Minggu, 05 Februari 2012

Penerang Harus Bercahaya

Hari itu masih pagi, bola pijar yang bergelar matahari saja belum mau muncul untuk membakar dinding kamar yang setiap hari menantangnya. Lantai keramk  terasa dingin menyejukkan, aku sangat menikmati suasana ini. Dan aku tahu keadaan ini tak akan berlangsung lama, karena perlahan-lahan bola raksasa itu akan naik dan siap membakar apa saja yang terlihat menantangnya. Kota Surabaya yang terkenal nekat dan pemberani pun tak luput dari keganasannya.

Ditemani segelas kopi susu kemasan merk ABC, kuhabiskan pagi itu dengan menikmati ‘kicauan’ burung-burung cerdas di dunia maya. Sungguh hebat situs jejaring sosial bernama twitter ini, yang mana sanggup mengubah manusia macam apapun menjadi burung yang pandai berkicau tentang segala hal, mulai dari masalah politik, budaya, humor, sains, agama, sampai dengan hal-hal yang tidak terlalu penting namun menyenangkan. Bayangkan saja, ada seorang Kyiai yang merupakan pimpinan sebuah pondok pesantren di Rembang, dengan akun @gusmusgusmu, mau berceramah serta menjawab berbagai pertanyaan seputar ibadah dan keagamaan melalui situs ini. Ada juga seorang dalang edan dengan akun @sudjiwotedjo yang memproklamirkan dirinya sebagai presiden #jancuker, sebuah komunitas pengicau yang mendambakan manusia tanpa basa-basi, apa adanya, dan tidak ja-im. Dia juga mengkritik orang-orang yang terihat sangat sopan, karena menurutnya sebagai manusia itu kita harus urakan (ini beda dengan kurang ajar). Sungguh situs yang penuh dengan inspirasi.

Dan pagi itu, inspirasi datang dari seorang sufi yang telah bertapa sekian lama di tengah kota belantara. Dialah Gus Candra Malik dengan akun twitternya @candramalik. Aku sangat sering me-RT kicauan-kicauannya. Selain itu, Gus Candra Malik juga punya satu akun lagi yang juga sangat inspiratif, yaitu @sufikota yang khusus digunakan untuk berkicau tentang hal-hal yang berbau sufi dan kadang terkesan mistis.

Pagi itu, akun @candramalik bertanya tentang nama, siapa yang memberi, dan apakah sudah diimplementasikan sesuai artinya dalam kehidupan nyata. Entah kenapa saat aku merasa tersentil, aku sudah tahu arti dari namaku namun merasa belum bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari (Untuk diketahu, namaku adalah Munirul Ichwan yang setahuku berarti ‘penerang persaudaraan’).  Karenanya, spontan aku menjawab “Namaku Munirul Ichwan Gus, rasanya berat sekali nama itu.”


Sebenarnya aku tidak terlalu berharap banyak pertanyaanku akan dijawab, karena aku tahu pasti akan banyak pertanyaan serupa dari 14.966 followernya (saat itu). Tapi tiba-tiba saja bleckberryku berbunyi, tanda ada mention untuk akun twitterku, @don_munirul. Dan benar saja, akun @candramalik menjawab pertanyaanku. Singkat saja, namun sangat menginspirasi. Dia mengatakan “Penerang harus bercahaya J”.
No hoax :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar