Senin, 30 Januari 2012

Monumen Kresek : Memoar sebuah Pemberontakan


Udara sejuk, sungai jernih dan dangkal dengan batuan yang tak beraturan, lengkap panorama sawah yang sedang hijau-hijaunya tentu merupakan sebuah perpaduan yang sangat indah. Kombinasi alami seperti ini salah satunya dapat kita temukan di sekitaran Kecamatan Wungu, yang masuk dalam wilayah kabupaten Madiun. Kawasan yang dapat berupa dataran tinggi ini bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit dari pusat kota dengan kendaraan pribadi. Pemandangan di kanan kiri jalan yang hijau khas pedesaan membuat perjalanan menjadi menyenangkan dan jauh dari kata membosankan.

Ada beberapa tempat di kawasan ini yang bias dijadikan sebagai tujuan wisata. Salah satunya adalah monument pemberontakan PKI yang terletak di Desa Kresek. Jika dilihat dari salah satu prasasti yang terdapat dalam komplek monument tersebut, kita akan tahu bahwa monumen ini telah diresmikan pada tanggal 19 Juni 1991.

Dalam kunjunganku yang terakhir, situs yang dibangun diantara aliran sungai dan tebing ini tidak terlalu ramai pengunjung, walaupun tidak bisa juga dikatakan sepi. Diantaranya yang nampak saat itu adalah sebuah rombongan SMA yang terkoordinir dan berseragam, beberapa pasang muda-mudi yang sedang berpacaran, juga beberapa penduduk sekitar yang sekedar ingin bersantai di warkop yang memang banyak bertebaran di sekitar lokasi.

Sayang sekali dalam kunjunganku tersebut aku tidak sempat mengambil gambar satu pun. Hal ini membuatku kesulitan untuk menceritakan keadaan visual kawasan ini. Juga pengetahuanku yang kurang mendalam tentang peristiwa yang dinamakan Pemberontakan PKI 1948 menimbulkan sedikit kesulitan untuk menjelaskan secara gamblang dan objektif tentang makna dibalik pembangunan tempat ini. Paling banyak pengetahuanku tentang peberontakan PKI di Madiun berasal dari biografi Musso, seorang ketua PKI yang tertembak mati dalam pelariannya di daerah Ponorogo.

Monumen yang oleh masyarakat umum dikenal dengan nama monument Kresek ini menempati tanah seluas kurang lebih tiga kali lapagan bola. Dengan sepasang gapura tinggi sebagai pintu masuk utamanya. Puintu utama ini menghadap langsung ke jalan raya yang menanjak khas daerah pegunungan. Di sebelah kanan pintu utama terdapat sebuah pintu lagi yang lebih kecil. Disekelilingnya terdapat beberapa penjual buah rambutan dan buah durian (kebetulan saat aku berkunjung sedang musim rambutan dan durian). Disamping pintu kecil ini mengalir sebuah sungai yang tidak terlalu besar namun dipenuhi oleh bebatuan.

Begitu memasuki pintu kecil ini, kita akan melihat sebuah dinding sepanjang dua meter yang bertuliskan nama-nama (lengkap dengan jabatannya kala itu) korban keganasan PKI yang berjumlah 17 orang, lengkap dengan patung mayat-mayat bergelimpangan disampingnya. Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk menunjukkan kepada masyarakat atau pengunjung khususnya tentang betapa kejamnya PKI yang telah membantai 17 orang tersebut. Namun kalau pemerintah mau konsisten, pemerintah (orde baru) sebenarnya juga harus membangun dinding yang mungkin panjangnya akan mencapai ratusan meter untuk menuliskan nama-nama ribuan simpatisan PKI (banyak dari mereka yang sebenarnya tidak tahu apa-apa) yang juga menjadi korban keganasan tentara dan rakyat yang anti-komunis, lengkap dengan tanah puluhan meter persegi untuk membangun replika mayat-mayat yang berserakan.

Di dekat dinding tersebut, terdapat sebuah pendapa berukuran sekitar enam kali dua meter persegi dengan lantai keramik warna hitam. Masih bisa kuingat, sewaktu kecil aku sempat melihat pendapa ini digunakan untuk sebuah latihan silat. Namun saat itu kulihat pendapa ini hanya digunakan pengunjung untuk duduk-dukuk dan beristirahat. Di bagian lapangan tengah, tepat di belakang pintu utama, terdapat sebuah lapangan voli sederhana yang garis-garis batasnya dibuat dari bentangan tali raffia. Menurut perkiraanku lapangan ini digunakan oleh warga sekitar untuk berolahraga di sore hari. Dari sinilah kita bisa melihat dengan jelas dua kelompok patung utama di monumen ini. Dua patung tersebut dibangun di atas tebing dan dapat dicapai dengan menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi namun cukup luas. Patung yang pertama berupa enam orang anak yang sedang berdiri, lewat bahasa tubuh dan raut muka, keenam anak ini digambarkan sedang sangat ceria dengan senyum yeng tersungging di bibir polosnya. Tepat di bawah sebelah kanan patung ini terdapat sebuah kolam yang cukup luas namun terlihat tak terawat.

Di sebelah kiri patung enam anak ini terdapat tangga yang menuju ke puncak tebing. Di sinilah terdapat patung besar yang kuanggap paling provokatif dan paling banyak mengandung pesan. Patung ini menggambarkan adegan seorang pria bertubuh besar, kumis tebal, dan bermuka bengis sedang mengayunkan pedangnya ke leher seorang tua yang sedang berlutut. Orang tua ini terlihat mengenakan sarung, surban dan kopyah. Patung ini jelas sekali ingin menunjukkan bagaimana seorang pemuka agama (Islam) yang akan dipancung dengan kejinya oleh seorang gembong PKI berwajah garang. Adegan ini berkaitan erat dengan isu pembunuhan pimpinan-pimpinan pondok pesantren oleh kelompok PKI karena tidak mau mendukung ideologi komunis yang diusungnya. Walaupun kebenaran isu ini masih menjadi bahan perdebatan, namun profokasi ini terukti sangat berhasil menanamkan stigma buruk terhadap PKI kepada masyarakat. Bahkan sampai anak cucu seorang PKI yang tidak tahu apa-apa bisa menjadi korban diskriminasi akibat stigma negative ini. Di belakang patung ini terdapat sebuah relief yang menggambarkan peperangan dan pembunuhan oleh sesama orang Indonesia. Juga di sebelahnya terdapat sebuah prasasti yang isinya mengingatkan para pemuda untuk senantiasa waspada terhadap bahaya komunisme.

Di luar segala kontrofersi dan isu-isu mengenai PKI, tempat ini sangat layak dikunjungi sebagai alternative pengisi liburan bersama keluarga, partner kerja, ataupun dengan sahabat-sahabat lama. Selain karena suasananya yang sejuk dan asri, juga terdapat banyak sekali pondok-pondok makanan, yang sayangnya baru aku ketahui setelah beranjak pulang. Ada sedikit penyesalan karena tidak sempat mampir untuk mencicipi makanannya ataupun sekedar bersantai di pondokan yang terlihat nyaman dan rindang.


Untuk foto-foto monument ini akan aku tampilkan di postingan yang lain. Tentunya setelah mengambil gambarnya secara langsung dan mendapat referensi-referensi yang valid tentang misteri dibalik peristiwa pemberontakan PKI di Madiun yang terjadi pada tahun 1948.

Oleh : Munirul I (Member of Islamic Association of University Student)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar