Hari itu masih pagi, bola pijar yang
bergelar matahari saja belum mau muncul untuk membakar dinding kamar yang
setiap hari menantangnya. Lantai keramk terasa dingin menyejukkan, aku
sangat menikmati suasana ini. Dan aku tahu keadaan ini tak akan berlangsung
lama, karena perlahan-lahan bola raksasa itu akan naik dan siap membakar apa
saja yang terlihat menantangnya. Kota Surabaya yang terkenal nekat dan
pemberani pun tak luput dari keganasannya.
Ditemani segelas kopi susu kemasan merk ABC, kuhabiskan pagi itu dengan
menikmati ‘kicauan’ burung-burung cerdas di dunia maya. Sungguh hebat situs
jejaring sosial bernama twitter ini, yang mana sanggup mengubah
manusia macam apapun menjadi burung yang pandai berkicau tentang segala hal,
mulai dari masalah politik, budaya, humor, sains, agama, sampai dengan hal-hal
yang tidak terlalu penting namun menyenangkan. Bayangkan saja, ada seorang
Kyiai yang merupakan pimpinan sebuah pondok pesantren di Rembang, dengan akun
@gusmusgusmu, mau berceramah serta menjawab berbagai pertanyaan seputar ibadah
dan keagamaan melalui situs ini. Ada juga seorang dalang edan dengan akun
@sudjiwotedjo yang memproklamirkan dirinya sebagai presiden #jancuker, sebuah
komunitas pengicau yang mendambakan manusia tanpa basa-basi, apa adanya, dan
tidak ja-im. Dia juga mengkritik orang-orang yang terihat sangat sopan, karena
menurutnya sebagai manusia itu kita harus urakan (ini beda dengan kurang ajar).
Sungguh situs yang penuh dengan inspirasi.
Dan pagi itu, inspirasi datang dari
seorang sufi yang telah bertapa sekian lama di tengah kota belantara. Dialah
Gus Candra Malik dengan akun twitternya @candramalik. Aku sangat sering me-RT
kicauan-kicauannya. Selain itu, Gus Candra Malik juga punya satu akun lagi yang
juga sangat inspiratif, yaitu @sufikota yang khusus digunakan untuk berkicau
tentang hal-hal yang berbau sufi dan kadang terkesan mistis.
Pagi itu, akun @candramalik bertanya
tentang nama, siapa yang memberi, dan apakah sudah diimplementasikan sesuai
artinya dalam kehidupan nyata. Entah kenapa saat aku merasa tersentil, aku
sudah tahu arti dari namaku namun merasa belum bisa mengimplementasikannya
dalam kehidupan sehari-hari (Untuk diketahu, namaku adalah Munirul Ichwan yang
setahuku berarti ‘penerang persaudaraan’). Karenanya, spontan aku
menjawab “Namaku Munirul Ichwan Gus, rasanya berat sekali nama itu.”
Sebenarnya aku tidak terlalu berharap
banyak pertanyaanku akan dijawab, karena aku tahu pasti akan banyak pertanyaan
serupa dari 14.966 followernya (saat itu). Tapi tiba-tiba saja bleckberryku
berbunyi, tanda ada mention untuk akun twitterku, @don_munirul. Dan benar saja,
akun @candramalik menjawab pertanyaanku. Singkat saja, namun sangat
menginspirasi. Dia mengatakan “Penerang harus bercahaya J”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar