Sabtu, 11 Februari 2012

Pelajaran Dari Tongkat Nabi Musa As

Satu lagi pelajaran penting telah kudapatkan dari hasil diskusi dengan Erik, saudaraku sesama warga SH Terate. Waktu itu dia bercerita tentang pertemuannya dengan Mas Temon, seorang warga tinkgat II. Di dalam pertemuan itu, Erik bertanya tentang arti/makna mori (kain kafan yang secara simbolik fungsinya mirip dengan ban hitam pada latihan karate) bagi orang SH. Namun apa yang terjadi, menanggapi pertanyaan tersebut  Mas Temon malah bercerita tentang kisah Nabi Musa as.

Mas Temon bercerita bahwa sebagai seorang utusan dan pengemban tugas suci dari Allah, tentunya setiap doa dan permintaan Nabi Musa as akan dengan mudah dikabulkan. Akan tetapi ketika berhadapan dan kemudian dikejar-kejar oleh Fir’aun beserta bala tentaranya, Nabi Musa malah diberi sebuah tongkat oleh Allah SWT. Padahal bisa saja saat itu Nabi Musa berdoa meminta kepada Allah agar menjatuhkan ajal kepada Fir’aun sehingga dengan begitu Nabi Musa dan seluruh umatnya bisa selamat tanpa harus bersusah payah melarikan diri dengan menyebrangi laut merah.


Dari kisah tersebut kita bisa mengambil sebuah kata kunci, yaitu ‘perantara’. Yang mana Allah SWT lebih banyak memberikan pertolonganNya melalui perantara. Bahkan seorang Nabi yang notabene merupakan derajat keimanan tertinggi sebagai manusia mendapatkan pertolonganNya melalui perantara. Apalagi kita yang hanya manusia biasa?

Namun satu hal yang harus diingat. Kalaupun sekarang ini tongkat Nabi Musa tersebut ada di genggaman kita, kita tidak akan mampu membelah lautan dengan memukulkannya pada bebatuan di pantai. Karena tongkat tersebut hanyalah tongkat biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun, dan tidak akan memberi manfaat tanpa seizinNya.

Jadi, kesimpulan paling dalam yang aku dapat dari hasil diskusi waktu itu adalah haram bagi kita untuk meminta manfaat kepada suatu benda apapun, karena setiap pertolongan itu datangnya hanya dari Allah. Segala sesuatu terjadi atas seizinNya, dan jika Tuhan mengijinkan apapun bisa terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar