Minggu, 12 Februari 2012

Perubahan Pandangan Keislamanku (1)

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua setengah tahun di tingkat pendidikan perguruan tinggi, ada banyak sekali hal yang aku pelajari. Banyak buku yang telah kubaca, serta banyak pula pandangan dan pola pikir yang telah berubah.

Aku masih ingat sekali, ketika dulu awal masuk kuliah aku sangat bersemangat dalam mendalami Islam, agama yang sudah kupeluk sejak lahir. Sebagai seorang yang terlahir dari keluarga yang non-agamis (kedua orang tuaku PNS yang tidak mempunyai pengetahuan mendalam tentang agama), dan dengan latar belakang pendidikan sekuler semenjak taman kanak-kanak, praktis membuatku tidak mempunyai bekal yang cukup dalam ilmu agama. Sehingga, bisa dikatakan waktu itu aku belajar Islam dengan kalap. Dengan jargon andalan ‘Islam Kaffah’ waktu itu (sekarang aku baru sadar),aku berubah menjadi orang yang intoleran terhadap segala macam perbedaan dan menganggap orang yang tidak berjenggot, celananya tinggi, dst bukanlah orang islam yang sesungguhnya.

Namun, jalan pikiranku mulai mendapat pecerahan ketika aku mulai mengenal sosok KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur (tentunya lewat tulisan, biografi, dan komentar-komentarnya). Dari beliaulah aku akhirnya mulai paham bagaimana menjadi orang islam yang sesungguhnya. Sosok yang dulu pernah kubenci gara-gara gaya pemerintahannya yang nyleneh sewakwu menjabat menjadi presiden berubah menjadi sosok yang paling aku kagumi. Sampai-sampai timbul muncul pikiran, jika kelak aku punya anak laki-laki akan kunamai Abdurrahman Wahid.

Tidak hanya sampai disitu, pandanganku mengenai Islam kembali berubah ke arah yang lebih inklusif ketika aku memutuskan bergabung dengan HMI (niat awalku hanya sekedar ingin lebih banyak mendapat siraman rohani). Disana aku mulai mengenal forum diskusi yang lebih panas, lebih banyak perbedaan pendapat, dan juga mengenal orang dengan berbagai karakternya. Yang sangat menarik adalah ketika mendapat penjelasan dari salah seorang senior, bahwa disini (HMI) orangnya bermacam-macam. Terlihat ada seorang yang menyukai musik nasyid, dan ada juga yang suka dengan musik-musik cadas atau rock. Ada yang berpakaian selalu rapi dengan celana kain, tapi ada juga yang bergaya slenekan dan cenderung rock n roll.

Disini aku lebih mengenal Islam sebagai agama yang humanis, inklusif, berorientasi kebangsaan, dan yang paling penting bisa membuat kita menjadi diri sendiri. Menjadi seorang pemuda muslim yang masih suka musik cadas, sepak bola, dan tetap bergaya slengekan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar