Kamis, 19 Januari 2012

Kita Bukan Tukang pagliat!!

Tidak akan ada yang menyangkal jika kita berkata bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya dengan budaya dan kesenian. Berbagai macam tarian, pakaian adat, masakan khas, alat musik, dan lain sebagainya dapat dijumpai di kepulauan yang terbentang dari ujung Pulau We sampai ke merauke di tanah Papua. Belum lagi seniman-seniman kontemporer yang telah dilahirkan di bumi nusantara ini, mulai dari  pelukis, penari, sastrawan, dan juga dalang yang telah kondang baik di dalam maupun di luar negeri. Bahkan untuk hal ini, presiden pertama kita, Ir. Soekarno, pernah berkata secara tegas kepada presiden Amerika “Negara anda punya teknologi, tapi kami juga memiliki seni.


Hal tersebut tentunya dapat kita jadikan alasan yang kuat bagi kita untuk berpikir bahwa Indonesia negara yang berkebudayaan tinggi dan memiliki cita rasa seni yang istimewa dibandingkan dengan negara-negara lain di kolong langit ini. Bahkan banyak produk budaya asli kita yang diklaim oleh negara lain, semisal Reog, lagu rasa sayange,  Tempe, Rendang, dan masih banyak lagi.
Ini baru seninya LELAKI
Namun, kenyataan yang terjadi saat ini boleh jadi membuat kita yang mengaku sebagai anak bangsa ini miris. Selain karena kekurang pedulian kita yang mengakibatkan maraknya klaim negara lain terhadap produk budaya Indonesia, acara-acara yang tayang di berbagai channel televisi belakangan ini juga sudah sangat menjemukan. Secara kasat mata saja bisa kita lihat betapa seragamnya acara-acara tersebut, jelas sekali tidak mencerminkan orisinalitasnya sebagai muara dari proses kreativitas. Apalagi setiap hari dapat kita saksikan acara musik di hampir semua channel televisi, seperti Dahsyat, inbox, Dering, dll. Dan anehnya, yang membuatku tidak habis pikir sampai saat ini adalah jumlah penontonnya yang selalu ramai setiap hari, padahal acara tersebut tayang live di jam-jam sekolah sekaligus jam-jam kerja! Hei dude?! Apa yang kalian lakukan disana? Apa ga sekolah, kuliah, atau kerja mungkin? Selain itu, materi yang disuguhkan dalam acara-acara tersebut juga tidak bisa dikatakan bermutu. Pembawa acara lebih sering mengeluarkan guyonan-guyonan garing yang jauh dari kesan mendidik, sampai-sampai terkadang aku lupa, ini acara musik atau acara lawak?
           
Lebih dari itu, kondisi terkini industri musik Indonesia juga tidak bisa membuat kita erasa bangga. Setelah era band-band melayu yang diawali oleh lahirnya Kangen Band, muncul lagi era band-band alay yang diisi oleh pemusik-pemusik baru yang sudah bisa terkenal walaupun hanya punya satu lagu. Tidak hanya sampai disitu, saat ini telah muncul lagi era baru dalam dunia permusikan indonesia yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Bagaikan sebuah mimpi buruk yang tiba-tiba menjadi nyata, panggung musik Indonesia saat ini dikuasai oleh sebuah rezim yang dinamakan BOYBAND! Yaitu sekumpulan pemuda yang sedang bingung dengan identitas seksualnya, namun dipaksa oleh produser untuk berjoget dan bernyanyi. Era boyband ini dimulai dengan munculnya Sm*sh, yang kemudian bagaikan jamur di musim penghujan diikuti dengan kemunculan grup-grup baru baik laki-laki maupun perempuan (Untuk perempuan dinamai Girlband).
poninya boo, ga nahan

kira-kira apa yang ada di pikiran pemuda-pemuda ini ya?

kalo ini baru yahuuud B)
Pada awalnya aku sempat berpikir positif dengan mengatakan bahwa ketidaksukaanku pada boyband ataupun girlband hanyalah karena masalah selera. Tapi lama-lama aku sadar, bahwa ada satu hal yang patut menjadi pertanyaan serius bagi kita untuk menggugat keberadaan grup joget ini, yaitu masalah orisinalitas. Konsep boyband dan girlband ini jelas sekali meniru para artis asal korea yang memang mempunyai banyak penggemar di Indonesia (selain musik, film-film asal korea juga banyak ditayangkan oleh salah satu televisi swasta). Sungguh malu rasanya kalau bangsa Indonesia, yang kaya dengan kesenian dan kebudayaannya ini, dicap sebagai bangsa tukang plagiat. Dimana letak kreativitas kita sebagai bangsa yang beradab?

Lagi pula, jika kita mau menilik materi lagu yang dibawakan pemusik-pemusik Indonesia masa kini (khususnya yang sering tampil di Dahsyat, Inbox, dll) sangatlah tidak berbobot dan tidak memiliki pesan moral yang konstruktif bagi pendengarnya. Pastilah lirik yang dinyanyikan itu berkutat dengan masalah cinta, perselingkuhan, dll. Bagi bangsa yang sedang terpuruk di bidang politik dan ekonomi ini, kehadiran lagu-lagu tersebut sangatlah tidak penting. Padahal, sebenarnya masih banyak juga musisi-musisi tanah air yang memiliki kualitas, baik dalam skill maupun pesan lagu yang dibawakan. Dan sayangnya mereka sangat jarang tampil di TV (mungkin karena tidak punya nilai jual meurut produser). Lagu-lagu yang dinyanyikan sarat akan makna, entah itu kritik sosial, kritik politik, maupun semangat pemberontakan.

Sampai kapankah masa-masa yang memuakkan ini akan terus berlanjut? Aku tidak sanggup membayangkan ketika suatu saat kita harus mendeklarasikan kepada bangsa-bangsa lain bahwa kita adalah bangsa tukang plagiat. Mungkin memang secara ekonomi dan teknologi prestasi kita bisa dikatakan masih tertinggal. Tapi untuk hal-hal yang berkaitan dengan seni dan keindahan, kita wajib menunjukkan ke dunia luar bahwa kita, bangsa Indonesia, adalah bangsa yang bercita rasa tinggi!

Oleh : Munirul I. (Student of Sepuluh Nopember Institut of Technology)

2 komentar:

  1. wah, ngeblog juga km rul.
    bagus tuh opininya. tentang Boyband 4lay!
    BOYBAND=sekumpulan pemuda yang sedang bingung dengan identitas seksualnya... ngakak sumpah baca bagian itu, haha

    BalasHapus
  2. hahaaa, masih newbi lut, ajarin yak.
    iya tuh, ga seneng banget aku sama boy/girl band yg lagi menjamur. Mungkin kalo saat ini Soekarno masih hidup akan berpidato "Berikan aku 10 pemuda yang 4Lay, akan kubentuk Boyband!!" hehee...

    BalasHapus