Rabu, 29 Februari 2012

Masa Depan Warnet?


Aku masih ingat sekali sewaktu kecil dulu sering diajak ibuku ke wartel (warung telekomunikasi) untuk menelpon saudara-saudara yang tinggal di Jakarta dan Cilacap. Paling tidak sekali dalam seminggu ibu ke wartel yang memang saat itu sedang menjamur di pinggiran kota Madiun. Ritual menelpon saudara-saudara ini selalu dilakukan ibu di pagi hari setelah subuh, dimana pada jam-jam tersebutlah tarif telpon sedang sangat murah sehingga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk bisa mengobrol secara leluasa dengan saudara-saudara yang hanya bisa bertemu langsung sekali dalam setahun.

Bisa dibilang, kala itu wartel menjadi sebuah primadona bisnis yang sangat menggiurkan. Hampir di setiap jalan kita bisa menemukan wartel dengan berbagai ukuran dan jumlah bilik. Sampai saat aku menginjak usia sekolah dasar, aku masih sering menggunakan jasa wartel. Selain karena sampai sekarang di lingkunganku sendiri belum terjamah jaringan telpon rumah (telkom), saat itu ponsel masih menjadi barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh kalangan ekonomi atas.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin hari semakin pesat, keberadaan wartel tiba-tiba saja menghilang. Bahkan saat ini hampir tidak dapat kita temui lagi keberadaan warung-warung yang dulu selalu menghiasi etalase depannya dengan tulisan “melayani lokal, interlokal, dan SLI”. Semakin terjangkaunya harga ponsel bagi kalangan ekonomi menengah saat itu telah mengancam keberlangsungan hidup bisnis wartel, ditambah lagi dengan perang tarif dari provider-provider jaringan telekomunikasi tanpa kabel baik GSM maupun CDMA dirasakan semakin mencekik bagi para pengusaha wartel. Hingga akhirnya, setelah saat ini hampir semua orang telah memegang lebih dari satu ponsel, keberadaan wartel bisa dikatakan telah punah digerus pesatnya perkembangan teknologi.

Berkaca dari fenomena punahnya wartel, tidak ada salahnya jika saat ini kita mulai bertanya tentang masa depan bisnis warung internet atau biasa disingkat warnet yang saat ini juga sedang menjadi primadona. Bisnis warnet ini awalnya hanya terpusat di lingkungan kampus dan sekolah-sekolah, karena memang kelompok mahasiswa dan pelajarlah yang dianggap paling membutuhkan layanan sambungan internet, lalu kemudian menjamur sampai ke hampir semua kota-kota kecamatan. Warnet sendiri biasanya menawarkan layanan browsing, chatting, game online, printing, scanning, dan lain sebagainya. Tarifnya pun juga relatif terjangkau, bahkan aku pernah menemui sebuah warnet yang diisi penuh dengan anak-anak usia SD yang menggunakan layanan sambungan internet untuk berman game online.
bagaimana nasib warnet di masa mendatang?


Bisnis warnet ini tentu saja terlihat sangat menjanjikan. Di tengah derasnya arus informasi dan transformasi masyarakat kita yang mulai melek internet, tentu saja membuat warnet menjadi hal yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Tapi, harus kita ketahui bahwa dibalik omset tinggi yang dijanjikannya, ada ancaman yang harus diwaspadai sepenuhnya bagi pemilik ataupun peminat usaha warnet. Hal ini tentu saja sepenuhnya berkaca pada fenomena  punahnya wartel yang telah terjadi pada dasawarsa yang lalu, yang tidak mustahil juga akan terrjadi pada bisnis warnet di tahun-tahun yang akan datang.

Ancaman yang pertama adalah semakin murahnya harga barang-barang elektronik berbasis komputer saat ini. Bahkan telah terjadi pergeseran untuk notebook ataupun netbook yang dulunya merupakan kebutuhan tersier kini menjadi kebutuhan sekunder bahkan primer. Di kalangan perguruan tinggi saja, bisa dikatakan hampir seluruh mahasiswa, dari berbagai latar belakang ekonomi, saat ini telah memiliki notebook atau netbook. Belum lagi untuk mahasiswa yang berasal dari golongan ekonomi atas telah banyak juga yang menenteng komputer tablet dari berbagai merk untuk memenuhi kebutuhannya akan koneksi internet.

Yang kedua adalah semakin murahnya harga modem dan paket provider internet. Dulu, harga modem yang berada di kisaran 500ribuan jelas tidak terjangkau untuk kalangan mahasiswa. Sehingga walaupun sudah memiliki notebook ataupun netbook, terpaksa para mahasiswa masih menggunakan jasa warnet untuk mendapatkan sambungan internet. Namun, saat ini sudah biasa kita temukan dengan harga dibawah 200 ribu rupiah dengan kualitas yang cukup memuaskan. Belum lagi saat ini paket layanan internet, yang dulu biasa digunakan hanya oleh kalangan yang sudah berpenghasilan tetap, juga semakin terjangkau bagi kalangan mahasiswa.

Dan yang ketiga adalah semakin mudahnya mendapatkan layanan internet gratis di berbagai ruang publik. Mendesaknya kebutuhan akan sambungan internet telah menyadarkan berbagai macam instansi, dari mulai sekolah, kampus, organisasi, bahkan kafe-kafe untuk menyediakan layanan internet gratis kepada para kliennya. Layanan internet gratis ini berupa sambungan wi-fi yang bisa digunakan untuk banyak notebook, netbook, komputer tablet, dan berbagai gadged canggih lainnya. Tentu saja layanan internet gratis tersebut menjadi sebuah solusi kreatif bagi yang menginginkan koneksi internet tanpa harus dengan mengeluarkan uang lebih untuk membayar tarif warnet.

Tiga ancaman tersebut saja aku rasa sudah cukup membuat para pemilik usaha warnet khawatir akan nasib warnet di tahun-tahun yang akan mendatang. Dan waktu yang ada saat ini sudah seharusnya digunakan secara bijak untuk menemukan solusi kreatif yang mampu menghindarkan warnet dari nasib tragis yang telah dialami saudara tuanya yang juga berawalan war (baca : wartel). Dan perkembangan teknologi, khususnya di bidang informasi, saat inilah yang nantinya akan menjawab pertanyaan kita tentang masa depan warnet di tahun-tahun yang akan datang.

Rabu, 22 Februari 2012

Pejuang 'Galau' Jalanan


Sebagai manusia terkadang kita memang butuh waktu dimana kita bisa sendiri. Menikmati suasana sepi, di dalam sebuah kamar kos yang sempit ditemani alunan musik blues yang menghanyutkan.  Tak lupa semilir angin yang berasal dari kipas angin buntut sedikit membantu mengatasi panasnya kota walau di malam hari.

Dalam suasana tersebut, semua jadi nampak sentimentil dan sangat tenang. Ada perasaan aneh yang aku rasakan, entah apa itu tapi aku sangat malu untuk menyebutnya dengan kata ‘galau’. Entah kenapa semua bayang-bayang masa lalu tiba-tiba melintas dalam kepalaku. Sesaat muncul kenangan masa kecilku, dimana aku masih bisa menggunakan indra penglihat, perasa, dan pendengaranku untuk mengetahui keberadaan anggota keluargaku yang utuh secara langsung, dimana aku masih bisa bercerita banyak hal kepada bapak, dan dimana aku masih bisa bergelayut diantara dua kursi depan mobil yang disana ada bapak dan ibuku.

Sesaat kemudian, muncul kenangan bersama-sama teman masa kecil yang tak pernah bisa dilupaan. Terekam jelas dimana aku bisa menikmati waktu menyenangkan bersama mereka. Aku merindukan saat dimana kita bisa saling bercanda, membual, dan terkadang bertengkar tanpa sedikitpun memendam benci yang berkepanjangan. Aku tak pernah membayangkan keadaannya kini sudah sangat berbeda.

Waktu telah mengubah segalanya. Aku seperti tidak mengenal mereka lagi. Sedih rasanya ketika sekarang bertemu hanya bisa saling sapa sekedarnya, tanpa ada lagi bahan yang bisa diobrolkan, apalagi diuat bercanda. Kita sudah sama-sama lupa cara menikmati waktu bersama.

Tak lama kemudian, muncul lagi bayangan diriku tengah memakai seragam putih abu-abu. Aku masih sangat ingat bagaimana senangnya aku ketika untuk pertama kalinya pergi ke sekolah dengan mengenakan celana panjang. Dengan SIM C dan helm pertamaku, kumulailah fase baru dalam kehidupanku. Fase hidup yang dikatakan orang-orang sebagai masa ABG.

Masa ini mungkin menjadi masa yang sangat dinamis dalam hidupku. Disinilah aku sempat merasakan kesedihan yang mendalam karena harus kehilangan seorang figur yang sangat aku cintai dan butuhkan. Tapi disinilah aku bisa mengenal sahabat-sahabat yang tetap dekat sampai saat ini. Dan di masa inilah aku mengalami konflik batin yang sangat hebat untuk menentukan masa depanku. Sebuah masa depan yang penuh dengan obsesi dan ambisi, masa depan yang saat ini sedang tertatih kuperjuangkan.

Semoga Tuhan selalu meridhoi jalan ini. Jalan hidup seorang yang sekedar ingin memplokamirkan dirinya sebagai Pejuang Jalanan.

Selasa, 21 Februari 2012

Hentikan Slogan #Indonesiatanpa......


Beberapa waktu ini Indonesia sedang diramaikan dengan slogan-slogan bernada sentimen yang terkesan ingin menghilangkan eksistensi kelompok-kelompok tertentu dari bumi Indonesia. Setelah muncul slogan #IndonesiatanpaFPI yang juga diikuti dengan sebuah aksi damai di bundaran HI, kini muncul lagi slogan baru #IndonesiatanpaJIL yang kurang lebih merupakan reaksi dari munculnya slogan yang pertama. Terlepas dari latar belakang yang menyebabkan slogan-slogan tersebut muncul, saya membayangkan para founding father negara ini pasti sedang bersedih melihat perkembangan negara yang dulu diperjuangkannya ini. Bagaimana tidak, mereka dahulu telah berkompromi untuk menjadi satu melawan penjajah walaupun sepenuhnya sadar bahwa mereka berbeda dalam segala hal. Mulai dari suku, agama, bahasa, budaya, adat-istiadat, dan lain-lain. Sentimen kesukuan, keagamaan, dan lain sebagainya disingkirkan demi satu tujuan, yaitu Indonesia yang bermartabat.

Namun, slogan-slogan yang menyisipkan kata ‘tanpa’ diantara kata ‘Indonesia’ dan nama suatu kelompok tertentu kita sadari atau tidak telah mencederai kompromi luhur tersebut. Padahal, pada pita yang selama ini digenggam oleh garuda kebanggaan kita jelas sekali tertulis sebuah kalimat sarat makna. Sebuah semboyan yang dikutip dari leluhur kita dari jaman Majapahit yang berbunyi  Bhineka Tunggal Ika atau yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua. Berbeda disini mencakup segala hal, termasuk masalah pemikiran dan paham keagamaan. Dan kata ‘satu’ ini berarti bahwa siapapun, yang telah memenuhi syarat sebagai warga negara Indonesia, adalah bagian dari bangsa yang satu, yang wajib dilindungi hak-haknya sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.

Jika kita lihat lagi ke belakang, aksi penolakan terhadap suatu kelompok tertentu ini diawali oleh perbedaan cara berpikir dan pengambilan kesimpulan. Contoh kasus ini dapat terlihat jelas dari aksi penolakan terhadap FPI yang didasarkan pada sikap organisasi yang terkesan menghalalkan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuannya. Walaupun Indonesia sangat menghargai perbedaan kebebasan berpendapat, bukan berarti jalan kekerasan yang ditempuh oleh FPI ini dapat dibenarkan. Semua orang juga tahu, dan saya ingat hal ini diajarkan sewaktu SD dalam mata pelajaran PPKn, bahwa kebebasan yang dijamin oleh negara adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Hal ini kurang kebih berarti, bahwa kita sebenarnya bebas melakukan segala sesuatu, tapi kebebasan kita ini juga dibatasi oleh kebebasan orang lain. Jadi, sebenarnya FPI bebas melakukan segala sesuatu, tapi jika yang dilakukannya itu tindakan kekerasan yang melanggar kebebasan orang lain untuk mendapatkan rasa aman, tentu saja ini telah melanggar prinsip kebebasan yang bertanggung jawab yang telah diajarkan oleh para guru PPKn sejak sekolah dasar.

Aksi penolakan terhadap FPI ini kemudian menyulut reaksi balasan yang saya pikir agak kurang tepat, yaitu aksi penolakan terhadap JIL atau Jaringan Islam Liberal yang dimotori oleh Luthfi Assyaukani, Ulil Abshar Abdilla, Guntur Romli, dlll. Saya katakan tidak tepat disini karena aksi penolakan FPI di bundaran HI dimotori oleh seseorang yang bukan anggota JIL, dan penggalangan massa dilakukan melalui media twitter. Namun, memang sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa JIL adalah kelompok islam yang paling dibenci oleh FPI selain Ahmadiyah.

Aksi-aksi ‘tanpa’ ini harus segera ditangani oleh pemerintah khususnya kemendagri, entah melalui mediasi antar kelompok yang bermusuhan ataupun penertiban ormas yang pro kekerasan. Karena jika aksi-aksi seperti ini terus menerus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan menimbulkan konflik horisontal yang tentunya tidak kita inginkan. Konflik ini bisa terwujud dalam dua bentuk yang sama-sama mengerikan bagi sebuah bangsa yang mengaku beradab. Pertama, jika salah satu kelompok merupakan sebuah kelompok yang lemah secara fisik dan jumlah massa, maka yang terjadi adalah penindasan. Hal ini sudah pernah terjadi pada tragedi cikeusik beberapa waktu yang lalu yang mengakibatkan tewasnya enam orang anggota Jamaah Ahmadiyah. Dan jika kedua kelompok sama-sama memiliki basis massa yang kuat dan sama-sama arogan, yang akan terjadi adalah bentrokan fisik secara terbuka. Kasus bentrok seperti ini sering sekali terjadi di Indonesia, di Madiun Jawa Timur hampir setiap tahun terjadi bentrokan fisik antar aliran perguruan silat yang telah menimbulkan kerugian jiwa dan material yang tidak bisa dikatakan sedikit.

Jika memang pemerintah tidak menginginkan konflik, dalam bentuk apapun, ini terjadi, maka sebuah tindakan nyata harus segera dilakukan. Pembubaran FPI, JIL, dan organisasi-organisasi lainnya merupakan plihan terakhir yang seharusnya diambil oleh pemerintah. Karena pembubaran seperti ini bisa menimbulkan stigma negatif di masyarakat sepert yang telah dialami para aktivis dan simpatisan PKI yang bahkan sampai anak cucunya yang tidak terlibat apapun juga turut mendapatkan perlakuan yang tidak adil.

Untuk FPI, pemerintah harus segera menindak tegas Rizieq Shihab (saya sengaja tidak memanggilnya habib) dan Munarman yang merupakan dedengkot dan inspirasi bagi anggota-anggota FPI dalam melakukan tindakan-tindakan kekerasan selama ini. Karena melihat anggota FPI yang rata-rata berpendidikan rendah sehingga sangat patuh terhadap pemimpinnya, maka cara yang paling tepat untuk mengubah haluan gerakan ini adalah dengan cara mengganti atau memperingatkan pemimpinnya untuk tidak lagi menggunakan kekerasan dan melanggar hak serta kebebasan kelompok lain. Saya pikir, Presiden SBY yang merupakan mantan Jendral TNI Angkatan Darat seharusnya bisa menjadi seseorang yang disegani, atau bahkan ditakuti, oleh Rizieq yang kabarnya ‘hanya’ dibekingi oleh petinggi-petinggi Polri.

Sedangkan untuk JIL, pemerintah seharusnya juga menghimbau agar para tokohnya mencari lagi cara yang lebih smooth untuk menyampaikan gagasan atau pemikirannya. Hal ini didasarkan pada karakter orang-orang Indonesia yang belum terbiasa berpikir secara bebas dan rasional serta sebagian masih terbelenggu pada dgma-dogma mistis yang penuh takhayul. Hal ini diperparah dengan mudah terprovokasinyanya masyarakat Indonesia sehingga tidak sedikit pihak-pihak yang memanfatkaannya untuk tujuan-tujuan tertentu yang destruktif.

Selain itu, secara riil pemerintah juga harus segera bertindak dengan mengeluarkan UU yang mengatur hubungan-hubungan antar kelompok di Indonesia, mulai dari skala nasional sampai ke daerah. Dan sesuai dengan UUD 1945, berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat merupakan sebuah kebebasan yang dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Kebebasan itu harus terjamin tanpa terkecuali, karena semua orang yang berstatus warga negara Indonesia tidak boleh diusir, dihilangkan, ataupun dibatasi ruang aktualisasi dirinya serta wajib juga bersatu untuk mempertahankan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang sampai saat ini tidak pernah lepas dari cengkraman sang garuda.

Oleh : Munirul I (General Secretary of Islamic Association of University Student)

Senin, 20 Februari 2012

Valentine Haram?

Tanggal 14 februari yang lalu aku sempat melihat status facebook seorang teman yang kira-kira berbunyi “Kok masih ada ya yang kepikiran merayakan valentine. Ga taukah kalian kalau itu haram.” Sejenak aku terkaget membaca status tersebut. bukan karena aku termasuk remaja labil yang terosebsi dengan hari kasih sayang dunia teresebut, melainkan aku terkaget karena telah mendengar(membaca) sebuah fatwa haram dari seorang yang biasa-biasa saja, bukan santri, apalagi ahli agama (ulama).

Kejadian haram-mengharamkan seperti ini telah sering sekali aku temui, terlebih setelah menginjakkan kaki ke jenjang perguruan tinggi yang mana merupakan masa-masa proses mempertajam kemampuan berpikir. Ketika tanggal 25 desember, orang-orang ramai mengharamkan pengucapan selamat natal ataupun hari besar agama lainnya, pun begitu dengan ucapan ulang tahun tak luput jadi korban pengharaman massal ini.

Dari situ aku berpikir, apakah semudah itu mengharamkan sesuatu yang padahal tidak tertulis secara eksplisit di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dari dulu sampai sekarang, aku belum pernah menemui ada ayat yang mengharamkan hari valentine. Memang perayaan hari valentine tidak pernah disebutkan di dalam Al-Qur’an, tapi bukankah merayakan idul fitri dan lain-lainnya juga tidak ada di dalam Al-Qur’an. Dan apakah semua hal yang tidak berasal dari arab itu berarti haram? Walaupun secara pribadi aku tidak pernah melakukan perayaan khusus, ataupun sekedar membagi cokelat kepada orang-orang terdekat, aku tidak pernah setuju dengan fatwa haram terhadap hari valentine yang terkesan tendensius.

Dan jika kulihat ke belakang, kebanyakan yang suka mengharamkan segala sesuatu yang terlihat tidak ‘islami’ justru bukan dari golongan alim ulama yang mempunyai track record bagus di bidang keagamaan. Banyak sekali Kyai-kyai yang raut wajahnya berkharisma justru santai-santai saja menghadapi isu-isu hari valentine. Padahal, tak perlu diragukan lagi mereka sangat paham akan ilmu fiqh, syari’at, aqidah, tassawuf, dan lain sebagainya. Mereka-mereka yang suka mengeluarkan kata-kata haram menurutku justru orang-orang yang masih terbilang baru dalam belajar agama. Mereka-mereka itu adalah para aktivis dakwah dari golongan tarbiyah, mentor-mentor kampus, dan tak ketinggalan juga ustadz-ustadz komersil yang lebih sering muncul di program infotainment ketimbang di majelis-majelis dakwah.

Ada dua argumen yang paling sering digunakan oleh mentor-mentor kampus ataupun ustadz-ustadz komsersil untuk mengharamkan perayaan hari valentine. Yang pertama adalah karena hari ini identik dengan perzinahan, hal ini dikuatkan pula dengan indikasi adanya pihak-pihak tertentu yang menjual cokelat berhadiah kondom. Namun, jika kita mau melihat secara objektif, bukankah di bulan ramadhan pun banyak ditemui pasangan bukan muhrim yang terkena razia sedang menginap berduaan di hotel atau losmen. Menurut pendapatku, dorongan berzina itu berasal dari hasrat/libido yang bereaksi secara biologis, bukan tergantung pada hari ataupun momen spesial.

Argumen kedua yang biasa digunakan adalah hari valentine bukan bagian dari budaya Islam, dan juga larangan untuk meniru-niru tradisi dari suatu kaum. Argumen ini barangkali terdengar logis, pernahkah kita memikirkan kembali, apakah tradisi bermaaf-maafan seusai idul fitri merupakan bagian dari tradisi Islam? Dan aku rasa, penggunaan baju koko, sarung, tasbih, dan lain sebagainya juga bukan bagian dari tradisi Islam. Sebagaimana kita ketahui, baju koko berasal dari tradisi masyarakat China, dan sarung juga merupakan tradisi orang-orang India, serta masih banyak lagi tradisi-tradisi lain yang saat ini menjadi simbol tradisi umat Islam. Dan yang dimaksud dengan larangan meniru tradisi suatu kaum, menurut Achmad Syukron Amin, seorang kader NU lulusan Universitas Yaman, adalah tradisi yang negatif. Sedangkan tradisi valentine itu bisa berdampak positif dengan esensi kasih sayangnya.

Perlu diketahui saja, negara-negara Arab (Kecuali Arab Saudi), juga merayakan valentine yang oleh orang arab dinilai sebagai munasabah al-hubb al-rumansi (momentum percintaan yang romantis). Dan koran-koran arab yang bertanggal 15 februari hampir selalu mengulas berita perayaan valentine sehari sebelumnya. Tentu saja hal ini bukan merupakan dalil untuk membenarkan perayaan hari valentin, melainkan hanya sebagai bentuk perbandingan antara negara kita dan negara Arab yang sama-sama memiliki penduduk mayoritas beragama Islam.

Dan sebagai bangsa yang berbudaya, sudah saatnya kita bijak dalam menilai segala sesuatu. Mengharamkan hari valentine tak akan membuat dosa kita berkurang, justru berpotensi mendapatkan murka Allah karena telah sembarangan mengubah-ubah hukum yang telah ditetapkannya. Akan sangat lebih baik jika kita menyikapi peringatan hari kasih sayang yang telah mendunia ini dengan cara yang positif. Setidaknya ada satu hari dimana kita bisa teringat (setelah satu tahun terlupa) untuk memikirkan esensi atau makna kasih-sayang, dan tentunya tidak terbatas hanya kepada pacar atau pasangan. Bagi yang suka mengamuk dan menebar kebencian, valentine bisa digunakan untuk instropeksi diri agar lebih halus dalam bertindak. Untuk para pejabat, hari valentine bisa digunakan untuk mengingat kembali rasa sayangnya kepada rakyat kecil sehingga tidak terjerumus dalam jebakan korupsi, dan untuk kita semua yang masih suka mengharamkan segala sesuatu, momen hari valentine juga bisa digunakan sebagai sarana untuk memaknai sebuah Hadits Qudsi yang berbunyi “Sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan murka-Ku.”

Oleh : Munirul I (General Secretary of Islamic Assotiation of University Student)
Sumber : Kultweet akun @syukronamin

Minggu, 19 Februari 2012

Afika Oreo

Di tengah-tengah bertebarannya iklan (komersial break) di sela-sela acara televisi, ada satu iklan yang menurutku sangat menarik dan sangat lucu, yaitu iklan oreo varian terbaru. Entah apa yang terpikirkan di benak sang sutradara ketika mendapat ide seperti ini. Letak kehebatan iklan ini terletak pada pemilihan bintang iklannya yang merupakan Juara 1 Bebestar 2011 bernama asli Amanina Afiqah Ibrahim.
Berikut aku tampilkan beberapa gambar lucu dan imutnya si afika oreo yang nampaknya mulai mendapa banyak penggemar di usianya yang masih enam tahun. Bayangkan sendiri bagaimana wajahnya nanti ketika si afika sudah sampai pada usia 18 atau 21 tahun. hhmmm.....


Bahkan ada pula yang sangat iseng meng-edit foto-foto afika menjadi rangkaian gambar-gambar humor yang bisa mengocok perut sampai lemas. Berikut diantaranya..
penerus susana (saingannya Jupe)
Oreo Vs. Indomie rasa ayam

Afika digombalin Sule

Afika bikin Pak Sby tambah Prihatin
Hahaaa, itulah diiantaranya gambar-gambar lucu afika yang bikin kita semua ngebet buat ngadopsi dia. Barangkali kemunculan anak super unyu ini memang telah ditakdirkan Tuhan untuk menghibur rakyat Indonesia yangtelah bosan dicekoki berita tentang korupsi, demokrat, nazarudin, dan fpi yang tak kunjung ada habisnya.
Salam Afika!!!

Jumat, 17 Februari 2012

Diskusi Rutin Novel 'Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur'

 

Setelah mangalami kevakuman selama kurang lebih satu bulan, akhirnya kamis malam kemarin sebuah diskusi rutin untuk kader-kader HMI Sepuluh Nopember yang bertajuk Unlimited Group Discussion Sepuluh Nopember atau disingkat UGD Seno kembali diselenggarakan. Dan tema untuk UGD Seno malam kemarin adalah membedah sebuah novel kontroversial yang sebenarnya resensinya sudah pernah aku tampilkan di postingan sebelumnya, yang berjudul "Tuhan, Ijinkan Aku menjadi Pelacur" karya Muhadin M Dahlan atau akrab disapa Gus Muh. Selain karena judulnya, novel ini banyak menghadirkan kontroversi karena penggambaran institusi yang terkait dengan jalan cerita bisa ditebak dengan mudah. Seperti Kampus Barek, Kampus Matahari Terbit, Darul Islam, dan Keluarga Mahasiswa Islam.

Malam itu Akbar, seorang kader sekaligus sekretaris umum dari komisariat kapal bertindak sebagai pembawa wacana dengan aku sendiri yang menjadi moderator. Diskusi diawali degan pengantar singkat tentang isi novel tersebut. Diceritakan secara singkat terkait dengan perjalanan hidup tokoh utama yang bernama Nidah Kirani mulai ketika menjadi seorang muslimah yang taat dalam beribadah, sampai terjerumus ke dunia hitam yang tidak pernah diayangkannya sebelumnya. Nidah kirani, atau yang lebih sering disebut Kiran adalah seorang mahasiswa D3 di kampus Barek yang tinggal di pondok Ki Ageng. Di pondok ini, Kiran bersahabat dengan Mbak Rahmi yang lebih senior. Karena pengetahuan keagamaannya yang luas, Mbak Rahmi menjadi teman diskusi sekaligus tempat untuk bertanya bagi Kiran seputar masalah-masalah keislaman. Singkat cerita, secara tiba-tiba Mbak Rahmi pergi dengan hanya meninggalkan sepucuk surat selamat tinggal untuk Kiran. Hal tersebut tentu saja membuat Kiran shock, mahasiswi yang di masa kecilnya sangat sulit untuk disuruh sholat tersebut merasa tidak punya tempat lagi untuk berbagi. Lalu, di saat Kiran sedang dilanda kesepian itulah, muncul seorang ikhwan yang nantinya akan merubah jalan hidup Kiran menjadi sebuah kisah yang penuh liku-liku.

Ikhwan yang dikenalnya lewat sebuah kajian rutin keislaman di kampus itu mengenalkan Kiran ke sebuah gerakan bawah tanah yang bertujuan untuk mendirikan sebuah daulah Islam di indonesia. Dan setelah kurang lebih tiga tahun bergabung dengan gerakan tersebut, Kiran merasa kecewa karena menurutnya gerakan terebut sangat aneh, teman-teman dan seniornya  tidak memiliki militansi seperti yang dia bayangkan, dan untuk bertanya tentang sesuatu hal saja harus melalui birokrasi yang berbelit-belit. Bersama dengan empat jamaah lain yang sependapat dengannya, Kiran yang saat itu sudah melanjutkan kuliahnya di Kampus Matahari Terbit memutuskan untuk kabur, dan dimulailah babak baru kehidupan seorang mantan muslimah tersebut. Di tengah kekecewaannya yang mendalam tersebut, Kiran menyalurkannya dengan menantang Tuhan untuk melihatnya ketika sedang menggadaikan harga diri yang selama ini dijaganya, juga ketika dia memblejeti topeng-topeng kemunafikan lelaki yang dikenal terpandang. Bahkan akhirnya, Kiran menerima saja ketika dosen pembimbingnya, yang juga anggota DPR dari fraksi yang memperjuangkan syari’at Islam, untuk menjadi pelacur dengan sistem pembagian hasil yang telah ditentukan.

Kisah hidup yang sangat berliku tersebut membuat sebagian peserta diskusi bertanya-tanya, kok bisa terjadi hal seperti itu. Apalagi dari keterangan yang diberikan sang pengarang, kisah tersebut dibuat berdasarkan pada sebuah kisah nyata. Apa yang salah dengan Nidah Kirani? Gerakan islam macam apakah yang telah membuat seorang Nidah kirani kecewa? Lalu bagaimanakah sebenarnya konflik batin yang dialami Kiran kala itu?

Pertanyaan tersebut menimbulkan beberapa spekulasi dari sebagian peserta diskusi, diantaranya adalah, Kiran memang menjalani kehiduan hitamnya tersebut sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang pernah mengecewakannya. Dia sudah bosan mendekati tuhan dengan cara-cara biasa yang terkesan munafik dan hanya memikirkan penampilan luar, tetapi ketika dihadapkan pada nafsu birahi akan terbuka kedok yang sebenarnya. Hal tersebut sudah pernah dibuktikannya ketika berhasil ‘menodai’ para ketua aktivis mulai dari golongan kiri sampai kanan.

Lalu, pertanyaan yang lain timbul tentang gerakan macam apakah yang diikuti Nidah Kirani. Apakah gerakan yang dimaksud identik dengan gerakan NII (Negara Islam Indonesia) yang sangat menghebohkan beberapa waktu yang lalu. Dan apakah gerakan ini benar-benar ada? Karena disebutkan dengan jelas bahwa gerakan ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dana demi kelancaran gerakan, seperti mencuri, merampok, bahkan melacurkan diri. Dari hasil diskusi, disepakati bahwa gerakan semacam ini memang benar-benar ada. Dan dari pengakuan anggota NII yang telah sadar dapat kita ketahui bahwa memang mereka diwajibkan untuk membayar iuran setiap minggu. Dan uang iuran ini boleh didapatkan dari mana saja, termasuk mencuri dan merampok uang milik orang-orang diluar gerakan, bahkan yang paling parah adalah para kadernya diperbolehkan untuk melacurkan diri demi mendapatkan uang iuran rutin gerakan. Hal-hal yang sangat tidak masuk akal ini didasarkan pada pemikiran bahwa menegakkan sebuah negara Islam merupakan sebuah kemuliaan yang boleh ditebus dengan melakukan dosa-dosa yang lebih kecil dibandingkan kemuliaan yang akan didapat.

Tentang langkah yang diambil Kiran untuk menumpahkan rasa kecewanya pada Tuhan tersebut tidak ada peserta diskusi yang berani membenarkan maupun menyalahkan. Hal ini dikarenakan ending cerita yang masih menggantung, tidak diketahui bagaimanakah akhir dari kisah hidup Kiran. Apakah dia mendapatkan adzab, atau justru mendapatkan kemuliaan karena telah berhasil mencintai Tuhannya, walaupun dengan cara yang bisa dikatakan tidak sesuai dengan syari’at. Hal tersebut masih menjadi tanda tanya karena akhir cerita yang tidak jelas, dan mungkin justru karena ketidakjelasan akhir cerita itulah yang membuat novel ini menarik.

Lalu, diskusi ditutup dengan penyampaian kesimpulan dari masing-masing peserta diskusi. Beberapa diantaranya adalah kita harus menilai dengan seksama tentang gerakan yang akan diikuti agar tidak terjebak pada sebuah gerakan ‘aneh’ seperti yang telah diikuti Kiran yang ujung-ujungnya justru berbuah kekecewaan. Selain itu, sebagai aktivis (dari aliran ideologi apapun) kita harus sering-sering menginstropeksi diri agar tidak terjebak pada kesombongan dan kemunafikan seperti yang telah terjadi kepada para ‘korban-korban’ Nidah Kirani. Lalu, mungkin yang harus diperhatikan lagi bagi para aktivis dakwah maupun gerakan Islam yang lain, selayaknya kita harus senantiasa ikhlas dalam beribadah sehingga tidak terjebak pada kekecewaan yang menyesatkan seperti yang telah dialami oleh tokoh utama dari novel Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur tersebut.

Oleh : Munirul I (HMI Teknik Kimia ITS)

Selasa, 14 Februari 2012

Kesempurnaan Manusia


Sudah sering kita dengar ungkapan yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Kesempurnaan itu berlaku baik jika dibandingkan dengan makhluk di alam nyata, maupun makhluk yang berada di alam ghaib. Namun, keunggulan macam apakah yang dimiliki oleh manusia sehingga dinobatkan sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Menurut kisah penciptaan Nabi Adam, yang merupakan bapak umat manusia, yang tercantum dalam Al-Qur’an disebutkan secara implisit bahwa manusia merupakan makhluk paling yunior jika dibandingkan  dengan iblis maupun malaikat. Sehingga dari sudut pandang senioritas ini, kita belum bisa melihat letak keunggulan manusia dibandingkan dengan iblis dan malaikat yang telah terlebih dahulu diciptakan. Selain itu, asal usul diciptakannya manusia dari tanah liat juga tidak bisa menjadi dalih keunggulan manusia. Karena secara sederhana dapat kita lihat bahwa semestinya iblis dan malaikat lebih tinggi kedudukannya dibanding manusia karena telah diciptakan dari api dan cahaya.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa kesempurnaan manusia tidak terleak pada rentang waktu maupun asal usul penciptaan. Karena sebagaimana telah disebutkan, dari sudut pandang ini jelas iblis dan malaikat bisa lebih unggul dibandingkan dengan manusia. Lalu dimanakah sesungguhnya letak keunggulan manusia? Dan parameter apakah yang  membuat manusia dikatakan sebagai makhluk yang sempurna? 

Menurut pandangan Ali Syari’ati dalam bukunya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh M. Amien Rais, setidaknya ada tiga hal yang menjadi keunggulan dan juga sebagai parameter kesempurnaan manusia sebagai makhluk Tuhan. Yang pertama adalah intelektualitas atau penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Sebagaimana telah disebutkan di dalam Al-Qur’an, setelah menciptakan Nabi Adam, Tuhan mengajarkan padanya nama-nama.  Banyak sekali penafsiran tentang apakah yang demaksud dengan ‘nama-nama’ tersebut. Masing-masing orang mengajukan pemahamannya sendiri sesuai dengan cara berpikir dan pandangannya. Namun, apapun jawaban yang betul, tidak ada sedikitpun keraguan untuk mengatakan bahwa hal tersebut berhubungan erat dengan apa yang sekarang disebut ilmu pengetahuan atau sains. Jadi, bisa dikatakan bahwa Tuhan lah guru pertama bagi umat manusia, yang mengajarkan nama-nama sehingga membuat manusia dapat menyebutkan nama dari segala sesuatu dengan tepat. Dalalam hal ini, superioritas manusia di atas para manusia dijelaskan secara gamblang dalam Al-Qur’an, bahwa saat itu Tuhan menguji para malaikat untuk menyebutkan nama-nama, tetapi mereka tidak mengetahui, sedangkan adam mampu menyebutkan semuanya dengan tepat. Lalu kemudian Tuhan memerintahkan seluruh malaikat untuk bersujud di hadapan Adam. Hal ini membuktikan bahwa salah satu letak keunggulan manusia daripada malaikat adalah pada ilmu pengetahuan dan daya intelektualitasnya. Sehingga segala bentuk pengekangan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan ataupun pemikiran berarti telah menjatuhkan martabat manusia sebagai makhluk yang unggul. Untuk itu tidak dibenarkan untuk menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia dengan cara apapun, apalagi dengan menggunakan dogma-dogma agama yang konservatif. Kekawatiran para pemuka agama yang konservatif akan bahaya ilmu pengetahuan dan pemikiran terhadap eksistensi Tuhan bisa dikatakan sangat tidak tepat. Bagaimana mungkin ilmu pengetahuan dan pemikiran yang dikuasai oleh manusia bisa membunuh Tuhan? Bukankah Tuhan sendiri yang bertindak yang telah mengajarkan nama-nama kepada manusia setelah diciptakan? Dan sejarah telah mambuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan pemikiran telah menjadi modal utama bagi umat manusia untuk bisa survive di alam yang ganas ini. Tidak sampai disitu saja, manusia bahkan mampu menciptakan berbagai macam peradaban yang mengagumkan sampai dengan saat ini.

Yang kedua, keunggulan manusia yang tidak dimiliki oleh ciptaan Tuhan yang lain adalah amanah. Sebagaimana telah diketahui, hanya manusia sajalah, diantara seluruh makhluk yang ada di alam semesta, yang mampu menjadi pemegang dan pengemban amanat Tuhan. Ketika Tuhan menawarkan kepada langit, bumi, gunung, lautan, flora, fauna,  dan semua makhluk yang ada di jagad raya, maka hanya manusia lah yang secara sukarela mau mengemban amanat tersebut dengan segala keberanian dan kebijaksanaannya. Demikianlah manusia tidak saja bertindak sebagai khalifah, melainkan juga sebagai pengemban amanat Tuhan di muka bumi. Dalam perspektif Ali Syari’ati, yang diilhami juga oleh pendapat Jalaludin Rumi, amanat ini diartikan sebagai kehendak bebas (free will) manusia. Jadi bisa dikatakan bahwa kehendak bebas ini merupakan salah satu komponen yang menunjukkan kesempurnaan dan superioritas manusia. Manusia memiliki hak untuk melakukan apapun tanpa bisa dibatasi oleh siapapun, karena sebagai pemegang amanat nantinya manusia tentunya akan bertanggung jawab terhadap Sang Pemberi amanat. Bisa dikatakan bahwa kehendak bebas merupakan konsekuensi logis dari pemberian amanat, karena bagaimana mungkin Tuhan akan meminta pertanggung jawaban di akhirat jika manusia tidak diberi kebebasan. Untuk itu, tidak dibenarkan dengan dalih apapun untuk merampas kehendak bebas atau kemerdekaan orang lain karena hal itu berarti juga telah menghilangkan sifat kesempurnaan manusia. Bahkan Nabi Muhammad diutus hanya sebagai pemberi peringatan dan bukan sebagai orang yang berkuasa atas keimanan seseorang.

Kemudian yeng ketiga, keutamaan manusia yang paling menonjol dari manusia, yang menandai superioritasnya atas ciptaan Tuah yang lain adalah kekuatan kemauan dan iradahnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat bertindak melawan instingnya. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan oleh tumbuhan, hewan, bahkan malaikat sekalipun. Sebagai contoh, hewan buas tidak mungkin memiliki kemauan untuk berpuasa, tumbuhan tidak dapat berkomplot untuk melakukan keahatan, juga malaikat yang hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan dengan taat setaat-taatnya. Dan hanya manusialah satu-satunya ciptaan Tuhan yang mampu bertindak menentang apa yang baik dan utama. Demikian manusia bisa menjadi makhluk yang memiliki pilihan untuk bertindak baik maupun buruk, menjadi seperti malaikat yang taat ataupun seperti iblis yang membangkang. Pilihan inilah yang yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, dan oleh karena itu menjadi sifat terpenting yang dan menjadi penghubung kedekatannya dengan Tuhannya.

Ketiga hal tersebut sudah selayaknya terintegrasi secara utuh jika ingin menjadi manusia yang sebenar-benarnya. Kehilangan salah satunya menjadikan kesempurnaan kita sebagai manusia patut untuk dipertanyakan. Tanpa ilmu pengetahuan dan kemampuan berpikir, manusia tak ada bedanya dengan hewan ataupun tumbuhan yang hidup hanya berdasarkan dorongan insting. Hal ini selaras dengan ungkapan para filosof dan ahli logika bahwa manusia adalah hewan yang berpikir. Begitu juga dengan kehendak bebas yang identik dengan kemerdekaan individu. Kehilangan kemerdekaan individu merupakan bencana. Jika kebebasan manusia untuk berbicara, berserikat, maupun beragama dikekang oleh penguasa yang tiran, maka baik yang terkekang maupun si pemekang akan kehilangan kesempuraannya sebagai manusia. Kemudian yang paling manunjukkan kemuliaan manusia adalah kekuatan kemauan dan iradahnya yang tidak dimiliki oleh malaikat sekalipun. Tidak seperti hewan yang dibekali dengan insting dan malaikat yang dibekali dengan ketaatan, manusia dibekali oleh Tuhan dengan akal dan hawa nafsu. Keduanya saling berkolaborasi dan bertempur dalam diri manusia, yang akan menentukan apakah dia layak menempati posisi yang lebih mulia dari malaikat, atau justru akan mendapat kutukan sebagai makhluk yang telah menyia-nyiakan amanat dari penciptanya.

Oleh : Munirul I (General Secretary of Islamic Association of university Student)