Nampak sekali suasana hiruk pikuk di salah
satu ruang persalinan sebuah Rumah Sakit Umum. Seorang lelaki paruh baya sibuk
memutar batang rokoknya yang telah terbakar setengah. Butiran-butiran keringat
yang menetes di dahinya telah cukup menjelaskan kalau saat ini dia sedang
sangat gugup. Walaupun terhitung situasi seperti ini bukanlah yang pertama kali
baginya.
Disampingnya, di sebuah kursi lipat
berlogo Rumah Sakit Umum yang menghadap ke sebuah pot dengan bunga lidah mertua
tertanam di atasnya, seorang wanita yang boleh dikatakan telah berumur duduk
sambil bercerita ke orang-orang tentang cucunya yang akan lahir. Tidak ada
kesan gugup sama sekali yang tertangkap dari wajah wanita ini, sesekali ia
menenangkan anaknya yang akan memperoleh seorang putra agi untuk pertama
kalinya setelah istri pertamanya meninggal.
“Ooeek…. Oeekkk….” Seketika udara yang
tadinya agak pengap terasa mengalir dengan butiran-butiran kesejukan di
dalamnya. Tangisan bayi tersebut terdengar sangat mempesona dan membius semua
yang ada di ruang tunggu persalinan tersebut. Dalam sekejap suasana menjadi
hening, tidak ada lagi yang mengobrol satu sama lain.
“Alhamdulillah…” Tanpa dikomando, ucapan
hamdallah terdengar memecah keheningan.
Di dalam ruang persalinan, seorang wanita
yang mengenakan baju khusus pasien berwarna hijau muda tengah tergeletak
bermandikan keringat. Walaupun nafasnya masih tersengal-sengal, namun raut
mukanya sangat jelas memancarkan cahaya kebahagiaan yang begitu terang. Dia
telah lupa bahwa 5 menit yang lalu dia tengah berjuang antara hidup dan mati
penuh rasa sakit. Namun seketika rasa sakitnya hilang, berganti sebuah
kebahagiaan yang tak terkira. Karena baru saja ia telah melahirkan sebuah
harapan baru, tempatnya menitipkan cita-cita yang tertunda serta sebuah sumber
kebahagiaan bagi keluarga yang sudah dua tahun dibinanya.
***
Dihisap dalam-dalam kretek Dji Sam Soe
miliknya, sekedar untuk menghilangkan kebingungan yang telah beberapa hari ini
melandanya. Walaupun putra keduanya itu telah lahir dengan sehat, bukan berarti
semua masalah telah terselesaikan. Karena dia harus memberikan nama yang pas
dan cocok untuk buah cintanya yang baru lahir tersebut.
Sebelumnya, lelaki yang bernama lengkap
Edy Mariman tersebut telah sowan ke salah satu pimpinan sebuah
pondok pesantren yang bernama KH Munirul Ichwan, dia meminta kepada Kyiai
tersebut agar diberikan nama yang baik untuk disematkan kepada putra keduanya. Dan
sayangnya, Sang Kyiai memberikan dua pilihan nama yang membuatnya bingung untuk
memilih.
Di tengah kebingungannya, seorang suster
mendekat dan berkata “Bapak Edy, silahkan anda sudah diperbolehkan menemui anak
bapak.”
“Terima kasih, sus.” Setengah melompat Edy
Mariman bergegas menemui bayi laki-laki yang sudah 9 bulan terakhir ini
dinanti-nanti kelahirannya.
Dengan pakaian khusus, dia masuk ke
ruangan yang berisi puluhan bayi yang beberapa masih berumur beberapa hari.
Langkahnya semakin dipercepatnya menuju tempat yang ditunjukkan oleh suster.
“Ini anak bapak.” Sang suster menunjuk ke
salah satu tempat tidur berisi bayi mungil yang sangat berisi.
Demi melihat bayi yang sedang tertidur
pulas tersebut, membuat ayah dua orang anak tersebut terpana. Wajah bayi itu
seakan bersinar, membius ayahnya sendiri yang sedang tersenyum lebar sangat
bahagia.
Tanpa sadar lelaki yang bertubuh agak
gemuk ini bergumam “Engkaullah harapanku, akan kutitipkan mimpi-mimpi yang tak
bisa kuwujudkan kepadamu.” Dengan terbata-bata dan setelah beberapa kali
mengelap keringat, dia kembali berkata “Sudah bulat, kini kunamai kau Munirul
Ichwan, yang berarti Penerang
Persaudaraan.”
Oleh : Munirul Ichwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar