Rabu, 18 Desember 2013

Menghirup "Aroma Kebangkitan" di Museum Nasional

Sore yang cerah, jalanan ibu kota di sekitaran monas waktu itu juga tidak terlalu ramai. Aku bersama seorang kawan dengan leluasa mengitari daerah yang biasa dianggap sebagai ‘pusat’ dari negara ini. Di sini kita bisa melihat kemegahan bangunan tugu monas yang tegak menjulang dengan pucuk berlapis emas. Sangat kontras bila dibandingkan realita kondisi rakyat Indonesia yang masih saja berkutat dengan kemiskinan dan kebodohan. Tak usah jauh-jauh membandingkannya dengan kondisi saudara kita di Papua, Nusa tenggara, Mesuji, maupun daerah-daerah lain di sudut negeri ini yang seakan terlupakan. Karena dengan melihat kondisi di kolong-kolong jembatan, pinggiran kali, dan pemukiman kumuh di bawah jalan tol ibukota saja sudah cukup membuktikan adanya kesenjangan itu.

Ah, mungkin lebih baik lain kali saja kita bercerita tentang kesenjangan dan berbagai macam kebobrokan negara tercinta ini, yang seakan-akan tak pernah ada habisnya. Kali ini aku ingin berbagi pengalaman ketika mengunjungi Museum Nasional di Jl. Merdeka Barat, Jakarta. Museum ini terletak di sebelah barat kawasan Monumen Nasional (Monas), dekat sekali dengan halte busway Monas.

Sabtu sore, di sela-sela kunjunganku ke Jakarta dalam rangka mengikuti BUMN Career Days 2013, aku mengajak temanku untuk mengunjungi museum nasional yang merupakan museum pertama dan terbesar se-asia tenggara. Dengan menaiki sepeda motor bersama salah seorang teman, aku masuk ke area parkir museum. Gagah, sedikit sepi, dan beraroma magis khas museum. Perfect.

Konon, cikal bakal museum ini sudah ada sejak 1778 ketika seorang Belanda bernama Radermacher menyumbangkan sebuah gedung di Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya yang nantinya akan menjadi pondasi pendirian museum. Kemudian pada tahun 1862 pemerintah Hindia-Belanda mendirikan gedung baru di Jalan merdeka Barat yang hingga kini masih ditempati, setelah sebelumnya Stamford Raffles juga pernah memindahkan gedung berisi peninggalan sejarah dari Kalibesar ke Jalan Majapahit. Dan sesuai dengan masa pembangunannya, Gedung Museum Nasional sangat kental dengan gaya klasik eropa pada abad pencerahan. Di bagian halaman depan gedung ini terpasang sebuah patung gajah berbahan perunggu yang merupakan hadiah dari Raja Thailand, Chulalongkorn pada tahun 1871. Karena itulah museum nasional juga dikenal dengan sebutan museum gajah.

Waktu itu kami berdua masuk dari pintu samping, melewati ruang workshop yang terletak di sisi kiri gedung. Karena ketidak tahuan, aku dan kawanku langsung saja menikmati koleksi-koleksi museum ini yang diawali dengan peta persebaran suku bangsa dan bahasa di Indonesia. Kemudian, berbelok ke kanan terdapat banyak sekali koleksi kebudayaan khas Indonesia dari berbagai daerah. Mulai dari boneka si gale-gale dari Batak, wayang kulit dari Jawa, gamelan dan barong khas Pulau Bali, sampai dengan patung-patung pahatan khas Indonesia bagian timur. Dari koleksi-koleksi di bagian ini, aku sedikit menyadari tentang perbedaan karakter budaya di negeri tercinta ini. dimana hasil kebudayaan Indonesia bagian barat yang selalu terlihat mengagumkan, beradab, dan memiliki pakem tertentu, sedangkan untuk hasil kebudayaan dari Indonesia bagian timur selalu terlihat lebih liar, magis, dan apa adanya. Semua menawarkan keindahan dari dimensi yang berbeda. Ada kebanggan tersendiri saat menyadari betapa jeniusnya nenek moyang tanah air tercinta ini. Pantas saja dulu Bung Karno bisa dengan pede-nya menyarankan Presiden Amerika Serikat kala itu untuk belajar seni dari orang Indonesia sembari membetulkan letak dasi presiden negeri kapitalis tersebut.
Peta persebaran suku bangsa yang merupakan bagian integral dari NKRI
Boneka si gale-gale dari batak. Biasanya digunakan untuk upacara kematian dengan tarian tortor si gale-gale. Konon semua bagian boneka ini bisa digerakkan, sampai-sampai matanya saja bisa dikedipkan.

Satu set wayang kulit lengkap dengan gamelannya. Biasa dibawakan dalang untuk acara pertunjukan semalam suntuk.
Satu set alat untuk memuja arwah nenek moyang dari daerah Maluku

Patung yang dibuat sebagai penghormatan arwah nenek moyang dari daerah Papua.

Ini adalah patung dari Nusa Tenggara Barat, terlihat di bagian kemaluan pun dipahat dengan detail. Sangat apa adanya, keindahan khas Indonesia bagian timur.

Dari ruangan koleksi kebudayaan, kemudian kami berdua masuk ke sebuah ruangan yang berisi miniatur rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, ketika baru saja masuk, kami langsung ditegur oleh seorang satpam dan dimintai tiket masuk. Karena memang tidak tahu, aku jawab saja waktu itu kalau kami lewat pintu samping sebelah kiri gedung yang berhubungan langsung dengan tempat parkir motor. Setelah itu satpam tadi mengantarkan kami ke loket penjualan tiket yang ternyata terletak di lobby gedung. Di loket ini kemudian temanku diminta untuk menitipkan tas ranselnya.

Setelah membeli tiket dan meminta maaf atas ketidaktahuan, kami masuk ke ruang koleksi arca-arca dan prasasti peninggalan masa lalu yang dinamakan gedung arca. Koleksi ini paling banyak didapatkan dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia-Belanda, dan pembelian. Beberapa peinggalan sejarah yang terdapat di gedung arca ini antara lain adalah patung Budha, Ganesha, perwujudan Dewa Wishnu, Nandi (lembu tunggangan Dewa Wishnu), dan berbagai macam prasasti.

