Selasa, 17 Januari 2012

Penerang Persaudaraan


Nampak sekali suasana hiruk pikuk di salah satu ruang persalinan sebuah Rumah Sakit Umum. Seorang lelaki paruh baya sibuk memutar batang rokoknya yang telah terbakar setengah. Butiran-butiran keringat yang menetes di dahinya telah cukup menjelaskan kalau saat ini dia sedang sangat gugup. Walaupun terhitung situasi seperti ini bukanlah yang pertama kali baginya.

Disampingnya, di sebuah kursi lipat berlogo Rumah Sakit Umum yang menghadap ke sebuah pot dengan bunga lidah mertua tertanam di atasnya, seorang wanita yang boleh dikatakan telah berumur duduk sambil bercerita ke orang-orang tentang cucunya yang akan lahir. Tidak ada kesan gugup sama sekali yang tertangkap dari wajah wanita ini, sesekali ia menenangkan anaknya yang akan memperoleh seorang putra agi untuk pertama kalinya setelah istri pertamanya meninggal.

“Ooeek…. Oeekkk….” Seketika udara yang tadinya agak pengap terasa mengalir dengan butiran-butiran kesejukan di dalamnya. Tangisan bayi tersebut terdengar sangat mempesona dan membius semua yang ada di ruang tunggu persalinan tersebut. Dalam sekejap suasana menjadi hening, tidak ada lagi yang mengobrol satu sama lain.

“Alhamdulillah…” Tanpa dikomando, ucapan hamdallah terdengar memecah keheningan.

Di dalam ruang persalinan, seorang wanita yang mengenakan baju khusus pasien berwarna hijau muda tengah tergeletak bermandikan keringat. Walaupun nafasnya masih tersengal-sengal, namun raut mukanya sangat jelas memancarkan cahaya kebahagiaan yang begitu terang. Dia telah lupa bahwa 5 menit yang lalu dia tengah berjuang antara hidup dan mati penuh rasa sakit. Namun seketika rasa sakitnya hilang, berganti sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Karena baru saja ia telah melahirkan sebuah harapan baru, tempatnya menitipkan cita-cita yang tertunda serta sebuah sumber kebahagiaan bagi keluarga yang sudah dua tahun dibinanya.

***

Dihisap dalam-dalam kretek Dji Sam Soe miliknya, sekedar untuk menghilangkan kebingungan yang telah beberapa hari ini melandanya. Walaupun putra keduanya itu telah lahir dengan sehat, bukan berarti semua masalah telah terselesaikan. Karena dia harus memberikan nama yang pas dan cocok untuk buah cintanya yang baru lahir tersebut.

Sebelumnya, lelaki yang bernama lengkap Edy Mariman tersebut telah sowan ke salah satu pimpinan sebuah pondok pesantren yang bernama KH Munirul Ichwan, dia meminta kepada Kyiai tersebut agar diberikan nama yang baik untuk disematkan kepada putra keduanya. Dan sayangnya, Sang Kyiai memberikan dua pilihan nama yang membuatnya bingung untuk memilih.

Di tengah kebingungannya, seorang suster mendekat dan berkata “Bapak Edy, silahkan anda sudah diperbolehkan menemui anak bapak.”

“Terima kasih, sus.” Setengah melompat Edy Mariman bergegas menemui bayi laki-laki yang sudah 9 bulan terakhir ini dinanti-nanti kelahirannya.

Dengan pakaian khusus, dia masuk ke ruangan yang berisi puluhan bayi yang beberapa masih berumur beberapa hari. Langkahnya semakin dipercepatnya menuju tempat yang ditunjukkan oleh suster.

“Ini anak bapak.” Sang suster menunjuk ke salah satu tempat tidur berisi bayi mungil yang sangat berisi.

Demi melihat bayi yang sedang tertidur pulas tersebut, membuat ayah dua orang anak tersebut terpana. Wajah bayi itu seakan bersinar, membius ayahnya sendiri yang sedang tersenyum lebar sangat bahagia.

Tanpa sadar lelaki yang bertubuh agak gemuk ini bergumam “Engkaullah harapanku, akan kutitipkan mimpi-mimpi yang tak bisa kuwujudkan kepadamu.” Dengan terbata-bata dan setelah beberapa kali mengelap keringat, dia kembali berkata “Sudah bulat, kini kunamai kau Munirul Ichwan, yang berarti Penerang Persaudaraan.”
Oleh : Munirul Ichwan


Nb : Bayi tersebut lahir tepat pada tanggal 25 Maret 1991 di RSUD Dr. Soedono Madiun. Dua pilihan nama yang diberikan oleh Sang Kyai adalag Wazir fathoni dan Munirul Ichwan, namanya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar