Senin, 20 Februari 2012

Valentine Haram?

Tanggal 14 februari yang lalu aku sempat melihat status facebook seorang teman yang kira-kira berbunyi “Kok masih ada ya yang kepikiran merayakan valentine. Ga taukah kalian kalau itu haram.” Sejenak aku terkaget membaca status tersebut. bukan karena aku termasuk remaja labil yang terosebsi dengan hari kasih sayang dunia teresebut, melainkan aku terkaget karena telah mendengar(membaca) sebuah fatwa haram dari seorang yang biasa-biasa saja, bukan santri, apalagi ahli agama (ulama).

Kejadian haram-mengharamkan seperti ini telah sering sekali aku temui, terlebih setelah menginjakkan kaki ke jenjang perguruan tinggi yang mana merupakan masa-masa proses mempertajam kemampuan berpikir. Ketika tanggal 25 desember, orang-orang ramai mengharamkan pengucapan selamat natal ataupun hari besar agama lainnya, pun begitu dengan ucapan ulang tahun tak luput jadi korban pengharaman massal ini.

Dari situ aku berpikir, apakah semudah itu mengharamkan sesuatu yang padahal tidak tertulis secara eksplisit di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dari dulu sampai sekarang, aku belum pernah menemui ada ayat yang mengharamkan hari valentine. Memang perayaan hari valentine tidak pernah disebutkan di dalam Al-Qur’an, tapi bukankah merayakan idul fitri dan lain-lainnya juga tidak ada di dalam Al-Qur’an. Dan apakah semua hal yang tidak berasal dari arab itu berarti haram? Walaupun secara pribadi aku tidak pernah melakukan perayaan khusus, ataupun sekedar membagi cokelat kepada orang-orang terdekat, aku tidak pernah setuju dengan fatwa haram terhadap hari valentine yang terkesan tendensius.

Dan jika kulihat ke belakang, kebanyakan yang suka mengharamkan segala sesuatu yang terlihat tidak ‘islami’ justru bukan dari golongan alim ulama yang mempunyai track record bagus di bidang keagamaan. Banyak sekali Kyai-kyai yang raut wajahnya berkharisma justru santai-santai saja menghadapi isu-isu hari valentine. Padahal, tak perlu diragukan lagi mereka sangat paham akan ilmu fiqh, syari’at, aqidah, tassawuf, dan lain sebagainya. Mereka-mereka yang suka mengeluarkan kata-kata haram menurutku justru orang-orang yang masih terbilang baru dalam belajar agama. Mereka-mereka itu adalah para aktivis dakwah dari golongan tarbiyah, mentor-mentor kampus, dan tak ketinggalan juga ustadz-ustadz komersil yang lebih sering muncul di program infotainment ketimbang di majelis-majelis dakwah.

Ada dua argumen yang paling sering digunakan oleh mentor-mentor kampus ataupun ustadz-ustadz komsersil untuk mengharamkan perayaan hari valentine. Yang pertama adalah karena hari ini identik dengan perzinahan, hal ini dikuatkan pula dengan indikasi adanya pihak-pihak tertentu yang menjual cokelat berhadiah kondom. Namun, jika kita mau melihat secara objektif, bukankah di bulan ramadhan pun banyak ditemui pasangan bukan muhrim yang terkena razia sedang menginap berduaan di hotel atau losmen. Menurut pendapatku, dorongan berzina itu berasal dari hasrat/libido yang bereaksi secara biologis, bukan tergantung pada hari ataupun momen spesial.

Argumen kedua yang biasa digunakan adalah hari valentine bukan bagian dari budaya Islam, dan juga larangan untuk meniru-niru tradisi dari suatu kaum. Argumen ini barangkali terdengar logis, pernahkah kita memikirkan kembali, apakah tradisi bermaaf-maafan seusai idul fitri merupakan bagian dari tradisi Islam? Dan aku rasa, penggunaan baju koko, sarung, tasbih, dan lain sebagainya juga bukan bagian dari tradisi Islam. Sebagaimana kita ketahui, baju koko berasal dari tradisi masyarakat China, dan sarung juga merupakan tradisi orang-orang India, serta masih banyak lagi tradisi-tradisi lain yang saat ini menjadi simbol tradisi umat Islam. Dan yang dimaksud dengan larangan meniru tradisi suatu kaum, menurut Achmad Syukron Amin, seorang kader NU lulusan Universitas Yaman, adalah tradisi yang negatif. Sedangkan tradisi valentine itu bisa berdampak positif dengan esensi kasih sayangnya.

Perlu diketahui saja, negara-negara Arab (Kecuali Arab Saudi), juga merayakan valentine yang oleh orang arab dinilai sebagai munasabah al-hubb al-rumansi (momentum percintaan yang romantis). Dan koran-koran arab yang bertanggal 15 februari hampir selalu mengulas berita perayaan valentine sehari sebelumnya. Tentu saja hal ini bukan merupakan dalil untuk membenarkan perayaan hari valentin, melainkan hanya sebagai bentuk perbandingan antara negara kita dan negara Arab yang sama-sama memiliki penduduk mayoritas beragama Islam.

Dan sebagai bangsa yang berbudaya, sudah saatnya kita bijak dalam menilai segala sesuatu. Mengharamkan hari valentine tak akan membuat dosa kita berkurang, justru berpotensi mendapatkan murka Allah karena telah sembarangan mengubah-ubah hukum yang telah ditetapkannya. Akan sangat lebih baik jika kita menyikapi peringatan hari kasih sayang yang telah mendunia ini dengan cara yang positif. Setidaknya ada satu hari dimana kita bisa teringat (setelah satu tahun terlupa) untuk memikirkan esensi atau makna kasih-sayang, dan tentunya tidak terbatas hanya kepada pacar atau pasangan. Bagi yang suka mengamuk dan menebar kebencian, valentine bisa digunakan untuk instropeksi diri agar lebih halus dalam bertindak. Untuk para pejabat, hari valentine bisa digunakan untuk mengingat kembali rasa sayangnya kepada rakyat kecil sehingga tidak terjerumus dalam jebakan korupsi, dan untuk kita semua yang masih suka mengharamkan segala sesuatu, momen hari valentine juga bisa digunakan sebagai sarana untuk memaknai sebuah Hadits Qudsi yang berbunyi “Sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan murka-Ku.”

Oleh : Munirul I (General Secretary of Islamic Assotiation of University Student)
Sumber : Kultweet akun @syukronamin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar