuah kursi lipat berlogo Rumah Sakit Umum yang menghadap ke sebuah pot dengan bunga lidah mertua tertanam di atasnya, seorang wanita yang boleh dikatakan telah berumur duduk sambil bercerita ke orang-orang tentang cucunya yang akan lahir. Tidak ada kesan gugup sama sekali yang tertangkap dari wajah wanita ini, sesekali ia menenangkan anaknya yang akan memperoleh seorang putra agi untuk pertama kalinya setelah istri pertamanya meninggal.

“Ooeek…. Oeekkk….” Seketika udara yang tadinya agak pengap terasa mengalir dengan butiran-butiran kesejukan di dalamnya. Tangisan bayi tersebut terdengar sangat mempesona dan membius semua yang ada di ruang tunggu persalinan tersebut. Dalam sekejap suasana menjadi hening, tidak ada lagi yang mengobrol satu sama lain.

“Alhamdulillah…” Tanpa dikomando, ucapan hamdallah terdengar memecah keheningan.

Di dalam ruang persalinan, seorang wanita yang mengenakan baju khusus pasien berwarna hijau muda tengah tergeletak bermandikan keringat. Walaupun nafasnya masih tersengal-sengal, namun raut mukanya sangat jelas memancarkan cahaya kebahagiaan yang begitu terang. Dia telah lupa bahwa 5 menit yang lalu dia tengah berjuang antara hidup dan mati penuh rasa sakit. Namun seketika rasa sakitnya hilang, berganti sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Karena baru saja ia telah melahirkan sebuah harapan baru, tempatnya menitipkan cita-cita yang tertunda serta sebuah sumber kebahagiaan bagi keluarga yang sudah dua tahun dibinanya.

***

Dihisap dalam-dalam kretek Dji Sam Soe miliknya, sekedar untuk menghilangkan kebingungan yang telah beberapa hari ini melandanya. Walaupun putra keduanya itu telah lahir dengan sehat, bukan berarti semua masalah telah terselesaikan. Karena dia harus memberikan nama yang pas dan cocok untuk buah cintanya yang baru lahir tersebut.

Sebelumnya, lelaki yang bernama lengkap Edy Mariman tersebut telah sowan ke salah satu pimpinan sebuah pondok pesantren yang bernama KH Munirul Ichwan, dia meminta kepada Kyiai tersebut agar diberikan nama yang baik untuk disematkan kepada putra keduanya. Dan sayangnya, Sang Kyiai memberikan dua pilihan nama yang membuatnya bingung untuk memilih.

Di tengah kebingungannya, seorang suster mendekat dan berkata “Bapak Edy, silahkan anda sudah diperbolehkan menemui anak bapak.”

“Terima kasih, sus.” Setengah melompat Edy Mariman bergegas menemui bayi laki-laki yang sudah 9 bulan terakhir ini dinanti-nanti kelahirannya.

Dengan pakaian khusus, dia masuk ke ruangan yang berisi puluhan bayi yang beberapa masih berumur beberapa hari. Langkahnya semakin dipercepatnya menuju tempat yang ditunjukkan oleh suster.

“Ini anak bapak.” Sang suster menunjuk ke salah satu tempat tidur berisi bayi mungil yang sangat berisi.

Demi melihat bayi yang sedang tertidur pulas tersebut, membuat ayah dua orang anak tersebut terpana. Wajah bayi itu seakan bersinar, membius ayahnya sendiri yang sedang tersenyum lebar sangat bahagia.

Tanpa sadar lelaki yang bertubuh agak gemuk ini bergumam “Engkaullah harapanku, akan kutitipkan mimpi-mimpi yang tak bisa kuwujudkan kepadamu.” Dengan terbata-bata dan setelah beberapa kali mengelap keringat, dia kembali berkata “Sudah bulat, kini kunamai kau Munirul Ichwan, yang berarti Penerang Persaudaraan.”
Oleh : Munirul Ichwan


Nb : Bayi tersebut lahir tepat pada tanggal 25 Maret 1991 di RSUD Dr. Soedono Madiun. Dua pilihan nama yang diberikan oleh Sang Kyai adalag Wazir fathoni dan Munirul Ichwan, namanya sendiri.