Sesungguhnya kekuatan terbesar dalam diri
manusia bukan terletak pada fisik ataupun kemampuan bermain otak. Namun
kekuatan tersebut terletak di dalam hati masing-masing.
Setiap manusia dilahirkan dengan hati yang
putih dan suci. Hatilah yang bisa membuat kita tahu benar salah. Sejahat apapun
manusia, walaupun sedikit, hatinya akan selalu berkata tidak ketika ia
melakukan kejahatan. Namun, jika kejahatan tersebut tetap dilakukannya maka
bukan berarti hatinya yang kotor. Melainkan dirinya sendiri yang tidak bisa
melindungi hatinya dan akhirnya hanya menuruti hawa nafsunya tanpa mendengarkan
apa kata hatinya.
Oleh sebab itu, agar kita bisa menjadi
manusia yang berbudi luhur, kita harus mempelajari berbagai macam ilmu. Hal itu
ditujukan agar diri kita mampu menjaga dan menuruti apa kata hati kita.
Sehingga dengan begitu kita dapat membedakan benar dan salah.
Tapi jangan sampai ilmu membuat kita lupa.
Menjadikan kita Adigang,
Adigung, Adiguno. Kalau sudah
begitu, ilmu bukan lagi sebagaipenjaga hati, namun ilmu akan menjajah hati kita
hingga tak lagi kita hiraukan lagi apa kata hati kita.
Hidup yang sempurna adalah jika kita mampu
menempatkan ilmu dan hati sesuai dengan fungsi masing-masing. Kita gunakan hati
untuk merasakan suatu keadaan, lalu hati akan memerintahkan apa yang harus atau
tidak boleh kita lakukan. Sedangkan ilmu adalah senjata kita untuk menuruti apa
yang telah diinstruksikan hati serta untuk menjaga hati kita agar tetap berperan
dalam hidup.
Karenanya, jika kita ingin hidup bahagia
dunia akhirat kita tidak boleh menolak apa kata hati kita (ojo selak karo batine). Karena hati merupakan
anugerah dari Allah SWT yang paling berharga. Allah menjadikan hati sebagai
kompas dalam perjalanan hidup di dunia yang singkat ini.
Jika kita mampu melaksanakannya, insya
Allah kita akan menjadi manusia yang berbudi luhur, tahu benar dan salah, serta
bertakwa kepada Allah SWT. Sehingga benarlah falsafah SH Terate yang berbunyi :
“Manusia
dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan, tetapi manusia tidak dapat
dikalahkan selama manusia itu masih setia pada hatinya sendiri.”
Oleh : Munirul I.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar