Aku masih ingat sekali sewaktu kecil dulu sering diajak ibuku ke wartel (warung telekomunikasi) untuk menelpon saudara-saudara yang tinggal di Jakarta dan Cilacap. Paling tidak sekali dalam seminggu ibu ke wartel yang memang saat itu sedang menjamur di pinggiran kota Madiun. Ritual menelpon saudara-saudara ini selalu dilakukan ibu di pagi hari setelah subuh, dimana pada jam-jam tersebutlah tarif telpon sedang sangat murah sehingga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk bisa mengobrol secara leluasa dengan saudara-saudara yang hanya bisa bertemu langsung sekali dalam setahun.
Bisa dibilang, kala itu wartel menjadi sebuah primadona bisnis yang sangat menggiurkan. Hampir di setiap jalan kita bisa menemukan wartel dengan berbagai ukuran dan jumlah bilik. Sampai saat aku menginjak usia sekolah dasar, aku masih sering menggunakan jasa wartel. Selain karena sampai sekarang di lingkunganku sendiri belum terjamah jaringan telpon rumah (telkom), saat itu ponsel masih menjadi barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh kalangan ekonomi atas.
Namun, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin hari semakin pesat, keberadaan wartel tiba-tiba saja menghilang. Bahkan saat ini hampir tidak dapat kita temui lagi keberadaan warung-warung yang dulu selalu menghiasi etalase depannya dengan tulisan “melayani lokal, interlokal, dan SLI”. Semakin terjangkaunya harga ponsel bagi kalangan ekonomi menengah saat itu telah mengancam keberlangsungan hidup bisnis wartel, ditambah lagi dengan perang tarif dari provider-provider jaringan telekomunikasi tanpa kabel baik GSM maupun CDMA dirasakan semakin mencekik bagi para pengusaha wartel. Hingga akhirnya, setelah saat ini hampir semua orang telah memegang lebih dari satu ponsel, keberadaan wartel bisa dikatakan telah punah digerus pesatnya perkembangan teknologi.
Berkaca dari fenomena punahnya wartel, tidak ada salahnya jika saat ini kita mulai bertanya tentang masa depan bisnis warung internet atau biasa disingkat warnet yang saat ini juga sedang menjadi primadona. Bisnis warnet ini awalnya hanya terpusat di lingkungan kampus dan sekolah-sekolah, karena memang kelompok mahasiswa dan pelajarlah yang dianggap paling membutuhkan layanan sambungan internet, lalu kemudian menjamur sampai ke hampir semua kota-kota kecamatan. Warnet sendiri biasanya menawarkan layanan browsing, chatting, game online, printing, scanning, dan lain sebagainya. Tarifnya pun juga relatif terjangkau, bahkan aku pernah menemui sebuah warnet yang diisi penuh dengan anak-anak usia SD yang menggunakan layanan sambungan internet untuk berman game online.
Bisnis warnet ini tentu saja terlihat sangat menjanjikan. Di tengah derasnya arus informasi dan transformasi masyarakat kita yang mulai melek internet, tentu saja membuat warnet menjadi hal yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Tapi, harus kita ketahui bahwa dibalik omset tinggi yang dijanjikannya, ada ancaman yang harus diwaspadai sepenuhnya bagi pemilik ataupun peminat usaha warnet. Hal ini tentu saja sepenuhnya berkaca pada fenomena punahnya wartel yang telah terjadi pada dasawarsa yang lalu, yang tidak mustahil juga akan terrjadi pada bisnis warnet di tahun-tahun yang akan datang.
Ancaman yang pertama adalah semakin murahnya harga barang-barang elektronik berbasis komputer saat ini. Bahkan telah terjadi pergeseran untuk notebook ataupun netbook yang dulunya merupakan kebutuhan tersier kini menjadi kebutuhan sekunder bahkan primer. Di kalangan perguruan tinggi saja, bisa dikatakan hampir seluruh mahasiswa, dari berbagai latar belakang ekonomi, saat ini telah memiliki notebook atau netbook. Belum lagi untuk mahasiswa yang berasal dari golongan ekonomi atas telah banyak juga yang menenteng komputer tablet dari berbagai merk untuk memenuhi kebutuhannya akan koneksi internet.
Yang kedua adalah semakin murahnya harga modem dan paket provider internet. Dulu, harga modem yang berada di kisaran 500ribuan jelas tidak terjangkau untuk kalangan mahasiswa. Sehingga walaupun sudah memiliki notebook ataupun netbook, terpaksa para mahasiswa masih menggunakan jasa warnet untuk mendapatkan sambungan internet. Namun, saat ini sudah biasa kita temukan dengan harga dibawah 200 ribu rupiah dengan kualitas yang cukup memuaskan. Belum lagi saat ini paket layanan internet, yang dulu biasa digunakan hanya oleh kalangan yang sudah berpenghasilan tetap, juga semakin terjangkau bagi kalangan mahasiswa.
Dan yang ketiga adalah semakin mudahnya mendapatkan layanan internet gratis di berbagai ruang publik. Mendesaknya kebutuhan akan sambungan internet telah menyadarkan berbagai macam instansi, dari mulai sekolah, kampus, organisasi, bahkan kafe-kafe untuk menyediakan layanan internet gratis kepada para kliennya. Layanan internet gratis ini berupa sambungan wi-fi yang bisa digunakan untuk banyak notebook, netbook, komputer tablet, dan berbagai gadged canggih lainnya. Tentu saja layanan internet gratis tersebut menjadi sebuah solusi kreatif bagi yang menginginkan koneksi internet tanpa harus dengan mengeluarkan uang lebih untuk membayar tarif warnet.
Tiga ancaman tersebut saja aku rasa sudah cukup membuat para pemilik usaha warnet khawatir akan nasib warnet di tahun-tahun yang akan mendatang. Dan waktu yang ada saat ini sudah seharusnya digunakan secara bijak untuk menemukan solusi kreatif yang mampu menghindarkan warnet dari nasib tragis yang telah dialami saudara tuanya yang juga berawalan war (baca : wartel). Dan perkembangan teknologi, khususnya di bidang informasi, saat inilah yang nantinya akan menjawab pertanyaan kita tentang masa depan warnet di tahun-tahun yang akan datang.