Bercengkrama dengan patung Gupala, petung berwujud raksasa yang sedang memegang pentungan. Biasa diletakkan di gerbang masuk berpasangan kanan-kiri.
Alltonsen sedang bertapa di depan patung Ganesha
Patung Budha, salah satu koleksi Gedung Arca
Selain peninggalan dari seluruh nusantara, terdapat juga koleksi kebudayaan dari luar negeri. Seperti topeng khas Thailand, keramik-keramik China dari masa dinasti Han, Tang, dan Ming. Sedangkan di lantai dua terdapat koleksi peninggalan sejarah yang terbuat dari emas. Dari cerita yang kudapat, koleksi emas tersebut berupa mahkota, gelang, anting-anting, kalung, cawan, keris, dan sebagainya. Sayang sekali waktu itu bagian lantai dua dari museum ini sedang ditutup sehingga aku tak sempat melihatnya secara langsung. Mungkin saja karena kasus pencurian benda bersejarah yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Belum puas sebenarnya, tapi kunjungan tersebut harus segera disudahi karena waktu sudah hampir jam lima sore, yang merupakan jam tutup museum untuk hari sabtu dan minggu. Mengunjungi tempat yang kental dengan aroma masa lalu selalu menimbulkan gairah tersendiri bagiku. Dengan mencium bau udara khas museum, seolah-olah aku bisa merasakan di sekitarku ada orang-orang dari masa lalu yang sedang berperang, sedang melakukan jual beli di pasar, sedang berlayar di lautan, dan ketika mereka tengah mencapai puncak kejayaan. Aroma membangkitkan, begitulah aku menyebutnya. Sayang sekali tidak banyak pemuda yang tertarik datang ke museum sehingga hampir semua museum selalu sepi dan terkesan seram, berbeda sekali dengan acara musik dahsyat, YKS, dan acara sampah lainnya yang selalu ramai dan hingar bingar. Entah kalau seperti ini terus, kapan mereka bisa menghirup Aroma membangkitkan. Tapi, seperti kata pepatah, selalu ada hikmah yang bisa disyukuri dari setiap keadaan, sepinya museum juga perlu disyukuri karena dengan begitu keasrian dan kemagisannya bisa tetap terjaga, steril dari kelakuan anak-anak alay yang seringkali absurd. Tentu kita masih trauma dengan nasib tragis Gunung Semeru, dan puncaknya Mahameru, yang telah diperkosa habis-habisan pasca boomingnya film 5 cm.

Minggu, 10 November 2013

Keberanian 10 November


Ketika kira-kira 67 tahun yang lalu Bung Tomo berteriak dengan latang “Merdeka atau mati?!”, maka seluruh pemuda yang ada di surabaya dan sekitarnya, tanpa pikir panjang, langsung berangkat berbondong-bondong menyedekahkan  jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung. Waktu itu sama sekali tidak ada kepentingan ataupun tendensi politik tentang jabatan apa yang akan mereka dapatkan nanti ketika perjuangan telah mencapai kemenangan. Yang ada dalam benak para pemuda saat itu hanyalah semangat yang membara untuk membela harga diri dan menentang kembalinya gerombolan penindas ke bumi nusantara yang telah berabad-abad dirampoknya. Diiringi restu dari Hadratus Syiekh Hasyim Asyari, yang sebelumnya juga telah mengeluarkan fatwa tentang kewajiban berjihad untuk mempertahankan kemerdekaan, pemuda kita yang hanya berbekal senjata rampasan dan bambu runcing dengan gagah melawan tentara sekutu yang menggempur Kota Surabaya habis-habisan dari darat, laut, dan udara. Sebuah kisah perlawanan heroik yang kemudian dikenang dengan ditetapkannya hari tersebut, 10 November, sebagai hari pahlawan.

Rasanya sangat membanggakan sekali saat kita mengenang peristiwa tersebut. dimana negeri kita, yang baru tiga bulan diproklamirkan dan masih tertinggal jauh dalam hal apapun, memiliki semangat juang yang luar biasa untuk tidak membiarkan segala bentuk pelecehan terhadap harga diri bangsa. Sekalipun itu berarti harus melawan tentara-tentara bersenjata lengkap beserta mesin-mesin pembunuh yang super canggih di jamannya. Dipimpin oleh Bung Tomo, dan dengan dukungan doa dari para ulama, pemuda Indonesia kala itu mampu membuat kota Surabaya bagaikan neraka bagi para tentara sekutu. Apalagi ditambah dengan membelotnya 3000 pasukan Ghurka pimpinan Ziaul Haq yang menolak berperang dengan sesama muslim karena alasan ukhuwah Islamiah. Konon pasukan bayaran Inggris ini baru tahu kalau Indonesia itu Islam setelah mendengar pekikan “Allah Akbar” dari para pemuda. Bahkan, ‘neraka’ yang diciptakan para pejuang kita tersebut mampu menewaskan Jenderal Inggris, W.S. Mallaby.

Namun, ketika kita melihat kondisi pemuda di masa sekarang, rasanya hampir mustahil peristiwa heroik seperti yang pernah terjadi pada 10 November 1945 bisa terulang kembali. Walaupun, katakanlah, tokoh hebat semacam Bung Tomo dan Syekh Hasyim Asyari hidup kembali sekalipun. Bagaimana tidak, di era globalisasi dewasa ini, pemuda kita seperti telah kehilangan karakter heroiknya. Harga diri bangsa yang dulu mati-matian diperjuangkan, kini seakan-akan telah hilang digantikan berbagai macam kesenangan yang melunturkan cita-cita perjuangan. Para pemuda lebih sibuk dengan kepentingan pribadi dan golongannya dari pada memikirkan kemajuan bangsa. Tokoh-tokoh yang bisa dibilang intelektual lebih senang bertengkar untuk berebut kekuasaan dalam politik praktis. Para pelajar lebih memilih tawuran dan berbuat asusila daripada mengikuti kegiatan yang bisa mengeksplor potensi mereka, seperti pecinta alam, pramuka, rohis, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan para remaja yang telah bermetamorfosis menjadi konsumen dan peniru sejati, yang siap membeli serta meniru apa saja yang ditawarkan oleh setan-setan kapitalis, sekalipun itu merusak.

Di tengah hilangnya karakter pemuda Indonesia yang semakin akut, sebenarnya masih ada organisasi-organisasi pemuda yang memiliki cita-cita luhur untuk membina dan mengembangkan anggotanya sesuai dengan ideologi dan visi yang dimiliki. Dan patut diakui juga, bahwa banyak sekali tokoh-tokoh besar negeri ini yang terlahir dari organisasi-organisasi tersebut. Mereka mendapatkan skill mengelola organisasi, kemampuan mengatasi konflik, serta jaringan yang luas setelah mereka berkader di organisasi-organisasi tersebut. Namun, nampaknya sejarah memang akan selalu berulang. Nafsu untuk berekuasa rupanya masih saja menjadi hantu yang sangat menakutkan bagi tegaknya cita-cita perjuangan. Begitu dekatnya posisi organisasi-organisasi ini dengan lingkaran kekuasaan menjadi bumerang yang semakin mempersulit gerak mereka. Independensi seketika menjadi barang mewah yang sulit didapat di tengah-tengah politik penyandraan dan transaksional yang terus merongrong.

Selain itu, gaya hidup hedon yang semakin merajalela juga membuat organisasi-organisasi semacam ini kesulitan menawarkan cita-cita ideologisnya kepada para pemuda negeri ini. Pemuda-pemuda yang telah terdidik secara instan ini tidak betah mengikuti proses berkader yang telah ditetapkan. Mereka hanya tertarik dengan hal-hal yang memberikan keuntungan praktis tanpa memikirkan proses pendewasaan dan pematangan karakter. Dan sayangnya, tidak sedikit organisasi-organisasi ini yang akhirnya justru terbawa arus dan kemudian menawarkan keuntungan-keuntungan yang berbau pragmatis untuk mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya. Hal inilah yang kemudian semakin memperkeruh keadaan. Organisasi yang seharusnya dijadikan sebagai wadah perjuangan, malah dijadikan sebagai tumpangan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Atau bisa juga organisasi-organisasi tersebut hanya dijadikan sebagai batu loncatan untuk bisa bergabung dengan partai politik orang-orang tua yang luar biasa korup dan bobrok.

Lalu, apa yang kemudian bisa kita lakukan dengan kondisi bangsa seperti ini. Kebobrokan orang-orang yang kini duduk di kursi kekuasaan sudah tidak mungkin lagi diperbaiki. Dan gerakan-gerakan pemuda yang seharusnya bisa menjadi moral force pun juga sudah mengalami stagnasi. Satu-satunya kunci untuk melepaskan diri dari semua keterbelakangan ini adalah keberanian. Seperti yang telah kita ketahui, keberanian lah yang menjadi kunci keberhasilan arek-arek Suroboyo dalam menghalau tentara sekutu yang ingin merongrong kemerdekaan Indonesia. Dan momentum 10 November ini sudah seharusnya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjadi generasi yang tercerahkan, yang berani melawan segala bentuk penjajahan. Generasi ini harus lahir dari proses pengkaderan yang matang secara ideologis kebangsaan namun tetap berkompeten dalam menjalankan hal-hal teknis operasional. Generasi ini akan menyelamatkan pergerakan-pergerakan pemuda dari rongrongan penguasa yang ingin menginkubasi ataupun mematikannya.


Kita sudah sangat rindu dengan kisah-kisah heroik para pemuda yang dengan lantang berani menyatakan perang kepada segala bentuk penindasan. Kisah heroik tersebut tak akan lagi menjadi sebuah hal yang mustahil jika seluruh elemen pergerakan di negeri ini tetap berpegang teguh dengan semangat 10 november yang membara. Yang meskipun dengan pakaian compang camping, di tengah cuaca panas yang membakar, dan diiringi bunyi keroncong perut yang kelaparan tetap tak pernah menyurutkan semangatnya untuk merobohkan setan-setan penindas. Sudah saatnya kita berantas generasi-generasi penakut yang hanya menjadi beban negara ini, generasi yang menjilat penguasa karena takut tidak bisa bertahan hidup, generasi yang berhenti bergerak karena takut tidak mendapat backing dari penguasa, dan generasi yang bobrok dan korup karena takut miskin serta kehilangan kakuasaan. Sudah saatnya organisasi-organisasi kepemudaan mendapatkan lagi independensinya, dan sudah saatnya kaum muda benar-benar menjalankan fungsinya sebagai moral force tanpa ditumpangi oleh kepentingan apapun selain kepentingan kebenaran. Dan sekali lagi, kuncinya hanya satu, yaitu keberanian.

Sabtu, 09 November 2013

KH. Hasyim Asyari, Sang Inspirator Perjuangan


Sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini telah menampilkan manusia-manusia terpilih yang telah menyedekahkan hidupnya untuk tanah air tercinta. Tidak bisa dihitung sudah berapa banyak harta benda, keringat, dan darah dikorbankan untuk mengusir penjajah yang ratusan tahun menghisap kekayaan Indonesia. Pengorbanan luar biasa yang pasti kita -generasi muda- akan sangat berdosa jika tidak menjadikannya sebagai inspirasi. Terlebih di jaman sekarang, dimana telah merajalela pragmatisme dan transaksi politik di hampir semua lini pergerakan, baik di lingkar penguasa maupun di organ-organ non-penguasa. Padahal saat itu, kakek-kakek kita yang telah berjuang mati-matian mengusir penjajah tak pernah berpikir hitung-hitungan maupun transaksi politik akan menjadi apa kelak ketika Indonesia merdeka, apakah akan mendapatkan jabatan atau lahan yang lebih luas untuk bisnisnya. Yang penting Indonesia merdeka, itu saja.

Dan diantara pejuang yang telah berjasa mengantarkan negeri ini menuju pintu kesejajaran dengan bangsa-bangsa lain di dunia adalah KH. Hasyim Asyari, seorang ulama kharismatik asal jawa timur yang juga pendiri organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Sosok KH. Hasyim Asyari begitu istimewa, karena beliau adalah salah satu pahlawan nasional yang memiliki kedalaman ilmu agama namun tetap menaruh perhatian yang luar biasa terhadap pergerakan kemerdekaan. Bisa dikatakan saat itu Kyai Hasyim merupakan seorang ulama nasionalis. Selain itu, Kyai Hasyim juga memiliki pemahaman keberagamaan menarik yang patut diteladani. Meskipun menuntut ilmu agama selama enam tahun lebih di Makkah, yang dikenal sebagai basis paham wahabbi, Kyai Hasyim tetap mencintai negeri ini beserta budaya dan kearifan lokal di dalamnya. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pemahaman wahabbi yang  terkenal puritan dan menolak berbagai tradisi lokal.

Nasionalisme Kyai Hasyim dapat dilihat dari keseluruhan hidupnya yang dipersembahkan untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Beliau ikut berjuang melawan penjajah dan tak mau bertekuk lutut pada kehendak mereka. Kyai Hasyim melarang para ulama lain mendukung Belanda ketika diserang Jepang dalam Perang Dunia II, bagi beliau haram hukumya berkongsi dengan penjajah karena penjajahan dalam bentuk apapun tidak dibenarkan dalam Islam. Selain itu, ulama yang memiliki nasab (garis keturunan) sampai ke Sunan Ampel hingga imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Baqir ini juga tidak mau menuruti perintah Jepang untuk melakukan seikerei (membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 untuk menghormati kaisar dan dewa matahari) yang membuat Jepang sangat marah dan kemudian menangkap dan memenjarakan beliau. Perlakuan jepang saat itu sangat kasar terhadap Kyai Hasyim, sampai-sampai jari tangan beliau patah dan tidak bisa digerakkan.

Dan yang paling fenomenal adalah fatwa jihad yang dikeluarkan Kyai Hasyim bersama ulama-ulama lain pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini telah memberi legimitasi kepada para pejuang kemerdekaan untuk melawan tentara-tentara Belanda sehingga semangat para pejuang menjadi berlipat ganda. Sejarah mencatat ribuan orang telah berbondong-ondong memenuhi kewajiban jihadnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru seumur jagung. Peristiwa 10 November di Surabaya adalah bukti bahwa fatwa jihad tersebut sangat ampuh membakar keberanian suci para pejuang. Kyai Hasyim Asyari telah berhasil memformulasikan agama sebagai motivasi dasar sekaligus sumber legimitasi yang menggerakkan perjuangan melawan penindasan. Seandainya saja waktu itu Karl Marx (filsuf besar asal Jerman) masih hidup, mungkin ia akan menyesali pernyataannya tentang agama sebagai candu yang membuai dan menina-bobokan kaum tertindas agar tidak melakukan perlawanan.

Selain itu, kepedulian Kyai Hasyim Asyari terhadap tanah air juga diwujudkan melalui pendidikan agama yang memperkokoh semangat kebangsaan dan kemajuan. Sebagai seorang ulama yang  lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, Kyai Hasyim memiliki komitmen yang kuat di bidang pendidikan dan pemberdayaan umat. Ayahnya, Kyai Asyari merupakan pendiri Pesantren Keras (dinamakan demikian karena letaknya di Desa Keras, Jombang selatan). Di pesantren inilah Kyiai Hasyim muda mulai nyantri. Saat itu beliau dikenal sebagai santri yang sangat cerdas, rajin, dan ulet. Bahkan di usia 13 tahun, Kyiai Hasyim telah dipercaya ayahnya untuk mengajar di Pesantren Keras, meskipun sebagai guru pengganti. Setelah dewasa dan memiliki bekal ilmu yang mumpuni, beliau meneruskan perjuangan ayahnya dengan mendirikan Pesantren di dukuh Tebuireng,  sebuah wilayah yang pada awalnya dikenal sebagai tempat orang-orang yang tidak mengerti agama dan berperilaku buruk. Masyarakatnya suka merampok, berjudi, dan berzina. Ketika dinasehati oleh keluarga dan teman-temannya agar mengurungkan niat membangun pesantren di daerah tersebut, beliau menolak dan berpendapat “Menyiarkan agama Islam ini artinya memperbaiki manusia. Jika manusia itu sudah baik, apa yang  akan diperbaiki lagi daripadanya. Berjihad artinya  menghadapi kesulitan dan memberikan pengorbanan. Contoh-contoh ini telah ditunjukkan Nabi kita dalam perjuangannya.”

Terbukti, seiring berjalannya waktu perjuangan Kyai Hasyim mulai menuai buah-buah keberhasilan. Tebuireng yang semula merupakan wilayah yang penuh dengan kemaksiatan berubah menjadi taman iman, ilmu, dan amal. Sebuah perubahan sosial yang sangat sulit ditandingi, terlebih pada masa sekarang. Selain itu jamaah yang didirikannya bersama para ulama lain, yaitu Nahdlatul Ulama, kini telah menjadi jamaah terbesar di Indonesia yang konsisten menegakkan dakwah Islam yang moderat, dengan berdasarkan pada prinsip persaudaraan (ukhuwah) dan toleran (tasamuh). Jika saja tidak ada Nahdlatul Ulama, kemungkinan besar Indonesia juga akan terjangkit virus keberagamaan yang vandal dan intoleran, seperti yang saat ini tengah dialami Pakistan, Afghanistan, Sudan, bahkan Mesir.


Jiwa patriotik dan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh Kyiai Hasyim Asyari sudah sepatutnya menjadi contoh dan pegangan bagi kita -khususnya golongan muda- untuk lebih keras lagi dalam berjuang dengan tantangan yang khas di jaman ini. Komitmen, keberanian, dan konsistensi beliau merupakan nilai universal yang saat ini harus kita jadikan inspirasi untuk berjihad memberantas musuh-musuh negara sekaligus musuh agama, seperti korupsi, monopoli ekonomi, dan pembodohan publik.

Senin, 28 Oktober 2013

Sumpah Pemuda? Ciyus?

Perjalanan panjang sejarah bangsa ini telah melahirkan bermacam-macam sumpah yang termasyhur. Mulai dari jaman klasik yang melahirkan Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda, dan Sumpah Bung Hatta. Sampai dengan jaman modern yang melahirkan sumpah pocong, sumpah gantung monas, dan sumpah potong jari. Meskipun sangat berbeda jika dilihat dari kualitas isi dan konsistensi pelaksanaannya, tapi tetap saja semuanya dinamakan sumpah. Baik yang lahir di jaman klasik, maupun yang modern.

Dan hari ini merupakan hari peringatan dari salah satu sumpah yang diikrarkan di jaman pra-kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1928, yaitu Sumpah Pemuda. Sumpah yang diikrarkan oleh para pemuda dari seluruh pelosok nusantara tersebut -tentu saja diantara mereka tidak akan ditemui Farhat Abas, Anas Urbaningrum, apalagi Akil Mokhtar karena ketiganya termasuk penganut paham sumpah modern- dalam catatan sejarah telah melahirkan tiga poin penting, salah satunya adalah kesepakatan untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Bahasa yang disepakati untuk komunikasi universal dan menunjukkan identitas bangsa adalah bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa melayu. Kala itu, pemuda-pemuda dari jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah-daerah lain telah berhasil mengalahkan ego kedaerahannya masing-masing dan sepakat untuk memperjuangkan kepentingan bangsa secara kolektif. Sebuah pencapaian yang luar biasa karena kita tahu sendiri kalau pemuda, terlebih pemuda masa kini, dikenal memiliki sifat egois dan sangat sulit untuk mengalah.

Dampak dari lahirnya sumpah pemuda 85 tahun yang lalu tersebut tidak bisa dianggap remeh. Paling sederhana saja, sumpah yang diucapkan pada saat Kongres pemuda I tersebut telah menginspirasi organisasi-organisasi pergerakan di masa itu untuk menggunakan kata “Indonesia” di dalam namanya. Sebut saja Partai Indonesia (Partindo), Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), dan partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Sedangkan untuk hal yang prinsipal, sumpah pemuda bisa disebut sebagai lompatan pergerakan kemerdekaan. Karena egoisme kedaerahan yang selama berabad-abad dimanfaatkan oleh penjajah untuk melakukan politik adu domba (devide at impera) telah berhasil dikesampingkan. Pemuda-pemuda dari dari pelosok nusantara yang terdiri dari beragam suku, agama, dan bahasa telah memilih untuk bersatu, salah satunya melalui bahasa.

Namun, sumpah yang diucapkan dengan penuh keberanian dan kelegowoan tersebut, nampaknya sudah dianggap tidak relevan lagi oleh sebagian pemuda masa kini. Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa universal di lingkup dalam negeri sudah dianggap kuno dan ga gaul. Media komunikasi massal, khususnya televisi, seakan-akan telah menjadi bodoh terkait hal ini. Acara-acara televisi yang ditujukan untuk kalangan remaja dan pemuda dirasa janggal jika menggunakan panggilan “aku-kamu”, lebih pas jika menggunakan “elo-gue”.

Kalau memakai panggilan “elo-gue” dalam pembicaraan yang tidak resmi, mungkin masih bisa dimaklumi karena panggilan tersebut diadaptasi dari salah satu bahasa daerah. Yang menyedihkan adalah ketika kata-kata baku dalam bahasa Indonesia mulai dipelintir bunyinya menjadi terdengar menjijikkan lalu disebarkan secara massif melalui acara-acara televisi yang semakin tidak mendidik. Coba kita pikirkan, dimana letak kerennya kata-kata seperti “Ciyus”, “miapah”, “enelan”, dan lain sebagainya. Belum lagi jika penulisan kata-kata tersebut menggunakan kombinasi angka dan huruf beraneka ragam yang membuat sakit mata. Kalau sumpah pemuda yang diikrarkan pada 28 oktober 1928 merupakan sebuah lompatan pergerakan, maka penggunaan bahasa Indonesia yang dipelintir seperti sekarang –atau lebih dikenal dengan bahasa ALAY- merupakan sebuah kemunduran peradaban. Mundur semundur-mundurnya.

