Minggu, 12 Februari 2012

Sebuah Novel : Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur


Dari judulnya saja sudah bisa kita tebak bahwa buku kecil ini sangat kontroversial. Bagaimana tidak, novel setebal 260 halaman karya Muhidin M Dahlan, atau biasa disapa Gus Muh, ini mengisahkan perjalanan hidup seorang mahasiswi sekaligus aktivis sebuah gerakan Islam bernama Nidah Kirani, yang mengaku telah dikecewakan oleh Tuhannya. Kiran awalnya tinggal di Pondok Ki Ageng bersama seorang sahabatnya yang menjadi teman diskus sekaligus tempat curhat.

Di kampus, Kiran aktif dalam forum kajian yang membahas tentang masalah-masalah keislaman. Dari forum inilah Kiran mengenal Mas Dahiri, sebuah perkenalan yang akan mengubah jalan hidup Kiran seterusnya. Bermula dari perkenalan inilah akhirnya Kiran bergabung dengan jamaah yang ingin mendirikan negara islam di bumi Indonesia. Dalam jama’ah ini dihalalkan untuk mendapatkan dana dengan cara apapun, termasuk mencuri, menipu, bahkan melacur. Kiran yang di masa kecilnya termasuk anak yang susah disuruh sholat ini berubah menjadi jamaah yang paling militan, sampai-sampai dia berhasil menanamkan paham ini ke kampung halamannya yang miskin dan gersang.

Namun, militansi yang berlebih inillah yang kemudian membawa Kiran kepada kekecewaan. Bersama empat anggota jamaah yang lain, dia kabur karena merasakan banyak sekali kejanggalan dalam jamaahnya tersebut. Kiran kabur dengan membawa berjuta rasa frustasi kepada jamaah yang telah tiga tahun diikutinya. Rasa frustasi tersebut, ditambah dengan kekecewaan yang mendalam kepada Tuhan yang selama ini dipujanya, telah mampu membuat Kiran untuk berbuat hal-hal yang selama ini tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. Kiran yang dulu seorang muslimah dengan jilbab lebar dan selalu menyerukan untuk menegakkan syari’at islam melawan kemaksiatan telah berubah menjadi wanita jalang yang berkelana dari satu pelukan lelaki ke pelukan lelaki lainnya. Sudah tak terhitung berapa lelaki yang juga sesama aktivis mahasiswa yang telah menikmati tubuh Kiran. Bahkan, terakhir Kiran yang sudah terlanjur kecewa memutuskan untuk mengkomersilkan tubuhnya dengan bantuan dosennya yang juga anggota DPR sebagai germonya. Dari jalan hitam yang ditempuhnya tersebut, Kiran merasa puas karena telah bisa menelanjangi topeng-topeng lelaki yang dari luar tampak terhormat. Mulai dari aktivis kiri, anggota organisasi Islam, sampai anggota partai yang berbasis syari’at Islam telah bertekuk lutut di depan kemolekan tubuh yang telah diciptakan Tuhannya tersebut. Walaupun begitu, dalam petualangan seksnya tersebut Kiran masih sempat mengikuti training kepemimpinan sebuah orgmas mahasiswa Islam yang terbilang cukup besar, bahkan dengan berbekal pengetahuan keagamaan yang luas, dia sampai pada training tingkat dua.

Novel terbitan ScriPtaManent ini mengambil latar tempat kota Jogjakkarta, yang mana nama berbagai institusi yang terlibat dalam cerita disamarkan, walaupun dengan mudah kita dapat menebaknya. Seperti Keluarga mahasiswa Islam, Kampus Matahari terbit, Kampus Barek, dan lain sebagainya. Dan seperti yang telah  dijelaskan di awal, penerbitan novel ini telah menuai banyak tanggapan, baik yang positif maupun negatif. Bagi sebagian orang novel ini telah menyudutkan gerakan Islam terntentu, bahkan sampai ada yang menuduh novel ini adalah bagian dari gerakan zionis.

Namun, terlepas dari bermacam kontroversi yang menyelimutinya, novel yang bahan bakunya sepenuhnya diambil dari kisah nyata ini sangat layak baca. Terkhusus lagi bagi para mahasiswa yang masih berada dalam pencarian jati dirinya. Kisah hidup Nidah Kirani bisa membuka wawasan kita lebar-lebar tentang dinamika pemikiran mahasiswa. Sekaligus mengajarkan kepada kita untuk tidak berlebihan dan tentunya harus ikhlas dalam beragama supaya tidak ditimpa kekecewaan sebagaimana dialami oleh tokoh utama dalam cerita ini.


Oleh : Munirul I (General Secretary of Islamic Association of University Student)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar