Udara sejuk, sungai jernih dan dangkal dengan batuan yang
tak beraturan, lengkap panorama sawah yang sedang hijau-hijaunya tentu
merupakan sebuah perpaduan yang sangat indah. Kombinasi alami seperti ini salah
satunya dapat kita temukan di sekitaran Kecamatan Wungu, yang masuk dalam
wilayah kabupaten Madiun. Kawasan yang dapat berupa dataran tinggi ini bisa
ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit dari pusat kota dengan kendaraan
pribadi. Pemandangan di kanan kiri jalan yang hijau khas pedesaan membuat
perjalanan menjadi menyenangkan dan jauh dari kata membosankan.
Ada beberapa tempat di kawasan ini yang bias dijadikan
sebagai tujuan wisata. Salah satunya adalah monument pemberontakan PKI yang
terletak di Desa Kresek. Jika dilihat dari salah satu prasasti yang terdapat
dalam komplek monument tersebut, kita akan tahu bahwa monumen ini telah
diresmikan pada tanggal 19 Juni 1991.
Dalam kunjunganku yang terakhir, situs yang dibangun
diantara aliran sungai dan tebing ini tidak terlalu ramai pengunjung, walaupun
tidak bisa juga dikatakan sepi. Diantaranya yang nampak saat itu adalah sebuah
rombongan SMA yang terkoordinir dan berseragam, beberapa pasang muda-mudi yang
sedang berpacaran, juga beberapa penduduk sekitar yang sekedar ingin bersantai
di warkop yang memang banyak bertebaran di sekitar lokasi.
Sayang sekali dalam kunjunganku tersebut aku tidak sempat
mengambil gambar satu pun. Hal ini membuatku kesulitan untuk menceritakan
keadaan visual kawasan ini. Juga pengetahuanku yang kurang mendalam tentang
peristiwa yang dinamakan Pemberontakan PKI 1948 menimbulkan sedikit kesulitan
untuk menjelaskan secara gamblang dan objektif tentang makna dibalik
pembangunan tempat ini. Paling banyak pengetahuanku tentang peberontakan PKI di
Madiun berasal dari biografi Musso, seorang ketua PKI yang tertembak mati dalam
pelariannya di daerah Ponorogo.
Monumen yang oleh masyarakat umum dikenal dengan nama
monument Kresek ini menempati tanah seluas kurang lebih tiga kali lapagan bola.
Dengan sepasang gapura tinggi sebagai pintu masuk utamanya. Puintu utama ini
menghadap langsung ke jalan raya yang menanjak khas daerah pegunungan. Di
sebelah kanan pintu utama terdapat sebuah pintu lagi yang lebih kecil.
Disekelilingnya terdapat beberapa penjual buah rambutan dan buah durian
(kebetulan saat aku berkunjung sedang musim rambutan dan durian). Disamping
pintu kecil ini mengalir sebuah sungai yang tidak terlalu besar namun dipenuhi
oleh bebatuan.
Begitu memasuki pintu kecil ini, kita akan melihat sebuah
dinding sepanjang dua meter yang bertuliskan nama-nama (lengkap dengan
jabatannya kala itu) korban keganasan PKI yang berjumlah 17 orang, lengkap
dengan patung mayat-mayat bergelimpangan disampingnya. Hal ini tentu saja
dimaksudkan untuk menunjukkan kepada masyarakat atau pengunjung khususnya
tentang betapa kejamnya PKI yang telah membantai 17 orang tersebut. Namun kalau
pemerintah mau konsisten, pemerintah (orde baru) sebenarnya juga harus
membangun dinding yang mungkin panjangnya akan mencapai ratusan meter untuk
menuliskan nama-nama ribuan simpatisan PKI (banyak dari mereka yang sebenarnya
tidak tahu apa-apa) yang juga menjadi korban keganasan tentara dan rakyat yang
anti-komunis, lengkap dengan tanah puluhan meter persegi untuk membangun
replika mayat-mayat yang berserakan.
Di dekat dinding tersebut, terdapat sebuah pendapa
berukuran sekitar enam kali dua meter persegi dengan lantai keramik warna
hitam. Masih bisa kuingat, sewaktu kecil aku sempat melihat pendapa ini
digunakan untuk sebuah latihan silat. Namun saat itu kulihat pendapa ini hanya
digunakan pengunjung untuk duduk-dukuk dan beristirahat. Di bagian lapangan
tengah, tepat di belakang pintu utama, terdapat sebuah lapangan voli sederhana
yang garis-garis batasnya dibuat dari bentangan tali raffia. Menurut
perkiraanku lapangan ini digunakan oleh warga sekitar untuk berolahraga di sore
hari. Dari sinilah kita bisa melihat dengan jelas dua kelompok patung utama di monumen
ini. Dua patung tersebut dibangun di atas tebing dan dapat dicapai dengan
menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi namun cukup luas. Patung yang pertama
berupa enam orang anak yang sedang berdiri, lewat bahasa tubuh dan raut muka,
keenam anak ini digambarkan sedang sangat ceria dengan senyum yeng tersungging
di bibir polosnya. Tepat di bawah sebelah kanan patung ini terdapat sebuah
kolam yang cukup luas namun terlihat tak terawat.
Di sebelah kiri patung enam anak ini terdapat tangga yang
menuju ke puncak tebing. Di sinilah terdapat patung besar yang kuanggap paling
provokatif dan paling banyak mengandung pesan. Patung ini menggambarkan adegan
seorang pria bertubuh besar, kumis tebal, dan bermuka bengis sedang mengayunkan
pedangnya ke leher seorang tua yang sedang berlutut. Orang tua ini terlihat
mengenakan sarung, surban dan kopyah. Patung ini jelas sekali ingin menunjukkan
bagaimana seorang pemuka agama (Islam) yang akan dipancung dengan kejinya oleh
seorang gembong PKI berwajah garang. Adegan ini berkaitan erat dengan isu
pembunuhan pimpinan-pimpinan pondok pesantren oleh kelompok PKI karena tidak
mau mendukung ideologi komunis yang diusungnya. Walaupun kebenaran isu ini
masih menjadi bahan perdebatan, namun profokasi ini terukti sangat berhasil
menanamkan stigma buruk terhadap PKI kepada masyarakat. Bahkan sampai anak cucu
seorang PKI yang tidak tahu apa-apa bisa menjadi korban diskriminasi akibat
stigma negative ini. Di belakang patung ini terdapat sebuah relief yang
menggambarkan peperangan dan pembunuhan oleh sesama orang Indonesia. Juga di
sebelahnya terdapat sebuah prasasti yang isinya mengingatkan para pemuda untuk
senantiasa waspada terhadap bahaya komunisme.
Di luar segala kontrofersi dan isu-isu mengenai PKI, tempat
ini sangat layak dikunjungi sebagai alternative pengisi liburan bersama
keluarga, partner kerja, ataupun dengan sahabat-sahabat lama. Selain karena
suasananya yang sejuk dan asri, juga terdapat banyak sekali pondok-pondok
makanan, yang sayangnya baru aku ketahui setelah beranjak pulang. Ada sedikit
penyesalan karena tidak sempat mampir untuk mencicipi makanannya ataupun
sekedar bersantai di pondokan yang terlihat nyaman dan rindang.
Untuk foto-foto monument ini akan aku tampilkan di postingan
yang lain. Tentunya setelah mengambil gambarnya secara langsung dan mendapat
referensi-referensi yang valid tentang misteri dibalik peristiwa pemberontakan
PKI di Madiun yang terjadi pada tahun 1948.
Oleh : Munirul I (Member of Islamic Association of University Student)