Diperlukan kerja keras untuk melakukan pencerahan kembali kepada anak-anak muda yang sudah terlanjur nyaman mengucapkan dan menulis bahasa alay sehingga merasa kaku ketika harus menggunakan bahasa Indonesia secara baku. Jangan sampai bahasa Indonesia yang merupakan salah satu simbol persatuan bangsa ini menjadi punah karena setelah babak belur dihajar bahasa asing yang semakin mendominasi, saat ini malah diperkosa habis-habisan oleh anak mudanya sendiri.

Melalui peringatan sumpah pemuda inilah, pencerahan untuk kembali menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar menemukan momentumnya. Anak-anak muda masa kini harus diingatkan tentang betapa heroiknya kakek-kakek mereka dahulu dalam memperjuangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Tapi sebelumnya saya ingatkan, supaya bersabar jika ingin mengingatkan anak-anak muda jaman sekarang tentang pentingnya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bentuk penghormatan terhadap Sumpah Pemuda. Jangan sampai mudah sakit hati atau gusar jika nantinya setelah dinasehati, mereka akan menjawab dengan enteng “Ciyus om? Miapah?”.


Sabtu, 26 Oktober 2013

Reformasi : Era Baru kekerasan Mengatasnamakan Agama

Jatuhnya orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun telah memberikan angin segar bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Pers mulai bebas menulis pemberitaan yang mengkritik pemerintahan, partai-partai politik baru bermunculan, dan organisasi-organisasi masyarakat (ormas) pun kembali menemukan ruang geraknya. Kondisi seperti ini tentu sangat berbeda dengan situasi di jaman pra-reformasi. Dimana pembungkaman, pengekangan kebebasan, dan monopoli kekuasaan benar-benar dilakukan oleh negara.

Namun, setelah berlangsung lebih dari 15 tahun, reformasi masih menyisakan pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Kebebasan yang dulu diperjuangkan para aktivis ’98 semakin lama terasa semakin absurd. Pers saat ini hanya dijadikan senjata untuk menyingkirkan lawan-lawan politik. Partai-partai yang semakin bermunculan justru semakin memunculkan koruptor-koruptor baru yang menggerogoti uang rakyat. Dan yang paling menyedihkan adalah jaminan kebebasan berserikat dan berkumpul justru melahirkan ormas-ormas vandal yang anti keberagaman.

Ormas-ormas yang hobi dengan kekerasan ini seakan-akan menemukan celah untuk melaksanakan agenda-agendanya di era kebebasan ini. Kita semua pasti mengakui, walaupun sangat korup dan represif, namun rezim orde baru sangat concern terhadap masalah keamanan dan stabilitas nasional. Saat itu, hampir tidak pernah ditemui kasus-kasus terorisme maupun kekerasan yang dilakukan oleh ormas secara massif. Seperti yang banyak terjadi belakangan ini.

Trend munculnya ormas-ormas vandal ini jika terus menerus dibiarkan bisa membahayakan keutuhan NKRI yang berbhineka ini. Apalagi 65 % (data dari Lingkaran Survei Indonesia) dari kekerasan-kekerasan yang terjadi selama 15 tahun berlangsungnya reformasi ini merupakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Fenomena ini merupakan penanda bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara kita semakin memburuk. Karena agama agama adalah sumber nilai dan motivasi  hidup bangsa ini sejak berabad-abad yang lalu.

Keadaan ini menjadi semakin runyam karena negara seolah-olah melakukan pembiaran terhadap kasus-kasus kekerasan yang merupakan kemunduran peradaban ini. Pemberian kebebasan berekspresi tidak diimbangi dengan penegakan hukum dan pencerdasan mengenai pentingnya toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika dulu di era orde baru, diskriminasi hanya dilakukan penguasa kepada pengikut ideologi komunisme, saat ini justru diskriminasi dilakukan oleh kelompok masyarakat sipil kepada kelompok-kelompok minoritas yang berbeda pandangan keagamaan, seperti diskriminasi kepada pengikut Syiah, Ahmadiah, jamaat HKBP, dan lain sebagainya.

Fenomena seperti ini patut mendapat perhatian lebih dari masyarakat, dimana negara yang seharusnya menjamin keamanan dan kestabilan nasional semakin tidak bisa diharapkan. Ormas-ormas yang kerap melakukan kekerasan yang mengatasnamakan agama ini harus diberi pencerdasan sekaligus sanksi sosial. Terlebih, pelaku kekerasan tersebut sebenarnya juga merupakan minoritas, karena lebih banyak umat beragama di Indonesia yang cinta dama dan mampu bertoleransi. Ormas-ormas bermassa besar namun memiliki pemahaman yang inklusif dan moderat (katakanlah NU dan Muhammadiyah) harus mengambil peran lebih untuk menghentikan kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama. Pencerdasan, propaganda, dan kampanye anti kekerasan sudah saatnya dilakukan untuk membentengi jamaahnya secara khusus, dan masyarakat Indonesia secara luas, agar terhindar dari pengaruh paham-paham yang disebarkan oleh ormas-ormas vandal yang rata-rata anggotanya berasal dari kalangan tak berpendidikan tersebut.

Selain itu, upaya untuk memeratakan pendidikan dan kesempatan memperbaiki taraf ekonomi juga harus lebih banyak lagi mendapat porsi. Karena salah satu penyebab ormas-ormas vandal tersebut selalu medapat anggota adalah karena kebodohan dan kemiskinan masyarakat Indonesia sehingga rawan sekali terkena tipuan dan rayuan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Ucapan menteri dalam negeri Republik Indonesia, Gamawan Fauzi, beberapa hari yang lalu sebenarnya sangat baik andaikata beliau tidak menyebut Front Pembela islam (FPI) sebagai contoh ormas yang bisa dijadikan partner bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan program pembangunan. Sebagaimana diketahui, waktu itu Bapak Menteri menghimbau kepada pemerintah daerah agar melibatkan ormas-ormas terkait dalam pelaksanaan pembangunan daerah.

Sudah saatnya pemerintah daerah bersama-sama dengan masyarakat (tentu saja tidak termasuk FPI seperti yang disarankan Pak mentri), membendung kekerasan horizontal yang melibatkan ormas-ormas vandal yang berkedok agama dan golongan minoritas yang tidak sepaham. Melalui pendidikan, propaganda, dan kampanye anti kekerasan, yang tidak menggunakan cara-cara kekerasan tentunya, sebagai pengimbang massifnya gerakan pro-kekerasan yang seakan-akan tak pernah kehabisan sumber daya. Entah dari mana mereka mendapat asupan dana dan sarana yang lain untuk melaksanakan agenda-agendanya. Semoga saja bukan dari negara melalui tangan Bapak Menteri dan jendral-jendralnya. Sekali lagi, semoga.


Rabu, 02 Oktober 2013

Tak perlu Membabi Buta Bela PKI


Dalam dua hari terakhir ini banyak sekali teman-temanku yang mengupload segala hal berbau Partai Komunis Indonesia (PKI). Mulai dari gambar palu-arit yang merupakan lambang universal gerakan komunis, sampai sumpah serapah terhadap rezim orde baru yang membantai habis-habisan partai peraih suara terbesar ke-4 dalam PEMILU 1955 ini. Memang setiap tahun, tanggal 30 september dan 1 oktober, bisa dikatakan sebagai ‘hari’nya PKI. Banyak pemuda yang berlomba-lomba mengekspresikan simpatinya kepada PKI yang sebenarnya telah menjadi korban kekejaman Orde baru, namun ironisnya justru dijadikan sebagai kambing hitam atas peristiwa yang secara resmi dinamakan G30S/PKI. Selain itu, teman-teman yang kebanyakan masih berstatus mahasiswa tersebut juga ingin mengekspresikan rasa marah sekaligus kesal karena sejak kecil dicekoki informasi yang salah dan cerita sejarah hasil rekayasa, sampai kemudian mampu memperoleh dan mencerna sendiri fakta-fakta yang sebenarnya dari berbagai sumber.

Memang benar, pembantaian terhadap elite, kader, serta simpatisan PKI yang dipelopori oleh tentara dan ormas keislaman di rentang waktu 1965-1968 merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan yang sangat biadab. Tak tercatat lagi berapa juta anak bangsa yang mati desembelih massal karena dituduh makar tanpa diadili terlebih dulu. Tak bisa dihitung juga berapa perempuan anggota GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), salah satu organisasi sayap PKI, yang diperkosa serta dilecehkan dengan cara-cara yang sangat tidak manusiawi oleh para tentara dan orang-orang yang mengaku beragama. Bahkan Gus Dur, yang tengah menjalani masa belajar di Irak saat pembantaian itu berlangsung, di kemudian hari meminta maaf atas keterlibatan organisasi yang dipimpinnya dalam pembunuhan massal tersebut.

Namun, yang harus dipahami oleh para pemuda masa kini adalah jangan sampai rasa simpati kepada korban kejahatan orde baru tersebut menghilangkan objektifitas lalu melakukan pembelaan secara membabi buta terhadap PKI.  Diantara kalimat pembelaan yang sering saya dengar adalah “Komunis itu tidak identik dengan atheis”. Memang, komunisme dan atheisme merupakan subyek yang berbeda. Namun perlu diketahui bahwa dalam doktrin yang dirumuskan Karl Marx, sang bapak komunisme, salah satunya disebutkan bahwa agama merupakan penghambat revolusi serta alat penguasa untuk menindas kaum buruh. Walaupun dalam hal pembelaan terhadap kaum tertindas dan perlawanan kepada penumpuk harta paham komunisme memiliki banyak kesamaan dengan gerakan Islam. Namun sepertinya kader-kader komunis menerapkan doktrin tersebut terlalu ekstrim. Sejarah telah mencatata bahwa selama revolusi kebudayaan di China, pemimpin Mao telah menutup ratusan tempat ibadah untuk dijadikan pabrik dan gudang, termasuk salah satunya adalah masjid yang didirikan oleh sahabat Sa'ad bin Abi waqas di Guangzou.

Selain itu, ada lagi yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh PKI merupakan orang Islam dan lulusan pesantren. Hal tersebut sekilas memang benar, namun perlu diketahui bahwa mayoritas orang Indonesia adalah muslim sejak lahir. Sehingga wajar kalau tokoh-tokoh besar bangsa ini beragama Islam, meskipun tokoh tersebut berasal  dari berbagai ideologi, mulai nasionalisme, Islamisme, sampai komunisme. Selain itu perlu diperhatikan juga fakta bahwa di masa kolonial pesantren menjadi satu-satunya sarana pendidikan yang bisa dinikmati anak bangsa tanpa perlu menjadi bangsawan. Jadi tidak heran kalau para pemimpin negeri ini kebanyakan pernah mengenyam pendidikan pesantren, karena jelas waktu itu belum ada IAIN, UIN, maupun universitas-universitas lainnya. Jadi, terlalu mengada-ada kalau mengaitkan gerakan PKI dengan latar belakang keislaman tokoh-tokohnya.

Lalu yang tidak banyak diketahui adalah fakta bahwa PKI waktu itu bukanlah satu-satunya partai politik yang berhaluan sosialis-komunis di Indonesia. Masih ada Partai Sosialis Indonesia (PSI) milik Sutan Syahrir dan Partai MURBA bentukan Tan Malaka. Bisa dikatakan saat itu PKI merupakan partai komunis ekstrem yang mengklaim paling komunis dibandingkan dengan PSI yang moderat-oportunis dan MURBA yang telah merumuskan ideologi marxisme khas Indonesia. Dan semua orang juga akan tahu kalau berkuasanya gerakan ekstrim, apapun ideologi dasarnya, merupakan awal dari kehancuran. Sejarah telah mencatat. Genosida dan kobaran perang dari NAZI di jerman, kekejaman Leninisme dan Stalinisme di Uni Soviet, dan yang paling baru adalah berkuasanya gerakan Ikhwanul Muslimin yang menandai dimulainya rentetan bencana perang saudara di negeri piramida. Bayangkan seandainya PKI semakin besar dan menguasai negeri tecinta ini, Pancasila akan ditendang, agama yang telah menjadi ruh dalam kehidupan masyarakat segera masuk keranjang sampah, dan orang-orang yang tidak sependapat pun akan dibunuh lalu dihilangkan. Demokrasi juga akan mati karena hanya ada satu partai yang boleh hidup, seperti yang saat ini masih dianut oleh korea utara yang tertutup dan diktator.

Kekejaman rezim Orde Baru dalam menyingkirkan lawan-lawan politiknya dan juga kecurangannya dalam merumuskan sejarah bangsa ini memang harus dikutuk serta dijadikan pelajaran bagi kita semua. Namun jangan sampai hal tersebut membuat kita kehilangan objektifitas sehingga tidak menyadari  akan bahaya dari gerakan-gerakan impor yang tidak peduli terhadap nilai-nilai kearifan lokal semacam PKI. Indonesia dengan pancasilanya merupakan kesepakatan final yang tak satupun dari gerakan-gerakan ekstrim dari golongan manapun boleh menggantinya. Hidup Pancasila!!


Rabu, 25 September 2013

Catatan Wisuda 107

Sabtu, 21 September 2013. Merupakan hari yang sangat membahagiakan. Jika saja rentang waktu selama sepuluh tahun semenjak usia SD sampai hari sakral tersebut dihilangkan, niscaya akan seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata. Di Graha Sepuluh Nopember, ditemani orang tua beserta keluarga, bersama teman-teman seperjuangan, dan dihadapan dewan profesor yang begitu berwibawa, merupakan momen yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup. Seakan terngiang-ngiang apa yang telah difirmankan oleh Allah Tuhan semesta alam dalam surat Ar-Rahman 'Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan'.

Hari itu merupakan hari wisuda ke-107 Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dimana segala jerih payah, keringat, dan air mata yang telah dikorbankan selama empat tahun terakhir ini mendapat imbalannya. Bukanlah toga super gagah ini yang menjadikan prosesi wisuda istimewa, bahkan bukan juga karena ijazahnya. Melainkan begitu banyaknya orang yang turut bahagia dan mengapresiasi perjuangan kita. Bayangkan betapa campur aduknya perasaan kita menyaksikan tangis haru orang tua, betapa bahagianya mereka menyaksikan sang anak telah berhasil meraih sebagian dari mimpi-mimpinya. Bahkan aku bisa membayangkan kalo ayahku di alam sana juga sedang tersenyum sambil berkata bangga "you've done it pretty well, son."

Gelar ini untukmu, ayah :')

Entah, kata apa yang pantas aku ucapkan padamu.
Darimu aku belajar tentang makna perjuangan, Ibu...

Selain itu, ada juga gelak tawa dan canda dari teman-teman seperjuangan yang selama empat tahun ini telah bersama dalam berbagai situasi, entah itu pada saat bersama-sama dikader, menjalani ganasnya praktikum, juga pada saat sama-sama bokek karena kiriman dari orang tua terlambat. Selain teman, mereka juga adalah guru yang mengajari arti kebersamaan dan persahabatan. Terima kasih tak terkira untuk kalian yang telah menemani waktuku selama kurang lebih empat tahun di kampus perjuangan.

Tak lupa juga yang membuat prosesi wisuda ini menjadi sangat istimewa adalah sambutan dari adek-adek angkatan maupun teman-teman lainnya. Membahagiakan sekali ketika tahu bahwa ada orang lain yang ikut senang di hari istimewa kita, semua rasa lela dan penat saat menjalani masa-masa kuliah seakan terbayar lunas dengan apresiasi tersebut.
Bersama adek-adek Komisariat Kimia.


Kawan berjuang di HMI Sepuluh Nopember. YAKUSA!!


Teman SMA adalah teman selamanya :)


Keluarga, semoga selanjutnya lebih  bisa membanggakan kalian.

Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih...

Jumat, 20 September 2013

Tuhan Sulastri

Lelah. Entah sudah berapa banyak senyuman yang dilemparkannya malam ini. Bahkan lambaian tangan nakalnya pun tak mampu menarik seekor kumbang pun untuk sekedar menghisap madu dari cawan yang sejak tadi dia tawarkan. Bedak murahan merek fanbo yang biasa dibelinya dari warung Mak Iyem juga sudah mulai luntur oleh keringat.

Wanita setengah baya itu mulai gelisah, dilihatnya kembang-kembang lain yang lebih muda sudah mulai bergelayutan manja di pelukan mangsa-mangsanya sambil mencari tempat untuk saling bertukar madu dan racun dalam dosa. Sedangkan Sulastri, nama asli wanita itu, masih saja sendiri. Terkadang berdiri, terkadang duduk bersilang kaki untuk memamerkan bagian pahanya yang tak lagi mulus itu.

Ditemani segelas hemaviton merah rasa anggur dan Mak Iyem, penjaga warung di lingkungan lokalisasi di pinggiran Jakarta, Sulastri menghabiskan malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Bukan untuk membunuh waktu seperti yang selalu dilakukan orang-orang yang lebih beruntung darinya, melainkan untuk membunuh harga dirinya sendiri agar bisa terus menghidupi dan menyekolahkan anak semata wayangnya.

Dan nampaknya malam ini sama sekali bukan malam keberuntungan Sulastri, hingga gelasnya kosong dan kembang-kembang trotoar yang lain sudah habis “dipetik”, wanita beranak satu yang telah lama ditinggal kabur suaminya itu belum juga mendapatkan seorang pelanggan pun. Bayang-bayang kartu SPP anaknya yang sudah tiga bulan belum dibayar, beras yang sudah tinggal setengah gelas, dan bedak merek fanbonya yang sudah hampir habis membuat kegelisahannya kini semakin menjadi-jadi.

Dengan langkah gontai, Sulastri yang telah putus asa melangkahkan kaki meninggalkan tempat dimana dia biasa bercumbu untuk sejenak kembali ke gubug peraduan. Otaknya mulai berputar keras mencari cara agar paling tidak dapurnya masih bisa berasap esok hari. Sungguh berat beban yang dipikulnya saat ini. Bicara tentang dosa? Mungkin sudah sejak lama Sulastri menghapus kata tersebut dari kamus hidupnya.

Sorot lampu jalanan di tengah malam menjelang pagi tiba-tiba membuat Sulastri terbayang wajah perempuan bajingan yang dulu telah membawa kabur suaminya. Entah apa yang ada di otak suaminya kala itu hingga tega meninggalkan anaknya dan membiarkan dirinya kini terjebak dalam kubangan lumpur yang hina. Tapi kemudian cepat-cepat Sulastri tersadar, tidak ada gunanya lagi mengingat hal tersebut, hanya menambah luka di hatinya yang sudah berlumur darah. Lagi pula dia juga sadar bahwa tidak ada bedanya saat ini dirinya dengan perempuan bajingan itu. Entah sudah berapa banyak suami orang yang telah tidur dengannya tiap malam.

“Allahu Akbar – Allahu Akbar.” Suara nyaring dari Masjid megah yang tak jauh dari jalanan itu menandakan malam telah berakhir. Biasanya Sulastri tak pernah peduli dengan suara panggilan tersebut. Baginya Tuhan telah lama mati. Digantung oleh kemiskinan dan kejamnya kehidupan malam yang menjijikkan.

Namun memang malam ini nampaknya memang bukan malam yang biasa bagi Sulastri. Amarah dan kebosanannya akan kerasnya kehidupan ini benar-benar telah memuncak. Di tengah gemuruh suara adzan berteriaklah Sulastri,

“Hai Kau yang katanya Tuhan. Kemana saja kau selama ini? Kau biarkan aku tercompang-camping dan tersiksa disini! Tuhan macam apa kau ini?!”

Seketika itu juga tubuh Sulastri terasa seperti dipeluk dengan sangat kuat. Bukan pelukan biasa karena kini dia sama sekali tak bisa bernafas. Keringat pun dalam sekejap bercucuran membasahi tubuh pelacur jalanan yang sedang sangat ketakutan ini. Namun di tengah rasa sakit yang amat sangat itu, Sulastri masih sempat mendengar suara orang yang berbisik di telinganya.

Tenanglah nak, aku Izrail dan kau akan segera bertemu Tuhanmu.”
Oleh : Munirul Ichwan

Senin, 16 September 2013

JIHAD Melawan Fundamentalisme Agama

Waktu kuliah merupakan waktu bagi para pemuda-pemudi melakukan pencarian jati diri. Begitulah kira-kira petuah yang sering kudengar dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA. Dan benar saja, memang tren seperti itulah yang terjadi ketika saya telah masuk ke dalam dunia kampus yang bisa dikatakan sebagai tempat bergumulnya berbagai macam ideologi dan pemikiran. Salah satu wujud kegiatan pencarian jati diri ini adalah ekspresi keagamaan mahasiswa di dalam kampus. Karena secara fisik jauh dari keluarga dan orang-orang dekatnya, banyak mahasiswa yang ingin mempelajari agama lebih mendalam agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan sebelumnya. Pola kehidupan beragama di kampus inilah, khususnya dalam rangka pencarian jati diri mahasiswa, yang bisa dikatakan sangat unik.

Setelah kurang lebih 8 semester menjalani masa pendidikan di perguruan tinggi, saya jadi tahu pola kehidupan beragama mahasiswa-mahasiswi di dalam kampus, terutama mereka yang sebelumnya awam dalam masalah agama. Yaitu ketika baru masuk masa perkuliahan, mereka langsung ditawari dengan corak Islam yang mengedepankan simbol. Dalam artian Islam yang berorientasi pada tradisi ke-arab-araban. Seperti celana cingkrang, poligami, panggilan ukhti-akhi, dan lain sebagainya.

Bagi mahasiswa-mahasiswi yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh gerakan-gerakan dakwah Islam yang berorientasi kebangsaan (katakanlah seperti NU dan Muhammadiyah), tentunya tawaran Islam simbolis tersebut sangatlah menggiurkan. Apalagi klaim-klaim yang ditekankan bahwa kelompok mereka merupakan Islam yang kaffah, sedangkan kelompok lain adalah bid’ah, tidak Islami, bahkan dicap bukan Islam.

Untuk membentuk militansi dan kesetiaan terhadap gerakan, dakwah dengan metode klaim dan doktrinasi seperti itu memang ampuh. Karena biasanya kader atau simpatisan yang terbentuk akan lebih rajin melaksanakan ibadah formal dan lebih santun dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain seusianya. Namun dari segi pemikiran, yang ada seolah-olah mereka diupayakan agar tetap bodoh dengan menganggap tabu pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan doktrin yang sudah dianggap final. Hal ini rawan sekali menimbulkan kemandekan proses berpikir yang bermuara pada sikap manut mawon kepada orang yang dianggap memiliki otoritas dalam menentukan setiap detail jalan hidup mereka. Orang seperti ini biasanya disebut murobbi.

Kemudian, efek buruk lanjutan yang dihasilkan dari sistem pengkaderan seperti ini adalah matinya nalar kritis mahasiswa Islam yang sebenarnya sangat cerdas dan prestatif. Mereka sama sekali tidak melawan ketika dijejali dengan pemahaman Islam yang eksklusif, intoleran, dan tidak berorientasi kebangsaan. Dan yang patut disayangkan, mereka juga tidak sadar ketika disuguhi isu-isu yang nampaknya relijius namun sebenarnya bertendensi politik, seperti kasus Mesir, Ahmadiyah, anti-JIL, maupun penolakan Miss World.

Selain mendapatkan pemahaman beragama dengan metode doktrinasi, hal yang paling menyedihkan adalah ketika mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang seharusnya  menjadi penggerak kehidupan bangsa yang damai dan inklusif,  justru diarahkan untuk menjadi kader pendukung sebuah partai politik. Yang mana partai tersebut dikenal sebagai partai yang mengusung simbolisme Islam, eksklusif, dan tidak apresiatif dengan adanya perbedaan pemahaman di dunia Islam Indonesia.

Melihat begitu massifnya gerakan-gerakan yang condong pada fundamentalisme beragama tersebut, tentu sangat diperlukan upaya-upaya untuk membendung gerakan ini. Pengenalan terhadap pemahaman Islam yang inklusif, moderat, dan berorientasi kebangsaan harus lebih intens lagi dilakukan. Diperlukan kerja keras sekaligus kerja sama antara organisasi-organisasi Islam yang memiliki sejarah dan berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri yang berbhineka ini, seperti NU, Muhammadiyah, HMI, Persis, dll. Bahkan kalau diperlukan, saya rasa patut juga menggunakan semangat yang sering sekali mereka pelintir untuk tujuan-tujuan tertentu, yaitu semangat JIHAD!!

Keajaiban

Ketika Ibrahim merasa kedinginan di tengah kobaran api, itulah keajaiban. Ketika Musa membelah laut merah dengan sabetan tongkatnya, itulah keajaiban. Dan ketika Isa berjalan dengan tenang di atas air, itulah keajaiban.
Kurang lebih begitulah sebagian dari kita menjawab ketika disuguhi pertanyaan tentang apa itu keajaiban. Dan sangat wajar, karena pada kisah-kisah tersebut kita bisa merasakan betapa hebatnya Tuhan. Apapun yang dikehendakiNya pasti terjadi, sekalipun harus melanggar hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya sendiri. Itulah definisi keajaiban menurut sebagian orang.

Karena definisi keajaiban yang hebat itulah kita manusia biasa, yang tak seteguh Ibrahim, tak sehebat Musa, dan tak semulia Isa sering sekali merasa iri. Entah sudah berapa banyak doa-doa tak tahu diri yang terucap. Meminta apa yang kita kehendaki dengan membabi buta. Keajaiban, keajaiban, dan keajaiban.
Itulah yang berulang kali, dengan penuh ketidaksabaran, kita pertanyakan kepada Tuhan. sungguh lucu tingkah manusia.

Aku berimajinasi, mungkin di atas sana Tuhan sedang cekikikan. Menertawakan lelucon yang diperbuat ‘anak-anak’Nya.

Bagaimana Tuhan tidak cekikikan? Di dunia manusia meminta keajaiban, tapi tidak melihat tanda-tanda yang nyata dariNya. Manusia minta menjadi orang yang berilmu tinggi, punya gelar haji atau ustadz, bahkan ada yang kurang ajar meminta dirinya sendiri menjadi tuhan kedua, yang berhak menentukan manusia mana yang benar dan mana yang tersesat.

Tanpa disadari permintaan-permintaan tersebut membutakan manusia dari keajaiban yang sesungguhnya. Banyak yang tidak menyadari bahwa dibalik senyum orang miskin yang dibantunyalah, sebenarnya terletak keajaiban. Di kening bocah yatim yang diusapnyalah, tersimpan keajaiban. Dan di sekujur tubuh orang tua yang dia bersihkan kotoran-kotorannya lah, ada keajaiban yang dicari-cari.

Entah bagaimana metode kerja Tuhan yang maha baik ini. Dan karena kebaikanNya lah tidak semua doa dikabulkan.

Dan tentu saja karena kebaikanNya juga lah manusia diberi petunjuk tentang apa yang harus diminta. Dengan tanda-tanda yang tidak semua mampu menyadarinya.


Itulah, keajaiban…