Kamis, 19 Januari 2012

Puisi Soe Hok Gie

Terhitung belum terlalu lama aku mengenal tokoh ini. Kira-kira baru di smester 3 aku mendengar nama Soe Hok Gie, itupun hanya sekilas. Namun aku lengsung menyimpan kekaguman terhadap salah satu tokoh pergerakan mahasiswa angkatan '66 ini semenjak  melihat film 'GIE' karya sutradara Riri Riza. yang paling membuatku terkesan adalah bait-bait puisi karya lulusan Fakultas Sastra UI ini yang terasa sangat hidup, meskipun aku juga memiliki beberapa kritik tentang sikapnya terhadap organisasi mahasiswa ekstrra kampus.

Dan inilah diantaranya puisi karya Soe Hok Gie yang paling aku suka, puisi yang ditulis oleh seorang pemuda idealis yang sayangnya berusia pendek.

"Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.
Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa."
          (CSD, Selasa, 11 November 1969)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar