Setelah menghabiskan waktu kurang lebih
dua setengah tahun di tingkat pendidikan perguruan tinggi, ada banyak sekali
hal yang aku pelajari. Banyak buku yang telah kubaca, serta banyak pula
pandangan dan pola pikir yang telah berubah.
Aku masih ingat sekali, ketika dulu awal
masuk kuliah aku sangat bersemangat dalam mendalami Islam, agama yang sudah
kupeluk sejak lahir. Sebagai seorang yang terlahir dari keluarga yang
non-agamis (kedua orang tuaku PNS yang tidak mempunyai pengetahuan mendalam
tentang agama), dan dengan latar belakang pendidikan sekuler semenjak taman
kanak-kanak, praktis membuatku tidak mempunyai bekal yang cukup dalam ilmu
agama. Sehingga, bisa dikatakan waktu itu aku belajar Islam dengan kalap.
Dengan jargon andalan ‘Islam Kaffah’ waktu itu (sekarang aku baru sadar),aku
berubah menjadi orang yang intoleran terhadap segala macam perbedaan dan
menganggap orang yang tidak berjenggot, celananya tinggi, dst bukanlah orang
islam yang sesungguhnya.
Namun, jalan pikiranku mulai mendapat
pecerahan ketika aku mulai mengenal sosok KH. Abdurrahman Wahid atau lebih
dikenal dengan nama Gus Dur (tentunya lewat tulisan, biografi, dan
komentar-komentarnya). Dari beliaulah aku akhirnya mulai paham bagaimana
menjadi orang islam yang sesungguhnya. Sosok yang dulu pernah kubenci gara-gara
gaya pemerintahannya yang nyleneh sewakwu menjabat menjadi presiden berubah
menjadi sosok yang paling aku kagumi. Sampai-sampai timbul muncul pikiran, jika
kelak aku punya anak laki-laki akan kunamai Abdurrahman Wahid.
Tidak hanya sampai disitu, pandanganku
mengenai Islam kembali berubah ke arah yang lebih inklusif ketika aku
memutuskan bergabung dengan HMI (niat awalku hanya sekedar ingin lebih banyak
mendapat siraman rohani). Disana aku mulai mengenal forum diskusi yang lebih
panas, lebih banyak perbedaan pendapat, dan juga mengenal orang dengan berbagai
karakternya. Yang sangat menarik adalah ketika mendapat penjelasan dari salah
seorang senior, bahwa disini (HMI) orangnya bermacam-macam. Terlihat ada
seorang yang menyukai musik nasyid, dan ada juga yang suka dengan musik-musik
cadas atau rock. Ada yang berpakaian selalu rapi dengan celana kain, tapi ada
juga yang bergaya slenekan dan cenderung rock n roll.
Disini aku lebih mengenal Islam sebagai
agama yang humanis, inklusif, berorientasi kebangsaan, dan yang paling penting
bisa membuat kita menjadi diri sendiri. Menjadi seorang pemuda muslim yang
masih suka musik cadas, sepak bola, dan tetap bergaya slengekan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar